Samuel Laufa Kamus Hidup Budaya Alor

Kamus-Hidup-Budaya-Alor.-Kompas.21-Mei-2015.Hal.16

Pendidikan resmi semuel laufa lebih bersentuhan dengan ekonomi. Dua tahap lanjutan setelah SD adalah SMEP dan SMEA. Program setahun pendidikan guru sekolah lanjutan pertama pun jurusan tata buku. Namun kiprahnya lebih sebagai budayawan. Bahkan disebut pula kamus hidup khusus aspek kebudayaan daerah kelahirannya, alor. Semuel laufa adalah warga kelahiran atoita desa waisika kecamatan alor timur laut kabupaten alor, nusa tenggara timur. Usianya dua versi. Riilnya 65 tahun atau 61 tahun berdasarkan catatan ijazah. “ya, kisahnya dulu itu hanya untuk memenuhi syarat usia agar bisa masuk sekolah” kenang semuel laufa yang akrab disapa sem tentang dua versi usianya itu, dikediamannya di kawasan oebobo kota kupang. Kamis(14/5). Menurut catatan kompas, leonard nahak yang kini kepala unit pelaksana teknis arkeologi,sejarah, dan nilai tradisional dinas pendidikan, pemuda dan olahraga NTT, merupakan pejabat pertama yang meyebut sem sebagai kamus hidup khusus untuk kebudayaan alor. “kalau mau belajar atau menulis berbagai hal tentang kebudayaan alor, narasumber andalnya sem laufa” tutur leonard nahak yang mantan kepala museum NTT di kupang. Rabu(13/5). Penyebutan itu tidak berlebihan. Salah satu contohnya, sem bisa secara detail dan mengalir mengisahkan asal usul moko atau nekara beserta maknanya bagi masyarakat alor. Kata dia, kisah tentang moko itu memang unik. Tidak ada orang alor sejak leluhur hingga sekarang pernah menjadi perajin moko. Namun, benda kuno mirip gendang yang terbuat dari perunggu, telah menjelma menjadi status social. Benda sacral hingga ikon alor. Hingga sekarang pula, keberadaan moko tidak tergantikan sebagai mas kawin atau mahar yang disebut belis oleh masyarakat setempat. Sem menyebutkan, moko pada awalnya masuk ke alor antara abad 18 dan 19. Kebetulan Karena alor dan sejumlah pulau disekitarnya merupakan bagian dari jalur pelayaran perdagangan internasional yang menghubungkan asia dengan kawasan samudra pasifik. Ada dua kelompok moko yang tersimpan dirumah warga di alor. Moko awal merupakan peninggalan zaman perundagian dari kebudayaan dongson. Lainnya kelompok moko berusaha lebih muda hasil karya perajin logam di gresik (jawa timur), awal abad 20. “moko susulan yang didatangkan dari gresik itu sebenarnya siasat politik colonial belanda guna memperkokoh posisinya di daerah jajahan baru” kata sem. Tidak hanya berkisah. Ayah empat anak itu juga meninggalkan pemahamannya tentang kebudayaan daerahnya dengan menulis buku. Dua karyanya itu masing masing berjudul mengenal obyek situs dan benda sejarah purbakala alor (2008) dan moko alor: bentuk, ragam hias dan nilai berdasarkan urutan (2009). Selain itu, sem selalu menjadi narasumber utama untuk penelitian ilmiah terkait  kebudayaan alor. Oleh periset dalam negeri atau asing. Diantaranya penelitian antropologi budaya allor oleh Emilia,antropolog  asal swedia (2013). Menyusul, penyusunan kamus bahasa kemang salah satu rumpun bahasa alor oleh antonetasaper asal belanda dan penulisan linguistic sastra daerah dalam upacara kematian di alor oleh oce langkameng lainnya. Editor buku: pembelajaran bahasa abui salah satu rumpun bahasa alor untuk mulok siswa kelas iv di alor,narasumber buuku:system pemerintahan tradisional alor, serta buku: moko dalam tatanan kehidupan masyarakat adat alor, karya made purna (2013). Dalam buku terakhir itu,sem bahkan disebutkan sebagai narasumber ahli.

Menentang saima

Leonard nahak dan sejumlah komunitas sehabitatnya dikupang menyebut sem juga sebagai budayawan alor. Begitu kuat minat sem terhadap kebudayaan daerahnya, tentu saja bukan karena pendidikan resminya yang jauh dari ranah budaya. Ternyata minatnya itu berawal dari kisah masa kecil hingga usia sekolah dasar di kampungnya,atoita. Ketika itu, ia sering diajak ayahnya karel falau (alm) menghadiri berbagai acara adat di kampong kampong sekitarnya. Tugas sem adalah menentang saima, wdah khusus berisi sirih pinang , seperti dipedesaan lain di ntt,tradisi makan sirih bagi masyarakat alor adalah bagian tidak terpisahkan dalam interaksi social termasuk mengawali berbagai ritual adat. “kisah masa lalu it uterus membekas kuat menjadi pendorong untuk semakin memahami bahkan mengawal berbagai kearifan local peninggalan leluhur” demikian sem mengakui. Selain sering menjadi penenteng saima, sem kecil sudah pandai menabuh perangkat gong dalam upacara adat. Disekolahnya, ia termasuk anggota kelompok music bumbu sebagai peniup kani, suling kecil untuk nada melodi. Meski pendidikan resminya tidak mendukung, ketika menjadi pegawai negeri sipil tahun 1976 ia ditempatkan dibagian kesenian kanwil depdikbud ntt dikupang. Selama berstatus pns hingga pension tahun 2010, sem terus bersentuhan dengan bidang kebudayaan. Termasuk jabatan terakhir sebagao kepala bidang sejarah dan kepurbakalaan dinas ppo alor. Sem sering terlibat dalam berbagai kegiatan berkesenian. Namun yang paling berkesan adalah ketika dirinya bersama sejawatnya djony thedeens memadukan pementasan music tradisi onal ntt dari jenis sasando,music bamboo dan perangkat gong. Pementasan yang berlangsung dihotel ina boi kupang tahun 1989 khusus memeriahkan penyambutan kunjungan mendikbud ketika itu,fuad Hassan. “kami sangat bangga karena bapak menteri ketika itu sampai turun dari podium untuk menyaksikan dari dekat pementasan music tradisional kami” kenangnya. Sem sudah lima tahun menjalani masa pension tetapi tetap menekuni minatnya termasuk menjadi narasumber berbagai penelitian kebudayaan alor. Ternyata semangatnya yang tak pernah pudar itu juga didorong kesaksiannya kalau kearifan local kini sedang terancam punah. Salah satu sumber penyebabnya adalah sikap kaum remaja beranggapan berbagai bentuk kebudayaan peninggalan leluhur mereka itu sesuatu yang kuno dan memalukan.

 

Sumber: Kompas, Kamis 21 Mei 2015

Menyusuri Keindahan Benua Biru

Menyusuri-Keindahan-Benua-Biru.-Kompas.21-Mei-2015.Hal.34

Eropa menjadi salah satu destinasi yang menyimpan sejuta pesona. Benua Biru ini memang familier dijadikan tujuan wisata. Bagi yang masih penasaran, berikut ini destinasi-destinasi favorit yang perlu Anda susuri.

TEMPAT wisata di Frankfurt, Jerman, yang terkenal adalah Romerberg (Gunung Romawi). Destinasi ini adalah jantung bersejarah Frankfurt dan rumah ke balai kota yang telah ada sejak 1405.

Kenali juga Swiss. Di sini, kita akan disuguhi cerita dan sejarah masa lampau Swiss ketika mengunjungi Baths Romawi Kuno di Zurich yang berasal dari 2.000 tahun yang lalu. Situs ini hanya bisa dilihat dari kejauhan. Swiss juga terkenal dengan cokelatnya yang lezat. Wisatawan yang berkunjung ke pabrik lokal chocolatier Sprungli di pinggiran Kilchberg, tidak hanya dapat belajar tentang asal-usul cokelat ini, tetapi juga akan mendapatkan sampel cokelat.

Tujuan wisata menarik lainnya adalah Milan, Italia. Katedral Milan menjadi katedral gotik terbesar di dunia dan menjadi tempat wisata yang populer. Konstruksi bangunan ini dimulai pada 1386 dan memakan waktu hampir 500 tahun pembangunannya. Katedral ini memiliki 135 menara dan 3.200 patung yang menghiasi atap katedral. Piazza del Duomo merupakan alun-alun yang juga terdapat patung Vittorio Emanuele dan perumahan Palazzo Reale, Museum Duomo, serta Museum of Contemporary Art.

