iTalk (Innovation Talk): Preserving Cultural Heritage of Majapahit

featureBertemakan “Preserving Cultural Heritage of Majapahit”, UC Library kembali melaksanakan iTalk (Innovation Talk) pada Kamis lalu (23/11) yang kali ini kembali bekerja sama dengan Bpk. Akhmad Ryan Pratama (pengampu mata kuliah ISBD-UC) serta komunitas Timur Lawu  dan bertempat di Student & Service Lounge lantai 2 UC. Acara yang dilaksanakan dalam rangka memperingati 724 tahun Majapahit ini mengajak Bagoes Septyan Tri Pamungkas [Aktivis Save Trowulan, mahasiswa HTB-UC], dan Awang Firmansyah, S.Or., M.Kes [Penggiat Wisata Cagar Budaya Komunitas Timur Lawu] sebagai pembicara.

Diacara yang dimulai sekitar pkl 08.00 wib ini, peserta belajar tentang Begitu dahsyatnya kerusakan lingkungan budaya maupun alam yang menimpa peninggalan Kerajaan Majapahit. Kemegahan ibu kota Majapahit yang kini nyaris tak berbekas dan berburu dengan waktu untuk lenyap sama sekali. Salah satu ancaman terhadap sisa-sisa warisan Majapahit adalah industrialisasi yang berkembang sejak abad XIX. Industri yang masih terus berlanjut hingga kini misalnya adalah pabrik batu bata yang jumlahnya ribuan di wilayah ini.

Penemuan berbagai macam artefak, struktur, hingga bangunan warisan Majapahit hingga hari ini masih berlangsung. Bukanlah hal yang luar biasa, jika anda memiliki sebidang tanah atau rumah di wilayah ini kemudian hendak melakukan pembangunan tiba-tiba menemukan suatu warisan yang besar kemungkinan peninggalan Majapahit.

Upaya penyelamatan dan pelestarian peninggalan Kerajaan Majapahit telah dilakukan oleh banyak pihak sejak abad XIX. Arkeolog, sejarawan, arsitek, dan para sarjana dari berbagai ilmu telah melakukan berbagai ekskavasi dan penelitian lainnya guna menyelamatkan warisan Majapahit yang tersisa. Candi dan monumen yang masih ada terus dirawat oleh pemerintah hingga kini.

Masyarakat Trowulan dan sekitarnya juga ikut serta menyelamatkan warisan Majapahit dengan beragam cara. Salah satunya adalah dengan menyelenggrakan industri kerajinan berbasis tradisi dan artefak peninggalan Majapahit. Inisiator industri kreatif ini muncul dari Pak Sabar, seorang pegawai museum yang telah bekerja dengan pendiri Museum Majapahit, Henry Maclaine Pony sejak masa Hindia Belanda.

Diberbagai desa dan dusun di wilayah Trowulan masih kita dapati bentuk-bentuk festival tahunan yang diyakini juga merupakan warisan Majapahit. Festival tahunan berupa ruwat desa juga merupakan wajisan Majapahit. Festival tahunan berupa ruwat desa atau dusun telah dicatat oleh para peneliti Belanda sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Perayaan ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat luas atas kemakmuran yang mereka dapatkan dari sang Maha Kuasa.

Kini, industri lainnya yang ramah terhadap pelestarian lingkungan alam maupun budaya seperti pariwisata telah menggeliat di Trowulan. Beragam pelatihan dan pengembangan kapasitas sumber daya masyarakat lokal diadakan berbagai pihak demi kemajuan bersama. Peran serta kita dalam industri semacam ini diharapkan akan mengalihkan terserapnya sumber daya manusia dalam industri berat yang akan mengancam kelestarian Trowulan. Maka peran serta kita bersama merupakan hal yang mutlak untuk menyelamatkan warisan Majapahit.

collage 3Untuk foto-foto yang lain, silahkan  klik disini.

 

Beringin dan Quo Vadis Partai Politik. Kontan.27 November 2017.Hal.23_Jony Eko Yulianto

Beringin dan Quo Vadis Partai Politik. Kontan.27 November 2017.Hal.23_Jony Eko Yulianto

Ketua umum partai Golkar, Setya Novanto, resmi ditahan ole Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena menjadi tersangka korupsi proyok E-KTP. Ia menjad ketua umum partai politik keempat yang menggunakan rompi kuning KPK menyusul Anas Urbaningrum (Prtai Demokrat), Luthfi Hasan Ishaqq (Partai Keadilan Sejahtera), dan Suryadharma Ali (Partai Pesatuan Pembangunan). KPK menahan Setya meskipun masih harus menunggu putusan pra-pengadilan.

Di saat publik menanti pra-peradilan, tiba-tiba muncullah surat permohonan bermaterai yang ditulis Setya Novanto berisi keinginannya agar ia tidak diminta mundur dari jabatan ketua umum partai berlambang pohon beringin ini. Setya memohon waktu kepada partai untuk membuktikan diri bahwa ia tidak bersalah. Partai Golkar merespon positif dengan Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Idrus Marham, menjadi pelaksana tugas (plt) sampai ada putusan resmi sidang praperadilan.

Putusan partai untuk mendukung Setya ini memicu polarisasi opini di tubuh partai. Sebagian pihak, khususnya pengurus pusat, menyetujui usulan Setya Novanto. Mereka berupaya meyakinkan para kader di daerah agar tidak mendesak pusat memaksakan terjadinya musyawarah luar biasa untuk memilih ketua umum yang baru sebelum hasil putusan sidang pra-peradilan dirilis. Masyarakat kemudian bereaksi dan mempertanyakan komitmen partai beringin ini dalam memberikan dukungan dalam memberantas korupsi.

Fenomena ini menarik dicermati karena telah memantik pertanyaan elementer dari masyarakat. Mengapa partai politik dapat menunjukkan putusan-putusan yang terkesan membela kadernya yang sedang tersangkut kasus hukum? Bukankah partai sebenarnya memiliki visi, misi, anggaran Dasar, danAnggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang seharusnya berorientasi untuk kepentingan rakyat? Bagaimana ilmu perilaku menjelaskan hal ini?

Ilmu psikologi sosial menjelaskan fenomena diatas dengan istilah groupthink. Belum ada padanan kata yang setara dalam Bahasa Indonesia untuk menerjemahkan kata ini. Groupthink adalah situasi dimana kelompok membuat sebuah keputusan yang tidak masuk akal dan bahkan cenderung irasional untuk menolak opini tandingan dari publik atau kelompok oposisi kendati mereka sudah memiliki bukti nyata yang jelas.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1972 oleh Ir Ving Janis, seorang psikolog sosial dari Universitas Yale, saat membedah buruknya politik negeri Amerika Serikat dalam peristiwa gagalnya Invansi Teluk Babi (The Bay of Pig Fiasco) pada tahun 1961, sat itu, Amerika Serikat memutuskan tetap menginvansi kuba kendati CIA tidak memiliki cukup informasi yang sahih. Hasilnya, invansi gagal total dan peristiwa ini tercatat menjadi bagian dari sejarah kelam pemerintahan Presiden John F. Kennedy.

Secara teoritis, groupthink pada partai politik terjadi karena setidaknya lima alasan utama. Pertama, situasi antar-kader parpol yang sangat kohesif. Kedua, keengganan parpol dalam menerima dan mengolah infomasi yang asal dari luar kelompok. Ketiga, lemahnya kualitas kepemimpinan ketua umum, sehingga tidak ada norma maupun prosedur baku untuk mengambil keputusan. Keempat, homogennya ideologi para kader parpol. Kelima, kuatnya ancaman dan tekanan dari piak luar.

Kelima hal inilah yang selama ini berpadu-padan menghasilkan kondisi partai politik yang eksklsif dan antikrilik. Kohesifitas kelompok membuat seluruh anggota mempercayai bahwa sikap kelomponya adalah yang paling benar. Sehingga, ketika terjadi masalha internal, langkah pertama yang diambil adalah penyelamatan partai dan kader meskipun dengan output keputusan yang irasional.

