Yoyok Hary Wahyono Berbagi Rezeki dari Sambal

Yoyok Hary Wahyono_Berbagi rezeki dari sambal. Kompas 7 Februari 2017.Hal

Berawal dari sebuah warung tenda sekitar 15 tahun lalu, kini pemilik waroeng special sambal, Yoyok Hari Wahyono (43), mengelola 78 cabang restoran dengan 3.500 karyawan. Ia masih akan terus membuka cabang baru karena setiap warung membuka rezeki bagi banyak orang.

OLEH DIMAS W NUGRAHA

Buat pria berusia 43 tahun itu, tujuan bisnis bukanlah sekedar mengumpulkan keuntungan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi. Bisnis, menurut dia, harus bisa menghidupi dan meningkatkan kapasitas para karyawan. Jika hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi, kata Yoyok, keuntungan dari 10-20 cabang Waroeng Spesial Sambal (SS) sudah cukup. Namun, karena ia ingin karyawan yang menjadi ujung tombak usahanya maju, ia terus berekspansi. Saat ini, ia telah memiliki 78 cabang di sejumlah kota mulai dari Yogyakarta, Solo, Semarang, Bandung, Jakarta, Malang hingga Pekanbaru.

“Saya tidak ingin karyawan mandek dalam bereaksi dan berinovasi karena itu saya terus karena itu saya terus berekspansi. Membuka cabang baru juga berarti membuka saluran rezeki baru bagi sesama,” kata Yoyok saat ditemui di Waroeng SS di Jalan Palangan Tentara Pelajar, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, awal Januari lalu.

Yoyok memang tergolong pebisnis yang memikirkan masa depan karyawannya. Ia, misalnya, menyisihkan sebagian keuntungan warungnya untuk beasiswa. Kepala Humas Waroeng SS Widyatmoyo menjelaskan, setiap karyawan memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan beasiswa bagi dirinya ataupun keluarga hingga ketingkat perguruan tinggi.

“ Beasiswa diberikan tanpa embel-embel ikatan dinas. Karyawan yang diberi beasiswa S-2 , ketika sudah menyelesaikan studi dan ingin berkembang di luar, ya, kami persilahkan,” ujar Widyatmoyo.

Selain itu, jaringan Waroeng SS yang tampilannya bersahaja itu juga menyisihkan 1 persen dari omzet per bulan untuk dana social. Dana itu kemudian disalurkan ke lembaga-lembaga amal atau kegiatan tanggung jawab social perusahaan (corporate social responsibility/CSR).

Tidak Mulus

Yoyok memulai Waroeng SS pada pertengahan Agustus 2002 sebagai warung kaki lima di dekat kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Modalnya saat itu hanya 9 juta.

Usaha itu ia rintis awalnya untuk menyambung hidup. Yoyok, yang saat itu kuliah di Jurusan Teknik Kimia UGM, juga merasa prestasi akademiknya tidak cemerlang. Kuliah juga tidak rampung-rampung.

“Saat itu saya sudah tidak yakin bisa menyelesaikan kuliah. Seandainya lulus pun, saya tidak yakin ada yang mau mempekerjakan saya karena nilai kuliah berantakan.”

Sebelum membuka usahanya, ia bereksperimen membuat berbagai varian sambal yang dicicipi oleh teman-temannya di lingkungan tempat tinggalnya. “Kalau ada 11 orang yang mencicipi, kesebelasnya harus bilang sambal yang saya buat enak. Jika tidak, saya akan terus berinovasi. Saya baru membuka usaha saat semua sudah bilang sambal saya enak,”kenangnya.

Warung tenda itu awalnya menyediakan 12 macam sambal dengan berbagai pilihan lauk-pauk dan sayur, seperti ayam, bandeng, nila, tempe, tahu, kangkung, dan jamur. Seteah beroperasi sekitar 1,5 tahun, Yoyok membuka cabang kedua di daerah Sleman di sebuah bangunan permanen.

Pengelolaan bisnis yang baik membuat Yoyok rutin membuka cabang baru sejak 2004. Tidak tanggung-tanggung, dalam setahun ia bisa membuka tiga-lima cabang di sejumlah kota. Pada 2010, Yoyok telah memiliki 50 cabang. Kini, cabang Waroeng SS berkembang hingga menjadi 78 gerai. Tahun ini, dia bahkan berencana membuka lima cabang baru.

Secara berkala, Yoyok juga membuat  varian sambal baru. Dari awalnya, hanya 12 macam sambal, kini berkembang menjadi 30 macam.

Setelah 15 tahun menjalankan bisnis, Yoyok masih turun tangan langsung, termasuk urusan cita rasa. Ia rutin mengunjungi setiap gerai, sekadar untuk mencicipi menu dan menyapa pelanggan. Ketika berkunjung ke Waroeng SS di Jalan Palangan Tentara Pelajar, misalnya, ia memesan lima jenis sambal dan sejumlah lauk, yakni nila goring, ayam goreng dan perkedel.

Setelah mencicipinya, ia menghubungi manajer produksi  untuk memberi tahu bahwa perkedel buatan kedai itu terlalu banyak merica dan aroma amis nila goreng masih terasa.

Bagi Yoyok, usaha kuliner memang harus mengedepankan kekuatan rasa. Dengan begitu, konsumen akan dating kembali. “lebih baik jumlah pengunjung tidak terlalu banyak, tapi mereka rutin dating kembali,” katanya.

YOYOK HARY WAHYONO

  • Lahir : Boyolali, 2 September 1973
  • Istri : Ricky Dyah Anggraini
  • Anak : Khayla Azahra Yori Putri
  • Pendidikan :
  • Teknik Kimia UGM
  • SMAN 3 Yogyakarta
  • SMP 1 Boyolali
  • SD 5 Boyolali
  • Pekerjaan : Pendiri dan Pemimpin Waroeng Spesial Sambal (sejak 2002-sekarang).

Khawatir kualitas rasa masakan berkurang, Yoyok hanya menerapkan kemitraan tertutup untuk membuka cabang waroeng SS. Dengan system tersebut, ia dapat mengontrol setiap produk dari setiap kedai sehingga kualitas cita rasa dan pelayanan dapat terawasi dengan baik.

Bahkan, Yoyok menggunakan nomornya langsung sebagai hotline aduan pelanggan Waroeng SS. Segala saran dan kritik yang disampaikan oleh konsumen langsung diterima olehnya. Dengan begitu, ia bisa merespons lebih cepat dan tepat.

Merugi

Meski dari luar terlihat lancer, jalan Yoyok dalam ekspansi bisnis Waroeng Spesial Sambal cukup berliku. Tidak semua cabang kedai baru langsung mendapatkan keuntungan. Dalam rentang waktu 2004-2010, terdapat tiga hingga lima kedai yang tidak kunjung mendapatkan untung meski telah beroperasi selama bertahun-tahun.

“Tapi, sudah jadi prinsip saya untuk tidak pernah menutup cabang dari outlet yang telah dibuka meski terus merugi. Setiap outlet adalah sumber rezeki bagi belasan keluarga. Dalam berbisnis, memang ada kalanya perusahaan mengalami kerugian da nada kalanya pula menikmati keuntungan,” ujarnya.

Selain itu, pada 2012, 12 kedainya mengalami kerugian hingga ratusan juta  rupiah meski omzet yang didapat terus meningkat. Setelah ditelusuri, Yoyok menemukan indikasi penggelapan uang pendapatan harian kedai oleh staf. Kejadian ini membuat Yoyok memutus hubungan kerja atas 40 karyawan tingkat kepala cabang dan supervisor.

“Saya tidak akan pernah menunda gaji atau bahkan mengurangi jumlah karyawan meski warung rugi. Namun, saat karyawan tidak berlaku jujur, tidak akan ada ampun,” katanya.

Factor eksternal, seperti fluktuasi harga bahan baku, memaksa Yoyok memutar otak untuk mempertahankan harga menu di semua Waroeng Spesial Sambal. Caranya dengan menggunakan energy secara lebih efektif, seperti gas dan listrik. “Efisiensi jangan diarahkan ke SDM, seperti pengurangan karyawan. Yang perlu dilakukan hanyalah membangun budaya hemat di tengah karyawan,” ujarnya.

Dengan jumlah pengunjung 600 hingga 800 orang per kedai per hari, semua cabang Waroeng Spesial Sambal di Indonesia memberi omzet lumayan besar per bulan. Anggaran belanja bahan baku mencapai 52 persen dari omzet, sedangkan untuk anggaran gaji dan tunjangan karyawan mencapai 30 persen dari omzet. Margin keuntungan sendiri hanya berkisar pada angka 8 persen hingga 12 persen.

“Kami juga selalu menyisihkan 1 persen dari omzet per bulan sebagai dana social,” tutur Widyatmoyo.

Sumber: Kompas 7 Februari 2017, hal 16

Ulus Pirmawan Pencetak Petani Sejahtera

Ulus Pirmawan_Pencetak Petani Sejahtera.Kompas 16 Januari 2017.Hal

ULUS PIRMAWAN

  • Lahir: Bandung, 16 Februari 1974
  • Istri: Vivi Westiviyani (38)
  • Pendidikan: SD Clbodas I Lernbang (Lulus 1986)
  • Penghargaan: Anugerah Produk Pertanian Berdaya SaIng 2014 dari Kementerlan Pertanian Tahun 2014

 

Ulus Pirmawan (43) ingin mencetak sebanyak mungkin petani yang sejahtera. la pun mengajarkan teknik bertani yang baik dan cara bangkit dari kegagalan.

Lelah masih berbekas di wajah Ucun Suntana (40), warga Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, saat tiba di kantor Gabungan Kelompok Tani Wargi Panggupay, Senin (9/1) sore. Namun, senyum tak lepas dari bibirnya. Dua karung cuciwis. (pucuk kol setelah panen pertama) selesai dipanen sejak siang. Dalam seminggu terakhir, Ucun panen cuciwis hingga 1 ton atau senilai Rp 5 juta. Sebelumnya, la telah memanen kol bernilai Rp 25 Juta,

Hingga tahun 2005; potensi cuciwis tak terlihat di Gandok. Kol biasanya tak dibiarkan panen begitu saja setelah panen pertama. Belakangan pandangan itu berubah saat Ulus memberi tahu bahwa cuciwis sangat diminati konsumen.

