Sidiq Raharjo Tersenyum Bersama Jamu

Tersenyum-Bersama-Jamu.-Kompas.13-Juli-2015.Hal.16

Jamu adalah salah satu warisan nenek moyang yang sangat populer karena diturunkan dari generasi kegenerasi dan terus dihidupi masyarakat. Tetapi, ke kaliurang yang letaknya lebih dari 20 kilometer ke luar Yogyakarta hanya untuk minum jamu?

OLEH NINUK MARDIANA PAMBUDY

Nyatanya itu yang kami lakukan. Menembut lalulintas cukup padat dari arah kampus Universitas Gadja Mada (UGM), Yogyakarta, membutuhkan kesabaran.  Dalam perjalanan lebih dari 30 menit it uterus muncul pertanyaan di kepala, jamu  macam apa yang disajikan sehingga orang mau bersusah  paya meminum segelas atau dua gelas jamu di sana. Prof Dr Warsito, ahli flu burung dari UGM, jamu disana berbedah dari tempat lain.

Rasa penasaran terjawab saat tiba di Merapi Farma Herbal. Dari jalan kaliuarang  kilometer 21.5, Hargobinangun, pekem, sleman tempat itu seperti rumah makan biasa. Ada bangunan tembok apik dengan ruang terbuka berisi kursi dan meja bambu. Yang membedakan adalah deretan kuali yang mengeluarkan uap. Aroma jamu langsung terhirup hidung.

Di dinding terlihat rak-rak berisi bungkusan dedaunan herba. Diteras sebelah kiri ada deretan pot berisi aneka tanaman obat. Pengunjung diberi daftar menu jamu siap saji, ada menu jagasrat untuk darah tinggi, jagasrat untuk gatal-gatal, dan masih ada 10 menu lain. Termasuk jamu untuk sehat pria dan wanita. Semua dihargai sama Rp 5.000 per gelas, kecuali jika memesan jamu spesial dengan tambahan madu,telur ayam  atau telur bebek. Pramuniaga dengan cetakan meramu jamu dari rebusan herba di kuali-kuali yang terus mengumpulkan uap.

Tempat tersebut menjadi berbedah karena jamu digodok langsung di depan pengunjung dari herba segar yang dikeringkan. Berjenis tanaman obat yang menjadi bahan baku jamu godok.

Belajar dengan senang

Suasana asri diperkuat kebun jamu seluas 3,5 hektar dibelakang rumah. Saat itu ada rombongan siswa SMA sedang berkunjung. Ada juga karyawan bank rakyat Indonesia berkegiatan di luar ruangan  disana.

“Saya selalu bercita-cita mengajarkan tanaman obat dengan  bersenang-senang, tidak membosankan,” ujar Sidiq Raharjo(40).

Dialah pendiri dan pemilik Merapi Farma herbal. Dia juga mendirikan kafe jamu di Yogyakarta. Harapannya jamu menjadi gaya hidup, sebagai minuman kesehatan, bukan hanya untuk menyembuhkan penyakit, slogannya “smiling with jamu”, tersenyum bersama jamu.

Pendidikan formal Sidiq adalah Fakultas teknik Universitas lampung. Pendidikan itu tidak diselesaikan karena hatinya tidak di situ, tetapi untuk memenuhi keinginan ayahnya.

Minat Sidiq pada tanaman obat terpicu ketika diminta membantu ekspedisi oleh peneliti dibalai penelitian tanaman obat ditawangmangu, Jawa Tengah, milik kementerian kesehatan. Dia ikut membantu pencarian berjenis tanaman obat hingga ke merauke, Papua, pada 1994-2002.

Dia lalu lebih mengenal jamu dari dau orang yang masing-masing memberi sidiq pengetahuan dan akhirnya saling melengkapi.

Dari R Broto Sudibyo, pahar herbal yang belajar di universitas Leiden, Belanda, SIdiq belajar resep jamu menurut filosofi jawa. Ada tida dasar jamu dia pelajarai : Pngguno(berguna) yang mensyaratkan dosis harus capai: pangroso(rasa), bahan yang dipakai harus bersesuaian:dan pangseliro yang mensyaratkan bahan jamu harus berkualitas, tidak boleh berjamur.

Guru lain adalah ahli jamu alah tiongkok yang tidak ingin namanya disebut karena filosofi ini sebetulnya dirahasiakan dari orang luar. Sidiq belajar tanaman jamu dikategorikan didalam tanaman raja, jenderal, asisten, ajudan, hingga pesuruh yang manfaatnya tergantung dari peran tanaman tersebut pada penyakit tertentu.

“Dari kedua ajaran itu saya menemukan resep sendiri,” jelas Sidiq diruangan khusus meramu jamu yang dia sebut ruang sacral”. Keempat tinding ruangan itu dipenuhi lemari berlaci  berisi aneka tanaman obat.

Sidiq meramu kedua ajaran tersebut . hasilnya, dia membagi bahan jamu menjadi tiga jenis: bahan utama untuk mengatasi sebab utama penyakit, bahan pembantu untuk mengatasi gejala dan membantu bahan utama, serta bahan pelengkap untuk menyingkronkan bahan dan pembantu.

Reformasi Produksi

Sidiq belajar membudidayakan sendiri tanaman obat pada tahun 1997, bermulah dari jenis-jenis yang sedang dicari pasar. Dia juga mulai menjual bahan tanaman obat kepabrik jamu.

Pada tahun 1996, dia melakukan reformasi produksi” jamu dengan mulai membuka “ warung jamu” di Hargobinangun dan mendirikan CV Merapi Farma Herbal.

