Movie Time @ UC Library: Joy (2015)

Kegiatan Movie Time @ UC Library kembali hadir pada hari Kamis, 25 Agustus 2016 lalu yang adilaksanakan pada Pkl. 13.00 – 15.00 wib bertempat: Library Lounge, dan film yang diputar adalah JOY (2015). Film ini disutradarai oleh sutradara peraih Oscar David O. Russell dan dibintangi oleh pemain-pemain kaliber Oscar, seperti Jennifer Lawrence, Robert De Niro, Bradley Cooper, Edgar Ramirez, Virginia Madsen, Dascha Polanco, Elisabeth Rohm

Sinopsis: Bercerita tentang kisah perjalanan hidup dari seorang ibu rumah tanga yangg berasal dari Long Island yang bernama Joy Mangano (Jennifer Lawrence). Perjuangan seorang ibu tunggal yang harus membesarkan 3 orang anaknya dan bekerja keras hingga menjadi seorang pengusaha sukses.

Dia dikenal sebagai penemu alat pel modern Miracle Mop yang dijual lewat acara TV Home Shopping. Selain itu, Joy juga menemukan berbagai alat rumah tangga yang bermanfaat lainnya dan mempunyai lebih dari 100 hak paten atas namanya.

Namun hidup yang penuh misteri harus dijalaninya, dan membawanya pada jalan yang tak diduga.

 

kolase

LIBRARY – Circulation on The Spot

Pada hari Selasa & Kamis / 16 & 18 Agustus 2016 lalu dimulai pukul 10.00 WIB, UC Library kembali mengadakan kegiatan Circulation On The Spot dan kali ini diadakan di lantai 6 (enam) gedung UC.
Circulation On The Spot ini diadakan sebagai tujuan untuk mendekatkan UC Library kepada pemustaka sekaligus memudahkan pemustaka untuk meminjam, mengembalikan maupun memperpanjang koleksi yang diinginkan. Adapun Koleksi yang di sirkulasikan adalah koleksi sesuai dengan jurusan yang ada di lantai 6 (Psychology & FDB) dan koleksi yang jarang termanfaatkan oleh pemustaka.
kolase

NIPT Cukup Cek Darah Ibu Hamil

SURABAYA – Kehamilan merupakan kabar menyenangkan bagi pasangan suami istri. Berbagai cara dilakukan untuk memantau kondisi janin. Belakangan, berkembang berbagai prenatal screening.

“Skrining prenatal merupakan serangkaian pemeriksaan yang bertujuan mengetahui risiko kelainan bawaan pada janin,” ujar spesialis kebidanan dan kandungan RSUD dr Soetomo dr M.Ilham Aldika Akbar SpOG. Yang dilihat terutama kelainan kromosom. Dari hasil pemeriksaan, dapat diketahui down syndrome, trisomy 18, dan trisomy 13. “Skrining prenatal ini bisa dikerjakan pada trimester pertama dan trimester kedua,” tutur Aldi. Skrining trimester pertama dikerjakan pada usia kehamilan 11 hingga kurang dari 14 minggu. Pemeriksaannya melalui USG dan cek darah.

Untuk mengetahui kelainan bawaan, tim medis harus mengkombinasikan hasil pemeriksaan darah, panjang janin, dan ketebalan jaringan lunak di belakang leher. Terlebih untuk mendeteksi kelainan kromosom. Selain itu, usia ibu dan usia kehamilan dimasukkan rumus. “Metode skrining tersebut memiliki akurasi sekitar 85 persen,” ucap alumnus FK Unair tersebut. Artinya, 85 di antara 100 bayi yang mengidap kelainan akan terdeteksi dengan pemeriksaan tersebut.

Hasil kombinasi pemeriksaan itu bisa berupa risiko rendah, sedang, ataupun tinggi. Jika di dapat risiko tinggi, tidak berarti janin pasti memiliki kelainan bawaan. Untuk memastikannya, tetap perlu pemeriksaan lanjutan.

Salah satu pemeriksaan yang lebih canggih berupa noninvasive prenatal testing (NIPT). Disebut demikian karena tidak perlu tindakan pembedahan ke rahim ibu atau janin. “Cukup mengambil darah ibunya,” jelas dokter spesialis kebidanan dan kandungan National Hospital dr Hendera Hendri SpOG.  Dia menambahkan, dengan tindakan invasive minimal tersebut, risiko keguguran lebih kecil.

Menurut dia, NIPT bisa dilakukan untuk usia kandungan 10 minggu. Dari pemeriksaan darah ibu memungkinkan dianalisis sel-sel janin. “Dari sana terlihat bagaimana kondisi janin yang dikandung ibu tersebut,” jelas Hendera. Di antaranya, peluang terkena down syndrome ataupun kelainan kromosom lain.

Prenatal screening, lanjut dia, disarankan untuk mereka yang berisiko. Misalnya, kalangan yang terlalu tua atau muda untuk hamil serta memiliki riwayat penyakit tertentu. Jika ditemukan kelainan dokter dan pasien akan berdiskusi. Sebab, tindakan yang dilakukan bergantung jenis kelainan.

Aldi menambahkan, kelainan kromosom biasanya bersifat multiple atau dalam jumlah banyak. Biasanya, kondisi bayi kurang baik dan tidak dapat dilakukan pengobatan khusus. Kelainan bawaan yang muncul sebagian bisa diterapi setelah kelahiran. “Di negara maju berkembang disiplin ilmu kedokteran fetal medicine yang mampu memberikan berbagai pengobatan untuk kelainan janin saat didalam rahim,” papar dokter yang juga berpraktik di RS Unair tersebut.

 

Uc Lib-Collect

Jawa Pos.19 Mei 2016

NIPT Cukup Cek Darah Ibu Hamil. Jawa Pos.19 Mei  2016.al.36

Sengkarut Regulasi Dosen

Sengkarut Regulasi Dosen. Kompas.19 Mei 2016. Hal.7

Mengharapkan kiprah dosen di pentas akademik dunia dalam proses produksi ilmu pengetahuan dan teknologi, pada konteks saat ini nyaris merupakan kemustahilan. Mengapa demikian?

Di antara banyak faktor, keterbelengguan dosen terhadap berbagai hal “remeh-temeh” yang bersifat administratif-birokratis adalah penyebab utama. Saat ini banyak regulasi dosen yang saling tumpang tindih, menegasikan, dan ujung-ujungnya mengancam produktvitas dosen. Banyaknya regulasi itu ternyata tidak ekuivalen dengan tingkat produktivitas ilmiah mereka.

Diketahui dari situas olahan publikasi ilmiah Scimago (Sci-magojr.com) yang mengukur tingkat produktivitas ilmiah di 239 negara sejak 1996-2014, Indonesia menempati peringkat ke-57, dengan jumlah publikasi 32.355. Di level ASEAN, Indonesia masih kalah dengan Malaysia (peringkat ke-36 dengan jumlah publikasi 153.378), Singapura (peringkat ke-32 dengan publikasi 192.942), dan Thailand (peringkat ke-43 dengan publikasi 109.832). Indonesia hanya menang dari Vietnam (peringkat ke-66), Laos (137), Kamboja (124), Myanmar (142), Brunei (130), dan Timor Leste (204).

Tidak memampukan

Berbagai regulasi yang mengatur kinerja dosen pada awalnya mungkin dimaksudkan untuk meningkatkan mutu dosen. Ada UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, PP No 37/2009 tentang Dosen, dan PP No 53/2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Belum lagi berbagai peraturan di bawah UU dan PP, seperti peraturan menteri dan peraturan dirjen.

Meski demikian, alih-alih dapat membuat dosen produktif dan inovatif, berbagai regulasi tersebut justru menjadi semacam intervensi negara terhadap dosen yang menyandera dan membelenggu kreativitas akademik.

Sebagai contoh, ketentuan Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagaimana diatur dalam PP No 37/2009, seperti “kotak kecil’ yang memaksa setiap dosen masuk ke dalam skema tersebut, tanpa melihat keunggulan, talenta, keistimewaan masing – masing individu.

Demikian juga ketentuan jam kerja PNS berdasarkan PP No 53/2010 yang mengharuskan dosen berstatus PNS masuk kantor sesuai jam kerja. Contoh-contoh itu mengerdilkan dan tidak memiliki daya ungkit (enabler) untuk mendongkrak produktivitas akademik dosen ke jenjang internasional.

Dalam konteks ini, Azyumardi Azra (2016) dalam sebuah kolomnya menyebut fenomena kehidupan akademik perguruan tinggi (PT) saat ini sebagai “kolonialisasi dan birokratisasi kampus”. Dia merasa PT sekarang berada di bawah cengkeraman rezim administrasi-cum-birokrasi yang tidak memampukan seluruh potensi dosen.

Bahkan, dalam banyak kesempatan, Azra menyatakan kekecewaannya terhadap itervensi negara untuk mendisiplinkan dosen melalui mekanisme kehadiran pada jam kerja (finger print). Selama regulasi dosen masih berputar-putar pada aspek birokratis dan administratif (administrative-heavy), jangan harap PT kita dapat menjadi kampus – kampus kelas dunia.

Keluar dari kotak

Mengatasi situasi di atas, saya menawarkan alternatif solusi sebagai berikut. Pertama, pemerintah harus membuat adendum terhadap PP No 53/2010 tentang PNS agar dosen dikecualikan dari PNS kebanyakan. Dosen tidak semestinya diperlakukan sama dengan PNS lain, seperti pegawai pemerintah provinsi, kabupaten/kota atau petugas kesehatan yang jam kerjanya ditentukan secara kaku, ketat, dan mekanistik.

Jika PNS lain memiliki jam dan lokasi kerja yang sama dan konstan, tidak demikian halnya dengan dosen. Kinerja dosen tidak ditentukan layanan akademik dalam bentuk mengajar semata, melainkan meneliti, membimbing mahasiswa, dan menulis karya ilmiah. Pada kenyataannya, dosem sering kali menyelesaikan tugas – tugas akademiknya di luar jam kerja atau pada hari libur.

Kedua, mengeluarkan dosen dari skema PNS dan digantikan dengan skema kontrak (tenureship), tetapi dengan hal – hal yang sama dengan PNS, seperti jaminan kesehatan dan pensiun sebagaimana telah diterapkan di banyak PT kelas dunia. Dengan skema semacam ini, dosen bisa berkonsentrasi pada tugas-tugas akademiknya sebagai produsen ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, skema semacam ini dapat menciptakan sense of competition di kalangan dosen untuk melahirkan berbagai terobosan dan inovasi ilmiah.

Mobilitas horizontal

Skema semacam itu juga memungkinkan dosen melakukan mobilitas horizontal di berbagai kampus yang disukainya. Jika dosen merasa jenuh dengan kondisi kampus tempat dia mengajar, dia bisa saja keluar dan melamar ke universitas lain yang dipilihnya. Di tempat barunya dia bisa membangun impian karier akademis yang lebih menjanjikan ketimbang tempat yang lama.

Berbeda dengan skema tenureship, skema PNS cenderung menciptakan ona nyaman” yang ustru memalaskan dosen. Dalam kondisi semacam ini, mobilitas karier akademik dosen cenderung statis dan pragmatis karena posisinya telah aman.

Ketiga, menghilangkan aturan –aturan yang bersifat penyeragaman dan membuka seluas-luasnya diversifikasi peran dosen di PT. Selama ini dosen tidak bisa bergerak leluasa di luar kerangka tridarma (pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat). Ketentuan tridarma bersifat one-size-fits-all, berlaku sebagai “kolam kecil” yang cenderung menyeragamkan bakar dan minat akademik dosen yang seharusnya bervariasi. Di PP No 37/2009, misalnya. Besaran beban (SKS) pengajaran, penelitian, dan pengabdian bahkan telah diseragamkan. Bagaimana mungkin seorang dosen dapat leluasa melakukan tugas-tugas akademiknya dalam kerangka sempit yang begitu membelenggu?

Penyeragaman di atas tidak ditemukan di PT berkelas dunia. Universitas cenderung mencari talenta-talenta terbaik di bidangnya dengan membuka seluas-luasnya bagi masuknya sumber daya unggul yang akan memberinya nilai tambah.