Ucun adalah anggota Kelompok Tani Baby French yang didirikan Ulus pada 2005. Beranggotakan 25 petani Gandok, kelompok tani ini jadi wadah diskusi dan pemasaran sayuran. Lima tahun kemudian, Ulus mendorong berdirinya Gabungan Kelompok Tani Wargi Panggupay. Anggotanya ratusan petani di Kecamatan Lembang.

Menurut Ucun, Ulus berperan besar menempa dirinya. Lima tahun lalu, ia hanya buruh tani. Ucun tak percya diri mengolah kebun warisan orangtuanya. Hingga akhirnya, dorongan Ulus membuatnya yakin dengan kernampuannya.

“Pak Ulus tidak pelit ilmu. Saya belajar cara memilih benih, menanam, hingga perlakuan setelah panen,” katanya.

Ulus tersenyum saat Ucun memuji kiprahnya. Sembari memeriksa cuciwis hijau segar, ia mengatakan, Ucun semakin ahli bertani. Panen cuciwis berkualitas super itu jadi buktinya.

Kemauannya belajar mengirimkan pesan kepada semua orang agar jangan takut jadi petani,” kata Ulus yang jadi panutan para petani.

Ekspor sayur

Ulus tak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Dia hanya sekolah sampai tamat SD. Namun, puluhan tahun berkutat di kebun, membuatt ia tertempa sebagai petani tangguh.

Uniknya, keingingan Ulus jadi petani tak datang begitu saja. Awalnya, ia jadi pengepul hasil panen kebun orangtuanya sendiri. Usianya baru 17 lahun kala itu. Pandai mencari relasi dan pasar, ia dipercaya menjual hasil panen petani lainnya.

“Saat jadi pengepul, saya lihat petani kesulitan mendapat panen stabil. Metode pertaniannya tak mendukung hal itu” katanya.

Kondisi itu membuatnya tertantang. Pada 2000, ia mulai belajar bertani. Minim pengalaman, ia banyak bertanya kepada petani senior. Sejumlah praktik Iapangan dilakukan sendiri. Tak semuanya berhasil. Pemberian pupuk yang tidak tepat bingga pengolahan lahan yang keliru membuat Ulus didera kegagalan.  Namun, Ulus tak putus asa hingga hasilnya berbuah manis.

Ia mencontohkan usahanya mengenalkan baby buncis, yang kini jadi andalan petani Gandok. Hingga 2005, baby buncis tak dikenal petani. Padahal, saat itu baby buncis sangat diminati konsumen Singapura dan Eropa.

Dia lantas berinovasi, salah satunya menetapkan standar pembuatan lubang tanam. la juga membiasakan petani menulis perkembangan tanaman  untuk menjaga kualitas buncis setiap hari. “Butuh setahun memperkenalkan baby buncis ini,” katanya.

Kerja keras itu dirasakan petani. Dari 1 hektar lahan baby buncis, petani panen 30-40 kali dengan total 10 ton selama lima bulan. Dengan harga stabil Rp 13.000 per kilogram, rata-rata petani  berpenghasilan Rp 26 juta per bulan.

Hasil itu jauh lebih tinggi ketimbang buncis biasa. Dari lahan 1 hektar, petani panen 5-7 ton dalam waktu 3,5 bulan. Dengan harga tak tentu antara Rp 3.000 dan Rp 7.000 per kilogram, petani hanya mendapat Rp 4 juta-Rp 14 juta per bulan.

Tidak hanya itu, Ulus juga mencari pasar baby buncis sendiri.  Sejak 2015, Ulus Sudah rutin mengirimkan baby buncis ke Singapura. “Bulan Februari 2017, kami akan mengirimkannya ke Singapura. Setiap dua minggu sekali, kami akan kirim 1,5 ton. Karena kontraknya panjang, harganya stabil. Khusus anggota Gabungan Kelompok Tani Wargi Panggupay, harganya Rp 15.000 per kilogram.”.

Ketekunan itu berbuah ganda Ulus ,kerap diundang jadi pembicara di beragam acara pertanian dalam dan luar negeri. Produsen di bidang pertanian asal Belanda dan Jerman kerap menggunakan jasa Ulus mempromosikan keunggulan produknya. Perguruan tinggi yang membuka jurusan pertanian juga terinspirasi. Banyak peneliti, dosen, dan mahasiswa belajar kepadanya.

Ketulusan Ulus juga memberi manfaat bagi warga Gandok. Universitas Padjadjaran membuat gondola eIektrik pengangkut sayur untuk petani Gandok pada 2014. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat juga membuat jalan bagi usaha tani. Tahun ini, dari target 2 kilometer baru rampung 450 meter. Kedua sarana itu efektif meringankan biaya angkut hasil panen atau bahan pertanian petani, dari awalnya 10.000 per kilogram menjadi hanya Rp 100 per kilogram.

“Harapan saya sederhana, ingin memuncullum petani sebanyak-banyaknya,” katanya.

Salah seorang yang kepincut adalah Riticy Maulana (21), lulusan institut pertanian ternama. Dia datang pertama kali ke Gandok saat kampusnya melakulan kerja praktik  lapangan sekitar setahun lalu “Hingga saat itu, saya tidak pernah tertarik menjadi petani meski kuliah di jurusan pertanian,” kata Rizky yang sejak tiga bulan terakhir beLajar bertani di Gandok.

Akan tetapi, pemahamannya berubah setelah bertemu Ulus. la melihat pertanian punya masa depan cerah. Kuncinya, petani harus rajin dan penuh inovasi. Uniknya, Rizky mengatakan, Ulus tidak hanya membimbing jadi petani sukses. Ia justru diajari caranya gagal.

Ia mencontohkan saat gagal menanam kangkung dan wortel. Usut punya usut, Ulus sudah tahu hasilnya bakal seperti itu. Namun, Ulus diam. la berharap Rizky dan kawan-kawan belajar dari pengalaman itu.

“Ternyata tanahnya sudah lama tak digarap dan butuh perawatan sebelum ditanami lagi,” katanya.

Harga stabil

Malam semakin tua di Kampung Gandok ketika empat petani kembali ke kebun cabai rawit. Saat itu, giliran mereka ronda menjaga cabai dari maling. Banyak maling merajakla saat harga cabai naik tak karuan seperti saat ini. Hingga dua jam berjaga, tak ter lihat tanda-tanda ada maling mendekat. Mereka memilih istirahat sejenak dengan menyalakan api unggun mengusir suhu dingin 19 derajat celcius. Namun, justru obrolan dari bibir mereka yang menghangatkan suasana.

“Kamu enak, sebentar lagi untung besar panen cabai. Saya rugi karena banyak tanam tomat,” kata Dedi Sandi (51), salah seorang petani, kepada Ebes (40), petani lainnya.

“Tapi, kasihan yang mau beli cabai, harganya terlalu mahal. Lebih baik harganya stabil, sekitar Rp 40.000 atau Rp 50.000 per kilogram, bukan seperti sekarang Rp 80.000, tetapi besok Rp 10.000,” kata Ebes.

Ulus mengatakan fluktuasi harga cabai atau tomat adalah pekerjaan rumah yang ingin ia minimalkan dampaknya tahun ini. Selain mendorong pemerintah daerah mecari pasar, mendata hasil panen, hingga  menjamin harga adil bagi petani, ia juga ingin terus mendorong petani menanam sayur dengan cara yang tepat.

“Pengalaman sukses cuciwis dan baby buncis akan jadi contoh. Jika mau belajar, petani bisa merencanakan masa depannya sendiri,” katanya

 

Sumber: Kompas 16 Januari 2017, Hal. 16

 

Supandi Kusuma Guru Para Pendekar Wushu

Supandi Kusuma_Guru Para Pendekar Wushu.Kompas 30 Januari 2017.Hal

Gerakan tangan dan kaki Supandi Kusuma berayun lembut saat dirinya memperagakan jurus dalam taiji, salah satu nomor dalam olahraga wushu. Ia bak menari dan melayang. Wajahnya tenang tanpa ekspresi. Tiba- tiba dua tangan yang mengepal di depan dada dan kaki yang membuka mengentak keras. Gerakan itu membuatnya berdiri gagah dan tangguh dengan wajah mengeras

OLEH AUFRIDA WISMI WARASTRI

Ia mengakhiri gerakannya dengan lembut, dalam diam dan hening. Gerakan- gerakan indah itu seolah menyatu dengan Supandi yang menggeluti wushu selama berpuluh-puluh tahun.

Di usianya yang sudah sepuh, ia terlihat sangat bugar dan lincah. Pemegang dan VIII Chinese Association sejak 2010 itu sebenarnya sudah mencapai dan IX, tingkat tertinggi kemahiran wushu. Namun ia tetap membiarkan pada posisi dan VIII. “Kalau masih VIII  masih ada level tertinggi yang akan diraih,” katanya, Selasa (24/1), di Medan, Sumatera Utara.

Kecintaannya pada wushu membuat dirinya identic dengan olahraga bela diri klasik asal Tiongkok ini. Lewat tangannya, lahir banyak atlet wushu di Indonesia, di antaranya Lindswell Kwok, Jainab, Sandry Liong, Freddy, Dwi Arimbi, dan Julita Niza Wasni.

Atlet wushu binaanya sedikitnya telah merebut 305 medali, yaitu 118 medali emas, 84 medali perak, dan 103 medali perunggu, sejak 2007 dari 42 kejuaraan internasional, yakni World Wushu Championship, SEA Games, Asian Games, dan Islamic Solidarity Games.

Berguru ke Tiongkok

Supandi pertama kali mengenal wushu waktu itu populer dengan nama kungfu saat berusia 12 tahun. Ia diajak ayahnya, Hadi Kusuma, melihat warga berlatih kungfu disebuah taman di Hongkong. “Waktu kecil badan saya kurus dan sakit- sakitan. Ayah meminta saya belajar wushu supaya sehat,” katanya.

