Agar Tetap Relevan, Mahal dan Dicari

Agar Tetap Relevan, Mahal dan Dicari. SWA. No.19.3-16 September 2015.Hal.66,69

Henni T. Soelaeman

Sejumlah professional mampu menjadikan dirinya sebagai orang yang diburu headhunter dan mematok tarif mahal. Mereka pastinya memiliki kompetensi yang mumpuni. Mereka terus mengasah kemampuannya sehingga selalu relevan dengar perkembangan bisnis, dan menjadi bintang yang berpendar di jagat bisnis. Mereka juga pandai melakukan personal branding sehingga sosoknya extraordinary.

Bagaimana mereka melakukan skill improvement sehingga mereka selalu relevan, mahal dan di cari? Apa saja upaya mereka untuk memoles personal branding-nya? Berikut paparan sejumlah professional yang berkarier cemerlang dengan bayaran menggiurkan.

Agar kompetensi tetap relevan, tidak ada kata lain selain terus update perkembangan yang ada, baik ilmu, teknologi maupun tren. Saya juga harus terus memperkuat jejaring dengan organisasi profesi dan hubungan dengan stakeholder. Sementara itu, supaya nilai diri tetap mahal, saya wajib aktif menambah pengetahuan baik secara formal maupun informal, misalnya sharing session, informal meeting, konferensi, dan lainnya. Begitu pula untuk capacity building, seperti skill improvement yakni terus update perkembangan tren, teknologi, menambah pengetahuan, dan memperluas jejaring.

Mengenai skill yang perlu dikuasai bisa dilihat dari hard skill terkait profesi, yang membantu saya dapat bekerja dan memberikan kontribusi lebih baik untuk perusahaan. Juga soft skill dengan meningkatkan communication skill, networking, leadership/managerial skill, dan lainnya. Terkait personal branding, yang perlu dilakukan adalah menjadi value creator. Artinya, menghadirkan nilai tambah dalam bekerja/berkarya melalui berbagai kreativitas dan inovasi yang membuat hasil karya saya berbeda. Juga, relevan dengan perkembangan dan kebutuhan perusahaan, penuh dengan kekinian, unik, serta berhasil memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan dan kemajuan perusahaan. Dengan demikian, saya tidak hanya berhasil bekerja secara profesioanal dengan mencapai target kerja, tetapi keberadaan saya juga diakui dan dihargai berbagai pihak, baik internal maupun eksternal.

Selain itu, dengan menigkatkan presensi secara konvensional, yaitu dengan aktif tampil secara terlibat dalam berbagai aktivitas dan organisasi profesi, menjadi pembicaraan diseminar, lokalkarya, kampus dan digital, yaitu aktif secara selekstif di media sosial. Sharing dan comment yang fun tetapi tidak kontekstual. Media sosial tidak dapat dimungkiri sangat vital untuk menggalang opini publik. Cara berkomunikasi di media sosial pun membutuhkan skill tersendiri.

Sumber: SWA 19, 3-16 September 2015

Innovate or Not to Innovate

Innovate or Not to Innovate. Marketing.Edisi.06 Juni 2016.Hal. 36,38

Anda tentu harus selalu mengembangkan produk, membawanya “ to the next level”. Tetapi dibalik inovasi produk tentu ada resiko yang harus diperhitungkan.

Kalau kata orang zaman dulu suka mengatakan “if it ain’t fix it’. Ibaratnya  jika produk tidak  menimbulkan  hambatan atau masalah apa pun lebih baik dibiarkan saja mengalir seperti itu. Dari pada jika nanti dilakukan modifikasi atau tindakan  tertenetu malah akan menimbulkan masalah baru.

Apa perlu melakukan invasi?

Tapi zaman terus berubah, perilaku konsumen berubah, perkembangan teknologi yang memengaruhi pasar pun terus berubah. Semua ini menuntut produk untuk tidak diam saja. Produk tak lagi bisa mempertahankan idealismenya. Semua seakan diapaksa untuk mengikuti perubahan perilaku konsumen,tergantung dari kebutuhan dan keinginan konsumen.

Inavasi produk menjadi semakin penting. Sebaliknya, jika inovasi dilakukan tanpa pertimbangan dan pehitungan yang matang, tentu akan menimbulkan masalah baru yang tak jarang berakibat fatal bagi produk itu sendiri.

Bagaimana jika konsumen gagal memahami manfaat dari inovasi yang dibuat perusahaan?  Bagaimana jika konsumen berfikir bahwa inovasi yang ada malah akan menyulitkan mereka dalam hal-hal tertentu? Apakah inovasi yang sama bisa punya peluang sukses yang lebih besar jika dilakukan dengan cara yang berbedah?

Begitu banyak pertanyaan yang menghantui perusahaan dalam melakukan inovasi. Tentu saja banyak perusahaan yang yakin bahwa perusahaan yang berinovasi akan lebih berhasil dari yang lain. Tapi, tak jarang pula inovasi berujung pada tempat sampah dan menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan.

Sukses tidaknya inovasi

Dalam berinovasi, perusahaan dituntut untuk bisa mengubah konfigurasi produk, supaya konsumen bisa memahami benefit dari  inovasi yang ditawarkan perusahaan, plus bisa  mengurangi segala seriko yang mungkin muncul dari inovasi tersebut. Inilah hal terpenting dari inovasi; konsumen harus mampu memahami dulu mengapa inovasi dibuat dan apa manfaatnya bagi mereka.

Dari suatu survei yang dilakukan oleh jurnal of marketing, ternyata inovasi yang diterapkan sebagai fitur pelengkap bagi produk utama mempunyai peluang sukses yang lebih besar ketimbang inovasi yang secara langsung mengubah produk utamanya. Konsumen lebih mudah menyerap dan mengadopsi fitur tambahan dari suatu produk daripada perubahan yang dilakukan langsung dari produk itu sendiri.

Adapun survei atau eksperimen ini dilakukan pada produk produk super otomotif, konsol video, game, smartphone, dan mesin cuci. Dalam setiap eksperimen  dibuat dua skenario, yaitu inovasi langsung diterpkan secara built-in ke dalam suatu produk atau inovasi tersebut diterpkan sebagai fitur tambahan dalam bentuk unit tambahan terpisah dari produk inti.

Contoh paling mudah kita bisa lihat dap konsol video game, yang inovasinya berupa penambahan peralatan untuk fitur sensor gerkan yang terpisah dari konsol inti. Atau dalam produk otomotif, mobil, dilengkapi oleh fitur tambahan kemudi otomatis ( autopilot) dengan sistem sensor yang bersifat pilihan, artinya bisa digunakan, atau bisa juga tidak, tergantung situasi.

Dengan demikian scenario kedua terlihat punya peluang sukses yang lebih besar, karena konsumen bisa perlahan-lahan memahami benefit dari “tambahan” yang bisa memperluas fitur dari produk inti, tanpa secara langsung mengubah produk intinya secara radikal. Jadi, segala bentuk inovasi yng sifatnya pilihan ( optional) atau bisa dilepas pasang (detachable) lebih bisa diadopsi oleh konsumen pada umumnya.