Ketekunan Sidiq perlahan-lahan berbuah, Dari menyediakan bibit tanaman oba, kini Merapi Farma Herbal menyediakan jamu instan, jamu godok, dan racikan khusus. Gerai dan kafe jamu satu per satu dibuka dan Sidiq menawarkan  sistem waralaba. Alhasil, sat ini Merapi Farma Herbal ada di 300 gerai, toko, dan kafe di 22 provinsi. Dia bekerja sama dengan kaum ibu di sekitar kebun tanaman obanya untuk menambah pasokan bahan jamu.

Pelatihan pembuatan jamu dibuka Sudiq untuk sejumlah kalangan, termasuk dokter. Dia tak takut peserta pelatihan akan menjadi pesaing.

“sekarang era tidak ada lagi resep rahasia. Google memberi jawab terhadap banyak hal. Tetapi jamu ternyata berkaitan dengan siap yang membuat. Ada ketertariakan emosional dari konsumen,” papar sidiq, penerima penghargaan dari Presiden RI pada 2013 sebagai pusat pelatihan pertanian swadaya komoditas tanaman herbal.

Sudah 500 racikan jamu lahir dari tangannya dan sudah di uji coba. Lima buku resep jamu sudah terbit dan, menurut Sidiq, bukunya digunakan sebagai salah satu acuan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan. Cita-cita sidiq perlahan-lahan mulai terwujud, mengajarkan jamu dengan berbagai senang-senang, menjadi gaya hidup.

SIDIQ RAHARJO

  • Lahir: Tanjung karang,lampung,9 agustus 1975
  • Keluarga: Dian Brilika (anak)
  • Ahmad Ghofur Kalpataru (10)
  • Atika Nursiwi Lestarie (8,5)
  • Pendidikan: Fakultas Teknik Unversitas Lamping
  • Pekerjaan: Wirausaha jamu, pemilik CV Merapi Farma Herbal yang bergerak dalam budidaya, pembuatan, pelatihan, serta penjualan jamu instan dan jamu godok

Sumber: Kompas.13-Juli-2015.Hal_.16

Model Down Syndrome Dobrak Standar Cantik

Psy. Model Down Syndrome Dobrak Standar antik. Jawa Pos.11 Juli 2015. Hal.6

SYDNEY – Lahir sebagai gadis berkebutuhan khusus tidak membuat Madeline Stuart, 18, minder. Belia yang menderita down syndrome itu malah berhasil membuktikan pada dunia bahwa kemampuannya juga bisa diakui. Madeline adalah seorang model untuk baju olahraga Manifesta dan label baju everMaya.

“Saya menyukai modeling karena ini adalah jalan untuk mengekpresikan diri saya ketika kata-kata tidak mampu melakukannya,” ujar gadis berambur merah kecokelatan tersebut.

Melalui modeling, Madeline juga memiliki misi tersendiri. Yaitu, mengubah pandangan dunia tentang kecantikan dan stereotip yang melekat di orang-orang berkebutuhan khusus. Dia berharap setiap orang mencintai dirinya apa adanya. Tujuan Madeline, tampaknya, tercapai. Kemunculan terbarunya di Facebook mendulang 40 ribu like. Selain itu, Instagram miliknya mempunyai 24 ribu pengikut. Artinya, saat dia mengungkapkan sesuatu, orang-orang memperhatikannya. (News/dailymail/sha/c14/ami)

 

Jawa pos 11 Juli 2015

UC Lib-Collect

 

Pijitan untuk Keramik Cantik

Pijitan untuk Keramik Cantik. 12 Juli 2015.Hal.36

SURABAYA – Menikmati proses perlahan, menanggalkan segala keinstanan. Begitulah hal yang membunculkan kegembiraan di On Market Go Project Pottery Class kemarin (11/7). Ayu Larasati, ceramic artist yang menjadi pemateri, menjelaskan setiap tahap pembuatan barang – barang pecah belah. Mulai berupa tanah liat yang keras hingga menjadi bentuk – bentuk apik berwarna.

“kali ini kita menggunakan tanah liat stoneware. Ini berbeda dengan yang biasa digunakan untuk tembikar, tapi juga bukan porselen,” ujar pembuat keramik asal Jakarta tersebut. Tanah liat itu merupakan jenis lempung yang tidak mengalami perubahan bentuk ketika dibakar dengan suhu 900 derajat celcius selama enam jam.

Setidaknya ada tiga proses untuk membuat keramik. Yakni, pembentukan, pembakaran, dan pelapisan (coating). Workshop kali ini berfokus pada pemula. “Yang digunakan disini adalah teknik pinching. Ada dua tahap. Pertama membentuk dari tanah, lalu pewarnaan,” kata Ayu.

Keduanya sama – sama proses yang membutuhkan ketelatenan dan imajinasi. Mula – mula lempung dipadatkan dan dihaluskan menjadi sebuah bola. Bila dirasa cukup, dibuatlah lubang di tengah bulatan itu dengan cara menekannya. Barulah kemudian bola lempung di-pinching atau dijepit dari bawah keatas. “gerakannya harus ritmis dengan kesabaran. Diputar dan terus dipijit. Rasakan ketebalannya,” jelas lulusan Ontario Collage of Art and Design (OCAD University) Kanada itu.

Bagi para peserta yang kebanyakan baru mengikuti pembuatan keramik kali ini, proses membentuk tersebut begitu menantang. ”soalnya, apa yang kita bayangkan, eh ternyata belum tentu bisa membuatnya,” kata Dewi Anjasari, salah seorang peserta workshop.

