Bersama Rakyat, KAI Kuat. Jawa Pos.28 September 2018. Hal.4. Dewa Gde S_IHTB

Oleh I Dewa Gde Satrya *) Dosen Tourism Business Universitas Ciputra

Di Peringatan 73 tahun Kereta Api Indonesia (KAI) pada 28 September ini, kunci penting dalam pertumbuhan KA di Indonesia adalah peran serta masyarakat. KA semakin menjadi moda transportasi publik yang mumpuni dan terpercaya. Tetapi, di sisi lain perlu semakin kuat keterlibatan masyarakat untuk keberlanjutan kinerja KA.

AKSI heroik Rohmat menghentikan kereta api Pandanwangi yang sedang melaju dari Stasiun Rogojampi-Stasion Karangasem pada Kamis (23/8) (Jawa Pos, 24/8, hal 8) patut diapresiasi. Aksi serupa mengingatkan kita pada sosok Mbak Dul di Surabaya.

Sama seperti Rohmat yang nekat menghentikan KA dengan cara mengibarkan tongkat yang di ujungnya ditancapkan tas plastik berwarna merah, sebagai tanda peringatan bahaya kepada masinis yang akan melintas rel yang akan patah, Mbak Dul beberapa tahun silam juga melakukan aksi untuk menyelamatkan pengguna rel KA di Surabaya.

Publik di Surabaya khususnya dan netizen menaruh empati atas keteguhan dan konsistensi Abdul Syukur (atau Mbak Dul) menambal jalan berlubang di sekitar kawasan Stasiun Surabaya Kota. Mbah Dul, seorang kakek yang sehari-hari mengayuh becak untuk menyambung hidupnya, melakukan hal yang sederhana tetapi penting untuk kehidupan banyak orang.

Aktivitas yang telah dilakukan selama 10 tahun dengan sukarela itu semata-mata atas dasar kemanusiaan. Yakni, lantaran banyak pengendara jatuh di jalanan yang rusak sementara aparat pemerintah terkait abai. Rohmat juga memberi peringatan akan keselamatan seisi penumpang KA Pandanwangi.

Apa yang dilakukan Rohmat dan Mbak Dul mengingatkan pada sosol Unreasonable People yang digambarkan John Elkington dan Pamela Hartingan dalam bukunya yang berjudul The Power of Unreasonable People (2008). Sikap konkret Rohmat dan Mbak Dul menambal jalan di tengah gemuruh keluhan warga akan zero accident yang melibatkan kereta api, jalanan yang rusak tetapi tanpa aksi konkret, merupakan bukti bahwa modal sosial itu masih ada dan tersimpan di balik gemuruh dan pembangunan fisik negeri ini.

Rohmat dan Mbah Dul mencontohkan, setiap warga negara dapat berkontribusi sekecil apa pun untuk keselamatan bersama yang menunjang kinerja KAI.

 

 

Melawan Sabotase

Proyek rel ganda pantura Jakarta-Surabaya sepanjan 727 kilometer diperkirakan mampu memindahkan 1 juta kontainer dari truk ke KA selama setahun. Dengan sedikit menyerap semboyan TNI, Bersama Rakyat TNI Kuat, manajemen perkeretaapian pun dirasakan perlu membangun spirit tersebut. Targetnya jelas, meminimalkan niat dan perilaku buruk atas perkeretaapian: sabotase khususnya.

Perlu dilakukan secara terus-menerus terobosan membangun niat baik masyarakat. Seperti yang pernah dilakukan pada Febuari 2013, dengan mengurangi bahkan meniadakan atapers-istilah bagi penumpang KA di Jakarta yang biasa duduk di atap KA. Meneg BUMN saat itu, Dahlan Iskan, mementaskan grup musik kebanggaan kawula muda, Slank, sebagai ucapan terima kasih kepada atapers. Hal itu perlu disyukuri.

Mungkin pola serupa dapat diterapkan untuk mengurangi dan meniadakan usaha sabotasi yang tidak kalah ngerinya. KA Krakatau jurusan Merak-Kediri nyaris menabrak dua batu berdiameter 40 sentimeter dan 20 sentimeter yang sengaja dipasang antara Stasion Purwokerto dan Kranggandul pada 24 Febuari.Sabotase itu sangat membahayakan keselamatan penumpang KA bisa anjlok, bahkan terguling. Beruntung, peristiwa itu terdeteksi dan tidak sampai menimbulkan kecelakaan.

Sabotase semacam itu ternyata beberapa kali terjadi di jalu selatan. September 2013, perjalanan KA Turangga jurusan Bandung-Surabaya disabotase saat melintas di jalur antara Stasiun Sidareja dan Stasiun Gandrungmangu, Cilacap. Sabotase dilakukan  warga sekitar dengan melintangkan kayu dan batu sisa bongkaran material di atas lintasan kereta. Sabotase serupa juga mewujud pada aksi menyerobot pintu lintasan KA.

Benar, sanksi tegas diperlukan. Tetapi, yang perlu didahulukan adalah usaha edukasi dan membangun kebanggaan masyarakat dengan berperilaku positif atas perkeretaapian kita. Mengacu pada nasihat Pangeran Samber Nawa I dari Surakarta, manajemen PT KAI perlu menjadikan sasaran strategis perilaku positif masyarakat terhadap KA: rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memiliki), wajib melu hangrungkebi (mawas diri & berani bertindak).

Sedemikian berbahayanya sabotase KA, dapat sisimpulkan bahwa perbaikan infrastruktur yang membutuhkan biaya besar seperti proyek rel ganda Jakarta-Surabaya sangat bergantung pada sikap dan mentalitas masyarakat untuk tidak melakukan sabotase. Termasuk didalamnya adalah tidak menerobos pintu lintasan KA ketika pintu mulai ditutup.

Selamat hari ulang tahun ke-73,KAI. Bersama rakyat, KAI kuat. (*)

 

Sumber : Jawa-Pos.28-September-2018.Hal.4

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *