i’Talk (Innovation Talk) | Make Over: Tips & Trick

DSC05972

 

UC Library dan FDB-UC (Fashion Design & Business) bekerja sama dengan On Market Go+, pada Jumat (13/10) mengadakan kegiatan i’Talk (Innovation Talk) bertema Make Over: Tips & Trick. Sebagai narasumber ditunjuklah Hendy Monangin (Founder On Market Go+ & On Market Go! Event), Claudia Carolina (Store Manager On Market Go+), dan Arman Hifni Ramadhan di acara yang diadakan di Student & Service Lounge ini.
Dijelaskan dalam acara yang dimulai Pkl. 13.00 WIB ini, Make Over sendiri adalah perubahan dari diri sendiri mulai dari rambut, make up, busana, sepatu. Misalnya dari yang bergaya tomboy ingin berubah menjadi bergaya feminin. Dan agar make over yang kita lakukan bisa berhasil, kita harus bisa:
1. Kenali bentuk tubuh (kelebihan & kekurangan).
2. Temukan gaya yang diinginkan dalam hal berbusana.
3. Lakukan beberapa eksperimen dalam berbusana.
4. Putuskan, mana gaya berbusana nyang harus dijaga dan mana yang harus ditinggalkan.
Acara peragaan busana oleh perwakilan mahasiswa UC dan permainan memadukan busana dengan tema kreasi sendiri juga menjadi bagian dalam acara yang dimoderatori oleh bu Marini Yunita Tanzil (Dosen FDB-UC) ini.

collage

collage 2

Apa sih yang bisa kita pelajari dari tokoh-tokoh di film OKJA?

o4

Selama 10 tahun yang indah, Mija (Ahn Seo-Hyun) muda telah menjadi pengasuh sekaligus pendamping setia Okja – binatang sejenis Babi berukuran super besar – di rumahnya di pegunungan Korea Selatan. Tapi semuanya berubah ketika perusahaan Mirando Corporation membawa Okja untuk promosi produk perusahaannya dan membawanya ke New York, di mana sang CEO pengusaha konglomerat Nancy Mirando (Tilda Swinton) sangat terobsesi untuk menjadi pengusaha yang sukses memiliki rencana besar untuk Okja, teman tercinta Mija. Tanpa rencana yang jelas, tapi dengan tujuan yang bulat, Mija memulai misi penyelamatan Okja. Itulah premis film ‘OKJA’ yang diputar di Movie Time @ UC Library pada Jumat (22/9) lalu.

Apa saja sih yang bisa kita pelajari dari para tokoh film ini?

(Spoiler Alert)

  1. Mija (Ahn Seo-Hyun) & Okja.

Meskipun Okja memiliki berat ratusan kilo lebih besar dari Mija dan spesies yang sama sekali berbeda, namun mereka adalah Best Friend Forever! 2 sahabat yang tidak terpisahkan.

Di awal film, ditunjukkan bagaimana persahabatan mereka ditunjukkan ketika mereka bersenang-senang, bahkan ketika Mija tergelincir di tepi jurang, dan Okja ‘mengorbankan’ dirinya, mempertaruhkan nyawa menyelamatkan Mija. Giliran Okja dibawa oleh Dr. Johnny Wilcox (Jake Gyllenhaal), dengan perasaan marah dan tekad yang bulat, Mija bergegas meninggalkan peternakan menuju ke Seoul untuk merebut sahabat terkasihnya kembali. Ada tertulis, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabatnya.” 

  1. Jay (Paul Dano) dan Animal Liberation Front (ALF)

Ketika bertekad untuk mendapatkan Okja kembali, Mija mendapat bantuan serta juga hambatan dari Animal Liberation Front (ALF) yang dipimpin oleh Jay (Paul Dano), seorang pria bersosok necis dan tenang. Mempunyai niat yang baik untuk menyelamatkan Okja dan sekaligus membongkar konspirasi jahat perusahaan Mirado, namun mereka melakukan kesalahan ketika salah satu anggota, K (Steven Yeun) dengan sengaja salah menerjemahkan perkataan Mija (yang tidak bisa berbahasa Inggris), yang sekaligus mengkhianati kepercayaan Mija kepada Jay dan ALF. Hal tersebut ia lakukan karena beranggapan misi pribadi mereka lebih penting dari relasi antara 2 sahabat Mija, dan Okja.

Sangat penting untuk kita sadari bahwa janganlah sampai ambisi pribadi kita membuat kita menjadi pribadi yang egois dan melupakan teman-teman kita.