Tiga tahun kemudian, ia mulai berlath kungfu. Pada usia 20 tahun, ia belajar taiji atai tijiquan, cabang bela diri wushu aliran lembut. Taiji diciptakan oleh Chang Shan Feng yang menetap di Gunung Wudangm Provinsi HubeI, Tiongkok. Dalam sejarah, dikenal ada dua Chang Shan Feng. Yang pertama hidup pada masa Dinasti Song (960-1279) dan yang kedua pada masa Dinasti Ming (1368-1644).

Supandi mempelajari taiji yang bersumber dari kedua tokoh itu melalui generasi penerusnya di Tiongkok. Ia juga belajar dari pakar taiji Asia Tenggara, yakni sifu Lo Thing Poh. Ia mendapatkan sertifikat pelatih taiji dari Chinese Whusu Association di Makau tahun 1989. Supandi tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mendapat sertifikat tersebut.

Berbekal sertifikat, ia kembali ke Medan dan mulai melatih taiji di Taman Ahmad Yani, lantas melatih di sebuah gudang di Jalan Aceh. Salah satu seorang murid generasi pertamanya adalah Jainab.

Karena sebagian besar muridnya masih anak- anak, Supandi mengantar mereka pulang dengan mobil pribadi. Ia juga menyewa angkutan kota atau angkot untuk antar- jemput murid muridnya yang tersebar di Medan dan Binjai. Sebanyak 10-20 anak yang dinilai memiliki bakar ia latih khusus di lantai lima kantor Harian Analisa, tempat Supandi bekerja sebagai pemimpi umum. Untuk nai ke lantai lima, para murid harus jalan jongkok sambal melompat seperti kodok. Satu kali lompatan, melewati 2-3 anak tangga. “Supaya badan dan napas mereka kuat,: katanya.

Setelah murid- muridnya mahir, ia mengirim mereka ke kejurnas wushu. Namun, mereka kalah. Ia terus menggembleng atlet- atlet binaannya. Hasilnya, pada 1993, Jainab berhasil menempati urutan keenam dalam Kejuaraan Dunia Wushu di Malaysia. Nama Supandi pun mulai dipandang di tingkat nasional. Ia makin diperhitungkan ketika Jainab meraih perah dalan Taijiquan World Wushu Championship 1995, di Baltimore, AS.

Guru yang keras

Seiring waktu, Supandi merasa perlu untuk membuat tempat latihan yang baik. “Saya sedih karena tempat latihan masih  numpang.”

Maka, pada 1997 ia meminjam uang di bank dan membangun Padepokan Yayasan Kusuma Wushu Indonesia di Jalan Plaju, Medan. Padepokan itu diresmikan pada 2011 oleh ketua KONI saat itu, Wismoyo Arismunandar, dan Gubernur Sumut Rizal Nurdin. Biaya pembangunan ia cicil dari uang probadinya. “Lama-lama juga lunas,” kata Supandi yang pernah menggelar kejuaraan dunia wushu di Jakarta dan Bali.

Padepokan itu ia kelola dengan serius. Atlet binaanya disediakan mes dan dilatih setiap hari. Kebutuhan murid- muridnya ia tutup dari kocek pribadi. Belakangan, padepokan itu digunakan sebagai pelatnas SEA Games 2001 hingga 2015 dan Asian Games 2002 hingga 2014.

Bagi murid- muridnya, Supandi adalah guru yang keras. Darwis Taniwan dan Heriyanto, murid generasi ketiga yang kini menjadi pengurus Yayasan Kusuma Whusu Indonesia, menceritakan, selain menjalani lomba kodok hingga lantai lima kantor Harian Analisa, mereka tidak boleh meninggalkan latihan sebentar saja. Latihan keras harus dilakukan sebelum dan setelah sekolah. “Menengok rumah hanya untuk datang ke acara keluarga saja tak boleh,” ujar Darwis.

Jainab, misalnya setiap hari harus berlatih mengangkat kakinya hingga 200 kali. Nonton televise pun harus sambal berlatih. Latihan terus- menerus dilakukan bukan semata- mata untuk menghafal gerakan, melainkan agar tubuh dapat bergerak dengan harmonis. Pasalnya, latihan bertahun-tahun bermuara pada penampilan yang hanya 1,5 menit di turnamen. Atlet harus tampil sempurna, missal berputar di udara 360 derajat, bahkan 720 derajat, dan mendarat dengan bagus.

Setelah dewasa, para murid baru mengerti mengapa Supandi mendidik keras, semata- mata agar mereka berprestasi. “Kalau kamu berlatih 100 kali, lawanmu berlatih 200 kali, kamu harus berlatih sampai 500 kali. Bertandinglah seperti dalam latihan, tetapi berlatihlah seperti dalam bertanding,” kata Supandi.

Setiap murid harus tetap rendah hari meski telah berprestasi tinggi. Penghormatan kepada senior dan orangtua terus dipupuk. Karena shu sejatinya adalah olahraga yang menantang pikiran dan tubuh, para murid diharuskan melawan musuh terbesar, yakni diri sendiri.

Supandi bangga, wushu telah berkembang di Indonesia. “Pada masa depan, perkembangan wushu saya titipkan kepada atlet dan mantan atlet berprestasi, “ujar Supandi yang mengidolakan Mr Yu Zai Qing, Presiden Federasi Wushu Dunia dan Wakil Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Satu kebanggaan lagi ia peroleh tepat pada perayaan imlek, 28 Januari 2017. Jalan Plaju tempat Padepokan Yayasan Kusuma Wushu Indonesia oleh Pemerintah Kota Medan. “Saya senang sekali, sampai tidak bisa tidur memikirkannya,” ujarnya.

 

Sumber : Kompas 20 Januari 2017. Hal 16

Sugito Merajut Desa Mandiri di Lereng Slamet

Sugito_Merajut Desa mandiri di Lereng Slamet Kompas 9 Januari 2017.Hal

Desa Serang, Kabupaten Purbalingga, dilereng Timur Gunung Slamet, dulunya daerah yang sunyi dan miskin dan tertinggal. Namun, tiga tahun terakhir, wilayah itu menjadi magnet wisata alam dan agro di Jawa tengah bagian selatan. Semua tak lepas dari upaya Sugito (48) mengembangkan potensi wilayah sesuai kearifan lokal.

Oleh Gregorius Magnus Finesso

Ingin menyerap dikawasan Best Area Lembah Asri Desa Serang kecamatan karangreja, Purbalingga Jawa Tengah, pertengahan Desember 2016 diteras pengelola tempat wisata berbasis desa itu belasan anak muda sibuk membuat papa-papan petunjuk lokasi dengan sentuhan artistic. “ Saya meminta mereka menumpahkan ide kreatifnya dengan membuat papan-papan petunjuk lokasi wisata. Daripada Nganggur. Kalau disini paling enggak ada makan siang” Kata Sugito kepala desa serang sekaligus penggerak Rest Area Lembah Asri, mengawali pembicaraan. Ia menceritakan awalnya tidak mudah merangkul warga dalam kegiatan pariwisata.  Ia perlu waktu enam tahun untuk meyakinkan mereka. Pada akhirnya mereka tertarik juga terlibat. Sugito lahir di Desa Serang. Ia pernah merantau dan bekerja diperusahaan sawata nasional yang bergerak dibidang agroindustri. Hidupnya dikata sudah cukup mapan. Namun, hatinya sering gusar melihat kemiskinan membelenggu warga desanya. Padahal desa tersebut dianugerahi tanah subur dan keindahan alam. Pada suatu titik ayah dua anak itu tergerak membantu warga keluar dari belenggu kemiskinan ia pun memilih berhenti bekerja dan pulang ke kampungnya yang terletak sekitar 7 kilometer di lereng timur puncak Gunung Slamet. Berbekal pengalaman kerja ditempat sebelumnya, Sugito mencoba menggerakkan warga lewat pertanian. Ia memperkenalkan sistem pertanian terpadu. Ia mengajarkan cara bercocok tanam yang baik dan cara beternak kambing etawa dan kelinci. Ia mesti mencairkan tabungan pribadinya untuk dipinjamkan segabagi modal kepada warga yang tertarik beternak dan mengembangkan pertanian. Selanjutnya ia mengajak warga menanam stroberi yang belakangan menjadi salah satu tanaman unggulan agrowisata di Desa Serang. Awalnya ia membawa sejumlah bibit stroberidari wilayah Ciwidey, Bandung Jawa Barat. “ Saya yakin bibit stroberi darisana bisa ditanam di Desa Serang karena kondisi iklim dan tanahnya mirip” katanya.melihat kiprah Sugito pada 2007,ia didaulat warga untuk maju kepemilihan kepala desa setempat, setelah terpilih sebagai kepala desa, Sugito kian getol memperjuangkan kemajuan Serang. Ia kembangkan Serang sebagai sentra sayur-mayur di Purbalingga. Sugito pun menjadikan Serang sebagai desa wisata. Awalnya, ia membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan mengunggulkan wisata pemetik stroberi. Beberapa warung makan dibangun ditepi jalan desa yang juga jalur utama menuju pos terakhir jalur pendakian Gunung Slamet dari Purbalingga.