Proses memijit dan menjepit harus sedemikian jeli. Ukuran, bentuk, ketebalan, dan keseimbangan harus dirasa – rasa sendiri. Itulah serunya. “melatih kesabaran dan surprise sama hasil karya kita sendiri,” imbuh Tri Darmadji, peserta lain.

 

SUMBER : JAWA POS, Minggu 12 Juli 2015

Mudik Gratis, Perekat Produsen dan Konsumen

Mudik Gratis, Perekat Produsen dan Konsumen. Kontan.10 Juli 2015.Hal.2

Memasuki Ramadhan 1436 H, dunia usaha menggunakan momentum untuk berbagi, melalui skema corporate social responsibility (CSR). Beberapa contoh, organisasi pengembang Real Estate Indonesia (REI), BTN, Mowilex dan SMF meluncurkan program Ramadhan Rumah Impian (RRI) dengan membagikan 32 unit rumah gratis kepada masyarakat yang telah memenuhi persyaratan dan proses seleksi secara nasional. Total nilai donasi RRI 2015 mencapai Rp7 miliar.

Tahun lalu, BPJS Ketenagakerjaan memberikan bantuan komputer jinjing, peralatan ibadah dan bantuan pendidikan bagi 700 anak yang kurang mampu. Hal itu guna mendorong agar kualitas santri pondok pesantren semakin meningkat dan sekaligus mengenalkan lebih dini program-program BPJS Ketenagakerjaan kepada para santri.

Praktik berbagi di kalangan dunia usaha intensitasnya meningkat pada Ramadhan hingga momen Lebaran. Mudik gratis bahkan dikelola secara nasional oleh Kementerian Perhubungan. Beberapa contoh perusahaan yang memberikan fasilitas mudik gratis adalah, Giant, Carrefour, Alfamart, Jasa Raharja, Bank Mandiri, Unilever.

Nuansa meningkatkan keharmonisan relasi produsen-konsumen mulai terasa sejak memasuki bulan suci Ramadhan. Dunia usaha (produsen) diharapkan semakin memahami kebutuhan konsumen, tetapi tidak untuk memperdayanya. Pengertian produsen terutama menyangkut pada komitmen bisnisnya untuk meningkatkan kualitas hidup konsumen yang dilayaninya. Bagaiamana pun, kita semua adalah manusia yang bermartabat sama, memiliki nilai kemanusiaan yang sama, yang tidak bisa direduksi hanya karena hubungan ekonomis.

Riset yang dilakukan Roper Search Worldwide menunjukkan 75% responden memberikan nilai lebih kepada produk dan jasa yan dipasarkan oleh perusahaan yang memberikan kontribusi nyata kepada komunitas melalui program pengembangan. Sedangkan 66% responden juga menunjukkan bahwa mereka siap berganti merek kepada merek perusahaan yang memiliki citra sosial yang positif.

Untuk urusan yang terakhir, citra sosial yang positif, dinilai efektif melalui keterlibatan aksi korporasi meringankan beban pemudik melalui mudik gratis. Asumsinya, program mudik gratis secara teknis menyediakan akomodasi yang aman dan nyaman selama perjalanan, terutama bagi pemudik yang melakukan perjalanan bersama keluarga. Niat baik mudik gratis agar pemudik terhindar dari petaka di jalan sebagaimana tercermin melalui dua temuan di bawah ini.

Riset Djafairy (2007), menyatakan, kerapnya terjadi kecelakaan lantas karena sebagian para sopir bus atau angkutan umum belum bisa diajak disiplin karena tidak adanya rasa empati dan memiliki persepsi negative tentang disiplin berlalu lintas. Persepsi negatif para sopir dapat tejadi karena sikap penegak hukum dalam berlalu lintas kurang tegas. Pelanggar lantas dapat dengan mudah terlepas dari hukuman pelanggaran lantas yang telah dilakukan setelah pelanggar memberikan uang kepada penegak hukum. Firman (2008), menyatakan, keganasan hidup di jalanan juga tergambar dalam data yang pernah dikeluarkan Depkes, bahwa kecelakaan di jalan merupakan masalah kesehatan yang sangat serius di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Karena itu, pergerakan jutaan manusia Indonesia di jalan raya, khususnya jalan antar kota atau antar propinsi pada masa mudik dan arus balik mudik, yang terbukti semakin meningkatkan ketidaknyamanan selama di perjalanan, merupakan ‘peluang’ perusahaan untuk menciptakan dan memberi nilai kepada masyarakat melalui program mudik gratis.

EKSISTENSI PRODUSEN

Ada beberapa alasan pentingnya mendorong keharmonisan relasi produsen-konsumen, khususnya di momentum bulan suci dan terasa implisit nantinya pada program mudik gratis. Pertama, eksistensi produsen pertama-tama bergantung pada konsumen. Produsen ada karena dan untuk konsumen. Faktor inilah yang sekiranya menjadi alasan keberadaan produsen. Konsumen memiliki preferensi tidak hanya pada satu produsen, karena itu produsen dituntut untuk semakin memahami kebutuhan konsumen. Bahkan konsumen bisa menentukan hidup matinya produsen.

Jika produsen gagal menjalankan fungsinya, dalam arti tidak memenuhi standar kebutuhan konsumen, baik dalam hal konsistensi kualitas produk dan layanan, maupun persoalan harga, kehancuran mereka menjadi keniscayaan. Dunia yang semakin kompetitif dapat dipahami bukan hanya dalam frame kompetisi untuk memenangkan suatu tujuan, tetapi terlebih dalam hal bagaimana meng-up-grade kualitas produk dan layanan secara pasti.