Ternyata metode penerapan inovasi pada suatu produkpun bisa menentukan apakah inovasi tersebut mempunyai peluang berhasil lebih besar atau tidak. Jika dilihat, teknologinya sama, manfaatnya pun sama nampaknya taka da perbedaan berarti. Tapi dari cara kita menerapkan  inovasi tersebut ternyata bisa berpengaruh besar.

Lebih jauh lagi, dengan menerapkan inovasi sebagai fitur tambahan kita menghadapi resiko yang jauh lebih kecil dari pada langsung mengubah produk inti. Ini karena segala sesuatu yang bersifat tambahan secara tidak langsung memberikan fleksibilitas, pilihan, dan kenyamanan bagi konsumen.

Dalam benakpun konsumen lebih mudah menyerap inovasi yang ditawarkan sekaligus manfaatnya. Jika mereka tidak  menyukainya dengan mudah inovasi tambahan tersebut bisa dihilangkan atau sederhananya, tidak jadi digunakan konsumen selalu menyukai tambahan / alternatif yang bersifat optional dan fleksibel.

Bahaya inovasi menyambut produk premium

Terutama jika menyambut produk premium yang sudah mempunyai brand awareness tinggi, biasanya konsumen sudah memahami differensiasi dan positioning itama produk tersebut. Dalam hal ini inovasi yang langsung diterapkan pada produk inti bisa menimbulkan risiko yang jauh lebih besar lagi. Produk premium yang sudah populer dan dikenal dengan keunggulan tertentu, misal kenyamanan, dan ingin berinovasi untuk menambahkan factor keunggulan lain, bisa berpotensi mengacaukan pesepsi pelanggan yang sudah tertancap kuat dalam benak mereka. Ini terutama sangat berisiko jika dampak inovasi yang disasar ternyata overlap atau sudah dimiliki oleh produk competitor.

Terkadang mempertahankan dan memperkuat identitas atau keunggulan inti jauh lebih penting bagi produk premium, daripada berinovasi untuk menyaingi keunggulan produk competitor lain. Oleh karena itu sebelum melakukan inovasi apapun, tanyalah dulu pada diri sendiri,” image apa yang dikenal dari merek anda dibenak konsumen?

Lebih baik memaksimalkan yang sudah dimiliki dan dikenal oleh pelanggan, daripada berusaha mencuri keunggulan produk competitor. Bahayanya bisa mengabutkan persepsi pelanggan yang sudah susah paya dibangun bertahun-tahun. Terutama jika competitor sudah berada diatas angin dalam hal inovasi yang hendak anda lakukan itu.

Produsen produk premium lebih baik memikirkan atribut-atribut yang sama sekali baru, yang bisa ditambahkan pada produknya. Dalam beberapa kasus yang diperkenalkan fitur-fitur tambahan baru yang dimiliki pihak lain, bukan? Jangan sampai inovasi yang anda lakukan malah meng-“kanibal” keunggulan utama yang sudah dimiliki produk sebelumnya.

Selalu pikirkan untuk mengurangi risiko akibat berubahnya pesepsi pelanggan terhadap merek anda akibat invasi yang akan anda lakukan. Ini karena bahayanya jauh lebih besar daripada tidak melakukan inovasi sama sekali.

Inovasi sangat diperlukan pada zaman penuh perubahan seperti saat ini. Tapi apakah anda siap untuk melakukan inovasi?

Ivan mulyadi

Sumber: Marketing.Edisi_.06-Juni-2016.Hal_.-3638

Membangun Makna di Balik Kebutuhan E-Commerce Indonesia

Membangun Makna di Balik Kebutuhan E-Commerce Indonesia.SWA. No.19.3-16 September 2015.Hal.22

Kelihatannya banyak merek online di Indonesia yang memosisikan dirinya sebagai sesuatu yang berbeda. Dasar perbedaan tersebut bervariasi: sebagai alternatif dari pemain ternama, menawarkan customer experience yang berbeda, pilihan produk yang bervariasi, dan tak jarang menawarkan harga yang bersaing. Namun, terdapat pula beberapa cerita kesuksesan, di mana membedakan diri tidak cukup sampai di situ. Membangun relevansi yang lebih kuat dengan konsumen menjadi suatu kebutuhan untuk membangun merek online yang kokoh dan tak tergoyahkan. Membangun hubungan yang memberikan makna intangible terhadap keberadaan brand e-commerce bagi konsumen menjadi suatu strategi yang terbukti kuat menghadapai persaingan di industri ini.

Pada perkembangannya, pasar e-commerce Indonesia telah berhasil menjawab kebutuhan jual-beli secara online yang mudah dan fleksibel bagi konsumen. Namun, memasuki fase pertumbuhan, konsumen kini lebih kritis dan selektif saat melakukan transaksi online. Loyalitas konsumen yang sebelumnya lebih bagus pada situs dengan harga terendah bagi produk yang mereka inginkan, kini dapat diraih dengan menjawab kebutuhan emosional, seperti memberikan dampak pada kehidupan pribadinya. Namun, dalam industri yang telah membukukan transaksi sebesar US$ 12 miliar di tahun 2014 itu, membangun strategi merek tidak lagi pada fungsionalitas. Hal ini menjadi sebuah tantangan yang dihadapi oleh para brand e-commerce Indonesia.

Semakin disempurnakannya sistem logistik, metode pembayaran, kategorisasi produk, kebijakan pembelian dan hal lainnya untuk meningkatkan customer experience, brand e-commerce harus mencari jalan lain untuk membangun relevansi dan basis elangan yang kuat agar dapat bersaing. Walaupun tidak selalu menghasilkan angka penjualan terbesar di kategorinya, sebagaian besar merek global telah berhasil mendapatkan loyalitas dan advokasi dengan membangun hubungan yang memicu ikatan lebih dalam dengan pelanggannya. Jim Stengel, mantan Global Marketing Office P&G, mengatakan bahwa semakin banyak merek yang berusaha membangun hubungan emosional dengan konsumen karena it’s powerful and it works.

Secara umum bisnis e-commerce di Indonesia dapat dibedakan menjadi lima model: classified, marketplace, consumer-to-consumer, shopping mall, toko online business-to-consumer, dan social media shop. Idealnya, sebuah merek yang kuat mampu menjawab suatu permasalahan/kebutuhan yang tidak dapat diselesaikan merek lain. Bila ingin bergeser dari hubungan fungsional merek tersebut harus memahami kebutuhan konsumen dari sisi yang lebih emosional, fundamental dan menjawab aspirasi mereka. Blibli, Lazada, Bukalapak, Kaskus FJB dan Tokopedia merupakan beberapa contoh merek yang telah membangun hubungan dengan mengidentifikasi hal yang membuat portal dan user mereka unik. Merek tersebut menawarkan suatu intangible benefit dengan memahami kebutuhan esteem, belonging dan sosial sebagai motivasi konsumen.

