Training penggunaan Emerald & cara publikasi ke Jurnal Internasional

UC Library & LPP didukung oleh Emerald Group Publishing Limited mengadakan Program Pelatihan Penggunaan Emerald dan Cara Publikasi ke Jurnal Internasional yang mudah dipahami. Didukung oleh Bapak Irwan Sukardi Business Manager dari EmeraldGroup Publishing Limited (Indonesia) yang berpengalaman menjadi daya tarik tersendiri dari pelatihan ini. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 18 September 2015
bertempat di Universitas Ciputra, ruang 712dan dilaksanakan pada pukul 09.00 – 11.30 WIB. Sekitar 30 peserta tampak antusias mengikuti pelatihan ini baik para dosen maupun staff dikarenakan Training ini sangat sesuai bagi yang sedang melakukan penelitian atau yang berminat dalam bidang penelitian dan membuat karya ilmiah.

IMG-20150918-WA0004 IMG-20150918-WA0005 IMG-20150918-WA0008 IMG-20150918-WA0010 IMG-20150918-WA0011

 

i’Talk_Speak “BULLSHIT” (August Edition)

iTalk (Innovation Talk) bulan Agustus 2015 lalu dilaksanakan dengan mengusung tema Speak “BULLSHIT” (BULLying on Self HIpnotic Treatment). Diadakan pada hari kamis 27 Agustus 2015, jam 10.30-11.30 WIB. Narasumber oleh Ibu Carolina Novi Mustikarini S.E., M.Sc., LP-NLP (nick name: Ivon)_(Dosen jurusan IBM UC).

 

DSC01306 DSC01314 DSC01317

Foto-foto yang lain: Klik disini

 

Eriana Sagoiso Uma Pendidik Anak Mentawai

Pendidik Anak Mentawai. Kompas.17 September 2015.Hal.16

ERIANA SAGOISO UMA

  • Lahir : Mentawai, 25 Mei 1985
  • Pendidikan Terakhir : SMA Negeri 1 Siberut Selatan (2005)
  • Suami : Stefanus Nahu Sagulo

 

Jadi guru di pelosok pulau terdepan Indonesia seperti Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, bukan hal mudah. Mereka yang memilih itu harus siap berhadapan dengan segala keterbatasan, terutama fasilitas dan aksesbilitas. Eriana Sagoiso Uma (30), guru satu – satunya di Sekolah Dasar Santa Maria Fillial, di Dusun Bekkeilu, Desa Muntei, Siberut  Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Ia sudah menjalani itu selama hampir 10 tahun.

OLEH ISMAIL ZAKARIA

Eriana, yang ditemui awal bulan ini, menuturkan, dia mulai mengajar tahun 2005. Ketika itu, sekolah tersebut masih berbentuk kelompok belajar di Battumu, sebuah kawasan perladangan di Desa Muntei. Letak sekolah itu sekitar 1 kilometer dari bangunan sekolah yang ditempati sekarang. Setelah beberapa kali pindah tempat hingga akhirnya menjadi bagian dari Sekolah Dasar Santa Maria milik Yayasan Prayoga pada 2008, sekolah tersebut kini menempati gedung Gereja Katolik Santo Paulus yang berada di Dusun Bekkeilu.

Proses belajar – mengajar tidak dilakukan di ruang kelas seperti sekolah kebanyakan. Kondisi ini menjadi salah satu dari sejumlah tantangan yang harus dilalui Eriana selama bertahun – tahun. Saat masih berbentuk kelompok belajar atau sekolah hutan, kegiatan belajar berlangsung di gereja. Sekarang, ketika sekolah berpindah tempat dan kembali menggunakan bangunan gereja, Eriana msih harus membiasakan diri mengajar dalam kondisi serba terbatas.

