Movie Time @ UC LIB – 27 November 2015

Movie Time kembali hadir di UC Library dan mengajak UCers untuk bersantai sejenak di akhir pekan dari rutinitas selama seminggu penuh. Movie Time @ UC LIB kali ini dilaksanakan pada Jumat, 27 November 2015 pkl. 13.00 – 15.00 wib. Film yang ditayangkan berjudul McFarland, USA (2015)

Sutradara : Niki Caro

Pemain : Kevin Costner, Maria Bello, Carlos Pratts, Hector Duran dan Morgan Saylor.

Sinopsis:

Terinspirasi dari kisah nyata pada tahun 1987, “McFarland, USA” bercerita tentang para pelari pemula dari McFarland, sebuah kota yang memiliki perekonomian kuat dari sektor pertanian di Central Valley, California. Mereka memberikan segalanya untuk bisa membentuk sebuah tim lari lintas-negara di bawah arahan pelatih Jim White (Kevin Costner). Pelatih White dan siswa McFarland banyak belajar satu sama lain dan ketika White menyadari ada yang istimewa dari kemampuan berlari mereka. Selain bakat mereka, komitmen kuat satu sama lain dan etos kerja yang luar biasa juga menjadi kekuatan hubungan kekeluargaan yang terjalin. Dengan semangat dan tekad, para pelari nantinya bisa berpeluang untuk menang yang tidak hanya dalam kejuaraan tim lintas-negara, tetapi juga bisa menorehkan sejarah.

IMG-20151127-WA0006 IMG-20151127-WA0009

i’Talk_Slow Fashion (November Edition)

“A generation of consumers has grown up wearing what is often referred to as “fast fashion”—trendy, inexpensive versions of runway looks that shoppers wear for one season, or one occasion, and often toss. Now, many of these shoppers are graduating to a philosophy of quality not quantity, industry executives say. Some experts say, “buy less but better” – Wall Street Journal

“It’s about the consumer becoming aware of the whole process–from design through production through use and through the potential to reuse,”  -Hazel Clark, research chair of fashion at Parsons

Sesuai dengan kutipan diatas, i’Talk (Innovation Talk) yang kembali hadir pada Kamis, 26 November 2015, dan mengambil tema “Slow Fashion”. Sebagai narasumber, yaitu Ibu Rahayu B. Handayani (Fashion Design & Business Lecturers) berbagi mengenai bagaimana menjadi pembeli baju yang cerdas dan peduli seperti yang sedang berkembang di negara maju. Tidak hanya berkaitan dengan fashion, tapi juga sosial, dan lingkungan. Banyak yang belum sadar mengapa harga sebuah baju hasil garmen dapat begitu murah, bagaimana dengan upah pekerjanya? Atau bagaimana industri tekstil menyumbang limbahpencemar sungai. Dengan beberapa tips saya ingin berbagi apa saja yang dapat mereka lakukan secara sederhana untuk turut andil dalam slow fashion tersebut. Jadi menjadi stylish tidak hanya bisa di lakukan dengan membeli pakaian yang banyak dan berganti-ganti trend, tapi ada hal-hal lain misalnya membeli lebih sedikit dengan kualitas yang baik agar bisa di gunakan dalam jangka waktu lama, memilih desain-desain yang timeless dan beberapa tips lainnya. Terlihat beberapa mahasiswa dan dosen dari jurusan Fashion Design & Business UC mengikuti jalannya acara yang dilaksanakan mulai Pkl. 10.30 wib ini.

Resonance (UKM Band) kembali hadir dengan personil band yang baru sebagai pembuka dan penutup pada acara yang dilaksanakan di UC Student Lounge & Service ini.

IMG-20151126-WA0018 IMG-20151126-WA0013

 

Foto-foto yang lain: Klik disini

Pustakawan Bukan Penjaga Buku

    Siapa mau jadi pustakawan? Dari hasil polling penulis terhadap 5.614 siswa SMA di Indonesia tahun lalu, hanya ada 1 siswi yang berminat. Profesi ini masih dipandang sebelah mata. Kerjanya seolah-olah hanya menjaga buku, tenggelam di antara menjulangnya jajaran rak berisi ribuan buku. Apakah profesi ini memang “sepi pekerjaan” dan berprospek suram?

    Indonesia punya lebih dari 200.000 sekolah mulai dari SD hingga SMA, dan lebih dari 3.000 perguruan tinggi. Bayangkan, kalau tiap institusi memerlukan seorang pustakawan, berapa sarjana perpustakaan yang harus disediakan. Untuk perbandingan, jumlah pustakawan Indonesia saat ini hanya sekitar 3.000 orang.

Read more

Perubahan Wajah Pustakawan

    Begitu dahsyatnya revolusi digital sehingga arus informasi mengalir tak terbendung. Menyaring dan mencari informasi di antara jutaan data memerlukan keahlian tersendiri. Pustakawan pada era digital bukan lagi penjaga buku, melainkan lebih berperan sebagai information provider yang membantu memudahkan pengambilan keputusan secara cerdas.

    Jurusan ilmu perpustakaan pun dalam perkembangannya berevolusi menjadi jurusan Information Science, sebab informasi tidak hanya meliputi cetak, tetapi juga dalam bentuk digital dan data visual. Jadi, Information Science memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada ilmu perpustakaan.

Read more