 

Bergabung dalam komunitas Menjalani Hobi

Merupakan suatu perilaku dasar bahwa manusia akan merasa nyaman dan senang saat membicarakan hal yang mereka gemari, telebih jika itu di dalam lingkungan dengan minat yang serupa. Menjadi bagian dari komnutias tidak hanya mengibur, tetapi juga terapeutik. Kaskus telah membuktikan bahwa membangun suatu merek yang kuat dapat ditempuh dengan menjaga dan mengembangkan komunitas. Bukalapak, serupa dengan kisah tersebut, berhasil tumbuh dan bertahan berkat peran komuitas di dalamnya. Pendiri Bukalapak, Achmad Zaky, menyadari bahwa sebagian besar kegiatan jual-beli dan komunikasi antaraanggota terjadi berdasarkan hobi. Melihat perilaku tersebut, Bukalapak menunjukkan apresiasinya dengan lebih berinvestasi diri pada upaya untuk mempertahankan dan mengembangkan berbagai komunitas. Tidak hanya dengan memfaslitasi komunikasi atar-user, merek tersebut juga aktif berpartisipasi dan mengapresiai kegiatan ynag diselenggarakan oleh komunitasnya.

 

Membangun Negeri dan Berdampak Sosial

Konsumen akan lebih mudah menempatkan kepercayaanya pada sebuah merek yang mampu memberikan dampak sosial lebih luas. Tidak diragukan bahwa masyarakat Indonesia merupakan orang-orang yang peduli pada sesama dan mengapresiasi produk lokal. Tokopedia sebagai classified marketlace telah berhsil memberdayakan ribuan merchant berskala UKM dan pengusaha di industri kreatif. Keberhasilan Tokopedia tidak lepas dari keberhasilan peggunanya untuk memperkuat dan mengembangkan usaha mereka. Cerita kesuksesan para merchant mereka untuk kini menjadi salah satu komunikasi utama mereka. Nilai tambah yang menjadikan Tokopedia berharga ialah memfasilitasi para merchant untuk mengembangkan usahanya di tengah keterbatasan sumber daya. Tidak hanya memungkinkan UKM mempromosikan produknya lebih luas, portal ini juga memungkinkan UKM mempromosikan produknya lebih luas, portal ini juga memungkinakan merchant berkomunikasi dengan konsumen untuk kebutuhan pengembangan produk.

Dengan nilai transaksi yang ditargetkan mencapai US$ 20 miliar tahun 2016, menggambarkan tingkat kepercayaan yang tinggi pada peluang yang terkandung dalam e-commerce Indonesia . kepuasan, loyalitas dan advokasi suatu merek dapat diarih dengan cara yang berbeda-beda. Namun, walau memiliki model bisnis masing-masing, merek tersebut sama-sama menggali lebih dalam perilaku dan aspirasi user merek guna membangun hubungan yang lebih emosional. Saat kondisi pasar semakin saturated, memiliki merek dengan makna khusus bagi konsumen akan memudahkan mereka untuk mendefinisikan bisnis yang dimiliki dan memisahkannya dari kompetisi. Strategi ini dapat memudahkan proses pemetaan posisi merek dan mendapatkan tempat yang unggul di benak konsumen. Hasilnya? Merek tersebut tentunya lebih menonjol di antara pesaing dan menghindari perang harga yang sering kali terjadi.

Sumber: SWA_.-No.19.3-16-September-2015.Hal_.22

Lapar Malam Sate Khas Senayan

Lapar Malam Sate Khas Senayan. Bloomberg Businessweek. No.33. 31 Agustus-06 September 2015

Selama 41 tahun, Sari Rasa terus berusaha memperkenalkan dan melestarikan hidangan khas Indonesia. Melalui berbagai menu tradisional Indonesia yang dikemas menjadi lebih modern, Sate Khas Senayan menjadi salah satu restaurant favorit dengan masakan Indonesia. Hingga saat ini, menu yang masih menjadi andalan di Sate Khas Senayan adalah Sate Ayam yang dibalur dengan bumbu kacang halus.

Dengan membuka 5 cabang baru dalam periode setengah tahun terakhir, Sate Khas Senayan terus berupaya konsisten dalam menghadirkan cita rasa istimewa disetiap masakannya. Mulai dari menghadirkan menu-menu baru di Festival Jawa Timur, seperti Rujak Cingur, Rujak Tahu, Nasi Krawu hingga Iga Penyet dan Sayur Lodeh, Sate Khas Senayan juga tetap memberikan suasana yang nyaman serta modern di setiap outlet namun tetap memberikan sentuhan tradisional.

Tidak hanya memanjakan Iidah pengunjung dengan makanan khas Indonesia yang lezat, Sate Khas Senayan juga memanjakan pengunjung dengan memberikan promo menarik setiap malam

hari, yaitu Promo Lapar Malam.

LAPAR MALAM

Sate Khas Senayan mempunya promo khusus untuk para pecinta sate yang suka dan sering mengalami kelaparan di malam hari. yaitu promo Lapar Malam. Promo menarik yang berlaku setiap hari mulai pukul 21:00 ini memberikan gratis Nasi Goreng untuk setiap pembelian menu sate.  Di Promo Lapar Malam Sate Khas Senayan ini, pengunjung dapat memesan berbagai menu sate favorite, diantaranya adalah Sate Ayam (Daging/ Campur), Sate Kambing, Sate Manis Sapi, Sate Ayam/ Kambing Buntel, Sate Lilit atau Sate Ayam Bumbu Blora yang berbumbu kacang pedas. Dengan memesan menu Sate, pengunjung akan langsung mendapatkan gratis Nasi Goreng.  Promo ini tentunya sangat tepat untuk para pengujung yang selama ini sering lembur hingga malam hari atau untuk pengunjung yang ingin duduk santai dan ngobrol dengan sahabat tapi tidak tahu ingin makan dimana, langsung mampir saja ke cabang Sate Khas Senayan terdekat yang menyediakan promo Lapar Malam.  Untuk mengetahui cabang Sate Khas Senayan mana saja yang menyediakan promo Lapar Malam, langsung klik di www.satekhassenayan.com. Like facebook page: Sate Khas Senayan. Twitter @satekhassenayan dan Instagram : esatekhassenayan.

Sumber : Bloomberg Businessweek. No.33. 31 Agustus- 06 September 2015

Sakit Tulang Tersebab Gadget

Sakit Tulang Tersebab Gadget.Tempo.7-13 September 2015.Hal.74-75

Jumlah penderita nyeri tulang belakang pada anak dan remaja meningkat. Biangnya salah posisi saat menggunakan gadget.

Dalam beberapa tahun belakangan, ruang kerja Alfres Sutrisno dokter bedah saraf RS Omni alam sutera, tanggerang, banten, mulai banyak didatangi pasien remaja. Keluhan mereka serupa nyeri pada tulang belakang. Padahal rasa sakit semacam ini biasanya dialami orang yang sudah berusia 40 tahun keatas. “Tapi kini anak umur belasan tahun sudah banyak yang mengalami katanya senin pekan lalu.