Di sejumlah PT terkemuka di dunia, seseorang disebut sebagai  staff member (baca: dosen) jika dia menjalankan salah satu dari fungsi berikut ini : (1) mengajar saja; (2) meneliti dan menulis saja; (3) mengajar dan menulis dengan komposisi tidak seragam; (4) menjadi unsur pimpinan; dan (5) petugas proyek (project manager) yang hanya mencarikan peluang kerja sama dan bisnis yang dapat menambah pundi-pundi revenue universitas.

Otonomi vs intervensi

Di atas itu semua, seluruh regulasi semestinya mengapresiasi segala bentuk keunikan dan kekhasan pengembangan keilmuan di PT sebagai sebuah institusi otonom. Otonomi kampus tidak boleh diintervensi kebijakan-kebijakan negara yang dapat mengerdilkan prestasi akademik dosen. Otonomi kampus merupakan harga mati sebagaimana telah diamanatkan UU No 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, terutama pada Bagian Kedua, Paragraf 1, Pasal 8, Ayat (1), (2), dan (3).

Yang jadi persoalan adalah bahwa berbagai kebijakan negara untuk “mendisiplinkan” kehidupan kampus –termasuk para dosennya- sering kali menjadi intervensi yang kontraproduktif dalam proses produksi ilmu pengetahuan dan teknologi di PT.

Selama kebijakan negara terhadap kehidupan kampus didorong oleh semangat “mendisiplinkan”, jangan harap PT kita akan berperan maksimal dalam menghasilkan berbagai terobosan dan inovasi ilmiah bertaraf internasional.

 

MASDAR HILMY

Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial dan Wakil Direktur Pascasarjana

UIN Sunan Ampel

Pendidikan Dokter Mahal

Pendidikan Dokter Mahal. Kompas. 9 Mei 2016.Hal.13

 

 

 

JAKARTA, KOMPAS – Dibandingkan dengan program studi lain, pendidikan dokter lebih mahal karena membutuhkan sumber daya manusia dan fasilitas lebih banyak serta rumit. Namun, minat masyarakat untuk jadi dokter tetap tinggi meski mereka harus membayar hingga ratusan juta rupiah.

Tingginya minat calon mahasiswa untuk menempuh pendidikan kedokteran tampak dari tingginya peminat fakultas kedokteran di sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta. Penelusuran Kompas hingga Sabtu (7/5) membuktikan hal itu.

Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa (FK Unibos) Makassar, Sulawesi Selatan, yang baru dibuka mulai tahun ajaran 2016-2017, menerima 53 pendaftaran secara daring untuk gelombang pertama. Padahal, universitas itu akan membuka pendaftaran hingga tiga gelombang. “Semua pendaftar akan diseleksi untuk mendapat mahasiswa bermutu,” kata Rektor Unibos Muhammad Saleh Pallu.

Meski baru dan sejumlah fasilitas penunjang masih tahap penyelesaian, Unibos mematok uang pangkal mahasiswa fakultas kedoktera Rp 225 juta dan biaya per semester Rp 10 juta.

FK Universitas Nahdlatul Ulama (Unusa) Surabaya, Jawa Timur, yang baru berjalan dua tahun pun banyak diminati warga. Tahun lalu, ada sekitar 300 pendaftar, hampir 6 kali ketimbang daya tampungnya yang hanya 50 mahasiswa baru setahun.

Bagi mahasiswa baru, pengelola FK Unusa mematok dana pengembangan pendidikan Rp 275 juta dan dana operasional Rp 25 juta per semester. “Kebutuhan dana tinggi karena pendidikan dokter perlu banyak alat khusus yang mahal.” kata Wakil Dekan FK Unusa Handayani.

Sementara FK Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Jatim, menerima pendaftaran sekitar 800 calon mahasiswa per tahun. Daya tampungnya hanya 160 mahasiswa atau seperlima dari peminat yang ada.

Rektor UWKS Sri Harmadji mengatakan, FK UWKS berusia 30 tahun dan berakreditasi B. Mereka mematok uang pangkal mahasiswa baru Rp 350 juta dan Rp 3,5 juta untuk biaya pendidikan per bulan.