  1. Johnny Wilcox (Jake Gyllenhaal)

Sebagai dokter hewan dengan kumis tebal dan bersuara tinggi, diselingi engan tingkah yang konyol, Dr Johnny Wilcox menggambarkan seorang yang terpuruk karena dirinya tidak sesukses dirinya yang dulu. Sifat iri-nya muncul karena sang CEO Lucy Mirando lebih memilih Mija daripada dirinya menjadi bintang utama dalam parade puncak 10 tahun SuperPig Project membuat dirinya gelap mata mulai menyiksa Okja sebagai pelampiasannya.

Seorang pribadi yang masih bergelut dengan masa lalu dan tidak move on, tidak bisa dikatakan sebagai orang yang sukses. Seorang entrepreneur adalah seorang yang tahu saat ini dunia sedang bergerak maju, dan hanya orang kalah yang selalu mempermasalahkan masa lalunya yang kelam.

 4. Lucy and Nancy Mirando (Tilda Swinton)

Sosok antagonis dalam film ini adalah Lucy Mirando, CEO Mirando Corporation yang mengambil perusahaan warisan kakek dan ayahnya dari saudarinya Nancy dengan tujuan memperbaiki citra perusahaan yang dulu terkesan kontroversial dan kejam.

Menghalalkan segala cara, termasuk ‘membohongi’ publik dengan program ‘SuperPig’ yang dikatakannya adalah hewan dengan kelahiran alamiah yang ditemukan di Chile, namun kenyataannya babi-babi tersebut adalah hasil dari rekayasa genetika.

Nancy muncul di akhir film setelah parade acara puncak memamerkan Okja setelah 10 tahun ke publik hancur berantakan setelah ALF menayangkan video hasil investigasi mereka. Nancy dating dan dengan cepat mengambil alih Mirando Corporation, mempermalukan adiknya terakhir kali dan merebut kembali Okja dan menyuruh semua anggota ALF dipukuli dan ditangkap.

Walau kembar, Lucy berbeda dengan Nancy. Lucy masih menunjukkan sedikit kepedulian terhadap Mija (dengan memsukkannya ke acara parade dan semua fasilitas yang ditanggung), namun Nancy benar-benar berlawanan, dia sangat dingin, tidak berperasaan dan hanya fokus pada uang dan kemajuan perusahaan, Nancy adalah business-woman yang sangat serius.

Menjadi seorang entrepreneur sangat tidak mudah, banyak tantangan yang akan dijalani. Jangan pernah motivasi mendapatkan untung sebanyak-banyaknya dan kemajuan perusahaan menggantikan tujuan utama dari entrepreneurshiup itu sendiri, yaitu memberikan solusi bagai masyarakat yang membutuhkan. Tetap fokus pada tujuan utama, lakukan yang terbaik, niscaya bonus keuntungan akan mengikuti.

WhatsApp Image 2017-09-25 at 12.57.01 (2)

What a startup can learn from the movie Dangal?

Dangal_Trailer

Film yang diputar pada Movie Time @ UC Library pada Jumat (8/9) lalu ini menceritakan Mahavir Singh Phogat (Aamir Khan) yang pernah menjuarai sebuah turnamen gulat yang memiliki mimpi untuk memenangkan medali emas untuk kompetisi gulat dunia. Namun, masalah finansial memaksanya pensiun dari karirnya sebagai pegulat profesional. Pada saat itu Phogat mengharapkan jika kelak anak lelakinya dapat meneruskan cita-citanya. Akan tetapi Phogat merasa putus asa setelah istrinya melahirkan empat anak perempuan. Beberapa tahun kemudian ia melihat kedua anak perempuannya, Geeta dan Babita mengalahkan dua orang anak laki-laki. Phogat menyadari bakat mereka dan mulai melatih anak-anaknya menjadi pegulat profesional.

There are a few very good lessons for startups in the movie:

1. Set your Goal and Focus!

Sempat kecewa karena setelah empat kali kelahiran, empat kali pula dia harus mengalami kekecewaan karena keempat anaknya terlahir perempuan. Walau dia tetap mencintai keempatnya anaknya, namun ia merasa hanya anak laki-laki yang mampu mewujudkan impiannya.

Walau sempat putus asa, akhirnya Mahavir memutuskan untuk melatih kedua anak perempuannya, Geeta Phogat (Fatima Sana Shaikh) dan Babita Kumari (Sanya Malhotra) untuk barmain gulat setelah Mahavir melihat ke-2 putrinya berkelahi memukuli anak laki-laki yang mengejek mereka.