Usut punya usut biang keladinya ternyata sama. Para anak dan remaja ini semuanya doyan menggunakan gadget, sperti telepon pintar, computer, dan tablet. Dalam sehari, mereka bisa memainkan peralatan canggih itu berjam-jam. Bahkan ada yang sampai delapan jam perhari. Tak kalah dengan rutinitas pekerjaan kantoran. Kebiasaan inilah yang menjadi pemicu masalah untuk tulang belakang. Dampaknya pun sama dengan tulang belakang dampaknya pun sama dengan tulang yang mengalami proses penuaan menimbulkan rasa nyeri.

Alfred mengatakan pasien anak dan remaja yang mendatangi ruang prakteknya di RS Omni 2-3 orang dalam sepekan. Sedangkan pengunjung tempat prakteknya di RS pantai indah kapuk bahkan lebih banyak, yakni 5-10 pasien dalam sepekan. “Anak-anak itu sedari kecil sudah dibekali gadget oleh orangtuanya,”ujarnya. Koleganya, dokter saraf setyo handryastuti juga mendapati gejala serupa. Dalam sepekan, satu-dua anak atau remaja masuk ruang praktek pribadinya di kawasan bumi serpong damai karena gejala serupa. “Mereka mengeluhkan nyeri pada tulang belakangnya”kata handry, yang juga membuka praktek di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Menurut Alfred, banyak dari mereka yang bermain gadget sambil tiduran atau tengkurap, membungkuk, atau lehernya menekuk ke bawah menantap layar monitor sehingga kepala membebani leher. Ada pula yang badannya menyender ke kursi dengan posisi layar lebih tinggi dari pada mata sehingga kepala mendongkak. Atau menelpon dengan memiringkan kepala ke satu sisi untuk menjepit telepon diantara telinga dan pundak. Kalau posisi salah ini dilakukan terus, lama-lama tulang belakang akan “memprotes” dengan mengirimkan sinyal nyeri.

Ada berbagai macam sensasi nyeri pada tulang belakang, seperti ditusuk-tusuk, kesemutan, nyeri cenat-cenut seperti sakit gigi, dan berasa kencang. Nah, untuk nyeri yang diakibatkan gadget, biasanya sensasinya seperti kesetrum. “Sakitnya seperti entakan, rasanya nyut,”ujar spesialis bedah saraf lulusan universitas Indonesia ini. Nyeri memang tidak berbahaya tapi jika dibiarkan terus-menerus bisa merusak postur tulang. Ada 3 tahapan rasa nyeri pada tulang belakang yakni rasa nyeri yang dialami oleh otot, kemudian menjadi ke sendi dan terakhir mengenai tulang.

Jika nyerinya masih berada di otot, kata Alfred bisa diobati dengan diberi antinyeri. Namun kalau sudah menjalar dan membuat radang pada sendi, perlu penangan lebih lanjut. Ada 2 cara untuk mengatasinya, yakni dengan mengobati radangnya atau bisa juga membuat rasa nyeri itu hilang. Cara pertama sulit dilakukan lantaran tulang belakang terus bergerak seiring dengan kativitas pemiliknya. Jika tulang tetap bergerak, radang akan menetap. Dalam kasus ini biasanya dokter memasang pen untuk menghetikan pergerakanya. Tapi, masak sakit begitu di pasangi pen?”ucapnya.

Karena itu, Alfred lebih banyak menggunakan cara kedua, yakni membuat nyeri menjadi tak terasa. Ibarat alarm, nyeri merupakan pertanda bahwa ada yang tak beres dalam tubuh. Sinyal ketidakberesan itu dikirim saraf dari titik yang bermasalah ke otak. Nah, dalam pengobatan cara kedua ini, sinyal kesakitan tersebut diputus dengan cara merusak saraf yang mengantar pesan ketidakberesan itu. Caranya, dokter akan menggunakan jarum yang dialiri gelombang frekuensi radio untuk mematikan saraf tersebut. Cukup dengan tindakan sekitar tiga menit, alarm nyeri itu pun terputus. Maka meski radang masih ada, nyeri tak terasa.

Namun pasien perlu diingatkan untuk memperbaiki posisi tubuh saat bermain gadget agar radangnya tak semakin parah. Kalau tidak, saat saraf kembali tumbuh sekitar enam bulan kemudian rasa nyeri akan kembali datang, bahkan bisa jadi lebih hebat. Jika dalam tahap ini dibiarkan dan taka da perbaikan posisi tubuh, masalah akan merambat sampai ke struktur tulang. Maka tulang harus dikoreksi dengan diberi penyangga. Beberapa kali Alfred pernah memasangkan pen pada tulang belakang remaja akibat kejadian ini. Biasanya selain karena terlalu banyak bermain gadget dalam posisi yang tak benar, beban tulang di tambah dengan cedera seperti akibat terjatuh, berat badan yang berlebihan atau olahraga yang banyak melompat. “Sebanyak 10-20 persen pasien remaja saya harus obati dengan tindakan seperti ini,”ujarnya.

Alfred menyerankan agar sakit itu tak semakin parah, anak atau remaja mesti mendatangi dokter saat nyeri mulai menggangu aktifitas. Sebab, kalau terus menerus didiamkan dan sudah merambat ke struktur tulang, bisa bertambah parah. Terlebih untuk usia anak dan remaja yang masih dalam pertumbuhan. Jika strukturnya bermasalah, nyeri bisa bertahan selamanya. Sedangkan pengobatan yang dilakukan handry adalah dengan memilah nyeri lebih dulu. Apakah cenat-cenut itu diakibatkan oleh salah posisi duduk atau yang lain, seperti kelainan saraf bawaan. Jika memang masalahnya hanya karena posisi badan yang salah saat bermain gadget, dia akan memberikan obat analgetik untuk menghilangkan nyeri dan menyarankan rehab medic. Tatapi hal utama, posisi yang salah itu harus diperbaiki.

Handry kawatir tren ini bakal meningkat. Selama ini dia mengamati pasiennya kebanyakan dari kelas menengah atas yakni golongan mereka yang mampu beli telepon pintar. Di RSCM, yang banyak menangani oasien kelas menengah kebawah, misalnya handry tidak menemukan kasus semacam ini. Tapi tidak tertutup kemungkinan pasiennya akan bertambah dari kalangan bawah.”sebab harga gadget sekarang semakin terjangkau.”katanya. Dia punya saran sederhana tapi cespleng agar tren ini tak semakin tinggi. Kurangi pemakaian gadget.

 

Posisi yang tepat saat menggunakan gadget

  1. Jika menggunakan kursi, pilih kursi yang membuat tubuh dan otot pada posisi yang benar saat duduk. Tingginya disesuaikan dengan tinggi pinggul sewaktu duduk. Tapakkan alas kaki dengan lurus ke lantai. Pastikan sandaran mampu menyangga tulang belakang.
  2. Duduk dengan sikap yang benar. Kepala berada pada posisi yang segaris dengan batang tubuh dan menghadap ke depan. Bahu rileks dengan lengan atas berada pada kedua sisi tubuh. Lipat saku 90 derajat.
  3. Letakkan layar sejajar dengan mata. Ini akan menimbulkan kontraksi pada otot bahu dan leher.
  4. Terlalu lama memandang layar bisa membuat otot leher bahu, dan punggung kaku. Lakukan relaksasi di sela-sela aktivitas ini, misalnya sejam sekali melakukan peregangan selama lima menit.

