Chrisyandi Tri Kartika, Tujuh Tahun Blusukan ke Tempat Bersejarah_Datangi Rumah Tua, Harus Pintar Memuji

73273_92580_metro1-boks-2

Chrisyandi adalah petualang sejarah sejati. Sejak 2009, dia blusukan ke berbagai sudut-sudut Surabaya dan mencari bangunan-bangunan bersejarah. Setelah mengabadikan keunikan-keunikan bangunan itu, dia membagikannya ke publik.

CHRISYANDI punya gaya khas saat bertualang. Mengenakan celana bahan, jaket parka, dan sepatu pantofel. Empat kantong di jaketnya juga penuh dengan berbagai peralatan. Tangan kirinya menenteng tote bag berisi air minum.

Yang mengalung di lehernya adalah kamera digital. Pagi-pagi benar, dia sudah berangkat dari rumahnya di Jalan Manyar Sabrangan. Dia menempuh perjalanan 10 kilometer dengan motor Suzuki Shogun abu-abu menuju Jembatan Petekan.

’’Harus pagi. Kalau enggak, si kecil bakal kelayu (ingin ikut, Red),’’ ujar ayah dua anak itu saat duduk-duduk di dekat pusat perbelanjaan Jalajaya di timur Jembatan Petekan pekan lalu.

Pagi itu dia berencana mengubek sejumlah tempat di wilayah Surabaya Utara. Malamnya dia lebih dahulu menyusun rencana perjalanan. Pertama, melihat kondisi Jembatan Petekan yang sudah tidak lagi utuh.

Kedua, masuk ke kompleks Pangkalan Armada Timur (Armatim). Kebetulan saat itu Naval Base Open Day. Dengan begitu, warga biasa seperti Chris –panggilan Chrisyandi– boleh leluasa masuk ke kompleks militer.

Saat di Jembatan Petekan, Chris menuruni tangga landai. Itu bukan kunjungan pertamanya ke jembatan buatan pemerintah kolonial Belanda.

Karena itu, dia hafal betul letak tuas, lampu, mesin penggerak jembatan, hingga pos penjagaan yang kini tinggal fondasinya. Puas melihat konstruksi jembatan, dia bergegas membuka tas kameranya.

Mengarahkan lensa ke arah suatu objek. Telat sebentar saja, momen yang ditunggunya bisa hilang. ’’Ya gini. Telat sedikit bisa tidak dapat apa-apa,’’ ucapnya, lalu memasukkan kembali kamera ke tas.

Rupanya, Chris sedang membidik pencari cacing yang dengan santai mengambang terbawa arus sungai. Mengapung, berpegangan pada ban dalam mobil. Potret kehidupan sungai semacam itulah yang dia cari.

Suatu saat, aktivitas semacam itu bisa tinggal kenangan. Foto-foto tersebut bisa dinikmati di grup Facebook Surabaya Heritage Society. Di grup pencinta sejarah Surabaya itu, dia menjadi adminnya.

Yang pasti, tak terhitung lagi tempat yang pernah dia datangi. Tidak lama kemudian, ada yang memanggilnya. Dari kejauhan, wajahnya tidak terlihat. Tertutup silau sinar matahari dari timur.

Ketika sudah dekat, Chris baru menyadari, pria itu adalah Sayfudin Endo. Pencinta sejarah yang juga tergabung dalam Surabaya Heritage Society. Masih muda dan penuh semangat.

”Hei, halo. Kok tahu saya di sini?” tanya Chris, lalu menjabat tangan Udin, panggilan Sayfudin. Udin ternyata penasaran dengan dua motor yang terparkir di dekat Jembatan.

Dia ikut memarkir sepedanya ketika mengetahui ada Chris. Keduanya lalu melihat kondisi besi-besi berkarat jembatan. Lalu, mereka mencocokkannya dengan foto saat jembatan masih utuh.