Di FK Universitas Trisakti, Jakarta, tahun 2015 mengenakan uang pangkal Rp 300 juta dan biaya per semester Rp 25 juta- Rp 35 juta. “Sebagai FK dengan akreditasi B, FK Trisakti boleh menerima mahasiswa maksimal 200 mahasiswa,” kata Dekan FK Trisakti Suriptiastuti.

Sementara FK Universitas Malahayati (Unmal), Bandarlampung, Lampung, mengenakan sumbangan Rp 250 juta bagi mahasiswa baru dan Rp 12 juta untuk sumbangan pembinaan pendidikan setiap semester.

Namun, biaya riil yang dikeluarkan mahasiswa kedojteran bisa lebih dari itu. Mahasiswa FK Unmal, Nur Hidayah (21), yang menempuh pendidikan profesi dokter, misalnya, mengaku menghabiskan lebih dari Rp 500 juta. Ia masih buth lebih dari Rp 10 juta untuk menempuh uji kompetensi mahasiswa program profesi dokter.

Peminat FK Universitas Indonesia jauh lebih tinggi. Daya tampung mereka tahun ini untuk berbagai jalur seleksi 180 mahasiswa. Padahal, peminat tahun lalu 8.682 orang. Dengan asumsi daya tampung setiap tahun sama, satu pendaftar bersaing dengan 48 pendaftar lain pada 2015.

Biaya besar

Menurut Sekretaris Umum Asosiasi Institut Pendidikan Kedokteran Indonesia Riyani Wikaningrum, biaya masuk FK yang besar sebanding dengan besarnya dana untuk menghasilkan lulusan dokter bermutu. “Proses pendidikan di FK unik, berbeda dengan program studi lain karena menggabungkan pendidikan akademik dan pendidikan profesi,” katanya.

Mata kuliah bersifat khusus membuat dosen FK mengajar satu mata kuliah tertentu. FK butuh banyak petugas laboratorium karena tak bisa dicampur mengelola laboratorium berbeda serta perlu banyak alat  dan bahan sekali pakai yang mahal.

Hal itu membuat banyak universitas, khususnya swasta, mematok biaya tinggi. Banyak pengelola universitas tak paham kebutuhan dana pendidikan dokter tinggi. “Hanya 30-60 persen biaya dari mahasiswa balik ke FK demi memenuhi kebutuhan mahasiswa,” ujarnya.

Biaya mahal tersebut membuat hanya calon mahasiswa berduit yang bisa mengakses pendidikan kedokteran. Mutu calon mahasiswa, baik kemampuan akademik maupun karakter yang perlu dimiliki calon mahasiswa kedokteran, kerap dikesampingkan. “Besarnya dana membuat kelayakan pendidikan kedokteran dikesampingkan,” kata Wakil Ketua II Konsil Kedokteran Indonesia Satryo Soemantri Brodjonegoro. Akibatnya, banyak lulusan FK tak memenuhi standar kompetensi.

 

(ENG/DEN/GER/VIO/C01/C03/ESA/ADH/JOG/FLO/WSI/MZW)

Pencetak Dokter yang Sarat Masalah

Pencetak Dokter yang Sarat Masalah. Kompas. 9 Mei 2016.Hal.1,15

Sebanyak 260 mahasiswa memadati satu ruang kelas di Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua, Selasa (3/5). Suasana itu lebih mirip seminar daripada perkuliahan. Ini dampak berlebihnya jumlah mahasiswa baru yang diterima Fakultas Kedokteran Uncen beberapa tahun belakangan.

Mahasiswa tak bisa menyembunyikan rasa gerah selama kuliah. Penyejuk ruangan yang terpasang tidak mampu membuat udara dalam keals jadi nyaman untuk belajar. Sebagian mahasiswa mengibas-ngibaskan kertas, buku, ataupun barang lain untuk mengusir panas. Namun, mereka tetap tenang dan memperhatikan penjelasan dokter Astrina, sang dosen.

Beruntung, ruang kuliah dilengkapi pelantang suara nirkabel sehingga Astrina tidak perlu berteriak agar suaranya terdengar hingga mahasiswa di pojok belakang, 15 meter jauhnya. Selain itu, ada tiga proyektor agar materi kuliah Histologi 2 yang ditampilkan bisa dilihat mahasiswa dengan jelas. Hari itu, Astrina memberi kuliah Histologi 2 bagi 400-an mahasiswa.

Kini, mahasiswa FK Uncen angkatan 2013 dan 2014 sama-sama menjalani perkuliahan semester IV. Ini akibat vakumnya perkuliahan di FK Uncen setahun menyusul demonstrasi mahasiswa menuntut perbaikan mutu pendidikan di fakultas ini serta dosen mogok mengajar. Alhasil, mahasiswa angkatan 2013, yang seharusnya mengenyam materi kuliah semester VI tertahan, menumpuk bersama adik angkatannya.

Dekan FK Uncen Trajanus L Yembise mengatakan, dosen di kampus harus bekerja ekstra demi menuntaskan beban masa lalu, yakni penerimaaan besar-besaran mahasiswa besar.

Pada 2011, FK Uncen yang akreditasinya masih C menerima 260 mahasiswa baru, pada 2012 bertambah lagi 322 mahasiswa baru, lalu tahun 2013 bertambah 304 mahasiswa, dan tahun 2014 ada 198 orang. Jumlah mahasiswa yang membeludak itu membuat proses perkuliahan tak optimal mengingat jumlah dosen dan ukuran kelas tak memadai.

Melebih kuota

Jumlah dosen tetap di FK Uncen 37 orang, 20 diantaranya tengah menjalani studi tingkat lanjut, sehingga hanya 17 orang yang mengajar di kampus. Jadi, rasio jumlah dosen dan mahasiswa hampir 1:100. Padahal, rasio ideal 1 dosen berbanding 10 mahasiswa pendidikan sarjana.

Mulai 2015, FK Uncen hanya menerima 50 mahasiswa baru. Kini, total mahasiswa FK Uncen 1.557 orang, terdiri dari 1.057 mahasiswa program akademik menyelesaikan pendidikan sarjana dan 500 mahasiswa program profesi untuk meraih gelar dokter.

Sebelum diprotes mahasiswa dan dosen, FK Uncen hanya punya tiga ruang kelas dengan kapasitas masing-masing 75-100 orang. Kini, ada empat ruang kelas di FK Uncen, yakni ruang 8 x 34 meter berkapasitas 350 orang, ruang 8 x 25 m untuk 150 orang, dan ruang 8 x 15 m untuk 60 orang.

Pembatasan mahasiswa baru dan menyiapkan tambahan ruang keals jadi upaya pembenahan mahasiswa baru program kedokteran. Namun, penegakannya masih belum optimal.

Selain mahasiswa baru berlebih, keterbatasan dosen tetap dan ketersediaan RS pendidikan juga menjadi masalah FK di Indonesia. FK Universitas Malahayati, Lampung, akreditasi C, misalnya, memiliki RS pendidikan utama RS Pertamina Bintang Amin, Lampung, tipe C dengan jumlah dosen klinis terbatas.

Dekan FK Universitas Malahayati Dalfian Adnan mengatakan jumlah dosen praktik di RS Bintang 10 orang. Artinya, RS itu hanya bisa menampung 50 mahasiswa koasistensi (koas). Padahal, 756 dari total 2.801 mahasiswa menempuh pendidikan profesi dokter.

Akhirnya, FK Universitas Malahayati bekerja sama dengan beberapa RS di Medan, Sumatera Utara, serta Tasikmalaya, Ciamis, dan Kuningan, Jawa Barat, untuk jadi RS alifiasi.

Adapun Universitas Tanjungpura di Pontianak dengan akreditasi C tak  menentukan mahasiswa koas di RSUD Dr Soedarso, Pontianak, sebagai RS pendiidukan utama. FK Untan menempatkan peserta koas di RSUD Abdul Aziz di Kota Singkawang.

Universitas itu juga kekurangan dosen tetap. “Sudah tiga tahun terakhir membuka formasi dosen tetap., tetapi tak ada yang mendaftar,” kata Rektor Untan Thamrin Usman, berbagai masalah pada institusi pencetak dokter itu mencerminkan buruknya tata kelola pendidikan kedokteran di negeri ini.