Baik badan usaha milik swasta atau perorangan, maupun usaha milik pemerintah, keduanya sedang memasuki arena kompetisi untuk menyenangkan hati pelanggan. Layanan pemerintah yang tidak memuaskan misalnya, bisa berakibat pada image sosial. Memang secara kalkulasi bisnis, resiko keuangan mereka tidak begitu besar dibandingkan usaha swasta dan perorangan. Namun, justru karena penilaiannya secara sosial, bisa mendatangkan efek sosial yang jauh lebih besar dibandingkan kerugian materi, seperti ketidakpercayaan publik, bahkan ketidakpatuhan masyarakat terhadap negara (civil disobedience).

Kedua, merupakan spirit bagi dunia usaha untuk memacu kinerja mereka. Di ruang-ruang perkantoran, momen-momen pertemuan para manajer, even pelatihan karyawan, serta intruksi-intruksi pejabat pemerintahan, meningkatkan kinerja organisasi untuk menghasilkan kepuasan dan loyalitas pelanggan, telah menjadi value dan credo yang diinjeksikan secara intensif pada semua pihak. Semua yang dilakukan untuk pelanggan, termasuk program mudik gratis, adalah upaya untuk meningkatkan serta memperkuat nilai merek (brand value) organisasi.

Dalam survey Indonesia Best Brand dan penganugerahan Indonesian Best Brand Award (IBBA) yang pernah diselenggarakan oleh Majalah SWA dan MARS, menggunakan enam tolak ukur penilaian: popularitas merek (brand awareness), popularitas iklan (ad awareness), persepsi kualitas merek(perceived quality), tingkat kepuasan dan kesetiaan pelanggan (satisfaction &loyalty index), pangsa pasar (market share), serta potensi merek untuk mengakuisisi konsumen di masa depan (gain index).

Keenam indikator ini merupakan komponen brand value dan semuanya berorientasi pada pelanggan. Baik buruknya satu indikator menentukan keseluruhan brand value. Sekiranya aksi CSR pada Ramadhan dan hari raya Idul Fitri nantinya, implisit untuk meningkatkan dan memperkuat brand value perusahaan.

 

Sumber : Bisnis Indonesia. Jumat, 10 Juli 2015

Warning Akreditasi Perguruan Tinggi

Warning-Akreditasi-Perguruan-Tinggi.-Jawa-Pos.30-Juni-2015.Hal.25,35

SURABAYA –  Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) mengimbau seluruh perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) untuk memperhatikan masa berlaku akreditasi.

Enam bulan sebelum berakhir, perguruan tinggi harus memperpanjang akreditasi. Kalau tidak, izin operasional perguruan tinggi tersebut dicabut.

Ada tujuh standar yang digunakan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk menentukan akreditasi. Yakni, visi-misi, sistem kepemimpinan, mahasiswa-lulusan, sumber daya manusia, kurikulum pembelajaran, sarana-prasarana, serta penelitian-pengabdian masyarakat. “Setelah perguruan tinggi memenuhi standar yang diperlukan, tim asesor melakukan penilaian. Apakah akreditasi tetap atau naik atau bahkan turun,” ujar Bambang Suryoatmono, anggota tim Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Direktrat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Dikti, saat ditemui di Kopertis Jatim VII kemarin (29/6).

Sekretaris Dewan Pendidikan Tinggi (DPT) Widijanto Nugroho menambahkan, BAN-PT tidak semena-mena dalam menilai akreditasi. Setiap tahun ada sekitar 1.000 kuota prodi yang harus dipenuhi BAN-PT untuk penilaian akreditasi. “Apabila tidak bisa dilakukan tahun ini, akreditasi harus menunggu tahun depan. Namun, jangan sampai melebihi batas kadaluwarsa,” imbuh pria yang akrab disapa Didit tersebut.

Mulai awal tahun ini, BAN-PT bukanlah satu-satunya lembaga yang menilai akreditasi. Pembentuk juga membentuk Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM). “Masih transisi. Tahun ini baru terbentuk bidang kesehatan dari LAM. Tahun depan rencananya dibuka bidang teknik. Masing – masing bidang tersebut akan bertugas menilai akreditasi sesuai prodi,” jelasnya.

Selama ini akreditasi mengacu pada peraturan lama, yakni PP Nomor 19 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT). Mulai tahun depan, PP Nomor 49 Tahun 2014 diberlakukan. :Kalau yang lama, akreditasi lebih menekankan pada standar pendidikan. Sedangkan yang terbaru selain pendidikan, akreditasi menekankan standar penelitian dan pengabdian masyarakat,” imbuhnya.

Setelah peraturan baru diberlakukan, ada dua lembaga yang akan menangani akreditasi perguruan tinggi. Yakni, BAN-PT bertugas menilai akreditasi institusi, sedangkan LAM bertugas menilai akreditasi prodi. Akreditasi memiliki masa aktif lima tahun. Sebelum masa habis, perguruan tinggi harus segera memprosesnya.

Kemristek Dikti mengimbau perguruan tinggi memperpanjang akreditasi secara rutin. Dengan begitu, mutu pendidikan di Indonesia terjamin. “Kalau tetap diteruskan saja walau masa habis, mahasiswa yang dirugikan. Masa berlaku ijazah yang dikeluarkan juga dapat dikatakan habis,” imbuhnya.

Di Jatim, ada 102 prodi yang masuk masa enam bulan sebelum kadaluwarsa. Di antara jumlah tersebut, 45 prodi ada di perguruan tinggi Surabaya. Salah satunya adalah prodi S-1 Ilmu Farmasi Unair. Tanggal kadaluwarsa prodi tersebut adalah 29 Oktober. “Memang benar prodi ilmu farmasi merupakan salah satu yang masuk masa enam bulan sebelum kadaluwarsa. Tapi, kami saat ini mengurus perpanjangannya, ujar Wakil Rektor 1 Prof Syahrani. Prodi S-1 ilmu farmasi mendapatkan akreditasi A. (bri/c7/ayi)

 

Tanggung Jawab atas Pendidikan

Tanggung-Jawab-atas-Pendidikan.-Kompas.25-Juni-2015.Hal.6

Sering terdengar slogan bahwa kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa tak terutama tergantung kepada sumber daya alam, yang di Indonesia sudah hampir terkuras habis, tetapi kepada sumber daya manusia.

Korea Selatan dan Singapura bisa disebut sebagai contoh dekat. Namun, dalam slogan itu jarang diungkapkan perbedaan antara kedua sumber daya itu. Sumber daya alam (SDA) diberi oleh alam yang pemurah, sementara sumber daya manusia (SDM) harus dibuat manusia sendiri. SDA bersifat given, sedangkan SDM merupakan kualitas yang harus diproduksi manusia.

Beberapa minggu lalu Presiden Joko Widodo membuat pernyataan yang patut diperhatikkan, dan membangunkan kita dari kesadaran yang tidur nyenyak. Berkata Presiden, tahun 1970-an Indonesia booming minyak. Negara seakan terapung di atasnya. Tetapi, akhirnya kita tak dapat suatu aoa kecuali bahwa Pertamina hampir saja bangkrut. Tahun 1980-an ada booming kayu, tetapi yang didapat negara hanya gundulnya hutan tropi di Sumatera dan Kalimantan, dan meningkatnya kerentanan terhadap banjir setiap huja turun. Tahun 2000-an ada booming mineral, seperti batubara, tetapi tak ada yang tertinggal untuk negara dan bangsa. Hasilnya, hancurnya lingkungan dengan depresiasi yang luar biasa berhadapan dengan 95 persen eksportir yang tak punya nomor pokok wajib pajak. Satu-satunya yang masih terselamatkan hanyalah laut harus dihentikan dengan tegas.

Tentu saja menurut Presiden Jokowi menyadari pentingnya SDM sekalipun hal itu tak disinggung dalam pernyataannya. Kita tahu, SDM harus dibuat, harus diproduksikan. Adapun jalan untuk menghasilkan SDM adalah pendidikan. Horace Mann, pemikir pendidikan yang sering dikutip filsuf John Dewey berkata  education is our only political safvety, outside of this ark is the deluge (pendidikan adalah pengamanan politik kita satu-satunya, di luar bahtera ini hanya ada banjir dan air bah).

Menurut Mann, pendidikan umum merupakan oenemuan terbesar manusia. Organisasi – prganisasi sosial lain semuanya hanya kuratif dan remedial sifatnya. Sekolah saja yang daoat mencegah dan menangkal kesulitan dan bencana. Namun demikian, hanya pendidikan dengan asas-asas dan praktik yang benarlah yang dapat menjadi pengamanan politik dan menciptakan SDM, yaitu orang – orang yang dilengkapi tingkat kecerdasan tertentu dengan watak dan prinsip-prinsip tertentu. Orang-orang yang dididik dengan baik dapat membantu proses produksi dalam ekonomu dan memperkuat integrasi sosial dalam kelompoknya. Sebaliknya, pendidikan yang centang-perenang, tanpa arah dan tujuan yang jelas, hanya kaan menghasilkan orang-orang yang menjadi beban masyarakatnya dan sumber masalah yang mempersulit kehidupan bersama.

Pendidikan dan pengajaran

Ada pandangan yang membedakan pendidikan dan pengajaran. Kurang jelas apakah pembedaan ini maksudnya menunjukkan pembagian tugas, seakan-akan sekolah hanya mengurus pengajaran, sementara pendidikan anak didik menjadi tanggung jawab masing-masing keluarga. Apa pun maksud pembedaan itu, satu hal perlu ditegaskan di sini, yaitu bahwa pengajaran dan pendidikan bisa dibedakan, tetapi tak pernah bisa dipisahkan. Alasannya, pengajaran yang diajarkan di sekolah tak dimaksudkan hanya untuk menjadi transfer pengetahuan. Pengajaran memang bertujuan mmenyampaikan pengetahuan, tetapi pengetahuan yang ditransfer itu harus menajdi sarana bagi pendidikan anak didik dan unsur dalam pembentukan kepribadian mereka.

Dalam pengajaran itu mereka dilatih berpikir, bertanya, dan perlahan-lahan memahami bagaimana pengetahuan disusun dengan metode dan sistematika tertentu, dan bagaimana pula pengetahuan itu telah diperoleh dan apakah dapat diuji kesahihannya. Melalui pengetahuan itu terbuka wawasan tentang alam dan masyarakat, dan bagaimana mestinya orang bersikap terhadap alam dan berperilaku terhadap anggora masyarakat. Singkat kata, pengajaran menyampaikan pengetahuan, dan pengetahuan mempertajam nalar, membentuk watak dan mematangkan kepribadian.

Pengajaran yang tak dihayati sebagai sarana pendidikan akan berubah mekanis dan membuat otak anak didik seolah – olah file komputer yang hanya berfungsi menampung informasi. Bertrand Russel, filsuf Inggris terbesar abad XX dan pemenang Nobel untuk kesusastraan, mengajukan kritik tajam dan sengit terhadap pendidikan yang diperlakukan hanya sebagai pengajaran. Menurut dia, kita  memang sanggup menciptakan berbagai perlengkapan dan membuat alat-alat, namun kita bisa tetap primitif dalam metode dan teknik, kalau kita mengira pendidikan hanya menjadi transfer pengetahuan yang sudah baku, dan bukannya sarana membentuk kebiasaan dan sikap ilmiah.

Ciri utama orang kurang terdidik adalah sikap tergesa-gesa dalam membentuk pendapatnya, yang kemudian dipertahankan secara mutlak. Sebaliknya, seorang terpelajar akan sangat berhati-hati dalam berpendapat dan selalu berbicara dengan modifikasi. Latihan – latihan dalam pendidikan melalui pengajaran lambat laun akan membentuk intellectual conscience atau nurani intelektual yang ditandai oleh dua hal utama, yaitu sikap untuk percaya hanya kalau ada bukti-bukti yang bisa dipegang dan kesediaan mengakui bahwa bukti-bukti itu pun masih bisa salah.

Pembentukan nalar yang berhasil dalam pendidikan dapat mengubah pandangan seseorang secara radikal, seperti sikap lebih menghargai seni dan keindahan daripada kekayaan dan kemewahan, atau lebih mengutamakan kecerdasan dan rasa percaya diri daripada kebanggaan terhadap status dan jabatan. Perubahan sikap inilah yang menandai munculnya masa Renaisans di Eropa yang bermula di Italia pada abad XIII-XIV dan diteruskan beberapa abad kemudian. Untuk kita, pendidikan dapat membuat orang sanggup mengontrol insting posesif berlebihan. Materialisme praktis yang dibawamasuk ke Tanah Air oleh kapitalisme, sudah membuat orang menganggap sama dua hal yang berbeda sekali, yaitu menikmati dan memiliki.

Sulit sekali menemukan orang bermodal yang membiarkan bukit anggrek indah di hutan dinikmati banyak orang tanpa harus membeli dan memilikinya untuk diri sendiri. Orang bisa menikmati tanpa harus memiliki, dan lebih sering orang memiliki tanpa sanggup menikmati. Dalam bidang sosial gejala ini terlihat dalam bertambahan kayanya sekelompok kecil elite, tanpa ada perhatian dan keterbukaan hati untuk menikmat kemajuan orang lain berkat bantuan yang diberikan. Filantropi rupanya asing pada awal kapitalisme. Keserakahan merupakan Kinderkrankheit des Kapitalismus atau penyakit kanak-kanak dalam kapitalisme.

Mentalisme dan sikap ilmiah

Studi tentang sejarah ilmu pengetahuan pernah dilakukan filsuf Alfred North Whitehead dan dikemukakan dalam serangkaian kuliah di Universitas Harvard pada paruh pertama 1920-an dan kemudian diterbitkan sebagai buku  Science and The Modern World. Sebuah tesis yang dipertahankannya dengan berbagai bukti historis ialah bahwa pembentukan mentalitas dan sikap ilmiah sering kali lebih penting dan lebih mendorong kemajuan dibandingkan kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri. Hadirnya teknologi di suatu negara tak dengan sendirinya menunjukkan kemajuan negara itu dalam ilmu dan teknologi, karena produk teknologi selalu bisa dibeli. Suatu negara dapat dikatakan maju kalau dapat memproduksi teknologi itu, bahkan menemukan jalan memproduksi teknologi baru.

Lukisan perkembangan ilmu dan teknologi di Eropa oleh AN Whitehead dapat mengilustrasikan hal ini. Entakan besar dalam ilmu pengetahuan alam dan humaniora terjadi di berbagai negara Eropa pada abad XVII yang disebutnya abad para genius. Dalam kesusastraan ada Miguel de Cervantes di Spanyol yang menulis  Don Quixote; di Inggris berkibar Shakespeare yang memberi watak kepada sastra dan bahasa Inggris. Keduanya wafat pada 27 April 1616. Dalam filsafat muncul Descartes di Perancis, Francis Bacon dan John Locke di Inggris, Baruch Spinoza di Belanda, dan Leibniz di Jerman. Dalam fisika berderet nama, speerti Newton di Inggris, Robert Boyle di Irlandia, dan Huygens di Belanda. Dalam astronomi kita kenal Galileo Galilei di Italia dan Johannes Kepler di Jerman. Dalam matematika ada Blaise Pascal di Perancis dan dalam biologi ada William Harvey di Inggris yang menemukan sistem peredaran darah kita.

Nama-nama ini hanya sebagian kecil dari daftar panjang para genius yang berkarya abad XVII. Para ahli sejarah ilmu pengetahuan masih meneliti mengapa lahir demikian banyak genius pada masa ini. Menurut Bertrand Russel yang menulis buku sejarah filsafat Barat yang  banyak dipuji, abad XVI adalah abad yang mengalami kegersangan filsafat karena peperangan antaragama. Perang Tiga Puluh Tahun antara pihak Katolik dan Protestan, akhirnya menimbulkan anggapan bahwa kesatuan dalam dogma agama yang diidamkan dalam Abad Pertengahan sudah tak mungkin tercapai lagi. Setiap orang sebaiknya berpikir sendiri untuk dirinya juga mengenai soal-soal fundamental. Hasrat untuk kebebasan berpikir sendiri dan keengganan kepada soal – soal teologis lambat laun melahirkan kegairahan baru untuk hal-hal sekuler, yang bermuara kepada ilmu pengetahuan. Mentalitas baru inilah yang melahirkan para genius.