Quo vadis Parpol

Efeknya, parpol melakukan selective attention, yakni hanya menerima informasi yang mendukung dengan pemikiran mereka dan menolak informasi yang kontra. Padakasus-kasus khusus, parpol biasanya juga menunjukkan tindakan untuk mempersuasi pihak lain untuk mengikuti sikap yang mereka ambil. Jika gagal, mereka akan cenderung memberikan label streotip negatif pada kelompok yang kontra dengan keputusan mereka.

Parpol-parpol yang masih kerap menunnjukkan pola-pola perilaku groupthink harus bersiap menghadapi defisit kepercayaan politik. Terlebih, kasus ditangkapnya ketua umum partai beringin memperkuat citra negatif terhadap partai politik. Mari kita bayangkan, empat ketua umum dari empat partai politik besar nasional ditangkap KPK karena kasus korupsi. Hal ini merupakan representasi nyata bahwa eksistensi partai politik masih merupakan ironi pahit.

Ironi karena partai politik sebenarnya memiliki peran penting dalam membawa aspirasi masyarakat. Tapi justru mendapat kepercayaanpublik amat rendah.

Hasil survei kepercayaan publik yang dilakukan oleh polling center Indonesia tahun 2017 merilis bahwa partai politik menduduki peringkat buncit dari 14 lembaga yang diukur. Data ini semakin urgent untuk para parpol mengingat sebntar lagi mereka memasuki tahun 2018 sebagai tahun politik.

Selain itu, munculnya calon independen non-partai di sejumlah pemilihan kepala daerah juga semakin menegaskan bahwa quo vadis partai politik di Indonesia semakin kabur dan penuh onak. Parpol-parpol lama, khususnya yang dikelola dengan sistem kepemimpinan oligarki terbilang masih memiliki cukup banyak pekerjaan rumah dalam meyakinkan publik sebagai lembaga yang transformatif, aspiratif, dan dapat dipercaya. Dalam perspektif bisnis, parpol-parpol yang oligarki tersebut merupakan representasi dari organisasi dengan business model canvas yang usang.

Maka, munculnyapartai-partai baru berisi politisi-politisi muda yang lolos verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mengikuti Pemilu 2019 adalah tantangan nyata untuk parpol-parpol lama. Dalam perspektif kewirausahaan atau entreoreneurship, para politisi muda ini menawaarkan sebuah partai dengan business model canvas yang lebih segar, up to date,  dan dapat memnuhi kebutuhan aspirasi politik masyarakat terutama generasi milenial yang menjadi generasi masa depan, sebagai konsumen poliik.

Jika parpol lama tidak berinovasi dan masih tetap menunjukkan pola-pola perilaku yang groupthink, bukan tidak mungkin pada tahun 2019 nanti akan menjadi momen The Bay of Pig Fiasco untuk mereka.

Sumber: Kontan.27-November-2017.Hal_.23

Asyiknya Mendaki Puncak Crane Putar Kalimas_jika Jatuh, Bergabung dengan Ikan Asap. Jawa Pos.28 November 2017.Hal.25,35

Asyiknya Mendaki Puncak Crane Putar Kalimas_jika Jatuh, Bergabung dengan Ikan Asap. Jawa Pos.28 November 2017.Hal.25,35

SEKALI tombol di tekan, jembatan petekan terbelah. Dua sisinya terangkat untuk mempersilahkan kapal-kapal besar masuk Kalimas. Pengendara mobil, becak, dan sepeda harus sabar menanti jalan tersambung kembali setelah semua kapal itu perlahan-lahan menepi. Mereka mencari tempat sandaran di wilayah pegudangan yang tidak jauh dari jembatan Petekan.

Salah satu kapal dengan muatan lempengan besi bersandar di oosterkade Kalimas. Warga setempat menyebutnya wetan kali (timur sungai).