Mahavir telah menetapkan tujuannya bahkan sebelum anak perempuannya lahir dan dia tidak pernah dialihkan dari tujuannya tersebut. Memenangkan medali emas bagi negaranya. Jika Anda telah menetapkan tujuan hidup Anda, Anda tidak boleh mengalihkan fokus Anda sampai Anda mencapai tujuan Anda. Catat tujuan Anda dan cek setiap hari, apakah Anda maju ke arah yang benar. Jika tidak, fokuskan pada tujuan Anda kembali dan maju ke arah itu.

2. Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan.

Tidak ada jalan lain untuk sukses selain kerja keras. Film ini mengajarkan kepada kita pentingnya kerja keras dalam hidup dan bagaimana hal itu membantu pencapaian impian kita. Setiap hari Geeta dan Babita memulai latihan jam 5 pagi. Meskipun melelahkan, hal itu membantu mereka membentuk fisik dan teknik mereka sehingga siap untuk maju dalam setiap pertandingan. Anda perlu bekerja ekstra untuk mengetahui apa yang tersembunyi dan akhirnya mencapai tujuan Anda.

3. Be Open Minded

Di film ini diceritakan Geeta Phogat mengalami kekalahan di sebagian besar pertandingan internasional pada awal karirnya, dikarenakan dia mulai melupakan teknik tradisional yang diajarkan oleh ayahnya dan lebih memusatkan perhatian di teknik-teknik yang baru. Namun, nyatanya metode tradisional ayahnyalah yang membawa kemenangan-kemenangan dalam pertandingan internasionalnya. Teknik tradisional masih memiliki relevansi bahkan di era digital ini, dan tantangan kita bukanlah memilih salah satunya, namun bagaimana kita bisa mengkombinasikannya demi tercapai tujuan kita.

4. Believe in Yourself!

Saat Geeta berjuang keras untuk mendapatkan medali emasnya, dia memikirkan saran-saran yang diberikan ayahnya kepadanya. Mengambil 5 poin adalah salah satu hal yang sulit dalam gulat, tapi bukan yang tidak mungkin. Di saat ia membutuhkan saran ayahnya, ia tidak ada di tempat. Lalu apakah pertandingan berhenti menunggu Mahavir datang? Tentu tidak! Dan pertandingan tetap berlanjut dan disitulah Geeta harus percaya pada dirinya sendiri untuk mengambil poin 5 itu selama detik-detik menjelang pertandingan.

Anda perlu bekerja lebih keras menuju tujuan Anda. Untuk itu Anda perlu percaya pada diri sendiri. Jangan menyerah. Selalu ada rencana lain atau strategi lain yang bisa diimprovisasi. Jika Anda pikir Anda kehabisan pilihan, pikirkan lebih keras.

5. Make a Strategy!

Dalam film ini, Mahavir Singh Phogat memiliki banyak strategi dan rencana untuk melawan setiap lawan anak perempuannya. Sebelum setiap pertandingan, dia melihat seluruh video dari perpustakaan dan mengevaluasi permainan Geeta serta melihat setiap celah yang bisa dimanfaatkan oleh anaknya. Berdasarkan fakta, ia mengembangkan sebuah rencana untuk pertandingan berikutnya. Ketika pelatih tim nasional meminta Geeta untuk menyerang lawan, Mahavir menasihati putrinya untuk tetap tenang dan bertahan dengan baik sehingga dia bisa menunggu lawannya melakukan kesalahan. Setiap permainan adalah pertandingan yang berbeda dan Anda perlu memiliki strategi dan rencana yang berbeda untuknya.

 

Film ini berdasarkan kisah nyata dan Geeta dan Babita Phogat telah memenangkan lebih dari 20 medali internasional untuk negaranya, India. Kisah Mahavir Singh Phogat dan anak-anaknya adalah inspirasi dalam kehidupan nyata. Semoga ini akan menginspirasi beberapa dari kita dan membantu mereka mencapai tujuan untuk tahun yang akan datang dan masa depan.