Sumber: Kompas.-9-Mei-2016.Hal_.115

Mobilitas Antaruniversitas

Mobilitas Antaruniversitas. Kompas.17 Mei 2016.Hal.7

Di Indonesia, dosen biasanya memulai dan mengakhiri kariernya di universitas yang sama. Jarang sekali dosen –terutama di universitas besar- berpindah ke universitas lain di tengah – tengah kariernya. Tidak seperti guru yang kadang dimutasi ke sekolah lain.

Dosen merupakan salah satu aset yang paling berharga bagi sebuah universitas. Dalam teori kepemilikan, pemanfaatan aset akan efisien dan optimal jika aset bisa ditransfer, yaitu kepada pihak lain yang paling bisa memanfaatkannya. Dengan kultur dosen di Indonesia yang tidak terbiasa berpindah universitas, distribusi keahlian dosen di masing – masing universitas kemungkinan tidak optimal.

Sebagi ilustrasi, universitas A dan universitas B masing – masing mengajarkan materi keuangan dan materi perpajakan. Universitas A memiliki dua dosen yang semuanya ahli perpajakan dan universitas B memiliki dua dosen yang semuanya ahli keuangan. Yang biasanya terjadi, salah satu dosen di universitas A dipaksa mengajar keuangan, meskipun keahliannya di bidang perpajakan. Sebaliknya, salah satu dosen di universitas B dipaksa mengajar perpajakan sementara keahliannya di bidang keuangan. Hal ini mengakibatkan utilitas marjinal dosen tak optimal karena mengajar tak sesuai keahliannya.

Secara teori, adalah lebih efektif jika salah satu dosen di universitas A berpindah ke universitas B, dan sebaliknya, sehingga masing-masing dosen bisa tetap mengajar sesuai keahliannya. Namun, hal ini tidak terjadi di Indonesia karena sistem kepegawaian kita kurang memungkinkan untuk dosen pindah dari universitas satu ke lainnya.

Perlunya mobilitas dosen

Pemerintah perlu menciptakan ruang bagi mobilitas dosen dari satu universitas ke universitas lain, baik untuk efisiensi distribusi dosen maupun untuk situasi-situasi di mana dosen sebaiknya memang pindah ke institusi lain. Misalnya, seorang dosen bergelar S-3 memiliki keahlian luar biasa dalam melakukan riset. Namun, dia bekerja di universitas yang relatif kecil dan tidak mengutamakan riset serta tak memiliki fasilitas pendukung riset. Keahlian dosen tersebut tidak akan termanfaatkan dan pelan – pelan akan hilang. Akakn lebih baik jika sang dosen dimudahkan pindah ke universitas yang mendukung riset sehingga keahliannya bisa memberi manfaat bagi masyarakat.

Pada situasi lain, kadang seorang dosen memiliki visi yang tidak sejalan dengan visi institusinya sehingga sering tidak mendukung, bahkan mengganggu, program-program yang dijalankan institusi. Untuk dosen semacam ini, solusinya adalah mempersilakan dosen bersangkutan berpindah ke institusi yang satu visi dengannya.

Adakalanya juga seorang dosen melakukan “dosa” yang tidak bisa diterima institusi dan koleganya. Adalah lebih manusiawi jika dosen tersebut diberi kesempatan pindah ke universitas lain yang mau menerimanya dan memulai karier baru di sana daripada mendapat hukuman sosial sampai datang masa pensiunnya.

Mobilitas dosen akan membuat institusi pendidikan tinggi memiliki portofolio SDM yang lebih kaya. Hal ini karena institusi memiliki dosen dengan latar belakang universitas berbeda. Setiap dosen dari universitas berbeda akan membawa gaya, pola pikir, dan pengalamannya masing-masing dan memberi warna bagi perbaikan pendidikan di institusi tersebut.

Manfaat lain dari mobilitas dosen adalah terbentuknya kultur yang lebih egaliter di mana kultur akademis, argumen, dan wisdom menjadi dasar bagi arah perkembangan institusi. Sementara itu, jika hampir semua dosen adalah lulusan universitas itu sendiri (biasanya S-1-nya), senioritas akan terasa kental.