“Memang seperti ini adanya, Setiap hari mulai pukul 07.30 sampai pukul 11.00 sepanjang Senin sampai Sabtu, saya harus mengajar tiga kelas sekaligus secara bersamaan dalam satu ruang. Bisa dibayangkan repotnya membagi peran mengajar mata pelajaran berbeda. Akan tetapi, disitulah tantangannya. Saya harus bertanggungjawab dengan pilihan saya menjadi seorang guru,” Kata Eriana.

Sejak awal berdiri hingga sekarang, sekolah tersebut memang hanya terdiri atas tiga kelas. Para siswa yang naik ke kelas IV harus melanjutkan ke sekolah induk di Muara Siberut atau mencari sekolah yang membuka kelas hingga jenjang kelas yang lebih tinggi. Jarak sekolah lanjutan itupun tak dekat, harus ditempuh dengan berjalan kaki selama berjam – jam.

Meski siswa yang ditangani Eriana hanya tiga kelas dengan jumlah siswa 14 orang, menjadi guru seorng diri di sekolah tersebut cukup membuatnya kewalahan.

Suatu hari, saat kegiatan belajar – mengajar berlangsung, Eriana yang mengenakan baju coklat, terlihat tak pernah berdiam terlalu lama. Dia harus berpindah dari tujuh siswa kelas II dan III yang digabung di bagian depan ruangan gereja yang sedang belajar IPA. Ia pun segera berpindah ke tujuh siswa kelas I di lantai gereja untuk mengajari mereka membaca.

Fasilitas belajar seperti buku juga terbatas. Hanya beberapa buku tak bersampul tampak tersusun rapi di mejanya. Ruang kelas hanya dilengkapi dua papan tulis. Satu papan putih yang dibagi dua ntuk kelas II dan III serta papan hitam untuk siswa kelas I. Selain itu, taka da penggaris.hanya potongan bambu seukuran 40 sentimeter yang dipakai Eriana ketika mengajar. Ruang belajar pun remang – remang. Penerangan hanya berasal dari cahaya matahari yang menyusup masuk lewat jendela dan pintu yang dibuka lebar.

“Siswanya juga tidak jarang yang membandel. Lihat saja, ini belum semua masuk, masih ada yang pulang ke rumah dan belum kembali sejak istirahat tadi. Ada juga yang meski sudah kembali, balik lagi karena alat tulisnya ditinggal di rumah. Tetapi, saya maklum, namanya juga anak – anak. Tidak jadi masalah. Yang terpenting mereka mau sekolah dan belajar,” kata Eriana tersenyum sambil bangkit dan keluar ruangan mencari siswanya.

Menjadi guru, Eriana tidak bergelar sarjana atau lulusan sebuah fakultas keguruan. Dia memang sempat bermimpi ke Padang dan berkuliah di salah satu perguruan tinggi di ibu kota Sumbar itu. Sayang, mimpi itu kandas karena kedua orangtuanya tak memiliki biaya. Beruntung, saat lulus SMA Negeri 1 Siberut Selatan tahun 2005, masih ada kelas belajar di Battumu dan dia diminta mengajar disana.

Meski demikian, Eriana tak berkecil hati. Dia tetap berusaha menjadi guru yang baik. Sesekali dia ke Muara Siberut untuk mencari buku tentang pengajaran. Dari sana, dia belajar tentang cara mengajar, keinginannya untuk mengembangkan kemampuan dengan berkuliah di Universitas Terbuka belum juga terwujud. Selain karena pendaftaran sudah ditutup, biaya untuk kuliah belum cukup.

“sebagai guru, saya harus terus berusaha memastika kegiatan belajar – mengajar tetap berlangsung. Karena itu, saya mencari cara agar anak – anak juga tetap semangat belajar. Misalnya dengan memberi tugas lalu menyelesaikannya dalam kelompok belajar. Saya sudah mengontrol itu karena rumah saya dan siswa berdekatan semua,” kata Eriana.

NAIK PERAHU

Selain soa fasilitas, Eriana juga telah terlatih dengan terbatasnya aksesbilitas di pedalaman Mentawai. Tak ada alat komunikasi karena sinyal operator telepon belum menjangkau Bekkeilu. Kondisi ini membuat koordinasi dengan sekolah induk di Muara Siberut, pusat kecamatan Siberut Selatan, hanya bisa dilakukan dengan langsung ke sana.

“Untuk sampai ke Siberut, saya harus menumpang kapal pompon menyusuri sungai selama empat jam. Jalan darat sebenarnya ada, tetapi harus jalan kaki sekitas 5 -6 jam. Sebulan sekali saya ke sana untuk membeli kapur, tetapi sekarang dengan pompong sudah jarang jalan kaki lagi,” kata Eriana yang lahir dan besar di Dusun Ubai, Desa Madobak, Siberut Selatan.

Menurut Eriana, uang untuk membeli kapur diperolehnya dari uang komite sebesar Rp.3.000 per siswa per bulan. Namun, menurut dia, terkadang tidak semua orangtua sanggup membayar uang komite sehinga ada yang menunggak. Meskipun demikian, tidak ada sanksi atau skor dari sekolah. Para siswa tetap dibiarkan belajar.

Eriana menambahkan, untuk biaya kehidupan sehari – hari, dia memang terbantu dengan honor yng diterimanya. Awal mengajar, dia dibayar Rp.400.000 – Rp.500.000 per bulan. Setelah sekolahnya menjadi bagian dari SD Santa Maria, honornya meningkat sekitar Rp.900.000 per bulan. Itu pun tidak seluruhnya digunakan untuk biaya hidup. Sebagian dia tabung untuk biaya jika nantinya berkesempatan untuk kuliah.

“saya tidak menjadikan honor itu sebagai alasan bertahan disini. Saya memang senang mengajar dan saya juga melihat bagaimana semangat anak – anak Mentawai untuk terus belajar di tengah segala keterbatasan mereka. Itu turut menyemangati saya,” kata Eriana.

 SUMBER : KOMPAS, Kamis 17 September 2015

Musim Winter di Ciputra World Fashion Week

Musim Winter di Ciputra World Fashion Week. Jawa Pos.17 September 2015.Hal.24

Surabaya – Industri fashion dunia kerap menjadikan September sebagai momen untuk meluncurkan tren bertema fall/winter. Fenomena yang banyak disebut sebagai pembuka musim baru di dunia fasion itu ternyata juga berdampak positif. Hal tersebut ditunjukkan dengan makin banyaknya brand internasional dan desainer muda dalam industri pashion Indonesia.

Misalnya, yang terlihat dalam Ciputra World Fashion Week (CWSW)) 2015 di Ciputra Woeld Surabaya yang dibuka tadi malam (16/9). Berlokasi di ground floor CWS, selama lima hari peragaan, akan ditampilkan koleksi fall/winter merek-merek terkenal dunia bersama bakat-bakat muda di industri fashion Surabaya.

Pergelaran itu sekaligus mengedukasi audiens, terutama yang berkecimpung di industri fashion. Sebab, tren fashion selalu berganti dan dinamis dari tahun ke tahun. “Tapi, kita tetap dengan spirit lokalitas kita sendiri,” kata Stephana Favriera, event coordinator Ciputra World Surabaya.

Dalam CWSW 2015, penyelenggara mengundang beberapa duest designer dari beberapa negara. Salah seorang diantaranya Kaer Kazami, desainer dari Malaysia yang tadi malam menampilkan 20 rancangan terbarunya.

Beberapa rancangan desainer lokal juga tidak mau kalah. Misalnya, yang ditunjukkan empat siswa Arva School of Fashion yang menampilkan dua tema, yaitu Rebirth dan Papua. Ada juga karya Opi Bachtiar dan Iwan Tirta yang akan tampil Jumat dan Sabtu lusa.