Library August Surprise!

collage 1

HAPPY FACES!!
Dalam rangka memperingati HUT UC ke XI (26 Agustus 2017), UC Library bagi-bagi kejutan spesial buat para pengunjung Perpustakaan. Dalam tajuk “Library August Surprise”, UC Library membagikan hadiah-hadiah berupa coklat, voucher seharga Rp 11.000,- dari Chixy, Wei Xiao, dan Dean Canteen kepada para pengunjung yang beruntung mulai dari tanggal 21-31 Agustus 2017. Pemenang pun didapatkan dari berbagai cara yang sudah dirancang oleh UC Library, mulai dari para pengunjung perpustakaan yang meminjam dan mengembalikan koleksi yang dipilih secara acak, para pengunjung pertama dan terakhir yang ada di Library. Selamat kepada penerima hadiah, dan sampai jumpa di kejutan-kejutan selanjutnya.

collage 2 collage 3 collage 4 collage 5

Pelajaran hidup yang bisa kamu dapat usai nonton film Rudy Habibie

vlcsnap-2017-08-16-14h50m06s130

Dalam rangka memperingati HUT RI ke 72, Movie Time @ UC Library kembali hadir dan mengajak UCers untuk melihat salah satu film karya anak bangsa, berjudul Rudy Habibie”. Film ini merupakan prekuel film “Habibie & Ainun” yang akan menceritakan sosok mantan presiden RI, Prof. Dr. Ing. Bacharudin Jusuf Habibie atau BJ Habibie di kala muda yang kerab disapa dengan Rudy Habibie. Movie Time kali ini dilaksanakan pada Jumat, 18 Agustus 2017 bertempat di Library Lounge. Acara yang dilaksanakan pada pkl. 13.00 wib memutar film yang menceritakan Habibie muda bermimpi untuk bisa membuat pesawat sebagaimana pesan dari ayahnya. Untuk menjadi “mata air” yang berguna bagi orang banyak seperti pesan ayahnya tersebut, Rudy harus kuliah di RWTH Aachen yang berada di Jerman Barat. Hidup Rudy habibie yang serba terbatas, rindu dengan kampung halaman, serta dibumbui dengan rasa cinta dan pengkhianatan akan digambarkan melalui film ini. Di tempat kuliahnya tersebut Rudy mengenal Lim Keng Kie yang merupakan keturunan Tionghoa, Poltak pemuda batak yang jujur, Peter seorang mahasiswa senior serta Ayu adik dari putri kraton Solo. Namun justru Ilona seorang mahasiswi keturunan Polandia yang percaya dengan mimpi mimpi Rudy.

Nah, berikut beberapa pelajaran yang dapat kamu tiru dari Bapak Presiden Republik Indonesia ketiga ini:

  1. Bermanfaat seperti ‘mata air’.

“Karena mata air yang jernih, akan berguna bagi lingkungan sekitarnya!”

Pesan dari sang ayah untuk selalu menjadi mata air selalu diingat oleh Rudy. Meski sulit, namun Rudy Habibie bisa membuktikan bahwa dirinya bisa jadi mata air untuk lingkungannya dan negaranya. Kita pun harus senantiasa berusaha untuk menjadi berguna untuk orang lain di sekitar kita. Dimana ada mata air, disitu ada kehidupan.

  1. Sangat mencintai negaranya.

Rudy mengingatkan kita tentang pentingnya integritas. Di dalam cerita film, Indonesia ingin menjadi sponsor utama di brosur ketika mereka tidak mendukung secara finansial. Itu bertentangan dengan kejujuran dan integritas yang Rudy percaya. Rudy tanpa basa-basi menggebrak meja di hadapan senior dari pemerintah Indonesia. Kelakuan Rudy memang dapat dianggap tidak sopan. Akan tetapi, ia benar.

“Untuk apa merdeka jika tidak ada integritas?”

Indonesia telah merdeka bertahun-tahun, akan tetapi masih saja banyak kasus korupsi yang terjadi di sekitar kita. Ini sangat memprihatinkan. Kita telah bebas dari jajahan Belanda dan Jepang, tetapi apakah kita telah lepas dari jajahan keserakahan dan kebohongan? Hanya kita, generasi muda yang dapat menjawabnya. Karena kitalah penerus dan pelaku aktivitas utama Indonesia.

  1. Bermimpi besar.

Rudy selalu mempunyai mimpi yang besar. Dia mengajak teman-temannya untuk membangun industri dirgantara atau industri penerbangan. Itu adalah alasan ia ingin membangun pesawat terbang Indonesia sendiri. Awalnya teman-temannya menertawakan mimpinya. Tetapi dia dapat membuktikan bahwa dia dapat melakukannya dengan menghasilkan pesawat miniatur yang dapat terbang.