Masih bisa buka-tutup agar perahu bisa melintas. Tidak sekadar menikmati bangunan tua itu, Chris juga lebih detail mengamatinya. Dia menggedor-gedor besi tua yang berongga.

Sebentar kemudian, dia memasukkan kepala untuk melihat apa yang ada di dalam besi berongga itu. Oh, rupanya di dalamnya ada tuas yang dulu dipakai untuk menyetop kendaraan.

Semacam palang pintu. Namun, tuas itu sudah tidak bisa digerakkan karena sudah lengket dengan karat. Nama Petekan sendiri didapat karena jembatan tersebut bisa dibuka-tutup hanya dengan menekan tombol atau dalam bahasa Jawa disebut petekan.

Mereka bergantian memotret komponen-komponen jembatan. Diabadikan. Sebab, siapa tahu komponen tersebut hilang. Hari itu, kunjungan Chris di Petekan cuma sebentar.

Dia harus bergegas menyaksikan Naval Base Open Day.Pengunjung sudah terlihat semakin membeludak pada pukul 09.00. Benar saja, saat masuk ke Armatim, kendaraan sudah mengantre. Tempat parkir penuh.

Karena itu, Chris memutuskan untuk memarkir motornya di PT PAL. Perjalanan menuju lokasi ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi, ada hikmahnya. Di tengah perjalanan, Chris bisa melihat meriam-meriam yang dijadikan tambatan tali kapal.

Juga, bungker-bungker pertahanan yang jarang diketahui banyak orang. Setelah 20 menit berjalan, tambatan kapal dari meriam ternyata memang benar ada. Chris lalu memotret tambatan yang dicat hitam itu.

Udin pun mengikutinya. Sesekali dia mengeluarkan botol minumnya. Semakin siang, cuaca semakin terik. Suami Tri Dewi tersebut sontak berbelok ke kanan. Berjalan mendahului.

Tangannya menunjuk ke arah bungker yang berbentuk lonjong dengan ujung runcing. Mirip kubah masjid, tapi lebih langsing. Orang-orang menyebutnya Bungker Roti Manis. Dahulu roti manis Belanda berbentuk seperti bungker.

Seperti masuk rumah sendiri, Chris tidak segan membuka pintu bungker yang berbahan besi tersebut. Suara decitannya menunjukkan engsel pintu kurang pelumas. Tapi, masih tergolong ringan untuk dibuka dan ditutup.

Cahaya seketika sirna saat masuk ke lantai 2 bungker. Chris membuka tote bag-nya. Dia menamcapkan lampu LED portabel ke power bank. Lampu seharga Rp 4.000 tersebut lumayan menerangi. Ini kali kedua Chris masuk ke sana.

Udara di dalam bungker menyesakkan dada. Oksigen tipis. Setiap kali melangkah, debu-debu beterbangan. Menambah sulit bernapas. Dari lantai 2, terdapat tangga berbeda yang terhubung dengan pintu bungker di belakang.

Dahulu bungker dibangun sebagai pos pertahanan Belanda untuk menahan serangan tentara Jepang. Chris memotret detail-detailnya. Mulai pintu, engsel, tangga, langit-langit, hingga ruangan-ruangan sempit yang ada.

Saat masuk, beberapa pasang mata tentara mengawasi. Sebab, nyaris tidak ada pengunjung yang berani blusukan.

Westalah gak popo (sudahlah tidak apa-apa, Red). Hari ini khusus,” ujar pustakawan Universitas Ciputra tersebut. Hobi Chris berkeliling tempat-tempat bersejarah itu terpupuk sejak duduk di bangku SD.

Dia makin giat mengelilingi bangunan cagar budaya tersebut setelah mendapatkan dorongan dari Freddy H. Istanto, dekan Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra yang memprakarsai Surabaya Heritage Society.