Besi-besi itu besanan NV Nederlandsch indische Industrie (NII) d kampemenstraat atau kini di sebut jalan KH Mas Mansyur itu adalah salah satu pabrik mesin dan konstruksi terbesar jatim. Pabrik tersebut menangani pembangunan jembatan, perkapalan, pembangunan pabrik gula, serta industri lainnya. Saat perang Dunia II juga membantu Belanda membangun infrastruktur pertahanan.

Sebuah crane putra yang ada di belakang kantor NII jadi andalan untuk bongkar muat. Tanpa towersetinggi 15 meter itu, barang-barang berat dari darat yang bakal di angkut ke kapal. Tidak mungkin hanya mengandalkan otot para pekerja. Saking kuatnya, satu perahu utuh bisa di angkut dengan katrol yang terhubung dengan lengan crane.

Satu abad kemudian, Minggu (26/11). Crane tersebut masih kukuh berdiri. Namun, NII telah berganti nama menjadi PT Boma Bisma Indra. Sebuah badan usaha milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa permesnan, manufaktur, pengecoran, fabrikasi, pembangunan pabrik. Setelah merdeka, Indonesia mengambil ahli peusahaan Belanda itu dan meneruskan bisnis yang sama.

Hari itu, tiga pecinta sejarah dan fotografi, chrisyandi Tri Kartika, rachmat Yuliantono, dan Noor Suyatin, datang pukul 06.30 untuk mengabadikan crane putar tersebut. Rencananya, mereka naik crane untuk melihat detail mesin yang masih tersisa. Meski usia mereka sudah tergolong snior, semangat untuk blusukkan masih membara.

Chris, panggilan akrab Chrisyandi, mengenakan kaus kuning, celana jns, dan sepatu pantofel. Memang begitu gayanya kerja atau blusukan dia selalu mengenakan sepatu kulit berwarna cokelat itu.

Kamera Sony Mirrorless yang sudah tersambung dengan monpod menggantung di lehernya. “aku munggah disik (naik dahulu, Red),” kata pria konsisten menjelajah tempat-tempat bersejarah sejak 2009 itu.

Chris bertugas membuka jalan alias babat alas. Sebab, anak tangga besi untuk naik terhalang banyak ranting pohon beringin. Pohon itu tumbuh bersebelahan dengan crane. Tinnginya pun hampir sama. Untungnya, dua rasaksa tersebut bisa tumbuh berdampingan tanpa merusak satu sama lain.

Satu persatu ranting di patahkan. Hingga akhirnya, tangga bisa dilewati oleh para follower di belakang. Anton, panggilan akrab Yuliantono, melakukan pemanasan. Sit-up, melompat-lompat, dan merentangkan kedua tangannya. Setelah pemanasan singkat, dia menyusul Chris yang sudah setengah perjalanan.

“aku di sini aja,” ujar Noor yang memutuskan untuk menunggu di bawah. Meski ingin ikut naik, Noor merasa medan yang di tempuh terlalu berat. Tak apa. Dia tidak mengeluh. Malah dia berbaik hati untuk memotret kami bertiga jika sudah sampai di puncak. Dia juga memilih berbincang-bincang dengan warga yang mengelolah ikan pari yang di asap. Ikan itu di jemur di kaki-kaki crane.

Saya akhirnya menyusul lewat sisi utara. Sebab, sisi selatan dan timur sudah penuh dengan ikan. Sedangkan sisi barat sudah sungai. Perjalanan naik ternyaa tidak semudah yang dibayangkan.

Meski Chris sudah membuka jalan, ranting-ranting pohon beringin ini terus tersangkut di tas dan tali kamera saya. Wajah juga harus menerjang dedaunan rimbun agar bisa menyusul du orang yang sudah menanti.

Masih 5 meter, kami berhenti. Pintu tangga terkunci. Perjalanan harus di lanjutkan dengan menapaki rangka-rangka besi yang tersusun diagonal.

Chris berkali-kali mengingatkan kami agar  berhati-hati. Salah pijakan, rencana mengabadikan puncak crane bisa gagal total. Kalau sampai terjatuh, tubuh tidak langsung ke tanah. Tapi, harus terbentur berkali-kali dahulu di rangka besi, lalu  bergabung dengan ikan asap.

Kami akhirnya sampai di dek pertama setelah melekuklekukkan tubuh untuk melintasi sela-sela kerangka tower. Ada ruangan kosong yang dulu jadi ruang kendali.

Kaca dan dinding kayu sudah terlihat sangat lapuk. Di dalam ruangan tak berpintu itu, seharusnya ada mesin pengontrol. Tapi hilang entah kemana. Entah di selamatkan perusahaan atau jadi rupiah bagi para penambang besi tua. Yang jelas, hanya tersisa beberapa baut di dasar ruangan.

“jangan masuk. Sepertinya lantainya sudah rapuh,” ucapan Chris yang pernah memanjat tower itu seorang dari empat tahun silam.

Kami melanjutkan perjalanan ke uncak. Untungnya, tidak ada pintu yang terkunci lagi. Di tangga itu, dedaunan semakin lebat.

Begitu sampai di puncak, kami terkesima dengan kecerdasan pembuat crane putar itu. Anton berkali-kali memuji kekuatan gerigi-gerigi mesin tersebut karena masih utuh.

Meskipun telah di terjang ribuan hujan dan diterpa panas, dampak korosif yang di timbulkan tidak begitu menampakan pengaruhnya. Jika dibersihkan dan dilumuri pelumas , susunan gerigi itu masih bisa berputar seperti sedia kala. Tapi, itu hanya bisa terjadi apabila mesin penggerak crane masih ada. Nyatanya, mesin sudah sirna.

Anton bergegas mengeluarkan kameranya. Dai memptret detail-detail mesin dan menjelajah di atas crane. Dia terhenti di ujung utara. Di situ terdapat tuas yang letaknya tidak jauh dari kotak pemberat. “a lot. Pasti dulu ini bisa di putar. Tapi, fungsinya untuk apa ya?” kata pria 46 tahun tersebutsembari terus mencari tahu struktur mesin yang terhubung dengan tuas itu.

Gerigi-gerigi tersebut seperti mesin jam yang rumit. Tapi dalam ukuran jumbo. Sayangnya, sejumlah komponan hilang dijarah. Tutup mesin, tali besi, katrol dan lempengan logam lainnya sudah lenyap.

Di atas sana setiap melangkah harus hati-hati. Sebab, ada lubang di beberapa bagian. Lantai dasar bermotif persegi delpan, mengadopsi bentuk sarang tawon. Lantai itu juga tidak sekuat dulu. Beberapa bagian sudah melengkung. Siap terlepas dari kerangka utama.

Di bawah kami, dua ekskavator amfibi milik pemkot terus mengeruk sedimen. Endapan lumpur di tengah sungai itu memang terus menumpuk dan menyebabkan pendangkalan. Dan,itulah yang dulu membuat lalu lintas perdagangan sungai mati.

Jangankan kapal besar, perahu nelayan saja baal kesulitan untuk melintas. Butuh nahkoda yang hafal betul area dengan kedalaman cukup. Jika tidak perahu bisa kandas.

Dari atas sana juga terlihat jembatan pertekan yang sudah tak utuh. Besi-besinya di jirah bahkan, salah satu tiang nyaris putus. Sedangkan di sisi selatan, puluhan gedung penvakar langit telah mengubah lanskap kota.

Setelah empat pluh menit berada di puncak, kami akhirnya turun. Kasihan Noor yang menunggu di bawah sendirian. Warga setempat yang mengasapi ikan sudah pulang.

Chris menerangkan bahwa area pergudangan itu dulunya punya jaringan rel kereta. Tetapi rel itu sudah tidak terlihat lagi karena tertimbun tanah dan semen. Katanya, dengan mencangkul tanah sedalam 10 meter, besi rel bisa terlihat. “nek ga salah nang kono sik ono rel sing  mencungul (kalau tidak salah di sana masih ada rel yang muncul, Red),” ujar Chris  sambil menunjuk ke selatan.