Perjalanan ia tentu tidak mudah. Suatu kali, dia terkena sakit TBC tulang yang mengharuskannya beristirahat di rumah sakit. Meskipun dia sakit-sakitan, dia tetap teguh dalam pekerjaannya. Di tempat tidurnya, dia menuliskan sumpahnya untuk memajukan Indonesia di dalam kehidupannya.

Apakah kita sudah bermimpi besar? Apakah kita sudah bekerja keras? Kita dapat menjadi lebih bermakna dan berguna terhadap orang lain. Let’s dream big dan work hard.

  1. Tidak pernah meninggalkan ibadah.

Setiap kali Rudy Habibie harus melakukan salat di bawah tangga kampus. Meski dia kuliah di kampus yang tidak menyediakan musala untuk salat, Rudy tak lantas begitu saja meninggalkan ibadahnya. Ia tetap setia beribadah. 

  1. Berpikir positif.

Rudy Habibie adalah seorang jenius dalam fisika dan matematika. Pola pikirnya sangat terstruktur dan tajam. Ia sering menjelaskan sebuah solusi ke teman-temannya dengan fakta, masalah, dan solusi. Penjelasan tersebut sangat dimengerti orang di sekitarnya karena struktur fakta, masalah, dan solusi membuat situasi yang terlihat berantakan menjadi lebih jelas dan rapi. Ketika kita memahami fakta dan masalahnya, kita dapat mencari solusinya. Rudy percaya bahwa selalu ada solusi dari setiap masalah.

RH

 

Movie Time @ UC Library: “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”

164015-1459743748-550981

 

Movie Time at UC Library kembali hadir pada Jumat (2/6) lalu dan kali ini menayangkan film karya Garin Nogroho, “Guru Bangsa Tjokroaminoto”. Film ini merupakan biopik dari salah satu tokoh sejarah Indonesia, HOS Tjokroaminoto dan sebagai informasi, Rumah Tjokro di Gang Peneleh, Surabaya, terkenal sebagai tempat bertemunya tokoh-tokoh bangsa Indonesia kelak. Di rumah sederhana tersebut, salah satu muridnya adalah Soekarno yang kelak menjadi proklamator kemerdekaan dan pencetus Pancasila.

Di acara yang dimulai pkl. 13.00 wib di Library Lounge ini menceritakan setelah lepas dari era tanam paksa di akhir tahun 1800, Hindia Belanda memasuki babak baru yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakatnya, yaitu dengan gerakan politik etis yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Tetapi kemiskinan masih banyak terjadi. Rakyat banyak yang belum mengenyam pendidikan, dan kesenjangan sosial antaretnis dan kasta masih terlihat jelas.
Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro) yang lahir dari kaum bangsawan Jawa di Ponorogo, Jawa Timur, dengan latar belakang keislaman yang kuat, tidak diam saja melihat kondisi tersebut. Walaupun lingkungannya adalah keluarga ningrat dengan hidup yang nyaman dibandingkan rakyat kebanyakan saat itu, ia berani meninggalkan status kebangsawanannya dan bekerja sebagai kuli pelabuhan dan merasakan penderitaan sebagai rakyat jelata.
Tjokro yang intelektual, pandai bersiasat, mempunyai banyak keahlian, termasuk silat, mesin, hukum, penulis surat kabar yang kritis, orator ulung yang mampu menyihir ribuan orang dari mimbar pidato, membuat pemerintah Hindia Belanda khawatir, dan membuat mereka bertindak untuk menghambat laju gerak Sarekat Islam yang pesat. Perjuangan Tjokro lewat organisasi Sarekat Islam untuk memberikan penyadaran masyarakat, dan mengangkat harkat dan martabat secara bersamaan, juga terancam oleh perpecahan dari dalam organisasi itu sendiri.

Pelajaran apa sih yang bisa kita ambil dari sosok Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto dalam film “Guru Bangsa: Tjokroaminoto” ini?

  • Kepedulian terhadap kaum lemah

Film ini dibuka dengan adegan interogasi terhadap Tjokroaminoto di penjara Kalisosok, Surabaya. Ia dituding oleh Belanda telah mendalangi pemberontakan rakyat di Garut, Jawa Barat, pada tahun 1919. Sorot tajam kamera kemudian menyasar wajah Tjokroaminoto (Reza Rahardian). Lalu, keluarlah kata-kata tajam dari mulutnya: “Saya Tjokroaminoto, seorang jawa dan pendiri Sarekat Islam yang beranggotakan 2 juta orang…”

Sejak dini, Tjokro punya kepedulian terhadap kaum lemah. Ia sangat peka dengan nasib rakyat jelata. Kesadaran itu pula yang menggerakkan Tjokro. “Tidak akan ada darah lagi yang tumpah di kapas-kapas ini,” ucap Tjokro kecil ketika membasuh luka seorang kuli perkebunan kapas yang baru saja dihukum cambuk oleh mandor perusahaan.