Bagaimana dengan Paris? Destinasi Arc de Triomphe atau Gerbang Kemenangan adalah monumen di tengah Place de I’Etoile yang ditujukan untuk merayakan kemenangan Perancis dan menghormati semua yang gugur dalam pertempuran. Ada pula Menara Eiffel atau La Tour Eiffel yang wajib dikunjungi. Menara ini merupakan salah satu landmark paling terkenal di dunia yang menjadi destinasi utama wisatawan.

Jangan lupakan juga Amsterdam, Belanda. Ada banyak tempat wisata di Amsterdam yang menarik. Kota terbesar di Belanda ini mempunyai kehidupan yang sangat beragam dan dihuni oleh berbagai kelompok etnis dari seluruh dunia. Di Amsterdam, ada bangunan tua yang masih dipertahankan, museum dan pusat perbelanjaan terbesar di Belanda, serta kanal-kanal.

Tiga kanal utamanya yakni Herengracht, Keizersgracht, dan Prinsengracht yang menggambarkan kejayaan Belanda di abad ke-17. Kanal ini membentuk sabuk konsentris di sekitar kota yang dikenal sebagai Grachtengordel.

Jadi, tunggu apa lagi, segera pesan perjalanan ini. Dapatkan harga khusus selama Open House Panen Tour pada 18-31 Mei 2015 atau hubungi (021) 3855388.

 

UC Lib-Collect

Kompas. 21 Mei 2015

Berpelesir ke Putuoshan di Tiongkok

Berpelesir kePutuoshan di Tiongkok. Kompas.21 Mei 2015.Hal.35

Putuoshan bisa menjadi salah satu alternatif jika Anda ingin berpelesir ke Tiongkok. Putuoshan merupakan nama sebuah gunung dan pulau yang terletak di sebelah barat Ningbo, tepatnya di kepulauan Zhoushan.

PUTUOSHAN sendiri terkenal karena merupakan 1 dari 4 gunung suci agama Buddha di Tiongkok. Gunung ini merupakan tempat suci bagi Dewi Kwan Im. Perjalanan dari Ningbo ke Putuoshan memakan waktu kira-kira 2,5 jam dan bisa ditempuh dengan bus sampai Pulau Zhujiajian. Lalu Anda bisa naik feri menuju Putuoshan.

Obyek wisata di Putuoshan bisa dibilang tidak bisa lepas dari kuil, salah satunya Puji Temple. Destinasi Puji Temple merupakan yang terbesar di pulau ini. Di sepanjang jalan menuju kuil, banyak toko yang menawarkan barang-barang, seperti pernak-pernik Buddha, bunga lotus, hio, dan cincin.

Tempat wisata lainnya yang tidak kalah menarik adalah Grand Guanyin (Grand Kwan Im Statue). Patung setinggi 33 meter dan dilapis emas seberat 50 kilogram ini terletak tidak jauh dari Purple Bamboo Forest. Tinggi patung ini disesuaikan dengan jumlah penjelmaan Dewi Kwan Im di dunia yang berjumlah 33 bentuk. Selain itu, ada Fayu Temple. Kuil kedua terbesar di Putuoshan ini terdiri atas beberapa bangunan. Pertama adalah kuil 4 Dewa Langit. Setelahnya, di tempat yang lebih tinggi, ada kuil yang di dalamnya terdapat patung Buddha yang terbuat dari giok.

Setelah itu, tentu saja Anda tidak boleh melewatkan Huiji Temple. Ini salah satu kuil tertua di pulau yang terletak tepat di atas Gunung Putuo. Untuk mencapai tempat ini, Anda akan naik cable car. Di kompleks kuil ini, ada kuil-kuil kecil yang didedikasikan untuk Buddha (Sidharta Gautama) dan Dewi Kwan Im (Avalokitesvara).

Jika berkunjung ke Putuoshan, Anda juga bisa menyempatkan diri berkunjung ke Shanghai karena letaknya yang berdekatan. Shanghai merupakan kota modern dengan perpaduan budaya Tiongkok dan Barat yang kental. Bangunan megah dan tinggi dikombinasikan dengan kuil-kuil tempo dulu yang tertata dengan baik.

Anda bisa mencoba mengunjungi The Bund yang terkenal dengan film Shanghai Tan-nya serta melihat Sungai Huang Pu yang memisahkan kota lama dan baru Shanghai. Anda juga bisa mengabadikan momen bersama keluarga dengan berfoto dengan latar belakang Kota Shanghai yang megah.

Bagi yang suka berbelanja, Anda juga bisa mencoba berbelanja di kawasan Nanjing Road. Kawasan perbelanjaan ini sudah terkenal dan hampir setiap hari dipenuhi turis asing dan domestik. Sungguh pengalaman yang berharga. Agar liburan lebih berkesan, Anda bisa menghubungi rotama Tour.

 

 

UC Lib-Collect

Kompas. 21 Mei 2015

Deden Syarif Hidayat Pilihan Ditengah Keterbatasan

Pilihan di Tengah Keterbatasan. Kompas.4 Mei 2015.Hal.16

Warga sekitar Karst Citatah di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pernah hidup tanpa banyak pilihan. Itu sebabnya, saat kesempatan itu datang, mereka tidak ingin melewatkannya.

Obrolan hangat di saung penyimpanan panen jambu batu di kKampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, tiba-tiba terganggu suara ledakan dari sekitar kawasan Karst Gunung Hawu.

Deden Syarif Hidayat tak menunggu lama. Ia segera menaiki sepeda motornya menuju titik ledakan, sekitar 2 km dari saung bamboo.

“Bummmm…..,” bunyi ledakan kedua terdengar saat Deden baru saja menarik tuas gas sepeda motor.

Tak menghiraukan jalan berkelok dan berbatu yang dibangun petani jambu, Deden lincah mengendarai sepeda motor. Di tengah jalan, ia kembali disambut ledakan ketiga. Ia turun dari sepeda motornya ketika berjarak 1 km dari ledakan. Ia masih melihat batuan kapur berhamburan ke udara seperti air mancur. Reruntuhan kecil masih luruh dari Gunung Hawu.

”Sebelumnya saya sudah lega. Sudah 6 bulan tidak ada ledakan bom di Gunung Hawu, tapi sekarang….,” ujarnya.

Belum selesai bicara, konsentrasi Deden dibuyarkan tiupan peluit dan sirene seperti ambulans. Samar-samar terdengar orang berteriak. Entah apa yang diucapkan orang itu. Namun, Deden tahu itu isyarat aka nada ledakan selanjutnya. Sekitar 15 menit kemudian, dugaan itu benar. Bunyi ledakan keempat terjadi tepat di depan matanya.

“Bummmm….”

Deden kembali tidak bisa berbuat apa-apa. Matanya nanar. Hatinya remuk seperti tebing kapur yang runtuh.

Di dekatnya, Iim (60), petani setempat yang baru saja kemarin memanen jambunya, tersenyum kecut. Iim juga tak menyangka akan ada ledakan lagi.

”Bapak tos cape nambang. Mending ayeuna mah melak jambu ieu we (Bapak sudah lelah menambang. Lebih baik sekarang menanam jambu),” kata Iim, seperti menenangkan hati Deden yang galau.

Mendengar itu, Dadang terdiam. Hatinya sedih sekaligus lega. Diantara deru penambangan yang terus berjalan, pendampingan yang dilakukan bersama Forum Pemuda Peduli Karst Citatah (FP2KC) menjadi semangat kecil bagi warga untuk mempertahankan hidup. Budi daya jambu batu hanya salah satu alternatif yang terus didukung.

Keras

Ingatan Deden melayang pada 6 tahun lalu di Tebing 125, salah satu titik vital di Karst Citatah, Kabupaten Bandung Barat. Kecintaan pada panjat tebing membawanya kerap melatih kekuatan jari jarinya di sana, yang berjarak 1 km dari kediamannya di Kampung Cidadap.

Saat itu, kegembiraannya terganggu. Ketika asik menguras keringat menapaki tebing, konsentrasinya terganggu suara gaduh. Aktivitas penambangan, seperti garukan alat berat hingga ledakan menghancurkan tebing kapur, membuatnya khawatir.