Sumber: Tempo 7-13 September 2015 hal 74-75

Strategi Bisnis Sekolah Bisnis

Strategi Bisnis Sekolah Bisnis. Bloomberg Businessweek. No.33. 31 Agustus-06 September 2015

Tak jarang kita mendengar ungkapan dari seorang mentor: menjadi direktur atau entrepreneur itu pilihan. Memang benar, itu pilihan masing-masing. Namun demikian, kedua pilihan tersebut mesti dipelajari. Lupakan factor keberuntungan. Sebab, tidak ada yang lebih baik ketimbang orang yang bejo alias beruntung, kan?

Ketika kecil kita sering ditanya apa cita-cita kita, dan mayoritas menjawab ingin menjadi dokter, guru, pilot, atau presiden. Adakah yang menjawab presiden direktur? Nyaris tidak ada. Tapi, begitu menginjak usia kerja, sama seperti entrepreneur, menjadi presiden direktur sebuah perusahaan menjadi cita-cita baru bagi banyak orang.

Semakin ketatnya persaingan bisnis di berbagai sktor turut mendorong meningkatnya kebutuhan sumber daya manusia, termasuk jajaran direksi. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang baik, walau belakangan agak mengkhawatirkan akibat gejolak golal, juga membuka beragam peluang bisnis sehingga mengiming-imingi siapa pun untuk menjadi entrepreneur.

Melonjaknya jumlah orang yang ingin menjadi direktur atau entrepreneur itu kemudian ditangkap oleh perguruan tinggi, lantas dibentuk sekolah-sekolah bisnis. Dalam satu dekade terkahir jumlah sekolah bisnis bertambah berkali lipat. Akreditasinya ada yang sekedar diakui keberadaannya, ada yang memang diakui kualitasnya. Mau pilih yang mana, itu juga pilihan mereka.

Tapi, bagi sekolah bisnis, jelas tak sesederhana itu. Sekolah bisnis, yang mengajari bagaimana orang berbisnis, baik posisinya sebagai direktur ataupun entrepreneur, juga harus mempraktikan teori bisnis mereka dalam mendapatkan beasiswa. Strategi bisnis sekolah bisnis mesti disusun secara matang sehingga mampu menarik mahasiswa sebanyak-banyaknya.

Di antara puluhan sekolah bisnis di Indonesia, setidaknya ada beberapa yang menonjol. Mereka mencoba menawarkan positioning yang berbeda. Ada yang khusus mengahsilkan direktur bagi perusahaan, ada yang memilih menciptakan entrepreneur.

Masing-masing sekolah bisnis itu mengunggulkan kurikulum mereka, bahkan menggandeng banyak Universitas mancanegara demi mendapatkan pengakuan internasional. Apakah strategi mereka sendiri memang keren? Ke mana saja alumninya? Kami membahas strategi bisnis sekolah bisnis ini secara detail, gambling. Berikut contoh-contohnya, dalam cerita sampul edisi minggu ini.

Selain itu, kami juga menyediakan berita-berita menarik lainnya seperti dorongan bagi usaha kecil untuk masuk bursa efek, saham apa saja yang jatuh akibat gejolak pasar modal, langkah China setelah mendevaluasi yuan, skandal korupsi yang menggoyang perdana menteri Malaysia, dan rencana pemerintah membentuk perusahaan khusus panas bumi. Untuk itu selamat membaca, selamat terinspirasi!

Sumber : Bloomberg, No 33. 31 Agustus- 06 September 2015

The Higher Purpose Brand

The Higher Purpose Brand. Marketing.Edisi.09.September 2015.Hal.156,157

Oleh: Budi P Kartono (Brand Consultant)

Sama seperti manusia, brand atau merek mempunyai bermacam profesi seperti penyedia makanan, minuman, pakaian, transportasi, informasi. Sebagian besar brand bertujuan menghasilkan laba yang tinggi. Apa yang salah dengan hal ini? Tidak ada. Hanya saja, jika tujuan utama mereka sekedar untuk menghasilkan uang, maka tujuan itu bukan merupakan tujuan yang mulia.

Saya akan mengaitkan hal ini dengan konsep “hirearki kebutuhan manusia” yang digagas oleh Abraham Maslow. Seorang yang lapar dan haus akan membutuhkan makanan dan minuman. Ini semua disebut kebutuhan fisik. Selanjutnya manusia juga butuh merasa aman, seperti rumah yang bisa melindungi dari hujan dan angin. Kebutuhan fisik dan rasa aman ada di paling dasar dari hierarki kebutuhan manusia. Setelah dua kebutuhan itu terpenuhi, manusia membutuhkan cinta, perhatian, dan rasa memiliki. Teman dan keluarga bisa dengan Harley Owners Group dan Nike’s Running Club.

Kebutuhan selanjutnya adalah kebutuhan untuk dihargai. Manusia butuh untuk saling menghormati sehingga bisa merasa puas, percaya diri, dan berharga. Banyak brand mewah seperti Rolex dan Mercedes mampu memenuhinya. Akhirnya kebutuhan paling tinggi dalam hierarki ini adalah aktualisasi diri. Maslow mendeskripsikan manusia yang punya aktualisasi diri ini sebagai mereka yang terlibat lama dalam “a cause outside their own skin.” Aktualisasi diri mencerminkan kebutuhan paling tinggi yang meliputi semua kebutuhan pikiran, hati, maupun jiwa manusia. Hanya ada sebagian kecil brand yang sanggup memenuhi kebutuhan ini.

Saya akan memberikan tiga contoh brand yang punya tujuan mulai dan tidak sekedar mencari laba yang tinggi. Pertama, sewaktu Yvon Choinard mulai mendaki gunung pada usia 14 tahun, dia telah menjadi pejuan lingkungan. Pada waktu itu para pendaki gunung menggunakan pasak tebing besi sekali pakai yang kemudian ditinggalkan di bebatuan dan merusak alam. Yvon membuat pasak tebing pertamanya yang dapat digunakan kembali dan tidak merusak alam. Itulah awal dari sebuah merek “Patagonia” berdiri, perusahaan yang menjual berbagai macam kebutuhan untuk kegiatan outdoor. Yvon mengatakan, “kami berbisnis bukan untuk mendapatkan keuntungan semata. Kami berbisnis bukan untuk membuat sebuah produk. Misi Patagonia adalah “menemukan solusi terhadap krisis lingkungan.”

Kedua, department store di Grand Indonesia menjual sepatu santai bermerek “TOMS shoes.” Apa yang istimewa dari sepatu ini? Saat anda membeli sepasang sepatu dari TOMS, maka sepasang sepatu lain akan di berikan secara gratis kepada seorang anak miskin yang membutuhkannya di sebuah Negara berkembang. TOMS telah meningkatkan kebutuhan kita akan sepatu dari melindungi dan membuat nyaman kaki kita menjadi kebutuhan yang lebih tinggi dengan mencintai sesama. Selain mendapatkan sepasang sepatu yang keren, kebutuhan Anda untuk mencintai dan dicintai juga terpenuhi. Anda tertarik? Tentu saja!