Kesadaran itu terjaga hingga Tjokro dewasa. Kendati dilahirkan dari keluarga priayi, Tjokro memilih tak berjarak dengan rakyat jelata. Ia seringkali marah dengan perilaku elit, baik pribumi maupun Belanda, terhadap rakyat jelata.

  • Semangat untuk Merdeka

Pelajaran yang juga menarik dari film ini adalah soal konsep ‘hijrah’ dan ‘iqra’. Kata ‘hijrah’ diucapkan berkali-kali dalam dialog. “Hijrah ini, sudah sampai mana Gus?” kata Tjokro kepada kawan seorganisasinya, Haji Agus Salim (Ibnu Jamil).

Dalam film ini, Tjokro memahami ‘hijrah’ bukan sekedar perpindahan tempat, yakni berpindah dari daerah kaum kafir ke daerah islam. Sebaliknya, Tjokro menempatkan ‘hijrah’ sebagai praktek perpindahan dari manusia terjajah menjadi manusia merdeka.

Begitu juga dengan ‘iqra’. Kata ini tidak dimaknai secara harfiah saja, yakni membaca teks belaka. Tetapi telah diperluas maknanya menjadi ‘membaca keadaan sekitar’. Dengan ‘iqra’, Tjokro menjadi tahu keadaan di sekitarnya, termasuk kondisi sosial-ekonomi rakyatnya.

  • Bukan aku tapi bangsaku

Sosok Tjokro terlihat sebagai seorang yang moderat, pluralis, dan anti-kekerasan dan dengan begitu, pantas juga disebut sebagai ‘Gandhi of Java’.

Dalam satu adegan, Stella Stella (Chelsea Islan), seorang keturunan Indo yang bekerja sebagai loper Koran, menanyakan kepada Tjokro perihal kedudukannya sebagai keturunan campuran ketika kaum pribumi punya pemerintahan sendiri kelak. “Siapakah penduduk asli itu? Ayahku Belanda dan ibuku adalah perempuan Bali yang ingin belajar masakan Hindia Belanda. Lalu siapakah aku, Tuan Tjokro?” tanya Stella.

Melalui pertanyaan Stella itu, menjadi pertanyaan yang relevan dengan saat ini, tentang isu pribumi dan non-pribumi, juga mengkritik praktek diskriminasi dan rasialisme terhadap golongan minoritas.

Melalui film ini kita bisa belajar tentang politik dan sejarah Indonesia. Sejarah perjuangan bangsa ini. Dan kiranya kaum muda saat ini, bisa mengenal salah satu sosok guru bangsanya. Seorang yang memperjuangkan kepentingan adalah orang lain yang tertindas, memperjuangkan bangsanya, diatas kepentingan pribadinya.

collage

Movie Time @ UC Library: “Freedom Writers”

958037f0-e005-0133-42dc-0e89da4c2bc1

Movie Time at UC Library kembali hadir pada Jumat (19/5) lalu dan kali ini menayangkan film berjudul “Freedom Writers”, film yang dibintangi pemenang piala Oscar Hilary Swank ini diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang guru dalam membangkitkan kembali semangat anak-anak didiknya untuk kembali belajar dan terlepas dari rasa intoleran, rasisme, radikalisme, dan saling curiga yang sudah sangat melekat dalam hidup mereka.

Di acara yang dimulai pkl. 13.00 wib di Library Lounge ini menceritakan tentang seorang guru idealis berpendidikan tinggi bernama Erin Gruwell (Hilary Swank) yang datang ke Woodrow Wilson High School, Long Beach, California sebagai guru Bahasa Inggris untuk kelas khusus anak-anak korban perkelahian antargeng rasial. Banyak sekali kasus rasisme yang terjadi di sekolah ini. Di lain sisi, Erin adalah guru yang sangat bersemangat dalam mengajar dan Erin memiliki sebuah misi yang sangat mulia, ia ingin memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak bermasalah yang bahkan guru yang lebih berpengalaman pun enggan mengajar mereka.