Beragam pertanyaan berputar di kepalanya. Bagaimana jika penambangan menghancurkan Tebing 125, atau apa yang terjadi jika Karst Citatah yang ampuh menyimpan air rusak. Padahal, kawasan Karst yang berusia 20-30 juta tahun itu lama hidup bersama warga di sekitarnya.

Karst Citatah adalah salah satu kawasan kapur penting di Jabar. Di sini, kehidupan manusia prasejarah pernah tinggal. Sumber air bersih juga mengalir di rongga kapur bawah tanah. Namun, kini beberapa gunung kapur penting, seperti Pabesan, Karang Panganten, dan Pasir Manik, dipaksa mengorbankan tubuhnya digerus penambangan sejak 1970-an.

Darah mudanya bergolak. Bersama kawan-kawannya, Deden membentuk FP2KC tidak lama kemudian. Ia memimpin banyak aksi menentang penambangan. Dalam setiap aksinya, ia selalu berteriak tutup penambangan dan pabrik kapur.

Tak heran ia sering mendapatkan ancaman melalui pesan singkat. Tawaran rupiah asal Deden dan rekan-rekannya di FP2KC mengerikan aksinya juga bermunculan.

Meski demikian, seiring waktu berjalan, bukan ancaman yang membuatnya berpikir mengubah strategi. Minimnya partisipasi masyarakat hingga masih tingginya ketergantungan warga pada tambang membuatnya harus memutar otak.

”Harus ada pemahaman baru atau keterampilan baru yang melibatkan masyarakat. Aksi harus tetap jalan, tetapi harus diimbangi dengan pendidikan masyarakat,” katanya.

Ia pun mendirikan Rumah Alam 125. Letaknya di kaki Tebing 125. Remaja setempat diajak beraktivitas bersama, mulai diskusi lingkungan, pelatihan panjat tebing dan pembuatan proses produk berbasis sampah, pelatihan seni budaya, hingga siaran radio terbatas.

”Ada juga pesantren alam dengan titik berat pada penjagaan nilai lingkungan. Keterlibatan masyarakat sangat tinggi,” katanya.

Minat masyarakat itu pula yang mendorongnya menggagas program Kelompok Pemberdayaan Masyarakat (pokdarwis). Masyarakat diminta membuat kelompok khusus untuk menjaga, sekaligus mendapatkan keuntungan ekonomi dari potensi wisata di sekitar Karst Citatah. Dengan harapan, Karst tetap terjaga dan warga bisa mendapatkan penghasilan.

Kelompok pertama muncul di kampung Girimulya, Desa Gunung Masigit. Di kampung tersebut, warga diajak mengelola taman batu yang dibentuk alam sejak ratusan juta tahun lalu.

Secara swadaya, masyarakat mengumpulkan uang untuk membuat jalan yang layak bagi pengunjung. Warga juga mencari sendiri sumber mata air dan paralon untuk menyalurkan air bagi sarana-prasarana pendukung kawasan. Pelatihan bagi 70 pemandu wisata juga dilakukan. Pengunjung diminta membayar Rp3000 per orang untuk biaya perawatan kawasan, kebersihan, dan asuransi.

”Perbaikan pelayanan ini sedikit banyak berkontribusi bagi kunjungan ke Taman Batu. Tidak jarang, dalam sepekan kunjungan wisatawan hingga 1000 orang. Mayoritas pengunjung adalah pelajar dan mahasiswa,” katanya.

Sukses di Taman Batu menginspirasi berdirinya tiga pokdarwis lain di Padalarang. Pokdarwis Kampung Cinangsi Desa Gunung Masigit, sekitar Gunung Puteri; Pokdarwis Kampung Pamucatan, desa Padalarang, mendampingi area panjat Tebing 125; dan Pokdarwis Kampung Cidadap, Desa Padalarang, yang menjaga Gunung Hawu-pabeasan. Tidak sedikit anggota pokdarwis adalah mantan petambang.

”Pilihan yang dimiliki warga Ini hanya salah satu dari sekian jalan yang muncul setelah menjaga Karst. Masih banyak pilihan yang tidak disadari justru mengharumkan nama Bandung Barat,” katanya.

Sumber: Kompas, Mei 2015

Mahditia Paramita Merencanakan Kawasan untuk Masa Depan

Merencanakan Kawasan untuk Masa Depan. Kompas.5 Mei 2015.Hal.16

Sesudah menyelesaikan studi tentang perumahan dan tata kota di Belgia, Mahditia Paramita (35) pulang ke Indonesia dengan semangat menggebu untuk mengaplikasikan ilmunya. Namun, kenyataan di Tanah Air tak seindah yang dia bayangkan. Di tengah berbagai persoalan, Paramita terjun ke desa untuk membantu masyarakat membuat perencanaan kawasan yang berorientasi pada masa depan.

Tahun 2007, setamat kuliah di Katholieke Universiteit Leuven, Belgia, Paramita bergabung dengan Housing Resource Center (HRC), organisasi nirlaba di Yogyakarta yang bergerak di bidang perumahan dan tata kota. “HRC berdiri tahun 2006 setelah gempa melanda Daerah Istimewa Yogyakarta. Awalnya HRC fokus pada isu perumahan yang aman gempa,” katanya, Jumat (10/4), di Yogyakarta.

HRC merupakan lembaga yang dibentuk aktivis perumahan. Pemerintah Daerah DIY, Kementrian Perumahan Rakyat, dan Program Pemukiman Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN-Habitat).

Setahun kemudian, HRC mulai menghadapi ,masalah dana. Pasalnya, dukungan dari sejumlah lembaga, termasuk pendanaan dari Kementrian Perumahan Rakyat, mulai berhenti. “Padahal, saya waktu itu masih sangat muda dan belum terbiasa mengelola aktivitas kantor, mulai dari manajemen hingga program. Jadi agak berat juga waktu itu,” katanya.

Pada 2009, kesulitan di HRC makin parah. Dukungan dari berbagai lembaga yang menginisiasi HRC benar-benar berhenti. Paramita pun dihadapkan pada dua pilihan: menutup HRC atau mempertahankan organisasi tersebut tanpa dukungan finansial yang pasti. “Saya sempat mengalami dilemma. Sempat kepikir juga lebih baik saya tutup HRC dan kerja di organisasi nirlaba yang sudah besar,” ujarnya.

Paramita akhirnya memilih mempertahankan HRC dengan menderikan yayasan pada 2009.  Setelah memutuskan menjadi lembaga mandiri, HRC mulai menjadi konsultan dan mengerjakan aneka proyek terkait tata kota dan perumahan yang bisa menghasilkan uang. Kini HRC bahkan memiliki tiga perusahaan yang juga bergerak sebagai konsultan di bidang perumahan, perencanaan perumahan, dan pengembangan teknologi tepat guna.

“Uang yang dikumpulkan itu kami pakai untuk mendanai kegiatan sosial, misalnya mendampingi masyarakat,” ujar Paramita yang kini menempuh program studi doctoral bidang kebijakan publik di Universitas Gadjah Mada.

Pengembangan Kawasan

Salah satu program unggulan HRC yang telah berjalan adalah pengembangan kawasan, khususnya dalam lingkup dusun dan desa. Dalam program itu, HRC bermitra dengan pemerintah, masyarakat, dan lembaga lain untuk membangun suatu kawasan, baik berupa dusun maupun desa, agar menjadi tempat tinggal yang nyaman sekaligus memiliki daya saing.

Pengembangan kawasan tersebut mengacu pada potensi local dan dilakukan secara partisipatif, yakni merangkul semua elemen warga. Hasil program tersebut adalah adanya rencana pentaan kawasan pada masa depan dan rencana investasi untuk pembangunan.

Paramita menjelaskan, program pengembangan kawasan itu dimulai tahun 2007. Berdasarkan pengalaman ketika belajar di Belgia, Paramita menilai seharusnya DIY memiliki rencana pengembangan kawasan sesudah gempa bumi yang dahsyat terjadi. Di sejumlah negara maju, perencanaan kawasan yang berorientasi pada masa depan itu sudah lazim dibuat, termasuk sesudah sesuatu bencana besar melanda.

“Indonesia, kan, belum ada rencana semacam itu sehingga kami mencoba bikin rencana pengembangan kawasan dalam lingkup desa,” kata Paramita. Ternyata, ide tersebut tak disambut baik pemerintah daerah.

”Memang sangat idealis, sih, waktu itu dan ternyata tak ada yang tertarik. Kami kirim surat ke Pemerintah Kabupaten Bantul, lalu dilempar ke pemerintah desa. Dari pemerintah desa ternyata di lempar lagi ke dusun,” kata Paramita sambil tertawa.