Di Indonesia, almarhum Prof Sartono Kartodirdjo dari Universitas Gadjah Mada pernah menceritakan anekdot perilaku mahasiswanya, termasuk mahasiswa asing. Mahasiswa Jepang yang membeli sepeda motor baru memanfaatkan hari liburnya pada akhir pekan untuk membongkar seluruh sepeda motor dan memereteli berbagai bagiannya, kemudian disusun kembali untuk mengetahui struktur mesin dan sistem mekaniknya. Sebaliknya, mahasiswa Indonesia membeli sepeda motor baru akan segera mengunjungi pacarnya, mengajaknya keliling kota, dan melewatkan acara malam minggu bersama.

Dari segi mentalitas, mahasiswa Jepang itu punya mentalitas teknologis, sementara mahasiswa kita masih hidup dalam mentalitas konsumeristis. Diterapkan di sekolah, pengajaran dan pendidikan bukan saja menyajikan science products (produk ilmu pengetahuan), tetapi mendorong science production (bagaimana ilmu diproduksikan). Berbagai bentuk pengajaran dan pendidikan tujuan utamanya bukanlah melakukan transfer pengetahuan sebanyak-banyaknya, melainkan menciptakan suasana dan motivasi agar peserta didik didorong mencari dan menghasilkan pengetahuan baru dalam suatu bidang penelitian, entah dengan mengidentifikasi bidang-bidang penelitian yang belum banyak dikaji dan dapat dijadikan obyek penelitian agar melengkapi penelitian-penelitian yang sudah ada, atau dengan mencoba metode dan teknik penelitian baru yang menyorot aspek tertentu dari suatu obyek penelitian yang sudah diteliti sebelumnya, tetapi yang kemudian dijelaskan dengan cara lebih komprehensif.

Pada titik ini dua kepentingan patut diperhatikan. Pertama, kepentingan validasi, yaitu pengujian pengetahuan agar pengetahuan itu terjamin keahihannya, sebelum digunakan lebih banyak orang. Pengetahuan yang akan digunakan berbagai pihak, haruslah terhindar sejauh mungkin dari kekeliruan dan kesalahan entah mengenai data yang dikumpulkan, atau penjelasan tentang data itu. Pengetahuan fisika, biologi, kimia atau pengetahuan ilmu-ilmu sosial yang menjadi konsumsi publik, harus terjamin kesahihannya oleh validasi yang memenuhi syarat pengujian, agar pemakaian atau penerapan pengetahuan itu oleh pihak lain tak merugikan atau membahayakan mereka.

Kedua, pendidikan dan pengajaran harus dapat menunjukkan pentingnya aspek penemuan dalam ilmu pengetahuan bukan saja harus dijaga dan dirawat dari masa ke masa, tetapi perlu diperbarui dengan temuan baru. Inilah dimensi heuristik dalam ilmu pengetahuan. Temua baru itu dapat berupa obyek baru dalam sebuah bidang studi dan penelitian. Temuan juga dapat berupa penjelasan baru tentang data lama yang sudah dikumpulkan dan obyek penelitian yang sudah diketahui sebelumnya.

Diterjemahkan ke istilah yang lebih sederhana validasi ilmu pengetahuan butuh sikap kritis di antara para peserta didik, dan kemampuan heuristis dalam ilmu pengetahuan tak berarti lain dari sikap kreatif anak didik dalam menghadapi tugas belajar mereka. Sikap kritis hanya dimungkinkan oleh pandangan yang menghadapi ilmu pengetahuan sebagai suatu disiplin, sedangkan sikap kreatif akan muncul dari pengetahuan sebagai suatu art atau seni, yang butuh kebebasan dan keleluasaan dalam menanggapinya. Apakah kritik dan kreativitas, disiplin dan kebebasan, metodologi dan imajinasi, menajdi perhatian di sekolah-sekolah kita sekarang, dan dikembangkan dalam perimbangan yang optimal, itulah pertanyaan dasar tentang pendidikan kita di Indonesia sekarang.

 

IGNAS KLEDEN

Sosiolog, Ketua Badan Pengurus

Komunitas Indonesia untuk Demokrasi

Tabir Surya Berbahan Alami

Tabir-Surya-Berbahan-Alami.-Jawa-Pos.10-Juli-2015.Hal.44

SURABAYA- Fanny Kusuma dan Grace Suryaputra sama-sama berkuliah di Falkutas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM). Dua sahabat itu sama-sama mencintai ilmu tentang kosmetik. Tanpa di sengaja, dua perempuan yang menjalani pendidikan apoteker tersebut mengeksplorasi bahan alami untuk tabir surya.

“Saya mengeksplorasi buah stroberi untuk tabir surya. Fanny mempelajari kandungan wortel. Sama-sama untuk penangkal sinar UV dan antioksidan,” ujar Grace.

Stroberi, menurut dia, merupakan buah yang multifungsi meski rasanya masam sekali. “Rasa buahnya memang masam, tapi kandungannya sangat keren untuk kecantikan dan perawatan,” Kata Grace.

Sementara itu, wortel mengandung Karotena yang sangat tinggi. Karotena tidak hanya baik untuk mata, tetapi juga untuk kulit. “ Antioksidannya juga tinggi meski tidak setinggi stroberi,” jelas Fanny.