“Aktualisasi diri mencerminkan kebutuhan paling tinggi yang meliputi semua kebutuhan pikiran, hati, maupun jiwa manusia. Hanya ada sebagian kecil brand yang sanggup memenuhi kebutuhan ini.”

Ketiga adalah pampers yang memproduksi popok bayi. Pada mulanya pampers menghasilkan popok bayi yang hanya berfokus pada kebutuhan mendasar yaitu “dryness”. Kimberly-Cark menyerang pampers dengan brand Huggies yang murah. Perang harga pun terjadi. Pampers menyadari bahwa “dryness” hanya memenuhi kebutuhan fisik semata. Mereka mulai memikirkan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi lagi dari sang ibu. Dari “dryness” mereka maju beberapa langkah menjadi “baby’s development stages.” Ibu-ibu tentu saja tidak cuman membutuhkan popok yang kering yang bisa membuat bayinya tidur, tetapi sangat peduli dengan tingkat perkembangan banyinya yang dari hari ke hari sehingga mereka menjadi sehat, cerdas, dan baik. Pampers memenuhi hierarki kebutuhan yang lebih tinggi dengan sukses.

Patagonia, TOMS shoes, dan Pampers adalah mereka yang tahu bagaimana membangun brand yang sanggup memenuhi hierarki kebutuhan manusia yang lebih tinggi. Rosabeth Moss Kanter dari Harvard Business School melakukan penelitian selama tiga tahun dan menyimpulkan bahwa, “Korporasi yang unggul di depan dalam hal perubahan pasar dan kebutuhan konsumen adalah korporasi yang mempunyai tanggung jawab sosial yang besar terhadap masyarakat.” Jim Stengel, mantan Global Marketing Executive P&G, melakukan riset dan menemukan bahwa brand yang memberikan manfaat lebih banyak ke dunia (brand-ideals) terbukti mampu mendorong pertumbuhan usahanya paling besar. Ini adalah brand yang punya tujuan yang mulia atau “The Higher Purpose Brand”!

 

Sumber : Marketing, 09/XV/September 2015

Diskursus Stereotip dalam Dunia Bisnis

Jony Eko Y@PSY_Diskursus Stereotip dalam Dunia Bisnis. Bisnis Indonesia. 24 Mei 2017.Hal.2

Oleh Jony Eko Yulianto (Dosen Psikologi Sosial Universitas Ciputra Surabaya)

Baru-baru ini, seorang tokoh nasional mengatakan bahwa kesenjangan ekonomi di Indonesia telah sangat berbahaya.

Di Indonesia, lanjutnya, sebagaian besar orang kaya adalah warga keturunan Tionghoa yang beragama Konghucu atau Kristen, sedangkan orang yang miskin sebagai orang Islam.

Bagaimana kita memahami dan mengukur akurasi pernyataan tersebut? Benarkah etnis tertentu terlahir dengan sebuah predestinasi sebagai orang-orang yang kaya, sedangkan etnis yang lain cenderung tidak memiliki keistimewaan ini? Lalu, apakah isu ini memiliki fondasi teoritik?

Dalam ilmu psikologi sosial, anggapan-anggapan bahwa suku atau ras tertentu memiliki sifat dan karakteristik tertentu dimasukkan dalam kajian Stereotip.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan Stereotip sebagai konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat.

Dalam riset-riset di bidang psikologi sosial, Stereotip merupakan mekanisme penyederhanaan untuk mengendalikan lingkungan yang majemuk dan dinamis untuk bisa dikenali dengan cepat.

Suku bangsa, etnis dan ras merupakan entitas yang paling sering dilekati dengan Stereotip. Di Indonesia, etnis Batak dikenal sebagai suku yang keras dan berbicara dengan nada tinggi. Hal yang dianggap kontradiktif dengan etnis Jawa yang dipersepsikan sebagai suku yang halus dan lembut.

Etnis Tionghoa adalah etnis yang rajin bekerja, ulet, dan sangat rigid dalam mengelola keuangan. Etnis Minang dianggap memiliki kohesivitas kesukuan tinggi sehingga suka membantu orang-orang yang berasal dari daerah yang sama.

BERBAGAI RAS

Stereotip bahkan tidak hanya berlaku untuk suku-suku di Indonesia, tetapi juga untuk berbagai ras di dunia. Jika kita membaca literatur-literatur sosial tentang Stereotip, kita akan dengan mudah menemukan orang Arab yang dianggap religius, orang Yahudi yang dianggap memiliki kecerdasan di atas rata-rata, orang Zimbabwe dan Negara Afrika lain yang miskin, dan sebagainya.

Hal ini menunjukkan bahwa Stereotip sebenarnya fenomena global, bukan hanya lokal semata.

Yang perlu untuk kita perhatikan adalah, secara psikologis, konten stereotip tidak selalu benar. Stereotip adalah sebuah mekanisme pertahanan diri (deference mechanism) untuk menyembunyikan keterbatasan diri atau digunakan untuk menebarkan perasaan kita yang rentan dengan superioritas.

Contoh paling mudah adalah stereotip terhadap kulit hitam di Amerika Serikat. Jika ditelusuri lebih jauh, stereotip terhadap masyarakat kulit hitam di Amerika ternyata bersumber dari superioritas ras kulit putih pada jaman perbudakan sebelum masa deklarasi hak asasi menusia ditandatangani beberapa ratus tahun silam.

Mengemukakan isu strereotip sebagai diskursus yang dikaitkan dengan isu ekonomi memantik sebuah poin refleksi yang penting bagi kita para pegiat investasi dan bisnis.

Stereotip tidak hanya memasuki sendi-sendi relasi sosial yang berdampak pada ketegangan antar-kelompok, tetapi juga telah masuk ke praktis bisnis dan investasi dan tema-tema ekonomi lainnya. Ini mengingatkan kita pada karya Birgit Zinzius, Chinese Ametrica: stereotype and Reality, untuk menunjukkan diskrepansi antara stereotip dan realitas yang dialami kalangan pebisnis Tionghoa-Amerika.

Simon Bevan, seorang pemerhati budaya Tionghoa juga meneliti stereotip di kalangan pebisnis di China dengan lebih detail. Temuan dari risetnya sangat menarik pebisnis di Shanghai menurutnya lebih cenderung memilih patner bisnis yang berasal dari luar negeri. Tetapi tetap mengutamakan yang sama-sama memiliki latar belakang etnis Tionghoa.

Mereka adalah pebisnis yang talkatif dan berupaya untuk mendapatkan deal ideal negoisasi di angka 55:45. Lain lagi dengan pebisnis Beijing yang ia temukan memiliki stereotip sebagai pebisnis yang pandai bicara tetapi lemah dalam hal eksekusi (good talker but poor doers).