”Saya memberanikan diri begitu mendapat tantangan dari Pak Freddy,” ucap alumnus SMAK Pringadi angkatan 1995 itu. Ketika kali pertama berkeliling sendiri, dia memilih lokasi kota lama Surabaya di dekat Jembatan Merah.

Beberapa rumah dan gedung lawas menjadi sasarannya. Sering diusir, sering juga dikira maling. Terkadang pemilik tidak nyaman rumah lawasnya difoto. Terkadang pula para satpam lebih galak daripada pemilik rumah.

”Tapi, sekarang sudah tahu caranya biar tidak dikira maling,” ucap Chris, lalu memandang ke arah Udin. Udin mengalami hal yang sama saat kali pertama mengunjungi bangunan-bangunan lawas itu.

Menurut Chris, setiap kali memotret, hal yang harus dilakukan adalah meminta izin pemilik. Bila perlu, memuji keindahan arsitektur lawas yang masih terjaga. Jika beruntung, dia diizinkan memotret seisi rumah hingga perabot-perabotnya.

Kini aktivitas berburu tempat-tempat bersejarah jarang dia lakukan sendirian. Sudah banyak pencinta sejarah yang giat berkeliling Surabaya. Salah satunya, Komunitas Love Suroboyo. ”Ternyata kalau bareng-bareng lebih enak,” ucapnya.

Sebelum berpisah, Chris menyatakan rasa kecewanya. Sebab, sebelum berangkat dari rumah, dia bingung mencari payung merahnya. Payung yang selalu menemaninya saat berburu tempat-tempat bersejarah.

Karena kebiasaannya itu, pencinta sejarah lain menyebutnya Si Payung Merah. ”Makanya tadi ada orang bawa payung merah, pengen tak beli,” ucapnya, lalu melambaikan tangan untuk berpisah. (*/c7/git/sep/JPG)

Sumber: Jawa Pos. 26 Desember 2016. Hal.25,31

 

15800059_1199928896728888_2044229783553706020_o

The Winner of UC Library Photo Contest

Menginformasikan bahwa pelaksanaan UC Library Photo Contest yang diadakan selama September-November 2016 telah berakhir. Terima kasih banyak kepada Pak Rendy Iswanto dan Pak Samuel Barrel untuk sharing time dan dukungan yang diberikan sejak awal persiapan lomba sampai dengan penjurian.

Selanjutnya, pemenang kategori terbaik diberikan kepada foto atas nama:

Hanson Wijaya (20615036); Judul: Books are like mirrors; Each will represent its readers.

juara-terbaikdsc00723

 

pemenang kategori harapan diberikan kepada foto atas nama:

Bryan Jonathan (40213009); Judul: My Bestfriend

juara-harapandsc00719

Dan pemenang kategori favorit diberikan kepada foto atas nama:

 Hong Felicia Siswanto (10413013); Judul: Yellow has a meaning

juara-favoritdsc00721

Selamat dan sukses untuk para pemenang, dan silahkan kepada 3 pemenang di atas bisa langsung ke Library untuk menerima hadiahnya. Semua hasil karya lomba ini akan dipamerkan di bulan Maret 2017.

See you next event!

Perpustakaan kampus yang Kian Cozy dan Asyik – JAGOAN DI KOLEKSI KEWIRAUSAHAAN

Perpustakaan kampus? Tempat dengan jajaran rak tinggi nan senyap dengan koleksi buku-buku enggak update? Ah, bisa jadi itu perpustakaan tempat kuliah Anda dulu, hehe…. Kampus-kampus ini mampu mewujudkan tempat baca yang cozy (nyaman) dan inovatif. Bikin betah. Tak heran, mereka kerap meluangkan waktu di sela-sela jam kuliah untuk membaca buku di tempat ini. “Kami juga sering mengerjakan tugas kuliah bersama di sini,” ujar Christina.

UC memang sengaja mendesain perpustakaan yang menarik. Dari desain saja, UC Library terlihat asyik. Warna jingga mendominasi dinding UC Library. “Melambangkan jiwa muda yang penuh semangat,” ungkap Kepala UC Library Suzanna Katharina Mamahit.