Tapi kenyataan tidak selalu seperti yang dipikirkan. Di hari pertama Erin mengajar, ia baru menyadari bahwa perang antargeng yang terjadi di kota tersebut juga terbawa sampai ke dalam kelas. Di dalam kelas mereka duduk berkelompok menurut ras masing-masing. Tak ada seorang pun yang mau duduk di kelompok ras yang berbeda. Kesalahpahaman kecil yang terjadi di dalam kelas bisa memicu perkelahian antar ras.

Erin ingin sekali membuat para muridnya menjadi lebih baik, salah satu inovasi yang ia lakukan adalah dengan membuat sebuah permainan kreatif yang dapat menyatukan perbedaan-perbedaan mereka. Alhasil ternyata dalam keberagaman dan perselisihan, mereka masih memiliki banyak persamaan walaupun kisah sedih menghiasinya. Selain itu Erin juga memberikan mereka jurnal kosong dan meminta mereka setiap hari menulis apapun yang ada di hati dan pikiran mereka di jurnal tersebut, menceritakan kisah mereka sendiri, entah itu tentang masa lalu, masa kini, ataupun masa depan. Cara Erin berhasil, dan jurnal harian dari para murid-muridnya setiap hari kembali pada Erin dengan tulisan mereka tentang apa yang mereka alami dan mereka pikirkan setiap hari. Dari jurnal harian itu yang ditulis, Erin paham bahwa dia harus membuat para muridnya sadar bahwa perang antargeng yang mereka alami bukanlah segalanya di dunia. Erin berusaha membuat para muridnya sadar bahwa dengan pendidikan mereka akan bisa mencapai kehidupan yang lebih baik.

Untuk memotivasi para siswanya, Erin berencana memberi mereka banyak buku bacaan yang ternyata sangat kurang di sekolah itu. Tapi pihak sekolah benar-benar tak mengijinkan hal tersebut, pihak sekolah malah menyarankan untuk membuat anak-anak itu disiplin dan taat aturan yang sudah dibuat. Tidak patah arang, Erin memutuskan untuk mengorbankan waktu luangnya untuk bekerja sambilan demi membeli buku-buku bacaan yang berguna bagi para muridnya. Hasilnya, semangat belajar murid-muridnya kembali muncul.

Erin mencoba memperbaiki motivasi setiap siswa untuk menjadi yang lebih baik, bahkan ketika ada 1 siswa yang gagal mendapat nilai baik, Erin mengajaknya berbicara 4 mata dan memotivasinya untuk memperbaiki nilainya. Cerita Holocaust dalam buku “The Diary of Anne Frank” menjadi cerita yang sangat personal menggugah masing-masing siswa, bahkan Erin sampai mengundang para korban-korban Holocaust untuk berbagi cerita kepada para siswa tentang pengalamannya hidupnya yang membuat para siswa tercengang, sadar bahwa kehidupan mereka jauh lebih mudah dibanding para korban tersebut.

collage

Suasana Movie Time @ UC Library pada Jumat (19/5) lalu.

 

 

“Penyemangat Bunda dan Anak-anak Dalam menghadapi Bina Kreativitas” – Pengabdian Kepada Masyarakat @ PAUD RW 01 Kel. Made Kec. Sambikerep

feature

 

Ibu Maria Yohana Susan, perwakilan dari Tim dari program studi INA (Interior Architecture) – UC kembali menjadi fasilitator dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat di PAUD RW 01 Kel. Made Kec. Sambikerep pada Jumat (19/5) lalu. Dengan tema “Penyemangat Bunda dan Anak-anak Dalam menghadapi Bina Kreativitas”, kegiatan yang dimulai sekitar Pkl 09.00 wib ini diawali dengan pembukaan oleh Bu Kathy Mamahit selaku kepala UC Library, dan dilanjutkan dengan pengerjaan bina kreativitas (ujian) seperti mewarnai gambar dan menarik garis sesuai dengan pola (titik-titik) sehingga membentuk gambar oleh anak-anak. Acara dittutup dengan pembagian bingkisan kepada Bunda dan anak-anak PAUD RW 01 Kel. Made Kec. Sambikerep.

collage

*Untuk foto-foto yang lain, silahkan klik disini

Talk Show & Book Review ‘Komunikasi Krisis’

1

 