Lebih menarik lagi temuan David Goodman dan Masanori Miyazawa dalam karyanya Jews in the Japanese Mind: The History and Uses of a Cultural Stereotype.

Hanya karena orang-orang Jepang mempercaya mitos bahwa ras Yahudi memiliki rencana buruk terhadap ras Jepang, banyak pebisnis-pebisnis Jepang yang menolak dengan perusahaan-perusahaan multinasional dari Yahudi atau yang memiliki pimpinan dengan latar belakang etnis Yahudi. Hal ini menunjukkan betapa stereotip memiliki dampak kuat dalam mempengaruhi pembentukan relasi dan jejaring bisnis.

Lalu bagaimana solusinya agar kita tidak terjebak pada bias kognitif stereotip? Saya sangat sepakat dengan pemikiran David Hamilton dalam karyanya Cognitive Processes in stereotyping and intergroup behavior. Hamilton menekankan pentingnya pengujian hipotesis secara ilmiah (scientific hypothesis testing).

SKEPTIS

Artinya, Hamilton mengingatkan kita untuk tatap memiliki pemikiran skeptis dan tidak terjebak pada anggapan-anggapan common sense masyarakat pada umumnya yang tidak memiliki landasan ilmiah.

Selain itu, argument Halmiton tentang pengujian hipotesis secara ilmiah juga menunjukkan pentingnya menilai sebuah suku secara objektif berdasarkan profil kepribadian per individual untuk menghindari generalisasi per individual.

Misalnya jika berbicara tentang mengapa seorang pengusaha Tionghoa berhasil mencapai tingkat kekayaan terntentu, akan lebih efektif jika kita menganalisis karakteristik pengelolaan modal finansial, pengambilan keputusan, gaya investasi, dan strategi pembentukan relasi dan jejaring bisnisnya.

Hindari terjebak pada anggapan bahwa etnis tertentu memang telah terpredestinasi sebagai etnis yang kaya.

Sumber : Bisnis Indonesia. 24 Mei 2017 Hal 2

Andalkan B2B dan Sister Company

Kembangkan Bisnis ke Wedding Gift. Jawa Pos.1 Mei 2017.Hal.6

Kendala utama Flux Footwear dalam pejualan ritel dan B2B adalah keterbatasan perajin. Achnu dan kawan-kawan baru mampu menggandeng tiga perajin. “Setahun ke depan kami sudah mempersiapkan untuk membuat produksi sendiri dengan membeli mesin jahit serta merekrut penjahit. Apalagi, kami baru saja lulus dan bisa lebih fokus mengembangkan bisnis,”katanya. Selain itu mereka berniat membesarkan merek dengan membuka toko sendiri. Flux Footwear juga mengembangkan produk mereka ke souvenir pernikahan. Ide tersebut muncul lantaran souvenir pernikahan yang beredar di pasaran dinilai monoton. “Untuk souvenir pernikahan bentuknya card holder, gantungan kunci, dompet, gelang, maupun ikat pinggang. Bahannya memanfaatkan sisa kulit sepatu yang tidak terpakai, “papar Achnu. Untuk pemasaran souvenir pernikahan, Achnu dan rekannya bekerjasama dengan wedding organizer di Surabaya. Harganya pun mereka tekan agar hmpir menyamai souvenir pernikahan di pasar. (vir/c15/noe).

Flux footwear, bisnis professional anak Kuliahan

Andalkan B2B dan Sister Company

Tanggulangin pernah Berjaya sebagai sentra kerajinan kulit di Sidoarjo. Namun, sejak terdampak semburan lumpur, kerjayaan tanggulangin meredup. Upaya membangkitkan kembali tanggulangin dirintis putri rafika dewi, ridho fildo hutama, achnu arifudin, dan eryck Brandon satrio. Mereka berbisnis sepatu dengan menggandeng perajin dari tanggulangin. Kali pertama bertemu 3 tahun lalu pada mata kuliah entrepreneurship di Universitas Ciputra mereka berempat pun sepakat membentuk flux footwear. Dirintis sejak 2014, flux footwear berfokus memproduksi sepatu perempuan. Namun di tim tersebut hanya ada seorang perempuan. Karena itu, mereka beralih ke pasar sepatu lelaki. “Meski, sepatu perempuan masih ada, “papar Achnu. Salah satu alasan mereka berfokus mengembangkan sepatu lelaki adalah desainnya yang lebih simpel dan everlasting. Hal ini berbeda dengan desain sepatu perempuan yang fast-moving. “Jika sampai sebulan tidak update bisa ketinggalan model dengan produsen lainnya.”ujarnya. Sebelum memutuskan bekerjasama dengan perajin di sidoarjo, mereka melakukan survey disejumlah daerah, terutama di Bali.

Setelah dipertimbangkan, harga dan kualitas perajin tanggulangin cukup mumpuni. Desain dan soal sepatu sudah ditentukan Achnu dan timnya. Bahan kulit disediakan perajin. Mereka bekerjasama dengan 3 perajin sepatu dari tanggalangin. ‘Kuncinya sepatu itu disol. Kalau sol bagus, sepatu bisa nyaman dipakai. Untuk solnya, kami memilih impor langsung dari tiongkok,”ungkap Eryck. Indonesia sebenarnya juga memiliki supplier sol sepatu dengan kualitas mumpuni. Sayangnya, mereka harus dibebani order minimal 2 ribu piece untuk satu model yang sama. Akses ke Tiongkok mereka peroleh saat mengikuti mata kuliah impor. Di mata kuliah tersebut, mereka diberi tahu cara mendapatkan barang dari luar negeri serta jaringannya di sana. Flux Footwear pun diperkenalkan kepada masyarakat luas melalui pameran yang rutin diikuti mereka berempat. Bukan hanya pameran di dalam negeri, pameran di Malaysia juga pernah di sambangi Achnu dan kawan-kawannya. Meski demikian, penjualan flux Footwear masih bertumpu pada media sosial. “Di ritel, persaingan bisnis sepatu sangat ketat. Kami akhirnya memutuskan untuk menjual secara business to business dan memiliki sister company,”tutur Ridho.

Selama ini flux footwear lebih banyak memasok sepatu ke sister company di Jawa Timur. Sepatu itu di rebranding sesuai dengan merek sepatu milik sister company. Secara harga, flux footwear di banderol Rp 700 ribu hingga Rp 1,3 juta untuk sepatu laki-laki. Sepatu perempuan dijual seharga Rp. 400 ribu hingga Rp 700 ribu. Penggunaan bahan kulit dibagian luar dan dalam membuat harga yang di patok cukup tinggi. “Bagian luar menggunakan kulit sapi, sedangkan bagian dalam memakai kulit domba. Kulit domba terkenal dengan kulit domba. Kulit domba terkenal lembut, biasa di gunakan untuk bahan jaket sehingga tidak menyakiti kulit,”papar Eryck yang bertanggungjawab di bidang produksi. Pemilihan bahan kulit juga disesuaikan dengan brand yang mereka usung. Flux footwear berarti fashionable dan luxury (vir/c14/noe).