Farida Lanawati Darsono, pembimbing, yakni krim buatan anak didiknya bermanfaat. Bahkan, makin lama masyarakat Indonesia akan kembali ke bahan-bahan alami. “Akan back to nature karena semua yang instan dan kimia, bila tidak tepat, akan menghasilkan dampak yang mengerikan,” ungkap Farida.

Sumber: Jawa Pos  Jumat 10 Juli 2015

Selangkah Perjalanan, Segenggam Petualangan

Solusi-Wisata-Revolusioner.-Kompas.24-Juni-2015.Hal.13

Selangkah Perjalanan, Segenggam Petualangan

Travel is the only thing you buy that makes you richer. Kalimat ini menyapa tepat di depan pintu rumah penginapan sederhaana di Pulau Weh, Sabang. Kalimat ringkas yang memaksa setiap pembacanya merenungi sejenak dan mengembangkan senyum perlahan.

UNGKAPAN dari seseorang yang tak dikenal ini telah membahana ke seluruh penjuru dunia. Bahkan dijadikan “mantra” oleh sebagian orang yang mengaku candu berkelana. Karena sejatinya berkelana bukan sekadar berjalan-jalan, tetapi menyerap berbagai hal yang ditemui di sepanjang perjalanan-bukan hanya sesampainya di destinasi. Semakin tinggi frekuensi perjalanan, semakin kayalah ia. Kaya akan pengalaman, pengetahuan budaya-seni, geografis, politik, hingga nilai hidup. Konon, inilah yang membedakan seorang turis dan petualang.

Dari sini, pelajaran menghormati perbedaan dan keragaman bisa dipetik tanpa terlalu banyak petatah-petitih. Kemampuan memaknai perbedaan menjadi modal untuk hidup berdampingan sebagai warga dunia yang dihuni oleh berbagai macam kelompok masyarakat. Siapa nyana, dari sekadar hobi dan kebutuhan, berwisata bisa menjadi pemersatu hidup bersaudara antargolongan dan kelompok.

EVOLUSI GAYA HIDUP

Jika dulu hanya segelintir orang yang melakukannya, berwisata kini berkembang menjadi sebuah industri berskala global dan memberi kontribusi signifikan bagi pendapatan negara. Seperti halnya Indonesia, yang pada tahun lalu bahkan pertumbuhan industri pariwisatanya melebihi pertumbuhan ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik pun mencatat jumlah turis asing yang berkunjung ke Indonesia selama Januari-September 2014 naik 8,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berwisata, dari sekadar kebutuhan tersier, kini memang telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan anak muda. Jargon yang diusung juga berubah. Hidup tak melulu belajar, bekerja, dan menabung, tetapi juga menikmati hidup dengan melihat berbagai belahan dunia.

Perjalanan ini bisa dipilah berdasarkan tema. Wisata alam, sejarah, belanja, kuliner, atau mencoba menjadi seorang backpackers sejati yang berkelana mengikuti naluri, dengan berbekal peta di tangan.

Evolusi dalam dunia wisata inilah yang membawa perubahan pada cara seseorang memaknai sebuah perjalanan. Sifatnya semakin personal, pilihan gaya berkelana kian beragam. Traveling in style pun menjadi sebuah idiom yang baik secara terbuka maupun diam-diam diidamkan banyak orang.

BERKELANA GAYA

Hostel dan resor mewah, destinasi eksotis, bertualang kuliner, hingga perjalanan bertualang yang seru, dan tidak terlupa, ditemani tas yang mampu membawa barang bawaan dengan nyaman sekaligus eksklusif. Hal-hal ini kerap diidentikkan sebagai cara untuk berlibur penuh gaya.

Nah, cara seseorang mengemas bawaannya itu menentukan kenyamanan selama berkelana. Dengan bentuk desain dan teknologi tas perjalanan yang semakin beragam dewasa ini, patut kembali memperhatikan esensi dan fungsinya sesuai dengan destinasi, durasi, dan gaya berkelana. Jika merupakan perjalanan singkat, tak ada salahnya memilih cabin baggage yang bisa dimasukkan dalam kabin pesawat.

Hal itu juga memberi kepraktisan lebih, tidak perlu mengantre di konter check-in untuk memasukkan koper ke dalam bagasi pesawat maupun menunggu keluar dari bagasi. Di sisi lain, jika membawa barang berharga, cara ini juga lebih aman karena tak melalui tangan kedua dan ketiga.

Untuk perjalanan bisnis sebaiknya gunakan koper yang juga dapat mengemas perlengkapan bekerja Anda seperti laptop. Untuk perjalanan yang menempuh waktu lama, sebaiknya pilih ukuran sesuai kebutuhan dengan koper warna cerah atau unik agar mudah diidentifikasikan. Kalaupun hal ini terasa tak sesuai dengan karakter, siasati dengan label tas yang unik dan stylish.

Pada perjalanan berlibur, sebaiknya gunakan tas yang ringan dan mampu menampung bawaan dengan praktis. Dengan demikian, barang bawaan yang diperlukan tetap terangkut, barang-barang hasil buruan belanja pun tetap terakomodasi tanpa membuat bawaan menjadi terlalu berat.

Mengutip ujaran penerbang dan penyair asal Perancis Antoine de St Exupery, “He who would travel happily must travel light.” Untuk apa membebankan diri dengan berbagai bawaan dalam tas jika pada akhirnya mengganggu kenyamanan perjalanan?

 

UC Lib-Collect

Kompas. 24 Juni 2015