UC Library dan Business Incubator UC bekerja sama dengan penerbit buku BPK Gunung Mulia, pada Kamis (18/5) lalu mengadakan kegiatan Talk Show & Book Review “Komunikasi Krisis” dan mengundang Ibu Puspitasari (Dosen Universitas Indonesia, dan pengarang buku ‘Komunikasi Krisis’) sebagai narasumber di acara yang diadakan di Library Lounge ini. Sekitar pkl. 09.30 wib acara dimulai dengan kata sambutan dari Wakil Rektor Bidang Operasional, Bapak Laij Victor Effendi, S.E., CMA. dan dilanjutkan dengan penandatanganan MOU kerjasama antara pihak Universitas Ciputra yang diwakilkan oleh Bapak Laij Victor Effendi, S.E., CMA. dan pihak penerbit BPK Gunung Mulia yang diwakilkan oleh Kepala Cabang BPK Gunung Mulia Surabaya, Bapak Yulius Gonggo. Ibu Rebeka Tumakaka selaku staff bagian Promosi Indonesia Timur juga turut memberikan kata sambutan sebelum acara dilanjutkan ke sesi Talk Show yang kali ini menunjuk Ibu Monika Teguh, S.Sos., M.Med.Kom. (Dosen Program Studi Marketing Communication – MCM) sebagai moderator.

Di awal talkshow yang dihadiri oleh 65 orang peserta ini, Ibu Puspitasari memberikan gambar foto tentang kunjungan Presiden Jokowi ke Masjid Niujie di Beijing di mana foto tersebut adalah contoh komunikasi non verbal yang dilakukan Presiden Jokowi untuk menepis berbagai isu yang berkembang saat ini di masyarakat. “Dalam mengatasi krisis tidak harus menggunakan ungkapan secara verbal, tetapi juga bisa menggunakan perangkat non-verbal.” Kata Ibu yang juga pengajar di Fakultas Komunikasi Universitas Indonesia ini. Dijelaskan pula bahwa krisis bukanlah selamanya sebuah ancaman, namun krisis juga bisa menjadi sebuah peluang, sama halnya ketika mengalami putus cinta, bisa dilihat sebagai krisis ancaman terhadap masa depan, tapi bisa juga dilihat sebagai peluang untuk mendapatkan pacar baru. Dari krisis yang dilihat sebagai peluang maka muncul optimisme bahwa krisis akan dapat terselesaikan.

Dalam menghadapi sebuah krisis yang harus kita lakukan adalah; Harus memiliki kemampuan mendengarkan dan mengamati, setelah itu kita harus mencoba “action” dalam menghadapi konflik, dan terakhir kita harus memiliki kepekaan yang kuat terhadap konflik karena jika kita tidak memiliki kepekaan maka kita akan kesulitan dalam menyelesaikan sebuah konflik.

Komunikasi krisis merupakan suatu keahlian dari profesi bidang corporate communication atau PR yang dirancang untuk melindungi dan membela organisasi baik profit dan non profit munculnya tantangan dari stakeholder eksternal terkait dengan reputasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi krisis merupakan suatu cara untuk menyelesaikan sebuah konflik atau problem dengan cara mengumpulkan data terlebih dahulu sebelum mengambil sebuah keputusan dalam menyelesaikan konflik atau problem tersebut.

collage

*Untuk foto-foto yang lain, silahkan klik di sini.

 

Kehidupan di Desa (Pengabdian Kepada Masyarakat @ PAUD Mutiara Qolbu, Lakarsantri)

feature

 

Bertemakan ‘Kehidupan di Desa’, UC Library kembali melaksanakan kegiatan Pengabdian Masyarakat di PAUD Mutiara Qolbu warga RW III Kel. Lakarsantri Kec. Lakarsantri hasil kerjasama dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat UC. Tim dari INA (Interior Architecture) – UC hadir kembali sebagai fasilitator dengan personel yang berbeda, tampak Pak Tri Noviyanto Puji Utomo atau yang akrab dipanggil Pak Tomi dan Bu Maria Yohana Susan atau Bu Susan hadir sebagai ‘guru pengganti’ pada Selasa (9/5) pagi lalu. Tampak hadir pula 3 mahasiswa jurusan Interior Architecture yang ikut membantu ketika menyampaikan materi berupa tayangan mengenai kehidupan/aktivitas/kegiatan di desa (menanam padi, membajak sawah, menggiring kambing, dsb) melalui layar LCD sambil bernyanyi bersama dan dilanjutkan dengan mewarnai pemandangan di desa.

 

collage 2

*Untuk foto-foto yang lain, silahkan klik disini.