Lurah Tanpa Bengkok

Awal 2010 pemerintah kabupaten Purbalingga menetapkan Desa Serang sebagai desa wisata pertama di daerah yang hingga pertengahan 2000-an menjadi salah satu daerah di Jawa Tengah yang paling banyak memasok pembantu rumah tangga kesejumlah daerah. Namun, perkembangan wisata Desa Serang itu tidak berjalan mulus. “Banyak konflik internal ditubuh Pokdarwis. Pengurusnya kurang fungsional.” Kata Sugito. Hal itu berbuntut pada penurunan pelayanan wisata. akhir 2010 Sugito berinisiatif membentuk badan usaha milik desa (BUMDes). Baginya, pengelola wisata melalui badan usaha bakal lebih profesional. Ia mengajak sejumlah warga urunan untuk membeli beberapa wahana permainan “ Saat itu terkumpul 50 juta. Kami beli flying fox dan motor ATV.” Katanya. Pada 2013 Sugito berinisiatif membuka kompleks wisata memamfaatkan tanaman bengkok seluas 1,3 hektar yang semestinya berhak ia gunakan.  “Enggak ada gunanya kalau saya nikmati sendiri (tanah bengkok) lebih bermamfaat jika dipakai untuk kemakmuran warga.” Ujarnya. Namu tidak mudah bagi Sugito menggerakkan warga ikut membantu pembangunan kawasan yang kemudia disebut Rest Area Lembah Sari tersebut. Sugito tidak menyerah. Ia sabar melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat. setelah ia bisa mengajukan beberapa contoh warga yang sukses dari pariwisata perlahan pandangan warga lainnya berubah. Akhirnya, secara sukarela warga mau menyumbang bamboo dan alang- alang untuk membuat bangunan gajebo. Mereka juga membangun jalan dikawasan kompleks wisata secara swadaya. Menurut Sugito saat itu ada 1000 orang lebih yang datang bergotong royong. Sugito menekankankemandirian dalam membangun desa. Dia menolak dua bantuan Program Nasional Pembrdayaan Masyarakat yakni usaha ekonomi produktif dan simpan pinjam perempuan. Baginya urusan utang piutang akan menimbulkan masalah. Dia tidak ingin terjadi kasus kemacetan pelunasan simpanan yang bisa berdampak buruk pada rasa kebersamaan dan sikap gotong royong. Sikap Sugito di dukung warga.

Hidupkan Tradisi

Melalui BUMDes, promosi agrowisata Desa Serang dilakukan lebih massif lewat media konvensional ataupun media social. Media juga menghidupkan kembali tradisi budaya yang dikemas menjadi paket wisata. salah satunya perhelatan festival Gunung Slamet yang telah digelar dua kali sejak 2015. “ Dalam festival ada prosesi pengambilan air dan perang tomat. Tradisi itu sejak dulu memang ada kami jadikan daya tarik wisata.” Agar wisatawan nyaman berkunjung, Sugito mempercantik wajah desa melalui program PKK, seluruh warga diwajibkan menanam sayur-mayur dipekarangan rumah. Desa pun terlihat semakin asri. Inovasi-inovasi itu terbukti meningkatkan pendapatan desa dari sektor wisata. jika 2012 pendapatan asli desa dari wisata baru sekitar 7 juta pada 2016 melonjak menjadi 125 juta. Rest Area Lembah Sari tidak pernah sepi pengunjung.

BUMDes Serang kini memiliki 5 unit usaha yakni pariwisata, pertanian, peternakan, pengelolaan air, dan lembaga keuangan mikro. Warga serang yang dulu banyak merantau menjadi pembantu rumah tangga kini hidup mandiri di desa. Belakangan ia kembali berinovasi dengan membuka investasi berupa penjualan saham senilai RP 10 juta perlembar melalui BUMDes. Hasilnya hingga akhir 2016, terkumpul RP 600 juta dari seluruh warga Serang. Investasi itu akan dikelola untuk membangun taman labirin dan membangun wahana sepeda air, bianglala dan sepeda udara. Dengan penambahan sejumlah wahana wisata, Sugito menargetkan kunjungan wisatawan yang saat ini sekitar 110.000 orang pertahun bisa menjadi 15.0.000 orang. pendapatan asli desa ditargetkan Rp 1 miliar pada tahun 2018. Kisah sukses desa yang dihuni 2430 keluarga ini mengilhami pemerintah kabupaten Purbalingga  setahun terakhir giat mengembangkan desa-desa wisata lain. Sugito Kini berbangga perekonimian desa yang digerakkan pariwisata tumbuh tanpa mengikis kearifan local. Mereka membuktikan mampu hidup mandiri dengan potensi yang dianugerahkan Sang Pencipta sedari mula.

 

Sumber : Kompas, 9 Januari 2017. Hal 16

Subandi Giyanto “Jangan Berebut Kursi”

Subandi Giyanto_Jangan Berebut Kursi.Kompas 14 Februari 2017.Hal.16

Lewat lukisan kaca, Subandi Giyanto menyampaikan “pitutur” atau petuah leluhur. Pesan bijak itu, menurut Subandi, masih relevan sampai hari ini. Diungkapkan lewat figur punakawan dengan gaya jenaka, ia berharap  pesan-pesan itu menjadikan orang terhibur sekaligus belajar hidup secara arif. “becik ketitik ala ketara” merupakan petuah dalam bahasa Jawa yang bisa dibilang cukup populer dalam masyarakat Jawa.

OLEH FRANS SARTONO

Terjemahan bebasnya, “siapa yang baik akan ketahuan dan siapa yang buruk atau jahat akan ketahuan pula pada akhirnya.”

Petuah itu tertulis di bagian tengah atas lukisan kaca karya Subandi Giyanto. Di bawah pitutur itu ada tokoh Punakawan Semar, Petruk, dan Gareng. Digambarkan Semar dan Gareng bertelanjang dada. Sementara Petruk mengenakan pakaian kebesaran berupa semacam jas merah, lengkap dengan kethu atau topi kebesaran yang lazim digunakan tokoh raja dalam pewayangan.

Pada lukisan lain tertera petuah aja rebutan kursi atau jangan berebut kursi. Pada lukisan itu tiga anak semar, yaitu Petruk, Gareng, dan Bagong berebut kursi. Pada lukisan ini kursi menjadi metafora kedudukan, kekuasaan. Petuah jangan berebut kursi, dikatakan Subandi, menjadi semacam pengingat untuk tidak saling “berkelahi” berebut kekuasaan sehingga melupakan persaudaraan.

Begitulah cara Subandi menyampaikan pitutur atau petuah dengan medium lukisan kaca. Pitutur “klasik” yang tertuang dalam karya Subandi antara lain aja watak wani wiring (jangan punya watak tidak tahu malu). Digambarkan Petruk berjas-dasi, satu tangannya memasukkan uang ke kotak amal, tetapi tangan yang lain merogoh kantong bagong.

“Orang korupsi, nyolong kok tidak malu. Kalau ketahuan kan wiring, tercemar namanya,” kata Subandi yang merupakan abdi dalem keraton Yogyakarta bernama Mas Wedono Dwijo Cermo Wiguno.

Pesan bijak lain adalah asu gedhe menang kerahe (anjing besar akan menang bertarung); rebut balung tanpa isi (berebut tulan tanpa isi); eling lan waspada (sadar dan waspada); ojo dumeh (jangan mentang-mentang); serta melik nggendong lali atau keinginan berlebihan bisa membuat orang lupa diri.

Wulang wuruk (ajaran/petunjuk) dalam masyarakat Jawa itu sangat bermanfaat dan masih relevan sampai hari ini. Akan tetapi, pitutur itu, mungkin akan dilupakan kalau para penuturnya sudah habis. Saya menurunkan atau mewariskan pesan itu dalam bentuk gambar,” kata Subandi tentang pilihan tema pada lukisan kacanya.

Penyungging Wayang

Lukisan kaca yang ditekuni Subandi merupakan jenis seni rupa yang terpinggirkan dalam perkembangan seni rupa masa kini. Ciri-ciri seni rakyatnya cukup menonjol tampak dari olah visual yang terbatas pada pola-pola penggayaan yang bertumpu pada seni rupa wayang kulit. Hal itu tampak pada figure-figur tokoh wayang ataupun narasinya.

Unsur dekoratif pada karya Subandi sangat menonjol. Selalu ada dua gunung biru sebagai latar. Di depan gunung ada sawah atau ubin dalam semacam pendopo. Satu lagi, lukisan Subandi sering di bingkai oleh gorden seperti panggung pertunjukkan wayang.

Dengan kerangka artistic seperti itu, Subandi memasukkan unsur-unsur baru, kekinian, misalnya dalam lukisan berjudul “Sing Eling Lan Waspada,” ia menampilkan Petruk naik skuter sambil menenggak minuman. Ia mengenakan blue jeans dan T-shirt. Di belakangnya duduk perempuan dengan gaun merah. “kontradiksi” bentuk-bentuk wayang dan non wayang akan memberikan tegangan kreatif, baik bagi seniman maupun penikmat.

SUBANDI GIYANTO

Lahir    : Bantul, 22 Juni 1958

Pendidikan      : SSRI, Jurusan Seni Rupa IKIP Negeri Yogyakarta

Pekerjaan         : Pelukis, Guru SMK Negri 5 Yogyakarta

Sejumlah Pameran       :

  • Pameran tunggal lukisan Gambar Pitutur, 2004, Galerry Pitoe Yogyakarta
  • Pameran Tjap Petroek, Bentara Budaya Yogyakarta, 2004
  • Pameran lukisan kaca Tradisi dan Perkembangannya, Bentera Budaya Jakarta 2005
  • Pameran Seni Rupa Sanggarbambu, di Balai Rupa Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta 2006
  • Pameran Petruk Nagih Janji, di Bentara Budaya Yogyakarta dan Balai Soedjatmoko, Solo

Subandi lahir dan tumbuh dalam keluarga penyungging dan penatah wayang kulit di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ayahnya Giyanto dan paman-paman Subandi adalah para penatah wayang. Umur 7 tahun, Subandi kecil sudah belajar menata wayang.

Lukis kaca mulai dikenal Subandi saat bergabung dengan sanggar bamboo pada awal 1975. Di sanggar tempat berhimpun seniman terkemuka Yogyakarta inilah Subandi mengenal Hardiyono, seorang seniman lukis kaca yang saat itu aktif di Pasar Seni Ancol, Jakarta.

“Pertama kali sangat sulit karena menggunakan teknik terbalik. Tapi ternyata lukisan kaca dengan tema wayung laku keras,” kata Subandi yang lulus dari sekolah menengah Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta, 1975.

Social Politik

Subandi mulai menggunakan tema pitutur dan kemudian mengarah ke komentar social setelah dilibatkan Butet Kartaredjasa dalam produksi Teater Gandrik pada awal 1980-an. Oleh Butet ia di mintak membuat lukisan di atas kertas seukuran ubin untuk keperluan pentas. Lukisan itu bermuatan tema social politik.