Program pengembangan kawasan itu akhirnya berjalan di Dusun Serut, Desa Palbapang, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul. Menurut Paramita, Kepala Dusun Serut, Rahmad Tobadiyana, menerima program tersebut dengan tangan terbuka.

”Pak Kepala Dusun Serut sangat visioner sehingga program pengembangan kawasan itu bisa berjalan dengan baik di sana,” ujarnya.

Proses perencanaan di Dusun Serut dimulai dari pengumpulan data dengan melibatkan masyarakat. Hasilnya, ditemukan potensi masalah, misalnya pertambahan penduduk, peningkatan volume sampah, serta dampak keberadaan industri dan perternakan di sana. Sesudah itu, HRC bersama warga merencanakan beberapa program untuk mengatasi masalah tersebut.

“Dalam rencana itu, sudah ada rencana membangun rumah susun, ruang terbuka hijau, dan pengelompokan kawasan industri. Benar-benar futuristik, ya?” kata Paramita yang kini menjabat Chief Executive Officer HRC.

Selain di Dusun Serut, HRC juga membantu perencanaan di wilayah lain, misalnya di Desa Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah; Kelurahan Tegalpanggung, kota Yogyakarta; dan di wilayah Kali Code, Yogyakarta.

Pprogram HRC yang cukup unik adalah Klinik Rumah Sehat, yakni layanan konsultasi dan desain rumah untuk masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan rendah. Melalui program itu, HRC melayani masyarakat yang ingin membangun rumah sesuai kebutuhan dan anggaran yang mereka punyai. Program itu digelar di kantor HRC ataupun di pusat kegiatan masyarakat, termasuk sejumlah kelurahan di Yogyakarta.

“Kami melayani pertanyaan dan memberikan saran kepada warga terkait pembangunan rumah mereka misalnya izin pembangunan, subsidi keuangan, serta desain,” ujar Paramita.

Paramita mengaku baru tertarik mendalami tata kota dan perencanaan kawasan saat menjalani studi magister di Belgia.

”Saat kuliah disana, saya juga belajar tentang politik perencanaan kota, yakni bagaimana mempengaruhi pemerintah dan publik agar mereka mendukung perencanaan yang kita buat,” kata pariwita yang pernah menimba ilmu di beberapa negara lain, seperti India, Belanda, dan Perancis.

Pengalaman itulah yang membuat Paramitha sadar bahwa Indonesia membutuhkan banyak pembenahan dalam bidang tata kota. Kesadaran tersebut kemudian mendorong Paramita terus menggerakkan HRC untuk membantu warga dan pemerintah mengembangkan perencanaan kawasan secara lebih baik.

“Saat ini Indonesia benar-benar mengalami krisis perencanaan. Makanya perlu peran banyak pihak untuk membenahinya,” ujarnya.

Sumber: Kompas, Mei 2015

 

Cristiyani Margaretha Melayani Petani dengan Hati

Melayani Petani dengan Hati.Kompas.6 Mei 2015.Hal.16

Cristiyani Margaretha

Matahari sore itu masih bersinar terik. Cristiyani bersama sang suami,Wawanto (42), berkeliling kawasan unit pemukiman transmigrasi kilometer 38,kelurahan Sei Gohong, menggunakan sepeda motor. Sejumlah warga yang juga petani ramah menyapa dan disapa  Cristiyani yang dikenal akrab sebagai penyuluh pertanian.

OLEH WILIBRORDUS

MEGANDIKA WICAKSONO

Cristiyani menjadi tenaga harian-lepas tenaga bentu penyuluh pertanian (THI-TBPP) di kelurahan Sei Gohong, Kecamatan Bukit Batu , Palangkaraya, Kalimantan tengah (Kalteng), sejak 2008. Kelurahan yang terletak di barat laut Palangkaraya itu terbagi menjadi dua wilayah, dikilometer 33 biasa disebut Sei Gohong Kampung yang dihuni penduduk asli  suku Dayak Kalteng dan kilometer 38 menjadi lokasi transmigrasi agribisnis dan peternakan DKI Jakarta.

Berbekal ilmu pengetahuan tentang pertanian yang ditimbah dibangku kuliah pada Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya  jenjang D-3 pada 1995, serta pengalaman membina 10 desa saat bekerja di perusahaan Kayu Mas di Parenggean, Kotawaringin Timur, Kalteng, Cristiyani menekuni pekerjaan sebagai penyuluh  pertanian “ penyuluh pertanian hanya sebagai jembatan antara pemerintah dan para petani,” katanya, minggu n(26/4).

Upaya dan karya Cristiyani menjembatani banyak program pemerintah bagi kemajuan pertanian di kelurahan Sei Gahong tampah dari perkembangan kesejahteraan penduduk disana. Rumah-rumah, yang dulu masih berupa bangunan kayu, sekarang mulai dibangun dengan tembok para petanipun sudah bisa memiliki alat transportasi pribadi berupa sepeda motor.

“Dulu masih banyak warga yang menggunakan  sitem ladang berpindah dan menanam tanaman tanpa memperhitungkan biaya, seperti biaya biaya tenaga kerja, listrik untuk menyedot air. Program pemerintahpun  biasanya selesai dalam  sekali masa tanaman ,”tutur Cristiyani.

Melalui pendekatan personal dan informal, secara perlahan Cristiyani mengajak para petani untuk mengelola ladang yang dimilikinya secara berkesinambungan. Program-program pemerintah juga ditawarkan dengan selektif dan penuh pertimbangan  disertai juga dengan hasil survey dilapangan.

“Program akan berjalan jika diterima oleh orang yang total dan tidak setengah-setengah. Oleh karena itu, mengenal setiap karakter petani juga menjadi hal yang penting,”ucapnya.

Dalam pelaksanaan program pemerintah oleh para petani, Cristiyani memilih tidak banyak terlibat langsung didalamnya untuk memberi jarak dan memberi kesempatan kreativitas petani. Dia tetap memantau sebagai bentuk pertanggungjawaban  serta tetap terbuka memberi masukan jika dibutuhkan kapan pun.

Kunjungan Cristiyani kepada para petani dilakukan secara informal, misalnya, dengan berkunjung dengan membeli sejumlah sayuran untuk dimasak bagi keperluan rumah tangganya,”sambil belanja kepetani tidak ada jarak  antara petani dan penyuluh,’’ kata Cristiyani yang pada awalnya sering diabaikan atau tidak dianggap oelh para petani.

Pertemuan dengan kelompok-kelompok petani juga tidak selalu dilaksanakan di tempay khusus yang resmi, melainkan di rumah warga, dikebun petani, dihalaman rumahnya, dan sesekali dibalai basara kelurahan atau balai pertemuan warga.” Pintu rumah juga terbuka 24 jam bagi para petani yang ingin menyampaikan keluhan,harapan, atau bertanya tentang program-program,”kata ibu dua anak itu.

Desa mandiri pangan

            Sei Gohong yang dihuni sekitar 1.811 orang telah menjadi desa mandiri dalam hal ketersediaan hasil pertanian khususnya hortikultura, seperti cabai,timun, kacang panjang, jagung, bawang merah, dan lain-lain. Hasil pertanian itu dipasarkan para petani di desa tradisional Tangkiling dan juga dijual ke kota Palangkaraya. Desa itu juga sedang mengembangkan bidang peternakan, antara lain, ayam, kambing, sapi, dan babi. Selain itu, warga juga mulai merintis budidaya ikan gurami, patin, dan nila.

Meski petani menghadapi tantangan geografis, yaitu jenis tanah yang berupa pasir kuarsa, gambut, dan batuan granit, hal itu pun biatasi dengan pemberian pupuk kandang dan kapur untuk mengurani tingkat keasaman tanah gambut.

Di desa itu, Cristiyani mendampingi 12 kelompok petani, yaitu kelompok Tani Harapan, Mandiri, Bersmi , Makmur, Bawi Kuwu, Dasawisma,Hapakat, Mandiri, Suka Maju, Lestari, Riang Jaya, Bagamat Jaya, Poduk Bendera, dan Wanita Tani Anggrek. Setiap kelompok petani terdiri atas 10-15 orang.kedua belas kelompok petani itu bergerak di sektor pertanian ,perkebunan dan wanita petani.

Kepada kelompok wanita petani, Cristiyani mengajak ibu-ibu memanfaatkan lahan dipekarangan rumahnya ditanami tanaman apotek hidup, seperti bawang lemba atau dikenal juga bawang suku Dayak yang berkhasiat mengobati aneka penyakit sembiloto, kencur dan lain-lain.

Selain itu, para ibu rumah tangga juga mulai mengelolah hasil perkebunan dan pertanian menjadi makanan ringan dalam kemasan, misalnya, keripik singkong, rempeyek, keripik pisang, kacang molen, dan juga kue bawang. Karya dari Wanita Tani Dasawisma  Haparat Mandiri pun pernah menangani lombah penganan tradisional tingkat kota palangkaraya pada 2012,” kita boleh bersaing sehat. Kita boleh berlombah, tetapi tidak mencela orang atau kelompok lain. Antarkelompok itu bersaing untuk maju,”ujarnya.

Berkat ketekunan dan kesetiaanya  menjadi penyuluh di desa itu, Cristiyani mendapat apresiasi dari pemerintah daerah juga pemerintah pusat. Pada juli 2013 Cristiyani mendapat penghargaan THL-TBPP Telah Tingkat Kota Palangkaraya dan Tingkat Provinsi Klimantan Tengah. Kemuadian pada agustus 2013, dia pun meraih penghargaan serupa di tingkat nasional.

Cristiyani tidak pernah bermimpi mendapatkan penghargaan itu. Meski demikian, dia sangat bersyukur. Namun, rasa syukur paling besar baginya adalah saat melihat para petani didesa semakin mandiri dan sejahtera.

Cristiyani Margareta

  • Lahir:palangkaraya,22 maret 1973
  • Pendidikan: D-3 Fakultas Pertanian, Universitas Palangkaraya (1995)
  • Suami: Wawanto S Siram (42)
  • Anak: Anggi cristam Angelo(16) dan Bernart Etwan Manuelo (8)
  • Pekerjaan: Tenaga Harian lepas-tenaga Batu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) di Kelurahan Sei Gohong,Palangkaraya, Kalteng
  • Penghargaan: THL-TBPP Teladan Tingkat kota Palangkaraya, THL-TBPP Teladan Tingkat Provinsi Klimantan Tengah< dan THL-TBPP Teladan Tingkat Nasional (2013)

Sumber: Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16

Pebruarison Lampang S Tandang Merawat Budaya Dayak di Jembatan

Merawat Budaya Dayak di Jembatan.Kompas.19-Mei-2015.Hal.16

Kolong jembatan sungkahayan yang kumuh dengan sampah pedagang buah dan dindingnya penuh coretan vandalisme, kini bersih dan cerah. Lukisan dinding pemuda suku Dayak yang gagah berlatar naga atau dikenal dengan tambun dan pemudi suku Dayak menghiasi kolong jembatan yang jadi ikon kota palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Oleh Megandika Wicaksono

 

Lukisan berjudul “tari dadas” dan “kasiak tambun” karya Februarison Lampang S Tandang (45) pada dinding penyangga berukuran 3,5 meter x 11 meter itu pun sering dijadikan latar belakang foto mereka yang telah datang berkunjung. Jembatan sungai Kahayan sepanjang 645,5 meter itu diresmikan presiden Megawati Soekarnoputri pada 13 Januari 2002. Jembatan ini menghubungkan kota Palangkaraya dengan Kabupaten Gunung Mas, Barito Utara, Barito Timur, Barito Selatan dan Murung Raya, Kalimantan Tengah. Sungai kahayalan adalah salah satu dari sebelas sungai besar di Kalimantan Tengah. Panjang sungai ini sekitar 600 kilometer dengan lebar rata-rata 450 meter dan kedalaman 7 meter.

Lampang mengisahkan, awalnya lukisan-lukisannya menjadi hiasan kalender instansi pemerintahan. Kemudian, dinas pekerjaan umum provinsi Kalimantan Tengah tertarik membuat lukisan itu di kolong jembatan sambil melakukan perawatan rutin. Lampang yang bekerja sebagai pegawai Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palangkaraya pun menerima tawaran untuk mempercantik kolong jembatan itu. Lukisan dinding “kasiak tambun” melambangkan kegagalan pemuda suku Dayak seperti seekor naga. Kasiak berarti ganas dan tambun berarti naga. Pemuda itu bersenjatakan Mandau dan telawang atau perisai khas suku Dayak. Di sampingnya, dalam lukisan berjudul “Tari Dadas” oleh seorang pemudi berbusana merah. Tarian ini zaman dulu bisa diperagakan sebagai tarian ritual penyembuhan orang sakit. Namun, saat ini Tari Dadas biasa digunakan sebagai tari penyambutan tamu.

“Lukisan itu melambangkan keseimbangan antara sisi maskulin dan feminism yang saling melengkapi. Sifat maskulin yang gagah berani itu melindungi dan Tari Dadas juga melambangkan keterbukaan suku Dayak kepada para pendatang,” kata Lampang, Selasa (5/5). Selain kedua lukisan itu, pada sisi kanan dan kiri dinsing jalan yang berukuran panjang 50 meter menuju jembatan Kahayan juga dibuat motif Tambun Bungai, yaitu lambing penguasa alam atas dan alam bawah dunia. Motif tambun atau naga yang meliuk-liuk sebagai penguasa alam bawah. Namun, pada bagian kepala burung tingang atau enggang.burung ini disakralkan oleh suku dayak karena melambangkan penguasa alam atas.

Lampang menggunakan lima ba sebagai warna, yaitu baputi (putih), bahandang (merah), bahenda (kuning), bahijau (hijau), dan babilem (hitam) yang menjadi simbol warna Kalimantan Tengah. “Putih bermakna suci, merah berani, kuning kejayaan atau keemasan, hijau kemakmuran atau kesuburan, dan hitam bermakna kekuatan atau karisma,” kata suami dari Ira Katarina (46) itu. Lampang menyelesaikan lukisan-lukisan selama sebulan, sejak 21 Maret hingga 21 April 2015. Dia bersama tujuh pelukis di Palangkaraya melukis di luar jam kantor, yaitu pada sore hingga subuh. Khusus lukisan “Kasiak Tambun” dan “Tari Dadas”, lampang menggarapnya sendiri selama 5 hari. Ketujuh rekannya, yaitu Tria, Liktarson, Juli Satrio, Sevena A, Farn, Tengang, dan Aca membantu menyelesaikan lukisan motif Tambun Bungai dan Telawang.

 

Ekspresi Jiwa

Lampang memiliki bakat melukis sejak kecil. Saat di taman kanak-kanak, ia menjuarai perlobaan lukis. Bakatnya terus berkembang dan menjuarai lebih dari 26 perlombaan hingga di SMAN 3 Palangkaraya. Pada 1989, Lampang melanjutkan studi di Jurusan Seni Murni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Lampang mengatakan, lukisannya merupakan campuran antara realis, ekspresif, abstrak dan surealis. Namun, tema yang menjadi minatnya adalah kebudayaan suku Dayak,mulai dari motif, tari-tarian, senjata, hingga simbol-simbol lintas agama.

Bagi saya, melukis adalah ekspresi jiwa. Jiwa tumbuh dan berkembang tidak lepas dari agama dan budaya tempat saya dilahirkan. Itu akan tetap ada sampai kapan pun dan mengalir begitu saja saat melukis, “kata ayah dari Rafael Rakapela (6). Selain di kolong jembatan Kahayan, ornament dan lukisan motif suku Dayak karya Lampang juga ada di Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Kantor Gubernur Kalimantan Tengah dan gedung pertemuan Palampang Tarung Kota Palangkaraya. Lampang menggarap ornamen dan lukisan itu sekitar 1995-1998 saat bekerja sebagai konsultan perencanaan di PT Betang Asri dan PT Buana Asri.

Lampang pernah membuka kursus melukis pada 2002-2009 di rumahnya di Palangkaraya dengan nama Kahalap (keindahan). Lebih dari 100 anak pernah menjadi muridnya. Sanggar lukisannya berhenti karena Lampang memilih membesarkan anak semata wayangnya yang telah 12 tahun dinantikan kehadirannya. Meski demikian, Lampang tetap melukis. Sebulan, rata-rata empat lukisan dihasilkan. Saat ini lebih dari 300 lukisan selesai di garap. Kendati rekan-rekannya pelukis sempat mengejek Lampang sebagai “pelukis yang ber-NIP (nomor induk pegawai)” karena menjadi aparatur sipil Negara, Lampang tetap aktif mengikuti pameran. Saat ini, Lampang menjabat sebagai Ketua Komunitas Perupa Kalimantan wilayah Kalimantan Tengah.

Lampang mengharapkan, tradisi dan seni budaya suku Dayak bisa tetap lestari dan dikenal. Ia berharap lukisan di bawah jembatan itu tidak di rusak. “Motif dan lukisan suku Dayak itu juga di harapkan bisa menjadi identitas kota Palangkaraya,”katanya.

 

Februarison Lampang S Tandang

Lahir                      : Tumbang Rahuyan, Gunung Mas, Kalteng 12 Februari 1970

Pendidikan         : SMA N 3 Palangkaraya dan Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta (1989-1994)

Istri                        : Ira Katarina (46)

Anak                      : Rafael Rakapela (6)

Pekerjaan           : Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Teknis Seni di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palangkaraya

Pameran              :

  • Pameran Dies Natalis ISI Yogyakarta
  • Pameran Seni Rupa Nusantara I di Jakarta, Tahun 2000
  • Pameran tunggal Seni Rupa 2002 di Palangkaraya
  • Pameran seni rupa di Museum Affandi Yogyakarta
  • Pameran tunggal di Museum Belanga Palangkaraya, tahun 2006
  • Pameran seni rupa 2008,2009,2010 di palangkaraya
  • Pameran seni lukis perupa Kalimantan dan Yogyakarta di Martapura, Kalimantan Selatan

 

Kegiatan lain      :

  • Membuat perahu Tingang di Festival Auckland New Zealand tahun 2005
  • Merancang logo kabupaten katingang, Kalteng

Kompas, Selasa, 19 Mei 2015

Halaman 16

Uc-Lib-Collect

Rene Isaac dan Efran Mengubah Adegan Film Jadi Diorama

Mengubah Adegan Film Jadi Diorama. Kompas.20 Mei 2015.Hal.16

Hobi mengoleksi”action figure” tokoh superhero menjadi keasyikan tersendiri. Dua sahabat, Rene Isaac dan Efran, tak berhenti hanya mengoleksi “action figure”, tetapi membuatnya menjadi diorama. Jangan membayangkan diorama kusam yang biasa ditemui di museum. Diorama ini jauh lebih menarik.

OLEH SUSIE BERINDRA

                Adegan pertarungan di hutan penuh salju yang membuka film Avengers :Age of Ultrom dipilihRene dan Efran untuk dijadikan diorama. Action figure lima tokoh Avengers, yaitu Iron Man, Hulk, Captain, America ,Hawkeye, Thor, dan Black Widow, berada dalam satu kotak kaca. Tentu saja, mainan itu dibentuk mirip sekali dengan tokoh aslinya dengan ukuran 1/6 dari ukuran aslinya. Bukan hnya kemiripan wajah, mainan juga dibentuk sesuai dengan gaya tangan  dan kaki superhero. Diorama, Avengers ini dipamerkan di Gandaria City saat pemutaran film Avengers age of Ultrom.

Rene dan efran membuat diorama yang dipesan dari country dDirector PT Walt Disney Indonesia sebagai distributor film Avengers: Age of Ultrom.” Kami hanya diberi sedikit gambaran mengenai adegannya. Untuk bikin dioramanya hanya butuh waktu dua minggu,” ujar Rene.

Sebelumnya pada maret, Rene dan Efran mengejutkan pengungjung Jakarta Toys and Comocs Fair 2015 dengan menampilkan diorama adegan film Iron Man 3, Yaitu Final Battle-Container terminal. Ratusan pengunjung saat diorama berukuran 2,5 meter x 2,5 meter x 3 meter itu dibuka penutup kain hitamnya. Mereka langsung mengitari diorama sambil memotret dengan ponselny.

Adegan pertarungan antara Tony Stark dan Aldrich Killian dianjungan pengeboran minyak digambarkan dengan apik. Tentu saja diorama itu dilengkapi action figure keluaran Marvel dengan berbagai pose,. Ledakan api ditengah anjungan pun menjadi semakin mirip dengan filmnya.

Rene mengungkapkan, salah satu keunikan yang dimiliki Red Diorama, semua bagian yang dipakai untuk membuat diorama dihubungkan dengan magnet kecil.” Semuanya ringan kok, meski tampak besar. Bahkan, satu kerangka yang dipakai untuk membangun anjungan  itu lebih ringan dari pada action figure-nya yang ukurannya1/6 ukuran manusia,” ujar Rene.

Selain diorama Iron Man 3, Rene dan Efran, yang mendirikan  Red Diorama ini juga memamerkan 10 diorama lainnya yang lebih kecil, seperti  Gundam battle Robots dan Batman : Dark Knight yang menampilkan adegan  The Joker Shot The School Bus dan The Avengers.

Mimpi mendunia

            Ide membuat diorama diawali ketika Rene datang ke sebuah pameran mainan dan melihat diorama buatan Efran. Rene membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk mengetahui siapa yang membuat diorama. Untuk mengajak Efran supaya mengerjakan ide-ide gila pun membutuhkan waktu yang lama.

Bukan tidak percaya, melainkan butuh waktu untuk memikirkan membuat usaha diorama lebih besar. Biasanya saya hanya membuat diorama dengan ukuran paling besar 60 senti meter x 40 senti meter,”ujar Efran, yang sebelumnya berjualan persel di wilayah pasr minggu, Jakarta selatan.

Pertemuan Rene dan Efran kemudian menghasilkan karya diorama  The Avengers dengan ukuran 1,6 meter  x 1,5 meter. Awalnya, Rene hanya mengunggah foto diorama itu di jejaring sosial facebook yang langsung mendapat 1.000 like. Banyak komentar yang menanyakan dimana bisa membeli diorama tersebut. Tak lama, tidak tanggung-tanggung, salah satu adegan yang melibatkan lima pahlawan itu laku sampai ke Amerika Serikat dengan harga 1.300 dollar AS.

Beberapa minggu kemudian, Efran memberitahu ada pameran mainan. Nah, kalau mau ikut, enggak mungkinkan kami hanya membawa satu diorama. Saya tantang Efran untuk membuat Batcave (markas rahasia Batman),” ujar Rene.

Untuk mencari lahan yang paling bagus dan ideal dalam pembuatan diorama, Rene dan efran mencoba beberapa lahan . sebelum bertemu Rene, Efran menggunakan lahan tanah liat dan clay. Namun, kedua lahan itu tak bisa digunakan untuk membuat diorama yang lebih besar.

Setelah mencobah tripleks yang paling tipis dan bahan abs, akhirnya mereka memilih bahan PVC yang lebih lentur untuk dibentuk. Sementara untuk mainan, Red diorama menggunakan produk hot Toys yang bisa didapatmelalui distributornya di Indonesia, Multi Toys and Game.

Mimpi untuk menjangkau dunia pun sedikit demi sedikit mulai tercapai. Saat pertama kali mengikuti pameran mainan, Red Diorama sama sekali tak mendapat penghasilan. Dipameran yang kemarin, omzet  kami hampir Rp 100 juta. Sekarang ini pemesanan bukan hanya dari Indonesia, melainkan juga dari luar negeri,”ujar Rene.

Saat ini, mereka sedang mengejar target pengerjan pesanan diorama dari sejumlah negara dan dalam negeri. Semua pengerjaan pesanan  dikerjakan di showroom yang berada dikawasan puri indah,Jakarta Barat. Salah satu diorama  yang sedang dikerjakan adalah Batman : Dark Knight yang menampilkan adegan The joker Shot The school Bus dan The Avengers.

Untuk melebarkan sayapnya, Red Diorama sedang dalam proses bekerja sama dengan pihak lain dari Malaysia dan Amerika Serikat. Kalau setahun lalu, mereka hanya mempunyai modal  sekitar Rp 50 juta, kinidengan adanya tambahan kerja sama diharapkan bisa menembangkan usahanya.

Kami diajari oleh Chip Perrin dari Amerika Serikat yang mau bekerja sama menjadi distributor supaya tidak mengeluarkan biaya besar untuk pengiriman barang, bisa memakai container, dan disalurkan lewat distributor. Kalau mengirim satuan biayanya bisa sampai 900 dollar AS,’” kata Rene.

Untuk penggemar mainan yang ada diluar negeri, harga satu diorama yang bisa memuat lima mainan akan lebih murah dibandingkan dengan megoleksi mainannya saja. Misalnya, untuk satu action figure The Avengers bisa dibeli dengan harga 1.400 dollar AS sampai 7.000 dollar AS sehingga untuk satu set atau lima tokoh Avengers bisa menghabiskan 2.400 dollar AS. Bandingkan saja jika mereka  membeli Diorama yang sudah memuat semua tokohnya dengan harga 1,300 dollar AS.

Dengan melihat pasar yang masih banyak belum tergarap, Red Diorama pun masih mempunyai mimpi mendirikan tempat yang lebih besar yang bisa dijadikan workshop. Semua dilakukan untuk memuaskan pengoleksian mainan

Rena Isaac

  • Lahir: Jakarta,10 juni 1980
  • Pendidikan: Waverley college,Sydney,Australia (1996-1999)
  • Bachelor of commerce, curtin University, perth, Australia (2000-2003)
  • Pekerjaan: -PT AFEX Indonesia (2008-sekarang)
  • pendiri Red Diorama (2014-sekarang)

Efran

  • Lahir; prabumulih,16 1983
  • Pendidikan: S-1 jurusan desain komunikasi visual universitas Trisakti (2001)
  • Pekerjaan: perusahaan Advertising (2005-2006)
  • guru seni rupa SMP dan SMA pelita II, Jakarta (2007-2009)
  • guru seni rupa global Art (2007-2009)
  • pendiri Red Diorama (2014-sekarang)

Sumber: Kompas.20-Mei-2015.Hal_.16

Aling Nur Naluri Mengolah Koran Bekas

Mengolah Koran Bekas. Kompas.18 Mei 2015

Koran bekas itu, melalui tangan-tangan terampil ibu rumah tangga dan ibu-ibu berusia lanjut di kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, dianyam menjadia aneka macam produk, seperti tempat tusuk gigi dan keranjang pakaian kotor. Itulah pemberdayaan yang dilakukan Aling Nur Naluri (33), alumni Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam IPB tahun 2005.

Oleh FX Puniman

Diperlukan waktu minimal dua tahun untuk melakukan pelatihan dan pendampingan warga untuk bisa memproduksi karya unik ini. “Jumlah komunitas ibu-ibu sari kelurahan Tanah Baru yang sudah mahir membuat karya unik dari bahan Koran bekas itu 60-an orang. Dalam sehari, mereka bisa mendapatkan puluhan ribu rupiah sampai ratusan ribu per orang,”kata Aling saat ditemui di Bogor belum lama ini.

Akhirnya 2009, Yayasan Progres Insani, pengelola sekolah alam di kelurahan tanah baru, memulai kegiatan pemberdayaan masyarakat dnegan membuat Bank Sampah di Seputar sekolah. Sekolah ini memiliki murid ratusan siswa dari tingkat SD sampai SMP. Bank sampah cukup berhasil mengumpulkan sampah, tetapi dengan syarat sampah bersih dan sudah terpilah. Sekitar 11 jenis sampah terkumpul. Setelah cukup banyak, sampah dijual ke tempat pengumpul. Dari 11 jenis sampah tersebut, yang paling banyak adalah Koran bekas, yang berasal dari murid-murid yang orang tuanya pelanggan Koran.

Menurut Aling, dampak ekonominya kepada masyarakat tidak terasa karena harga sampah yang terkumpul murah. “Koran bekas saat itu Cuma Rp 1.500 per kilogram. Saya lalu berpikir kalau dibuat sesuatu yang ada nilai tambah bagus juga. Kebetulan saya bertemu Bu Tri Permana Dewi, salah satu orangtua murid. Bu Tri, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang dan sama-sama suka berkreasi, lalu (kami) berembuk untuk memanfaatkan Koran bekas yang prosesnya ramah lingkungan,” kata Aling.

Sekitar 2012, setelah mencoba berkali-kali usaha memanfaatkan Koran bekas, Aling dan Dewi akhirnya berhasil menemukan sejumlah produk dengan bahan daur ulang kertas Koran bekas. CV salam Rancage pun di dirikan sebagai wadah usaha. Aling didapuk sebagai direktur.

 

Ibu Rumah Tangga

Melalui salam Rancage, mereka bergerak memberdayakan masyarakat sekitar kelurahan Tanah Baru. Konsep pemberdayaan masyarakat ini menyasar ibu rumah tangga dan ibu berusia lanjut yang punya waktu di rumah. Mereka menawarkan penghasilan tambahan tanpa meninggalkan rumah. Mereka kami latih secara rutin untuk membuat produk dengan bahan Koran bekas yang mudah dikerjakan. Dari sana, mereka memperoleh tambahan penghasilan yang cukup lumayan,”kata Aling.

Ibu-ibu yang berusia lanjut, menurut Aling, menggulung kertas Koran, mulai dari satu halaman Koran, setengah, sampai seperempat halaman hingga bulat dan kencang. Sementara yang muda mengayam gulungan Koran tersebut menjadi bentuk yang akan dibuat. Setelah itu, gulungan itu dilapisi dengan pelapis kayu yang tak beracun. Adapun upah menggulung, satu gulungan Rp.25. Ada yang mampu mendapatkan upah Rp.18.000 selama 2 jam. Untuk produk barang jadi, mulai dari harga puluhan ribu rupiah sampai ratusan rupiah, mereka mendapta penghasilan 20 persen dari harga jual ditambah dengan nilai kertas Koran dan 10 persen untuk kas komunitas mereka.

“Jadi, kalau harga jual barang seperti tempat pakaian kotor sebesar Rp 300.000. Bagian pembuat Rp 60.000 bahannya 3 kg Koran (3 kg x Rp 1.500) Rp 4.500 dan 10 persen untuk komunitas dari Rp 300.000 sebanyak Rp 30.000. Jadi, untuk produk senilai Rp 300.000, pembuatnya mendapat Rp 94.500. bayangkan penghasilan itu jauh lebih besar dibandingkan kalau hanya menjual kertas Koran yang cuam Rp 4.500,” kata Aling seraya menambahkan upah perajin itu bisa langsung diambil dan tidak menunggu sampai barang buatanya laku dijual. Pembuatan tempat pakaian kotor itu, menurut Aling bagi yang sudah mahir dapat diselesaikan dalam waktu satu hari. “Untuk sampai tingkat mahir ini, memang dibutuhkan waktu dua tahun. Pelatihan diberikan sampai mereka mampu membuat produk yang rumit penyelesaiannya,”kata Alingdan Dewi yang secara berkala melakukan pelatihan bagi ibu-ibu warga setempat dan di luar kelurahan.

 

 

Pasar

Respons pasar terhadap produk daur ulang kertas Koran ini terus meningkat. Peningkatan pesat terjadi stelah mereka rajin mengikuti berbagai pameran produk hasil kerajianan di Jakarta, Bandung, dan Bogor. Bahkan, sekarang produk kerajinan mereka sudah mendapatkan tempat secara Cuma-Cuma di sebuah mall di kota Bogor. Tempat ini berkat dukungan dari wali kota Bogor Bima Arya dan istrinya selaku ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) kota Bogor.

Etalase di mall ini membuat karya daur ulang produksi mereka lebih sering dilihat orang dan diharapkan akan menarik minat pembeli. “Tentang pengakuan dari pihak lain, pada 2013, kami pernah mendapat pesanan topi dari kementerian PU senilai Rp 70 juta,” kata Aling, seraya menambahkan pada Mei ini mendapatkan pembeli dari Italia yang memesan keranjang barang dan pembeli dari Singapura yang tertarik dengan souvenir bunga kering. Dalam berbisnis, Aling mengatakan, mereka mengutamakan prinsip sosial binis yang tujuan besarnya adalah kemanfaatan sosial bukan profit. “Sementara bentuk bisnis dipilih agar program kemanfaatan sosialnya berkelanjutan. Tanpa harus mencari donatur,” kata Aling, yang suaminya merupakan salah satu pendiri dan pengurus yayasan progress Insani.

Dengan mengusung moto Tak Ada Rotan, Koran pun Jadi, Aling dan Dewi berangan-angan memberdayakan masyarakat dengan bahan daur ulang kertas Koran dan membangun kampung Koran di berbagai kelurahan di kota Bogor. Tampaknya angan-angan Aling dan Dewi akan terwujud. Namun, bukan di Bogor melainkan di Jakarta. Sebab, pihak kompas Gramedia pekan lalu menggandeng Salam Rancage untuk melatih warga sekitar Palmerah, tempat redaksi kompas berada, untuk membangun kampusng Koran. Ini bagian upaya pemberdayaan masyarakat dengan bahan bahan yang ramah lingkungan berupa Koran bekas.  Produk jadinya juga kelak akan dibantu dipasarkan oleh Kompas Gramedia,”kata Aling.