Lokasi UC Library juga unik. Letaknya di lantai 1,5 alias “satu setengah”. Untuk masuk ke UC Library, pengunjung harus menuju lantai 2 terlebih dahulu. Setelah itu, pengunjung harus turun melalui tangga untuk sampai du UC Library.

Di situ, pengunjung langsung menemui sederetan kursi dan meja warna-warni. Selain itu, ada tempat membaca berupa lesehan.

Berbagai inovasi diberikan pengelola UC Library agar mahasiswa lebih nyaman membaca di perpustakaan. Perempuan yang akrab dengan sapaan Khaty tersebut menerangkan, UC Library memang tidak memiliki tempat luas. Hanya 500 meter persegi. Namun, pihaknya terus berupaya memberikan inovasi dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan di UC Library. Kemarin pengunjung UC Library bisa mengikuti talk show dengan tema table manner. Kegiatan itu diselenggarakan pengelola UC Library setiap bulan.

Narasumber talk show berasal dari perwakilan program studi (prodi) di UC. “Jadi giliran. Bulan ini tanggung jawab prodi mana. Mereka akan mengirimkan perwakilannya jadinarasumber,” ungkapnya. Mahasiswa bebas mengikuti talk show tanpa biaya. “Semua pengunjung di UC Library juga bisa ikut,” ungkapnya. Pemilihan tema lebih umum. Dapat diterima mahasiswa dari seluruh prodi. Dengan kegiatan tersebut, kata Kathy, UC Library tidak pernah sepi pengunjung.

UC Library buka pada Senin-Sabtu, mulai pukul 07.30 sampai 18.00. Saat jam tersebut, mahasiswa UC bebas beraktivitas di UC Library. Bisa membaca, mengerjakan tugas, serta mengembalikan dan meminjam buku.

Kampus yang terletak di kawasan CitraLand itu memang identik dengan program studi entrepreneurship (kewirausahaan). Begitu juga UC Library. Kathy yakin UC Library memiliki keunggulan dalam koleksi buku yang berkaitan dengan entrepreneurship, innovation, dan creativity. “Bisa dikatakan koleksi kami paling banyak jika dibandingkan dengan perpustakaan di kampus lain,” jelas perempuan 52 tahun tersebut.

Hampir setiap bulan, UC Library membeli buku baru yang berkaitan dengan entrepreneurship. Saat ini saja, di antara total 23 ribu koleksi yang dimiliki UC Library, sebanyak 6.900 buku atau 30 persen merupakan buku mengenai entrepreneurship. Jumlah tersebut terus meningkat setiap bulan.

Buku-buku itu juga mendapat tempat lebih spesial. Rak bukunya diletakan paling utama dengan penanda sesuai  tema. Setelah rak buku-buku tersebut, barurah jajaran rak-rak koleksi lainnya terlihat. Kathy menjelaskan, penataan koleksi buku tidak boleh sembarangan. “Ada ilmunya sendiri. Penataan hanya dapat dilakukan oleh pustakawan,” ungkapnya. Dengan begitu, pengunjung UC Library lebih mudah mencari koleksi buku.

Seluruh koleksi buku terdaftar di katalog UC Library yang berada di website UC. Dengan demikian, mahasiswa lebih mudah mencari buku di UC Library. “Judul yang dicari dapat dilihat di katalog tersebut. Tersedia atau tidak,” ungkap perempuan kelahiran Manado, 27 Februari 1964, itu.

Perpustakaan UC juga sudah membebaskan diri dari citra tempat baca dengan penjaga sepuh yang wajahnya selalu manyun seperti di film-film. Sejak diresmikan pada 2006, UC Library punya keunggulan soal pelayanan. Kathy mengajari seluruh pengelola UC Library untuk selalu memberikan senyuman saat melayani pengunjung. “Kami memakai pin bertuliskan library serve with heart. Kalau sudah pakai pin itu, semua pengelola harus mengikuti peraturan yang berlaku,” jelas Kathy.

UC Library juga melakukan jemput bola. Program itu bernama circulation on the spot (COS). Kathy mengungkapkan, seminggu dalam satu bulan, pengelola UC Library berkeliling ke prodi-prodi. Saat itu, mereka menggelar buku-buku yang berkaitan dengan prodi yang dikunjungi. “Misalnya, kami mengunjungi lantai 5 UC. Disana ada prodi apa saja. Ya, kami bawa buku-buku yang berkaitan dengan prodi itu,” jelasnya.

Mahasiswa langsung bisa meminjam buku di COS. Dengan begitu, mahasiswa tidak punya alasan lain untuk malas meminjam buku. Sebab, berbagai kemudahan disediakan UC Library kepada mahasiswa UC.

Bulan ini, tepatnya 26 Agustus, UC Library berulang tahun. Serangkaian kegiatan diadakan hingga sepekan kedepan. Peminjam buku sampai akhir Agustus ini berpeluang untuk mendapatkan door prize. ”Mereka mengambil undian, nanti tertulis dapat hadiah apa,” katanya. Wah, dapat ilmu, dapat hadiah pula.

 

Sumber: Jawa Pos.30 Agustus 2016.Hal.25,35

 

copy-of-perpustakaan-kampus-yang-kian-cozy-dan-asyik_jagoan-di-koleksi-kewirausahaan-jawa-pos-30-agustus-2016-hal-2535

Link Facebook:

https://www.facebook.com/283931771661943/photos/ms.c.eJwNyMERADAIArCNekVBZP~;F2jyD66CcEa1hDn6YXVrTVD9zcAbN.bps.a.552884698099981.1073741828.283931771661943/1079743258747453/?type=3&theater

UC LIB Mascot: “LIB•BOT”

 

Lib-Bot

 

Untuk maskot UC Lib ini konsep utama adalah edukasi yang menyenangkan, serta up-to-date. Maskot ini memiliki desain yang simple, dan cute. Maskot ini juga memberikan kesan fun dari desain utamanya yang simple, yang menggambarkan bahwa perpustakaan juga dapat menjadi pusat rekreasi. Dan bentuk maskot ini mengambil dari sosok robot yang berarti modern, dari ini diharapkan untuk mengubah pandangan orang tentang perpustakaan yang merupakan tempat belajar yang kuno dan menjenuhkan. Didukung oleh warna-warna cerah, kuning, oranye, hijau, dan biru muda yang menciptakan kesan santai, tenang, happy, dan masih menunjukkan kesan Intelligent.

Lib-Bot memegang buku di tangan kanan yang melambangkan ilmu pengetahuan dan jendela dunia, tangan kiri memegang tablet, menggambarkan perpustakaan yang selalu awas akan perkembangan teknologi.

Didesain oleh Devlin Putra C – VCD – 20310030 

(Pemenang Lomba Library Mascot Design Competition 2012)

 

 

Aksara Dunia untuk Warga Kejawan

Aksara Dunia untuk Warga Kejawan. Jawa Pos. 30 November 2015.Hal.32

SURABAYA – ada beberapa penyebab minimnya minat baca di kalangan masyarakat. Salah satunya adalah minimnya perpustakaan. Karena itu, himpunan mahasiswa mekatronika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) mendirikan perpustakaan umum di daerah Kejawan Putih, Surabaya.

Kemarin (29/11) mereka me-launching perpustakaan yang diberi nama Aksara Dunia itu. Peresmian dihadiri Kasi Pemberdayaan Masyarakat BNNP Jatim Destina Kawanti dan Dewan Pendidikan Jatim Sulistyono Sugiono.