Kamipun melintasi jalanan tanah tak rata ke selatan dengan motor masing-masing. Benar kata Chris. Masih ada rel yang belum tertimbun tanah. Namun Chris justru lebih tertarik pada gedung-gedung sekitar rel tersebu dan meninggalkan kami yang mengamati rel tua yang sudah keropos itu.

Chris masuk ke salah satu gang dan memotret lambing bundar di atas gerbang salah satu gudang. Detail-detail gedung tua di kawasan itu memang menjadi objek bidikan favorit bagi Pustakawan Universitas Ciputra itu.

Dia mengumpulkan sebanyak-banyaknya foto tempat-tempat bersejarah. Dengan begitu, bentuk bangunan bakalan terabadikan. Jika di bongkar nanti, masih ada kenangan yang tersisa. Sebab, beberapa kali bangunan cagar budaya di Surabaya kalah oleh pembangunan kota. Sebut saja Stasiun Semut, sinagoge di Jalan Kayun,hingga Rumah Radio di Bung Tomo.

Foto-foto tersebut di bagikan ke Grup Surabaya Haritage Society yang punya 6.100 member di facebook itu. Di ruang maya tersebut, para member saling berbagi temuan gedung-gedung dan tempat bersejarah.

Setelah puas memotret, Noor mengajak kami mencari tempat sarapan. Namun, Chris dan Anton tergesah-gesah untuk pulang. Katanya, Chris harus ke gereja. Sedangkan Anton terlanjur pamit ke istrinya kalau keluar sebentar. Tapi, nyatanya hingga tiga jam tidak pulang. “Biar enggak kena marah, tadi saya sudah tinggali uang untuk belanja, hehehe,” seloroh Anton.

Di atas rel kereta itu, kami akhirnya berpisah. Bagi mereka masih banyak tempat menarik lainnya yang bisa di kunjungi. Tinggal atur jadwal agar bisa berangkat bersma-sama lagi. Jadi, sampai jumpa lain waktu.

 

Sumber: Jawa-Pos.28-November-2017.Hal_.25

Program Pariwisata Anies-Sandi. Bisnis Indonesia.31 Oktober 2017.Hal.2

Oleh: Dewa Gde Satrya (Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra)

 

Anies Baswedan-Sandiaga Uno dilantik sebagai gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 pada Senin (16/10). Jakarta tidak hanya ibu kota negara, tetapi juga etalase peradaban Indonesia.

Jakarta yang semakin beradab, toleran dan memanusiakan setiap orang yang ada di dalamnya, menjadi harapan bangsa. Karena itu, kepemimpinan Jakarta yang baru menjadi pilar penting bagi ‘wajah’ Jakarta yang humanis.

Salah satu lembaga penting bagi tumbuhnya nilai-nilai humanisme dan Jakarta yang beradab adalah museum dan ruang-ruang kebudayaan. Anies Baswedan pernah melontarkan gagasan untuk meningkatkan edu-tourism di Jakarta dengan mendorong kunjungan ke museum. Bahkan dia akan mendorong bus gratis untuk warga Jakarta berkunjung ke museum.

Tema besar pembangunan budaya yang disusung pasangan Anies dan Sandiaga adalah Pembangunan Manusia yang dikategorikan sebagai Pilar I dalam program mereka. Di dalamnya, ada aktivitas meningkatkan kualitas pusat budaya di setiap kota, dan membuat festival kebudayaan secara reguler.

Program menarik dari pasangan Anies dan Sandiaga mengingatkan kita akan potensi museum di Jakarta. Karena itu, ada harapan yang besar akan tumbuhnya performa museum di DKI Jakarta, dan meniscayakan peningkatan minat kunjungan ke museum.

Dimyati (2010) mengulas 47 museum pilihan dari 147 museum yang ada di Jakarta. Kekayaan Jakarta akan museum bahkan sangat lengkap, mencakup sepuluh tema museum yang semuanya ada di ibu kota negara ini yakni msueum seni, ekonomi, etnografi, flora, dan fauna, iptek, militer, olahraga, politik, religi, dan sejarah. Masing-masing menampilkan kekhasan, atraksi wisata dan daya tarik yang menggugah harapan terbangunnya citra baru museum yang dicontohkan dari Jakarta.