Dampaknya adalah bahwa beberapa individu kadang lebih powerful dari institusi, sehingga argumen dan keputusan institusi dikalahkan oleh rasa ewuh pekewuh. Hal ini tidak sehat bagi perkembangan institusi pendidikan.

Menengok negara

Di negara lain, terutama negara maju, jarang sekali ada dosen yang menghabiskan kariernya hanya di saru institusi saja, apalagi di universitas papan atas. Dosen muda biasanya direkrut dengan masa percobaan (kadang lima tahun). Masa percobaan ini adalah untuk memastikan bahwa yang bersangkutan memiliki visi yang sama dengan institusi, bisa bekerja sama dengan kolega, dan memenuhi syarat akademis dan keahlian untuk menjadi dosen tetap. Mereka yang tidak lolos percobaan diberi waktu satu tahun untuk mencari kerja di universitas lain.

Meskipun telah diangkat menjadi dosen tetap, seorang dosen bisa pindah ke universitas lain apabila menemukan institusi yang bisa lebih mendukung kariernya, atau lebih memerlukan keahliannya, selain faktor kompensasi. Hal ini akan memungkinkan kerja kerja dosen menjadi lebih efektif dan efisien sehingga dosen bisa berkontribusi lebih banyak bagi dunia pendidikan.

Dengan sistem yang mendukung mobilitas dosen antaruniversitas, akan mudah bagi sebuah institusi mendapatkan dosen dengan keahlian yang dibutuhkan. Distribusi keahlian dosen akan lebih optimal. Selain itu manajemen sumber daya manusia di perguruan tinggi akan lebih efektif.

Salah satu kekhawatiran jika sebuah institusi merekrut dosen “pindahan” dari universitas lain adalah kemungkinan dosen baru tersebut akan “merusak tatanan” yang sudah ada. Kekhawatiran ini bisa diminimalisir dengan sistem probation atau percobaan untuk memastikan bahwa dosen baru tersebut akan bisa menyesuaikan dengan sistem yang ada sebelum diangkat menjadi dosen tetap universitas.

Penutup

Pemerintah perlu menciptakan kebijakan agar dosen bisa dengan mudah berpindah dari universitas satu ke universitas lainnya. Secara teori, keahlian dosen bisa terdistribusi lebih optimal dan dinamis bila institusi diberi ruang untuk merekrut dosen dari universitas lain.

Utilitas marjinal dosen bisa ditingkatkan jika dia diberi ruang untuk pindah dari universitas yang tidak membutuhkan keahliannya ke universitas lain yang sangat memerlukan keahlian tersebut.

 

FUAD RAKHMAN

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis

UGM

 

Hasil Jajak Pendapat Tentang Profesi Dokter

Hasil Jajak Pendapat Tentang Profesi Dokter.Kompas. 11 Mei 2016. Hal.14

Padangan publik terhadap profesi dokter tampaknya mulai sedikit bergeser. Tidak semua menganggap dokter sebagai cita-cita kebanggan keluarga. Kaum perempuan dan mereka yang berpendidikan rendah dan menengah yang cenderung menganggapnya sebagai cita-cita kebanggaan keluarga. Separuh bagian responden berpendidikan tinggi menilai sebaliknya. Salah satu faktor yang diungkap publik adalah kecenderungan para dokter saat ini bekerja dengan dorongan komesial. Padahal, hampir seluruh responden masih sepakat bahwa para dokter sebenarnya sedang menjalankan tugas mulia.

Metode jajak pendapat yang dilakukan :

Pengumpulan pendapat melalui telepon ini diselenggarakan Litbang “Kompas” pada 4-6 Mei 2016 sebanyak 603 responden berusia minimal 17 tahun dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis dari buku telepon terbaru. Responden berdomisili di 12 kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Denpasar, Banjarmasin, Pontianak, Makassar, dan Manado. Jumlah responden di setiap wilayah ditentukan secara proporsional. Menggunakan metode ini, pada tingkat kepercayaan 95 persen, nirpencuplikan penelitian +/- 4 persen. Meskipun demikian, kesalahan diluar pencuplikan mungkin terjadi. Hasil jajak pendapat ini tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat seluruh masyarakat di negeri ini.

 

Sumber : Kompas. 11 Mei 2016. Hal 14.