Aling Nur Naluri

Lahir      : Bogor, 2 Februari 1982

Suami    : Agus Gusnul Yakin (39)

Anak      :

  • Muhammad Adzka Mutafannin (10)
  • Ilma Nurul Fathia (8)

Pendidikan         :

  • SMP Negeri 1 Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat (1997)
  • SMU Negeri 1 Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat (200)
  • S-1 Matematika Famipa Institut Pertanian Bogor (2005)

Pengalaman Organisasi dan Bekerja

  • Relawan Yayasan Progres Insani tahun (2000-2005)
  • Pendiri dan pengelola Sekolah Anak Jalanan Pelita Insani (2001-2004)
  • Pendiri dan direktur CV “Salam Rancage” (2012 sampai sekarang)

 

 

FX PUNIMAN

Wartawan, Tinggal di Bogor

 

Sumber: Kompas, Senin, 18 Mei 2015,

Halaman 16

 

Soto Gaya Rumahan

Soto Gaya Rumahan. Tabloid Kontan.4 Mei-10 Mei 2015.Hal.40

Icip-icip masakan khas Jawa Timur di RM Soto Lamongan.

Surtan Siahaan

Bagi Anda yang sedang kangen atau kepingin mencicipi  masakan khas Jawa Timur, rumah makan satu ini boleh jadi pilihan. Namanya Rumah Makan Soto Lamongan, Kedoya, Jakarta Barat.

Ditempat ini Anda bisa menemui sengambereng masakan khas Jawa Timur: Soto Ayam Lamongan, Rujak Cingur, Soto Madura, Rawon, Pecel Madiun, Nasi Campur Surabaya hingga Lontong Cap Go Meh. Bahkan, jajanan jadul Jawa Timur seperti Kue Lumpur, Ketan Srikaya, dan Lumpia basah juga tersedia di rumah makan yang sudah eksis sejak 1980-an ini.

Tapi, keunggulan tempat ini bukan Cuma menunya yang lengkap, lo. Mereka yang mencari keaslian rasa dan tampilan makanan juga tak akan kecewa. Tidak heran hampir setiap hari meja di rumah makan ini penuh pengunjung.

Rumah makan yang dahulu bernama Serba Seneng ini mudah ditemukan kok. Lokasinya di Jalan Kedoya Raya Nomor 12A, Jakarta Barat. Posisinya tak jauh dari Studio Metro TV.

Nilai plus lain rumah makan yang beroperasi dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam ini adalah ruang yang nyaman, bersih, dan luas. Menempati bangunan dua lantai, rumah makan yang buka hampir setiap hari kecuali di masa lebaran ini, bisa menampung hingga 160 orang.

Jika sudah berhasil menemukan tempat ini, tidak perlu bingung untuk memilih menu. Bagi yang baru pertama kali datang, disarankan memesan Soto Lamongan. Ini menu andalan. Tidak heran Vonny Gunawan, sang pemilik, menanamkan rumah makannya dengan ini.

Penampilan soto ini sih biasa-biasa saja. Dengan kuah bewarna kuning pekat, soto ini berisi daging ayam, kol, soun, dan potongan kentang serta telur. Sebagai sentuhan pamungkas, diatas kuah soto ditaburi saur atau yang juga dikenal dengan sebutan koya.

Degan sekali aduk, kuah yang semula encer, berubah jadi kental dan padat. Sebelum icip-icip, jangan lupa peras jeruk nipis yang ada diatas meja. Dan agar rasa soto semakin sedap, jagan lupa ditambahkan sambal. Kita mulai saja dengan menyeruput kuah yang mengepul. Wangi kaldu ayam yang tajam langsung terasa di dalam mulut. Tekstur kuah memang kental dan padat, namun terasa mulus saat meluncur dalam mulut. Bubuk saur menambah rasa gurih. Kuah yang gurih-gurih segar lantaran perasan jeruk nipis ini memang cocok dilahap bersama sepiring nasi putih.

Resep Warisan

Masakan Vonny tak Cuma populer di antara warga Jakarta. Santoso, seorang warga Surabaya yang kerap ke Jakarta mengaku tertarik mampir ke tempat ini, tahun lalu. Tak cuma menyukai soto, Santoso juga memberi jempol ke banyak sajian lain di Rumah Makan Soto Lamongan yang ia sebut rasa rumahan. “Kalau ke Jakarta, kurang rasanya jika tidak makan di sini,” ujar dia.

Vonny tak sungkan membuka rahasia dapurnya. Menurut dia, berbagai masakan yang tersaji di kedainya dibuat berdasar resep dari mertua dan orang tuanya di Surabaya. Tidak ada yang ia ubah. Dia mencotohkan sate Ponorogo yang menggunakan gula merah sebagai bumbu. Atau, Lontong Cap Go Meh yang menggunakan bubuk ebi dan kedelai.

Selain menakar bumbu dengan tepat, dia menggunakan resep warung-warung ala kampung Jawa Timur sebagai acuan. “Hampir semua rasa masakan di sini 80% mirip seperti aslinya yang dijual di kampung-kampung,” ujar dia.

Memang harga masakan Jawa Timur di Soto Lamongan sedikit mahal dibanding umumnya. Seporsi soto Ayam atau rujak cingur dihargai Rp 21.500 per porsi. Nasi campur Surabaya harganya Rp 26.000. Sedang Lontong Cap Go Meh harus ditebus seharga Rp 36.500 per porsi.

Untuk mendinginkan tenggorokan Anda bisa memesan es jeruk kelapa yang harganya Rp 15.000 per gelas atau es putri salju seharga Rp. 15.000.

RM Soto Lamongan

Jalan Kedoya Raya No.12, Jakarta Barat

Telp: 021-5801521

Koordinat GPS : -6. 174041, 106.759465

 

Menikmati Lezatnya Ramen

Siapa yang tak tahu dengan ramen?

Makanan khas jepang ini sudah terkenal di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin mudah menemukan restoran khusus penyedia menu ramen dengan berbagai varian rasa.

Bagi yang ingin mencicipi ramen bercita rasa Jepang, bisa mencoba Hokkaido Ramen Santouka. Restoran ini memiliki  ramen andalan Shio Ramen with Pork Belly dengan kuah yang kental dan kaya akan rasa. Isi pendampingnya cukup lengkap, yaitu Pork Belly, Umeboshi (Japanese Plum), Jamur Kuping, Rebung, dan Daun Bawang. Menu andalan lainnya adalah Roasted Pork Cheeks. Menu ini memiliki tiga pilihan sup, yaitu shio, shoyu, dan miso.

Tersedia juga, Santouka Chicken Ramen sebagai salah satu menu favorit. Potongan ayam yang lembut, telur, rebung, dan daun bawang siap menemani hidangan mie Anda yang dilengkapi dengan kuah kaldu ayam yang tetap kaya akan rasa. Bagi yang vegetarian pun tak perlu kuatir, Yasai Hiyashi Ramen yang dilengkapi salad greens dan minyak wijen ini bisa menjadi pilihan yang tepat.

Restoran lain yang tak kalah menarik untuk dicoba adalah Nagi Ramen. Di restoran ini para pengunjung dapat “meracik” sendiri ramen kesukaannya. Dari tingkat ketebalan dan tekstur mie, hingga pilihan bahan dasar kuah yang terdiri ikan, babi, dan ayam. Pecinta pedas pun dapat menikmati tingkat kepedasan yang berbeda karena terdapat level pedas dari 1 hingga 15.

Direstoran ini, menu favoritnya adalah Beef Kare Ramen. Rasa kuah karinya yang kental dengan rasa pedas yang tak terlalu kentara terasa segar di mulut. Dilengkapi dengan irisan daging sapi yang empuk, wortel, kentang, brokoli, dan akar teratai. Sebuah perpaduan yang jarak ditemukan di semangkuk ramen.

Menu lain yang sedikit berbeda dengan ramen biasanya, yaitu Yaki Ramen. Menu ini di sajikan di hotplate panas karena tak berkuah atau biasa disebut ramen kering. Rasa yang tersedia dari tiga macam, yaitu kuro, genkio, dan akao.

Tertarik? Mari berkuliner.

Sumber: Kontan.4-Mei-10-Mei-2015.Hal_.40