“saya berpikir, kalau ini saya bikin di lukisan kaca, orang mungkin akan suka. Ternyata benar dan sekarang keterusan.”

Petuah leluhur itu dirasa Bandi berlaku pada segala zaman. Ia melihat situasi sekitarnya dan ia merasa perlu mengingatkan orang pada pesan-pesan tersebut. Selain itu, ia sebagai pribadi juga merasa perlu membuat karya sebagai semacam pelepasan ketegangan Subandi atas situasi yang menurut dia menekan. Lukisan “Ojo Rebutan Kursi,” misalnya, dibuat Bandi sebagai respons atas situasi social politik menjelang 1998. “Secara psikis, saat itu saya juga tertekan,” kata Subandi.

Begitu pula ketika kasus yang kemudian dikenal sebagai “cicak vs buaya” mencuat, Bandi merespons dalam lukisannya. Suatu kali ia membaca berita tentang psien yang ditolak oleh sebuah rumah sakit, maka lahirlah karya “Orang miskin dilarang sakit.”

Karya –karya Subandi ternyata disukai orang. Lukisan “Ojo Rebutan Kursi,” misalnya, dibuat sampai 15 kali dengan perubahan sedikit disana-sini. Karyanya dikoleksi kolektor sejumlah Negara, termasuk Taiwan, Jepang, Tiongkok, Belanda, Jerman, Australia, Amerika Serikat dan Australia.

Subandi, lewat karyanya, ingin berbagai kearifan warisan pitutur leluhur kepada orang banyak, termasuk penikmat lukisannya.

“Saya memosisikan diri sebagai orang netral. Saya memvisualkan pitutur leluhur supaya kehidupan menjadi tenang. Jika pitutur tersebut dijalankan, dimanfaatkan, semoga kita menjadi lebih arif,” kata Subandi.

Sumber: Kompas 14 Februari 2017 hal 16

Ragil Budi Wibowo Penjaga Kebersihan Gunung

Ragil Budi Wibowo_Penjaga Kebersihan Gunung Kompas 4 Februari 2017.Hal

Mendaki gunung kian digemari kaum muda. Namun, bersamaan dengan tren itu, gunung menjadi kotor oleh sampah. Kondisi itu memicu Ragil Budi Wibowo (30) membentuk Trashbag Community, yang berjibaku membersihkan gunung dari aneka sampah, mulai dari botol plastik, tas, hingga alat kontrasepsi.

OLEH DWI BAYU RADIUS

Secretariat Trashbag Community di Jalan Pejaten Barat, Jakarta, akhir Januari lalu, gelap gulita. Ragil bergegas keluar bangunan itu untuk bergegas menekan kode listrik prabayar. “Maaf ,Ya, Saya lupa membeli paket listrik prabayar,” katanya sambil nyegir.

Setelah itu, tampaklah kondisi secretariat yang lebih mirip bedeng. Panjang bangunan hanya 5 meter dengan lebar 4 meter. Dinding bagian bawah bangunan itu berupa semen dan bata, sisanya terbuat dari tripleks bercat hijau kusam. Atap secretariat berupa asbes tanpa eternit.

Matras, gelang berisi kopi, dan piring kotor bergeletakan dilantai beralaskan terpal plastic tipis. Tak ada tempat tidur, meja dan kursi. Akses menuju secretariat hanya gang yang dimasuki mobil pun tak bisa. Jarak dari jalan raya sekitar 50 meter .

Namun, bangunan usang itu sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan semangat anggota Trashbag Community. Mereka rela berlelah-lelah memungut sampah di gunung, mengawasi, dan mengingatkan pendaki jika bersikap tak tertib. Semua dikerjakan tanpa bayaran sama sekali.

Kantong plastic sepanjang 50 sentimeter (cm) dan lebar 75 cm, serta tali rafia menjadi andalan. Mereka menjinjing kantong itu, menjunjung di atas kepala, bahkan menyeretnya sambil mendaki gunung. Sebagian dari mereka memungut sampah tanpa mengenakan sarung tangan. Macam-macam sampah ditemukan.

“Salah satu yang bikin saya sangat kaget, ada botol plastic buatan tahun 1987 yang ditemukan di gunung salak pada akhir tahun 2015,” kata Ragil. Sampah itu membuat Ragis miris, betapa limbah plastic membutuhkan waktu amat lama untuk terurai sehingga tahun produksinya masih bisa dibaca.

Sampah lain yang membuat Ragil geleng-geleng kepala adalah kondom bekas. Artinya, gunung tak lagi dianggap sebagai tempat kesantunan harus benar-benar dijaga. Barang-barang yang tertinggal, seperti dompet, powerbank, telepon seluler, dan tenda juga ditemukan.

“Ada juga tas yang isinya masih komplet. Kemungkinan, pemilik tas diseruduk babi hutan lalu terbirit-birit. Tasnya dia tinggal,” katanya.

Sejak Tahun 2011

Ragil mendirikan Trashbag community bersama Irvan Nugraha (40). Mereka berkenalan saat mendaki Gunung Gede, Jawa Barat, pada 2009. Pada Oktober 2011, mereka mengobrol dan mencetuskan ide mendirikan komunitas itu. Awalnya, Ragil mengamati fenomena mendaki gunung yang kian digemari berbagai kalangan.

Film, Novel, dan acara peretualangan di televise memicu keinginan mereka untuk mendaki gunung. Sayangnya, antusiasme itu tak diimbangi edukasi memadai. “Mereka nonton atau membaca soal pendakian, lalu berpikir, wow, naik gunung itu keren. Tanpa berpikir panjang, mereka pergi,” katanya.

Imaji pendaki berupa pemuda tanggung dengan isi kantong pas-pasan telah bergeser. Kalangan berada, yang mampu membayar porter untuk membawa tas mereka, tak mau ketinggalan. Anak muda lantas berbondong-bondong mendaki dan sampah di gunung pun semakin menumpuk.

“Pertengahan Oktober 2011, saya mendaki Gunung Merbabu di Jawa Tengah. Waktu tidur, saya benar-benar berbaring di atas hamparan sampah,” kata Ragil. Di puncak Merbabu, para pendaki berfoto dengan potret dari pinggang hingga kepala mereka karena di bawahnya sampah bertebaran.

RAGIL BUDI WIBOWO

Lahir    : Jakarta 6 Januari 1987

Istri      : Eva Nurpiyanti (33)

Pendidikan      :

  • Sekolah dasar Negeri 04 Kalibata, Jakarta
  • Sekolah Menengah Pertama Negeri 41 Ragunan, Jakarta
  • Sekolah Menengah Atas Negeri 55 Jakarta
  • D-3 Jurusan Manajemen Informatika Bina Sarana Informatika Jakarta

Pecutan lain, yakni acara televisi mengenai perempuan Jerman yang mengampanyekan kebersihan di Danau Toba, Sumatera Utara. “Dia memulainya sendirian. Saya merasa tertampar. Alam memberikan keindahan, tetapi apa yang bisa saya berikan? Tekad saya bulat untuk membentuk Trashbag Community,”katanya.

Ragil menyebarkan ajakan membersihkan gunung melalui media social. Gunung Gede menjadi tujuan pertama dengan jumlah peserta sekitar 20 orang dari berbagai organisasi pencinta alam. Kegiatan itu, dilakukan pada 11 November 2011, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Trashbag Community.

Komunitas itu mengambil moto “Gunung Bukan Tempat Sampah”. Hingga saat ini, 41.00 orang terdaftar sebagai anggota Trashbag Community. “Itu yang terdaftar. Kalau jumlah total dengan anggota tidak terdaftar, ditaksir lebih dari 10.000 orang,” ucap Ragil.

50 Gunung

Operasi kebersihan telah dilakukan di sekitar 50 gunung. Berbagai bahaya mengintai di gunung sehingga anggota Trashbag Community tak jarang harus menyabung nyawa. Saat mendaki gunung Slamet di Jawa Tengah pada Agustus 2012, misalnya, sekonyong-konyong mereka sudah terkepung api.

“Gunung Slamet dibuka. Kami pikir aman dan mulai mendaki. Keesokan harinya, kebakaran terjadi. Besar sekali. Kami menuruni gunung dengan lari sekencang-kencangnya,” katanya. Di tepi jalur pendakian, api sudah berkobar-kobar. Munculnya korban dapat dicegah, tetapi kemalangan ternyata belum usai.

“Sampai di bawah, kami malah dituding menyebabkan kebakaran. Pahit, deh, kami harus siap dicaci. Tak boleh mengharapkan pujian,”kata Ragil.

Trashbag Community membuat anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) dan membentuk dewan pengurus pusat (DPP), daerah dan cabang. Sebanyak 15 pengurus daerah (DPD) atau tingkat provinsi  sudah dibentuk. Sementara dengan pengurus cabang (DPC) atau tingkat kabupaten /kota sudah dibentuk di 28 daerah.

Jumlah pengurus DPP, DPD, dan DPC sekitar 500 orang. Ragil dipercaya sebagai Ketua Umum DPP Trashbag Community sejak komunitas itu berdiri. Masa kepengurusan diganti setiap tiga tahun. Profesi pengurus dan anggota Trashbag Community bervariasi.

“Ada pengojek , buruh pabrik, wirausaha, pegawai bank, dan petugas pembersih sampah. Mahasiswa dan pelajar SMA (sekolah menengah atas)juga bergabung,” katanya. Ragil sendiri bekerja sebagai desainer dan penjual peralatan pendaki, serta membuka satu kedai makanan.

Komunitas itu medapatkan pemasukkan dengan menjual baju, kover tas untuk melindungi dari hujan, stiker, tempat tidur, dan pin. Pemasukkan yang lainnya adalah donasi dan pembayaran kartu anggota sebesar Rp.50.000 yang berlaku selama dua tahun. Anggaran digunakan terutama untuk membeli kantong plastik.