Tip bisnis Flux Footwear

  • Ide bisnis berawal dari eksplorasi kebutuhan disekitar kita
  • Kembangkan relasi secara formal maupun informal
  • Langsung aksi. Kalau tidak berhasil, dievaluasi lagi dan dikembangkan
  • Tempatkan diri sebagai konsumen
  • Buka pikiran. Jangan terlalu idealis, tetapi harus melihat perkembangan pasar

Sumber: Jawa pos, 1 Mei 2017 Halaman 6

Warna Netral untuk Jangka Panjang

Warna Netral untuk Jangka Panjang. Jawa Pos.11 Mei 2017.Hal.7

Bermain merupakan cara paling pas untuk mendidik anak usia dini. Momen menemani si kecil bermain pasti seru. Tak harus pergi ke luar karena playroom bisa dibuat dengan memanfaatkan salah satu ruangan rumah.

Unsur keamanan dan kenyamanan harus menjadi prioritas ketika membuat playroom. Lokasinya bisa menjadi satu dengan kamar atau terpisah. Jika rumah berukuran luas, sediakan spot khusus. “Paling sering memang ruang tengah yang dipakai karena luas dan anak bisa diawasi dengan mudah “kata Cinthya Halim, desainer interior nursery and kids room dari Surabaya. Playroom di luar kamar, menurut Cinthya, lebih ideal. Anak lebih bebas bermain dan berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya. Di kamar, dia bisa berfokus istirahat. Namun, jika kondisi tidak memungkinkan playroom boleh di jadikan satu dengan kamar. Pastikan masih ada space yang cukup untuk rak penyimpanan. “Pastikan juga jika sudah selesai, mainan selalu dirapikan agar kesannya nggak sumpek, “kata Cinthya.

Buat si kecil nyaman dengan meletakkan beberapa mainan favoritnya. Misalnya, kitchenset seperti yang ada di playroom Ceyleen Immanuela Chandra, 4 atau mainan yang menunjang si kecil belajar berjalan seperti di playroom Alicia Celina Kokasih anak dari kecanduan nonton. Biarkan anak kreatif dengan mainannya. Bunda bisa memilih mainan yang edukatif atau putar music-musik ceria untuk menemani si kecil menari. “Kalau di playroom, ya dia bebas mau main apa. Tanpa TV. Bisa seharian kalau main, “kata Chenliana Wiguna, 25 bunda Alicia.

Tak lupa letakkan karpet yang empuk atau playmate di playroom. Hal itu penting supaya anak tidak duduk di atas lantai langsung. Kecuali lantainya dari kayu yang memang cenderung hangat. Satu hal lagi supaya anak betah, perhatikan sirkulasi udara. Meski menggunakan AC bisa dimatikan dan jendela di buka untuk pergantian udara, “jelas Cinthya. Dalam satu rumah, cukup satu playroom. Jika memiliki dua anak atau lebih, playroom bisa difungsikan bersama. Kakak beradik bisa saling berinteraksi dan bermain bersama. Pemilihan desain yang netral sangat diperlukan apabila bunda memiliki anak berbeda jenis kelamin.

Warna netral seperti abu atau putih juga berguna ketika anak-anak beranjak besar. Playroom yang sudah tidak digunakan itu bisa dengan mudah diahlifungsikan menjadi ruangan baru tanpa perlu repot mengecat ulang. ‘Sekarang sudah ngak zaman playroom yang terlalu colorful “kata Cinthya. Untuk membantu anak mengenal warna, bunda bisa memanfaatkan furniture atau ornament kecil lainnya. misalnya playroom Alica. Playroom yang terkenal di ruang tengah tersebut di dominasi warna putih. Karpet dan playmate nya tak jauh dari tone warna krem dan putih tulang. Sebagai detail sang bunda memilih kursi dan meja kecil pink. Kursi tersebut memiliki aksen tanduk unicorn yang cute. “biar kesannya lebih girly, tapi nggak berlebihan, “ujur Chenliana.

Begitu juga playroom di kamar Cayleenn. Ruangan itu didominasi material kayu untuk lantai dan tempat tidur. Untuk mempercantiknya, bunda Cyleen meletakkan cushion bergambar unik dan lampu meja kelinci. Dinding berwarna putih diias dengan wallsticker variatif. “Kalau nggak heboh gini kan bisa dipakai sampai dia besar, “kata Yeni Carolina Sugito, bunda Cyleen. (and/c7/ayi)

Jadi satu: playroom cyleen immanuela Chandra dibuat menyatu dengan kamar tidurnya. Pilihan furniture baik dari bahan maupun bentuk, dipastikan aman untuk anak balita.

Tertata rapi: beragam mainan yang mengisi playroom Cyleen. Lemari penyimpanan tingginya dibuat sesuai dengan tinggi bocah berumur 4 tahun itu.

Terjaga: Alicia Celina Kokasih bermain dalam playroom yang sudah diberi pembatas dan playmate tebal. Selain memberi rasa hangat, juga melindungi agar tidak cedera saat jatuh.

Apa ada di playroom?

Playmate dan Karpet

Lapisi lantai dengan playmate atau karpet tebal. Tujuannya si kecil tak kedinginan ketika duduk di atas lantai. Terlebih jika si kecil dalam tahap belajar berjalan. Karpet dan playmate bisa mengurangi resiko cedera ketika terjatuh. Pilih yang antiselip atau tak mudah bergeser ketika diinjak. Boleh karpet berbulu, tapi jangan berbulu panjang yang mudah rontok. Karpet bulu sekaligus mengenalkan tekstur.

 

Lemari

Lemari tak perlu terlalu besar asal cukup untuk menampung mainan. Pilih yang memiliki banyak sekat dan tidak berpintu. Selain itu, sesuaikan tinggi anak supaya dia bisa dengan mudah merapikan mainannya sendiri setelah selesai bermain. Hal itu bagus untuk melatih kemandiriannya.

Meja dan kursi

Pastikan meja dan kursi memiliki sudut tumpul dan halus jika disentuh. Tujuannya, si kecil tetap aman saat bermain. Jangan lupa sesuaikan ukuran meja dan kursi dengam tubuh buah hati agar tetap nyaman.

Playpen

Sangat disarankan untuk yang memiliki anak dalam tahap belajar berjalan. Playpen berbentuk pagar dapat diletakkan di tengah playroom. Si kecil akan lebih aman karena tidak bisa merangkak atau berjalan keluar ruangan.

Cat Non-Toxic

Baik dinding maupun furniture, pilih yang menggunakan cat non-toxic. Cata jenis itu tak memiliki bau tajam sehingga aman. Cara mengetahui furniture yang menggunakan cat non-toxic adalah dengan menciumnya. Biasanya bau cat non-toxic hilang dalam 2 hari. Baru terasa kalau benar-benar di dekatkan ke hidung. Namun kalau cat ber-toxic dari jarak beberapa meter saja baunnya sudah tercium.

Sumber: Jawa pos, Kamis, 11 Mei 2017, Halaman 7