Sementara itu, Verlita Evelyn tadi malam tampil dengan brand In A Beat yang memboyong 12 rancangan terbaru

Sumber : Jawa-Pos, 17 September 2015, Hal.242

Movie Time @ UC Library

Pada Jumat, 21 Agustus 2015 lalu diadakan kegiatan Nobar (Nonton Bareng) dengan tajuk “Movie Time @ UC LIB” yang akan rutin diadakan setiap bulannya. Pada edisi kali ini Movie Time mengajak untuk melihat Film karya anak bangsa berjudul “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”.

Film inirilis tahun 2010, dan disutradarai oleh Deddy Mizwar, dengan pemain Reza Rahardian, Deddy Mizwar, Tika Bravani, Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja, Tio Pakusadewo, Asrul Dahlan.

Sinopsis:

Sejak lulus S1, hampir 2 tahun Muluk belum mendapatkan pekerjaan. Meskipun selalu gagal tetapi Muluk tidak pernah berputus asa. Pertemuan dengan pencopet bernama Komet tak disangka membuka peluang pekerjaan bagi Muluk. Komet membawa Muluk ke markasnya, lalu memperkenalkan kepada bosnya bernama Jarot. Muluk kaget karena di markas itu berkumpul anak-anak seusia Komet yang pekerjannya adalah mencopet.

Akal Muluk berputar dan melihat peluang yang ia tawarkan kepada Jarot. Ia meyakinkan Jarot bahwa ia dapat mengelola keuangan mereka, dan meminta imbalan 10% dari hasil mencopet, termasuk biaya mendidik mereka. Usaha yang dikelola Muluk berbuah, namun di hati kecilnya tergerak niat untuk mengarahkan para pencopet agar mau mengubah profesi mereka. DIbantu dua rekannya yang juga sarjana, Muluk membagi tugas mereka untuk mengajar agama, budi pekerti dan kewarganegaraan.

Diakhir cerita, penonton sendirilah yang akan menyadari bahwa alangkah tidak lucunya negeri ini.

DSC01187

Suasana Movie Time @ UC LIB

 

DSC01184

Suasana Movie Time @ UC Lib

 

 

 

i’Talk “Yuk MANCING” (Mentoring Asik Ngobrol ala Coaching) – July Edition

i’Talk (Innovation Talk) kembali hadir pada bulan Juli tepatnya pada Kamis 30 Juli 2015, dengan tema “Yuk MANCING” (Mentoring Asik Ngobrol ala Coaching). Berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya, kali ini terdapat 2 narasumber, yaitu Ibu Carolina Novi Mustikarini S.E., M.Sc., LP-NLP (nick name: Ivon), dan Ibu Dewi Mustikasari Immanuel, SE., MM. (Dosen jurusan IBM UC). Dimulai pkl. 10.30 wib pada edisi kali ini Ibu Dewi sebagai narasumber pertama menjelaskan tentang perbedaaan Training, Mentoring, Consulting, Coaching, Counseling, Facilitating. Dijelaskan pula kita harus menjadi PARA PEMIMPIN YANG MENARIK PEMIMPIN: Ingin agar orang lain mengikuti mereka, Berfokus pada kekuatan orang lain, Bersedia mendelegasikan kepemimpinan, Menginvestasikan waktu mereka di dalam diri orang lain, Adalah para pemimpin yang hebat, Mengalami kesuksesan yang luar biasa, bukan PARA PEMIMPIN YANG MENARIK PENGIKUT saja. Resonance (UKM Band) kembali hadir dengan personil band yang baru sebagai pembuka dan penutup acara yang dilaksanakan di UC Student Lounge & Service ini.

IMG_6806

Guest Speaker: Dewi Mustikasari Immanuel, SE., MM.

IMG_6829

Guest Star: Carolina Novi Mustikarini S.E., M.Sc., LP-NLP (nick name: Ivon)

More Pics: Click Here.