Ragil dan rekan-rekannya pun tak jarang masih harus merogoh kock untuk berbagai keperluan. Soal biaya mengontrak secretariat sebesar Rp. 9 juta per tahun, mislanya, mereka rela patungan untuk membayarnya tanpa mengambil dari kas.

“Kami kekurangan terus, tetapi Tuhan selalu membuka jalan. Mudah-mudahan itu karena apa yang sudah kami lakukan untuk alam,”katanya.

 

Sumber Kompas 4 Februari 2017 hal 16

Ong Yu Kim Setia Menjaga Tahu Legenda

Ong Yu Kim_Setia Menjaga Tahu Legenda. Kompas 18 Februari 2017.Hal 16

Legenda 100 tahun tahu sumedang tak lepas dari kesabaran dan tangan terampil orang-orang di balik dapurnya . Bukti buah sejahtera pasti datang saat inovasi dan kesetiaan itu jalan bersamaan .

OLEH BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA

 

            Tak ada kesan mewah dari took sang perintis . Bentuknya tak banyak berubah sejak zaman dahulu , klasik penuh karisam meski diapit banyak bangunan di sekitarnya. Terletak di Jalan 11 April No, 53 , Kecamatan Sumedang Utara , Kabupaten Sumedang , toko itu berjarak sekitar 100 meter dari Pasar Sumedang.

Berada di depan jalanan padat tak mengurangi minat banyak orang datang dan mengantre di depan etalase.

Siang itu, dua dari 10 pekerjanya sibuk melayani konsumen. Sembari menunggu, pelanggan bisa melihat mereka beraksi di dapur berukuran 5 meter x 5 meter.

Ada empat wajan berdiameter setengah meter yang digunakan saat itu. Digenangi minyak panas, tahu-tahu  itu mengebul tanda matang siap disantap. Tak menunggu lama, setelah tahu matang itu ditiriskan , tahu – tahu basah diambil dari dua gentong besar siap untuk dimasak.

Kesibukan yang sama terjadi di bagian belakang toko yang juga menjadi rumah Ong Yu Kim (78). Ada dua ruangan yang dijadikan dapur mengolah kacang kedelai menjadi bahan tahu basah.

Hari itu, hanya dapur berukuran 5 meter x 4 meter yang dipakai . Dapur itu digunakan untuk produksi pada hari biasa. Di tempat itu, pekerjanya membuat tahu mulai pukul 05.00 hingga pukul 10.00.

“Dapur yang berukuran lebih besar, sekitar 7 meter x 4 meter , bau digunakan melayani permintaan saat hari libur, seperti Lebaran dan waktu liburan panjang lainnya,”katanya.

Meski sederhana, dapur itu mengutamakan kebersihan. Tidak ada bau anyir; bersih dan kering . Beragam alat kebersihaan ada disana.

“ Kalalu dapur pabrik tahu bau, artinya limbahnya tidak dikelola dengan baik. Rasa tahu juga dipastikan tidak nikmat . Saya tidak ingin itu terjadi di sini ,” ujar Yu Kim.

Walaupun umurnya tak lagi muda, saat diajak bicara tentang tahu sumedang , semangat Ong Yu Kim mengalahkan senja usianya.

Saat Kompas mengunjungi kediamannya di Sumedang , Jawa Barat, Jumat (3/2) , Yu Kim dengan panjang lebar menjelaskan sejarah Tahu Bungkeng yang dirintis ayahnya seabad lalu.

“Ayah saya , Ong Boen Keng, pertama membuka Toko Tahu Bungkeng di Sumedang tahun 1917. Resepnya dari kakek, Ong Kino , yang datang lebih dulu dari Tiongkok awal 1990-an ,” katanya.

Ingatannya tergolong masih segar saat menceritakan sejarah besar Tahu Bungkeng . Lahir pada 1938 , ia saksi hidup keteladanan wirausaha kuliner tahu sumedang yang hingga kini terus bertahan.

Yu Kim sudah mulai membantu ayahnya membuat tahu sejak kecil. Pekerjaannya beragam. Ia ikut mendorong batu penggilingan untuk mengolah bahan baku tahu . Ia juga merangkap sebagai pengangkut kayu kering , bahan bakar utama tungku penggorengan .

“ Semua keluarga ikut membantu. Selain ayah dan saya, ibu juga membuat tahu di dapur, biasanya sambal menggendong adik,” ujarnya.

Apabila sekarang Tahu Bungkeng banyak dicari , dulu keadaannya berbeda. Sekitar tahun 1950-an, tahu goreng garing belum sepopuler sekarang . Ayahnya menyasar konsumen pengendara dan penumpang bua yang kebetulan melintas di pinggir jalan raya Bandung – Sumedang – Cirebon.

Saat itu , Tahu Bungkeng dibuat 500 buah per hari. Harganya hanya 5 sen per tahu. Kini rata-rata harga tahu Sumedang Rp. 500 – Rp 600 per buah.

“Lama-kelamaan banyak yang tertarik . Bentuknya persegi, makanan apa ini bentuknya persegi? Keunikan itu membuat tahu jadi laku keras,” katanya.

Cinta Kepada Tahu

            Selepas lulus dari SMA Mandarin Ciao Chung , Kota Bandung , pada 1958 , Yu Kim sepenuhnya membantu usaha ayahnya. Butuh tiga tahun hingga  akhirnya Boen Keng percaya bahwa Yu Kim mampu menjadi nahkoda Tahu Bungkeng .

Ia berkisah, ayah tidak pernah memaksa meneruskan usaha warisan keluarga. Cinta kepada tahu muncul sendiri ketika terlibat proses pembuatan tahu hingga melihat konsumen melalap tahu dengan wajah puas . Rasa itu membantu Yu Kim membawa Tahu Bungkeng terus berkembang mengikuti perkembangan zaman.

Ia mangganti penggilingan batu bertenaga oto manusia menjadi mesin berbahan bakar solar. Mesin itu memberi kemudahan produksi tahu yang lebih banyak dengan waktu lebih singkat. Kapasitas produksi meningkat , dari 500 potong tahu per hari menjadi 5.000 potong per hari .

Yu Kim juga memperbaharui alat pembakaran . Apabila sebelumnya selalu kesulitan mencari kayu bahan bakar saat hujan, kompor solar memudahkan segalanya. Produksi yang biasanya berhenti saat musim hujan mendapat solusi Karena mesin itu bisa dinyalakan kapan saja.

Peminat tahu pun terus berkembang . Pelanggan tak hanya tetangga atau konsumen yang tinggal di Sumedang . Banyak juga perantauan Sumedang di luar kota yang rindu menyantap Tahu Bungkeng saat pulang kampung. Mulai dari pedangang kecil hingga mantan Wakil Presiden RI asal Sumedang Umar Wirahadikusumah .

“Ada pelanggan yang ketika kecil suka mencuri tahu kami . Merasa bersalah , kini ia jadi pelanggan Tahu Bungkeng  setiap pulang ke Sumedang , “ ujar Ong Yu Kim terbahak.

Kisah itu semakin menabalkan kebenaran Tahu Bungkeng meski kini banyak bertebaran toko penjual tahu di Sumedang . Kini, ada 300 unit usaha dengan total pekerja mencapai 1.500- 2.000 orang hidup dari tahu.

Banyak mantan pekerja di sini bekerja di tempat lain . Hal itu membuat cara pembuatan tahu yang dipelajari di sini menyebar ke berbagai daerah di Sumedang,”katanya.

Akan tetapi, Yu Kim tidak ambil pusing dengan banyak toko penjual tahu di Sumedang. Ia bahkan senang kuliner keluarganya bisa melanglang buana ke berbagai daerah dan berguna bagi banyak orang.

 

Terus Hidup 

Tak terasa sudah dua jam Yu Kim bicara . Namun. Dalam semua kata yang ia ucapkan , masih saja semangat itu terbaca. Tubuh rentanya seperti menolak Lelah. Ia berjalan tegap tanpa bantuan tongkat .  Suaranya masih keras dan , saat bicara , giginya masih terlihat lengkap dan rapi.

“Kuncinya makan tahu sumedang,” ucap Yu Kim berkelakar ketika ditanya apa rahasia kesehatannya.

“Bapak sehat , jarang sakit, “ ujar suriadi(50) , putra keempat Yu Kim , penerus Tahu Bungkeng sejak 1992.

Belajar banyak dari kemurahan orangtua, Suriadi menerima ramah siapa saja yang datang . Mulai dari mahasiswa, peneliti, hingga wartawan yang ingin mengetahui sejarah cara pembuatan Tahu Bungkeng tak pernah di tolak.

Suriadi bahkan membuat buku , judulnya Membuat Tahu Sumedang ala Bungkeng. Isinya cara pembuatan hingga analisis bisnis, penggunaan kacang kedelai lokal sampai cara menarik minat konsumen yang terbukti bertahan selama 100 tahun .

Kini,tongkat estafet diserakan kepada Suriadi, Yu Kim menikmati kesetiaan menjaga warisan keluarga itu . Lima dari tujuh anaknya menempuh pendidikan di Amerika Serikat . Salah seorang cucunya telah merampungkan kuliahnya di Amerika Serikat.

Tidak hanya itu, ia melihat banyak orang Sumedang juga hidup sejahtera dari tahu Sumedang. Mereka bekerja sebagai perajin dan penjual tahu yang semua embrionya hadir saat Ong Kino meracik resepnya 100 tahun lalu.

“ Semoga tahu sumedang bisa terus hidup, memberi bahagia dan sejahtera bagi semua orang,” ujar Ong Yu Kim

 

 

 

 

 

On Yu Kim

  • Lahir : Sumedang , 27 November 1938
  • Istri : Suin (76)
  • Pendidikan : SMA Mandarin Ciao Chung , Kota Bandung ( lulus 1958)

 

 

UC Lib – Collect
Sumber : Kompas , Sabtu , 18 Februari 2017

Miftahudin Energi Kreatif Si Kuli Panggul

Miftahudin_Energi Kreatif Si Kuli Panggul.Kompas 13 februari 2017.Hal.16

Miftahuin (27) bekeraja sebagai kuli panggul pasar. Namun, ia tidak ingin dunianya hanya berkutat disana. Lewat buku dan kegiatan kreatif, ia melihat kota-kota lain di jawa dan belajar banyak dari perjalanannya. Pengalaman itu lantas ia bagikan kepada anak-anak muda di desanya.