Sulistyono mengapresiasi gerakan pendirian perpustakaan umum tersebut. Menurut dia, inisiatif yang datang dari masyarakat, apalagi kalangan muda, perlu didukung terus. “supaya gairah membaca di kalangan masyarakat ini meningkat. Yakni, dengan menjamurnya perpustakaan umum,” paparnya.

Dia mengatakan, masyarakat kini tidak perlu bergantung terus kepada pemerintah. Sebab, masyarakat dapat menjadi bagian dari solusi terhadap permasalahan yang ada. “peran pemerintah tentu ada, tetap mendukung gerakan macam begini. Tetapi, masyarakat juga bebas untuk berpartisipasi,” tuturnya. Dia mengatakan, kedepan pihaknya menyumbang lebih banyak buku.

Perpustakaan tersebut didirikan atas dasar kepedulian mahasiswa. “Di daerah ini masih banyak anak yang belum bisa membaca. Mayoritas orang tuanya juga tidak tamat sekolah,” papar ketua Himpunan Mekatronika Mukhamad Aji Putra. Dengan adanya perpustakaan umum tersebut, masyarakat sekitar diharapkan terdorong untuk gemar membaca. “tidak hanya untuk anak-anak, tetapi ibu-ibu juga boleh datang,” imbuhnya.

Hingga kini telah terkumpul 800 buku. Jenisnya beragam. Mulai buku pelajaran anak-anak hingga buku bacaan untuk kalangan orang tua. “kami mengumpulkan dari beberapa donatur,” kata Aji. Selain itu, pihaknya mendapat dukungan dari Badan Narkotika Nasional (BNN), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jatim, Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya, serta beberapa alumnus. “Alhamdulilah, banyak dapat sumbangan buku,” ucap Aji.

Sumber : Jawa Pos. 30 November 2015. Hal 32.

Pustakawan Bukan Penjaga Buku

    Siapa mau jadi pustakawan? Dari hasil polling penulis terhadap 5.614 siswa SMA di Indonesia tahun lalu, hanya ada 1 siswi yang berminat. Profesi ini masih dipandang sebelah mata. Kerjanya seolah-olah hanya menjaga buku, tenggelam di antara menjulangnya jajaran rak berisi ribuan buku. Apakah profesi ini memang “sepi pekerjaan” dan berprospek suram?

    Indonesia punya lebih dari 200.000 sekolah mulai dari SD hingga SMA, dan lebih dari 3.000 perguruan tinggi. Bayangkan, kalau tiap institusi memerlukan seorang pustakawan, berapa sarjana perpustakaan yang harus disediakan. Untuk perbandingan, jumlah pustakawan Indonesia saat ini hanya sekitar 3.000 orang.

Read more

Perubahan Wajah Pustakawan

    Begitu dahsyatnya revolusi digital sehingga arus informasi mengalir tak terbendung. Menyaring dan mencari informasi di antara jutaan data memerlukan keahlian tersendiri. Pustakawan pada era digital bukan lagi penjaga buku, melainkan lebih berperan sebagai information provider yang membantu memudahkan pengambilan keputusan secara cerdas.

    Jurusan ilmu perpustakaan pun dalam perkembangannya berevolusi menjadi jurusan Information Science, sebab informasi tidak hanya meliputi cetak, tetapi juga dalam bentuk digital dan data visual. Jadi, Information Science memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada ilmu perpustakaan.

Read more

Mengubah Wajah Perpustakaan

    Pendidikan adalah faktor penentu kemajuan sebuah bangsa di masa depan. Maju tidaknya sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas pendidikan. Jika kualitasnya baik, sangat mungkin bangsa itu maju. Sebaliknya, kalau buruk, suramlah bangsa itu.

    Menuju pendidikan berkualitas membutuhkan peranti pendukung. Antara lain, kurikulum yang benar-benar teruji dan efektif. Selain itu, pendidik (guru) yang cerdas dan profesional serta sarana-prasarana yang memadai. Salah satunya adalah perpustakaan yang representatif.

Read more