                                 

OLEH SAIFUL RIJAL YUNUS

Laki-laki yang biasa di sapa Emik itu menyambut kami dengan hangat di rumahnya di Desa Tegalgubuk Lor, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (6/2) pagi. “Hari ini saya menganggur, belum ada panggilan kerja,” katanya.

Pekerjaan Emik memang tidak menentu. Satu-satunya pekerjaan yang ia anggap tetap adalah menjadi kuli panggul saat hari pasar tiba di Desanya. Bersama kakak pertamanya, ia berjibaku memanggul aneka barang seperti kain, manikin, dan karpet keluar masuk gudang. Dari pekerjaan yang ia lakoni sejak keluar dari pesantren pada 2013 itu, ia mendapat upah Rp.100.000 sehari.

Namun Emik tidak ingin hidupnya hanya berkutat sebagai kuli panggul.”Saya… apa jengene, merasa perlu mwlihat dunia luar, perlu belajar.” Ujar Emik yang sering menyelipkan ujarannya apa jenenge (apa itu namanya) di tengah-tengah kalimatnya.

Ia berusaha melihat dunia dengan membaca buku apa saja. Buat dia, buku adalah benda ajaib yang mampu membuka cakrawala pemikiran. Selain itu, ia aktif di beberapa kegiatan komunitas yang mampu menyalakan energy kreatifnya.

Kecintaannya pada buku tidak ia nikmati sendiri. Ia juga berusaha mengajak orang lain untuk menyelami dunia luar lewar buku. Untuk itu, pada 2015 ia membuat perpustakaan kekeliling gratis. Ia memodifikasi sepeda motor roda tiga sebagai perpustakaan berjalan. Bentuknya mirip perahu.

Dengan kendaraan itu, ia keliling dari satu desa ke desa lain. Awalnya, buku yang ia pinjamkan hanya belasan. Belakangan bukunya terus bertambah dari donasi.

Selain itu, Emil bersama teman-temannya yang di sapa Kopral (26) mendirikan umah kreatif untuk menampungkreasi anak muda di kampungnya.

 

KELILING JAWA

 

Ketika perpustkaan keliling dan umah kreatif telah berjalan, hasrat untuk melihat dunia luar semakin kuat mendekap Emik. Iapun memutuskan kekeliling pulau Jawa pertengahan 2016. Kegiatan perpustakaan keliling dan umah kreatifpun untuk sementara vakum.

Ia melintasi Tegal, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Ngawi, Kediri, Surabaya, dan Madura menggunakan sepeda.” Dengan bersepeda saya bisa merasakan apa apa yang terjadi di satu daerah. Bisa ngobrol dengan tukang becak, dengan siapa saja,” katanya.

Ia tidak lupa menemui teman-temannya di sejumlah komunitas. Ia belajar apa saja disana, dari cara memotivasi anak-anak untuk belajar, mengelola perpustakaan,memulai gerakan kreatif, hingga kesenian.

Pengetahuan yang ia himpun dari perjalanan bersepeda salama dua bulan itu ia bawa kedesanya dan ia terapkan. Ia mengajak kembali rekannya Kopral, untuk menghidupkan lagi umah kreatif. Mereka menyulap limbah konfeksi yang melimpah di kampungnya, Tegalgubug Lor, menjadi barang kerajinan ataupun seni.

Emik memperlihatkan sepotong kaus putih dengan gambar penyair yang kini masih hilang. Wiji Thukul. Ia juga menunjukkan senuah tote bag dengan gambar sastrawan  Pramoeda Ananta Toer. Dua gambar pada produk berbeda tersebut adalah hasil karyanya.

Dengan modal cat karet dan kuas, Emik bisa membuat saru gambar tokoh di satu kaos dalam satu hari. Sapuannyanya halus dengan gambar yang tidak jauh beda dengan potret aslinya.

Emik lantas mengajak kami ke umah kreatif yang terletak 500 meter dari rumah emik. Rumah milik keluarga Kopral yang menjadi bengkel kreatif itu berukuran 3 meter x 5 meter dengan atap yang bolong di sana sini. Kondisinya agak berantakan. Cat, kayu, plastic, kaleng berserakan di lantai.

Di rumah itu beragam barang kerajinan an seni buatan Emik dan Kopral ada dimana-mana. Ada anyaman kulit pisang bergambar Arjuna, lampu gantung dari kaleng semprot, asbak dari botol tas dari tempat cat, robot-robot dari korek.

 

PUSTAKA PERBATASAN

 

Emik dan kopral memasarkan karya-karyanya melalui Instagram @kaossastra. Hasil penjualan tidak mereka nikmati sendiri. Sebagian mereka gunakan untuk mendanai kgiatan kreatif di Pustaka Perbatasan yang di rintis Emik di ruang kecil di sebelah mushala. Dinamai Pustaka Perbatasan  Karena lokasinya berada di perbatasan Kabupaten Cirebon dan Indramayu.

Setiap minggu, Emik dan kawan-kawan mengajak anak-anak di sekitar Dusun Wanakjir, Desa Anom, Kecamatan Susukan,Berkumpul untuk membaca dan terlibat dalam kegiatan kreatif seperti membuat mainan dari limbah korek, celengan dari kaleng rokok, ataupun lukisan dengan media kayu bekas.

“Kami Cuma siapkan cat dan lat-alatnya. Apa jenenge… biar anak-anak sendiri yang merancang gambarnya, tulisannya dan sebagainya. Kami hanya membimbing mereka,” ujar lajang yang memilih tidak menamatkan pendidikan SMA-nya itu.

Emik merintis pustaka perbatasan karena terinspirasi dari gerakan linterasi di tretes, Merbabu, Jawa Tengah. Dia selalu mengajak beberapa rekannya  untuk terlibat dalam kegiatan itu termasuk beberapa mahasiswa. Ia meminta mereka memberikan materi pelajaran,salah satunya bahasa inggris dasar.

“saya mempertemukan mereka yang punya kemmampuan dan ilmu dengan mereka yang membutuhkan. Saya sendiri membantu apa saja yang bisa saya lakukan,” tambah laki-laki yang sampai sekarang  masih bekerja sebagai kuli panggul itu.

Emik sampai saat ini cenderung tidak memikirkan dirinya sendiri. Apa yang ia milki-waktu, uang, pemikiran, dan lain-lain –di curahkan kepada orang lain. “ Kalau di hitung-hitung secara materi, pasti rugi. Tapi karena sudah cinta ,semuanya untung. Untung bagi saya, juga terutama bagi orang lain,” ujarnya.

Kini, emik sedang berpikir membangun rumah singgah untuk anak-anak jalanan dan anak yatim yang tiap jumat berkeliling dari rumah ke rumah untuk meminta sumbangan. Emik membayangkan rumah singgah itu akan menjadi tempat berteduh dan belajar bagi mereka. Disana mereka akan mendapatkan pelajaran dan keterampilan yang bisa di manfaatkan untuk masa depan mereka.” Saya tidak tahan melihat kondisi sekarang. Saya merasa harus berbuat sesuatu untuk mereka,” kata Emik.

 

Sumber: KOMPAS, 13 FEBRUARI 2017

Megadeth Grammy untuk Geraman Dave

Megadeth_Grammy untuk Geraman Dave.Kompas 17 Februari 2017.Hal.16

“Dystopia” adalah album studio ke-15 Megadeth. Lagu-lagu di album itu ibarat “soundtrack” bagi dunia masa kini yang dikacaukan terorisme dan diskriminasi. Atas aktualitas itu,grup music metal asal Amerika Serikat tersebut merebut Grammy.

OLEH HERLAMBANG JALLUARDI         

Kuberitahu , rasanya menyenangkan mendapat nominasi. Artinya, music kami dikenal orang lebih banyak,”kata Dave Mustaine (55), pentolan Megadeth, beberapahari sebelum malam penyerahan Grammy Awards, di staples Center, Los Angeles, Amerika Serikat (AS), Minggu (12/2) malam waktu setempat.

Saat itu Dave ditanya bagaimana reaksinya hadir di acara penganugerahan yang mungkin tak bakal dimenanginya? Pertanyaan itu muncul lantaran Megadeth memegang “rekor” sebagai band yang paling sering mendapatkan nominasi kategori metal di Grmmy dan tak pernah menang.

Sejak mengeluarkan album pertama Killing is My Business.. And Business is Good! Pada 1984,             Megadeth telah 12 kali masuk nominasi. Baru dalam perhelatan Grammy ke-59 pada akhir pecan lalu, Dave, David Ellefson (bas), Kiko Loureiro (gitar), dan Dirk Verbeuren menggenggam piala gramafon emas itu untuk kategori penampilan metal terbaik. Megadeth mengungguli empat band lain, yaitu Baroness, Gojira, Periphery, dan Korn.

Penggemar Megadeth boleh lega akhirnya idola mereka menang Grammy seperti masih gagap menyikapi heavy metal. Ketika Megadeth berjalan menuju podium, band pengiring malah memainkan lagu “Master of puppets” milik metallica. Dave santai aja. Ia malah bergaya seoalah main gitar ketika lag itu berkumandang. Beberapa jam setelah incident itu, Dave berkomentar lewat Twitter, “ jangan salahkan mereka karena tidak bisa memainkan lagu Megadeth.”

Mendendam

Tak pelak insiden itu mengingat khayalak metal pada “perseteruan” Metallica dengan Megadeth di awal kelahiran mereka. Dave adalah pemain gitar pertama Metallica pada 1982. Persis sebelum metallica akan mulai sesi rekaman album Kill ‘Em All, Dave terpaksa didepak Lars Ulrich dan James Hetfield. Konon, selain karena cekcok dengan pendiri Metallica itu, Dave terlalu sering teller. Posisi Dave diganti Kirk Hammet.

Pemecatan itu menyisakan dam. Dave bertekad membentuk band yang lebih berat dan lebih ngebut di banding Metallica. Setiba di kampong halamannya, Los Angels, Dave mencari teman ngeband untuk membuat band baru.

Band itu bernama Fallen Angels, pilihan nama yang terlalu lembek d banding dengan ambisi besar mengalahkan Metallica . Lor Kane, teman Dave, mengusulkan mengganti nama jadi Megadeth. Pada tahun 1983, lahirlah band bernama Megadeth dengan formasi nawal David Ellefson (bas), Chris Poland (gitar), Gar samuelson (drum), dan Dave (vocal dan gitar).

Pada tahun yang sama Metallica mengeluarkan album debut yang kencang dan berisik, sedangkan Megadeth masih berkutat bongkar pasang personel. Baru pada tahun 1985, album pertama mereka, Killing is My Business, keluar. Album debut itu di sukai kalangan thrash metal. Genre turunan heavy metal ini sedang ramai, terutama di San Francisco. Megadeth menutup tahun 1985 dengan main sepanggung bersama Exodus, Metal Chruch, dan Metallica.

Kerja keras Megadeth membangun reputasi terbayar ketikam label besar Capitol Recods mengontrak mereka untuk album kedua Peace Sells…but Who’s Buying? Pada1986. Megadeth makin bersinar setelah melepas album So Far, So Good… So What!  Dan Rust in Peace. Megadeth meracik bentuk “dasar” thrash metal, yang pamer kekayaan riff gitar, dengan melodi gitar yang presisi. Racikan ini makin kuat dengan masuknya Marty Friedman pada lead guitar dan Nick Menza di drum.

Banyak kalangan menilai ini adalah formasi “klasik” Megadeth. Formasi ini melahirkan album laris, seperti Ruts In Peace, Countdown to Extinction, dan Youthanasia. Megadeth dianggap sebagai salah satu “empat besar” band thrash metal  bersama Metallica, Anthrax, dan Slayer. Selama 1990-997, tujuh lagu mereka masuk nominasi best metal performance di ajang Grammy

Amburuk

            Ditengah kesuksesan itu, Dave terserang penyakit saraf pada tangan kirinya. Billboard menyebut penyakit itu membuatnya tak bisa main gitar. Pada Januari 2002, Dave mengumumkan Megadeth tamat. “Aku keluar dari band an menjajaki area lain di bisnis music, tanpa harus main instrument.”

Selama setahun penuh Dave menjalani perawatan intensif dan perlahan pulih. Megadeth rupanya masih punya utang kontrak album. Akhirnya, Megadeth menghasilkan The System  Has Failed pda 2004. Album itu membawa Dave tur dunia lagi.

Penerimaan yang baik atas album itu juga mendorong Dave merancang tur bernama Gigantour.  Bersama personel anyar, Dave terbang lebih jauh, mendatangi negara-negara yang jarang tersentuh konser metal, seperti India, Dubai, Arab Saudi, dan Indonesia.

Mesin Megadeth terus memanas hingga album Dystopia keluar pada januari 2016. Album ini kembali menghadirkan David Ellefson , yang sebelum mundur di awal decade 2000-an. Dengan formasi itu, majalah Rooling Stone menyebut Megaeth terlahir kembali. Raksasa thrash metal itu menunjukkan bentuk terbaiknya: kocokkan gitar yang padat dengan melodi rumit. Dengan geraman yang khas, Dave menuding dunia sebagai “One spinning disaster” dalam lagu “Post-American World.’

“Fantastis! Ternyata butuh 12 kali (nominasi) untuk mendapatkan piala ini,” kata Dave dalam pidato penerimaan piala Grammy.

(GRAMMY.COM/MEGADETH.COM)

 

Sumber.kompas 17 februari 2017,hal 16.

Jose Manuel Barroso Perdamaian Itu Soal Kemauan

Joss Manuel Barroso_ Perdamaian Itu Soal Kemauan.Kompas 9 februari 2017.Hal. 16

Apakah damai itu? Soal ini sering diarahkan Kepada Jose Manual Barroso (60), penerima Hadiah Nobel Perdamayan itu, ia selalu berusaha menjabarkan: mewujutkan perdamayan  itu bergantung pada kemauan dan peran bayak pihak.

OLEH ARBAIN RAMBEY

Damai itu adalah kondisi dari adanya kesetaraan dalam segala hal dan itu peran anda semua. Saya sering  ditanya, bagai mana keadaan dunia 20 tahun ke depan. Saya selalu menjawab, itu terserah kepada pelakunya sendiri. Mau damai atau tidak. Perdamayan bukan peran siapa pun, kecuali pihak yang menggiginkan  damai itu sendiri,” kata Barroso  di Aula Baruga Andi  pangeran Pettararani, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (27/1).

Kompas meyaksikan sendiri bahwa Barroso adalah pribadi yang damai dab sanagta rendah hati. Sabtu (28/1) subuh di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar,seorang berkulit putih tanpa pengawalan apapun datang tergopoh-gopoh menanyakan pintu untuk penerbangan ke Denpasar.

Setelah mengucapkan terimkasih, dengan setengah berlari karena agak terlambat, ia menunuju pesawatnya. Orang-orang di Bandara Sultan Hasanuddin sama sekali tidak ada yang tahu bahwa dia adalah penerima Nobel Perdamaian sekaligus mantan Perdana Menteri Portugal dan Presiden Komisi Eropa. Ia tidak ingin menonjol sama sekali.

Barroso datang ke Indonesia sebagai bagian dari rangkaian acara The 6th ASEAN “Bridges Dialogues To ward A Culture of  Peace yang berlangsung di Indonesia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam mulai Januari sampai Maret 2017. Seri dialog dengan para penerima nobel diprakarsai Internasional Peace Foundation (IPF) yang berbasis di Vietna, Australia. Sebelum Barroso, yang sudah hadir ke Indonesia dari seri kegiatan 2017 ini adalah Eric Mastin (Nobel Ekonomi) dari Amerika (AS).

PADA KUNJUNGAN Barroso di dua kampus di Indonesia, yaitu Universitas Prasetiya Mulya di Serpong, Banten, dan Universitas Hasanuddin, mayoritas pertanyaan yang diajukan terkait politik. Kompas mendapat kesempatan wawancara khusus politik (“Uni Eropa sangat Kuat”, Kompas Minggu, 29 Januari 2017, halaman 3). Namun, sesugguhnya secara personal barosso punya sisis yang sangat menarik, apalagi kalau menggali visinya tentang perdamaian.

 

Masa depan dunia

          “manusia sekarang tampaknya takut pada masa depan, “ katanya lagi di sela-sela pertanyaan tentang masa depan AS di bawah Presiden Donald Trump. Atas soal itu, ia menjawab dengan menggalikan topik secara jenaka. Katanya, terlalu dini untuk berkomentar tentang itu. Ada juga pertanyaan tentang kemungkinan peceh Uni Eropa.

 

Mencegah perang adalah dengan meng hilangkan segala akar ketidaksetaraan

Ketakutan pada masa depan itu, ujar Barroso, terjadi karena melihat kecenderungan yang terjadi akhir-akhir ini: kekerasan merajalelah, ekonomi yang kian tidak menentu, dan sebagainya.

“Dan itu semua sebenarnya dipacu pada globalisasi yang kemudian membawa berbagai ikutanya, seperti perdagangan antara yang kian besar dan juga perpindahan manusia antarnegara yang satu sisi membawa terorisme juga. Bagaimana sikap kita? Menghentikan perdagangan?” ujarnya yang disusul keheningan ruangan menanti kelanjutan pernyataan ini.

Bagi Barroso, semua keburukan dunia selalu dikatakan akibat kesalahan para politikus. Padahal, segala keburukan dunia adalah akibat kesalahan kita sendiri. Semua hal baik atau buruk sesunguhnya bermuara pada kemauan kita sendiri akan masa depan termasuk bagaimana kita memiliki politikus yang akan mewakili kita disebuah negara.

Barroso menggarisbawahi dua kata ini: keramahan dan kekerasan (hospitslity and hostility) yang akan membedakan segala kemungkinan kelanjutan hubungan antarnegara. Selain itu hubungan perdagangan dua negara selalu dibayangi dua hal, yaitu zero sum game yang berkonotasi “kalau baik untukku, buruk untuk orang lain” serta positive sum game yang berkonotasi “Usahakan yang baik bagi semua”.

“Tiongkok itu jadi kaya karena makin terbuka. Apakah itu buruk bagi orang lain?” tanynya sambil meyilakan hadirin membuat kesimpulan sendiri.

Perserikatan

Selain itu, hal lain yang diyakini Barroso yang akan membawa kedamayan adalah perserikatan. “Uni eropa dimulai dengan kerja sama ekonomi pada 1957. Kemudian disusul kerja sama-kerja sama lain,” katanya.

Di tengah anekah pertanyaan tentang  keberhasilan atau atau kegagalan Uni Eropa, Barroso menegaskan bahwa keberhasilan Uni Eropa setidaknya tanpak pada hal berikut: sudah tidak ada perang lagi antarnegara Eropa selama 60 tahun terakhir. Sesuatu yang tidak terjadi sebelum adanya persatuan negara-negara Eropa itu.

“Perserikatan di suatu sisi mengusahakan agar perang tidak terjadi. Mau damai? Mulailah dengan mencegah perang. Mari budayakan culture of peatce, budaya damai” paparnya berapi-api.

Perserikatan, menurut barroso, akan membawak ketidaksetaraan kedalam putaran damai. “dalam sebuah perserikatan antarnegara, negara yang secara ekonomi kuat dan negara yang secara ekonomi lemah akan punya martabat yang sama akibat perserikatan. Di ASEAN, Barroso mengambil contoh Timor-Leste dan Singapura yang secara ekonomi berbeda, tetapi bisa setara sebagai sesama anggota perserikatan itu. Mencegah perang adalah dengan menghilangkan segala akar ketidaksetraan. Dan, perserikatan adalah salah satu yang bisa melakukannya” katanya.

Sumber: KOMPAS, KAMIS, 9 FEBRUARI 2017