Keberadaan museum-museum di Jakarta tidak lepas dari peran Ibu Tien Soeharto. Kala itu, Ibu Tien gencar mendorong berdirinya museum, 15 di antaranya berada di area ‘Taman Mini Indonesia Indah’ seperti Museum Asmat, Museum Indonesia, Museum Keprajuritan Indonesia, Museum Komodo dan Taman Reptilia, Museun Listrik dan Energi Baru, Museum Minyak dan Gas Bumi, Museum Olahraga, Museum Perangko Indonesia, dan Museum Pusaka.

Ada pula Museum Serangga dan Taman Kupu, Museum Telekomunikasi, Museum Transportasi, Museum Penerangan, Museum Istiglal, dan Museum Timor Timur.

Di Museum Fauna Indonesia “Komodo” misalnya, pengunjung yang punya penyakit kulit seperti kudis, jerawat, luka bakar, dan bisul. Museum ini menyediakan layanan jasa pengobatan alternatif dengan empedu kobra 2 minggu sekali.

Pengelola museum juga menyediakan layanan wahana interaktif di mana pengunjung dapat memegang ular sanca batik dengan bantuan pawang. Ada juga atraksi tahunan bergelut dengan ular berbisa, di mana para pemain mempertontonkan aksi bertarung dengan ular, mencium mulut King Kobra, mandi bersama ular, memasukkan ular ke dalam lubang hidung dan pementasan spektakuler lainnya (hal. 113). Koleksi Museum Fauna Indonesia menampilkan fauna-fauna khas yang hidup di kepulauan Nusantara, dikelompokkan menurut teritori penyebarannya dari barat ke timur dan diklasifikasikan sesuai dengan habitatnya.

Dari penjelasan penulis tergambar nuansa pengetahuan selera tinggi yang dihadirkan museum ini, yang membuat cakrawala pengetahuan pengunjung akan terbuka lebar emngingat jasa Alfred Russel Wallace, naturalis yang menetapkan garis persebaran fauna di Indonesia (Garis Wallacea) berdasarkan penelitiannya selama 8 tahun (1854-1861) di Indonesia.

Minimnya atraksi dan aktivitas fun yang dapat dilakukan di museum sebagaimana menjadi kendala internal kebanyakan museum di Indonesia, tampaknya tidak terlihat di Museum Taman Fatahillah.

Di sana, pengunjung dapat menyaksikan pagelaran seni kuda lumping, wayang golek, wayang kulit, musik, bazar, kontes burung, menyalurkan hobi komunitas sepeda BMX, skateboard, pecinta motor, foto-foto, berbahasa Inggris dengan turis asing, bersepeda kuno menyusuri Kota Tua, pelatihan membuat gerabah, dan banyak lagi hal-hal menyenangkan dan positif yang bisa dilakukan wisatawan.

Paralel dengan yang direnungkan Hermawan Kartajaya (dalam Ubud the Spirit of Bali, 2010), bahwa berwisata ke museum dapat mempertajam Intellegence Quotient  (IQ) karena di sana kondusif untuk menggali dan menemukan ide-ide baru yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Ide yang berasal dari pembelajaran soal kejayaan, kegemilangan, masa keemasan, bahkan kepedihan, keruntuhan, dan keterpurukan sebuah bangsa.

Museum juga melatih Emosional Quotient (EQ) kita sebagai pewaris bangsa yang kini hidup di jaman modern, dengan tidak merasa lebih rendah dalam pergaulan bersama komunitas global. Betapa bangsa kita kaya akan sejarah, flora dan fauna, seni, dan religiusitas yang seharusnya memampukan kita berketetapan hati untuk percaya diri dan optimistis membangun masa depan.

Dan tentu saja, museum adalah tempat yang ideal untuk membangun Inner Spiritual Quotient (SQ). Bukan dalam arti spiritualitas keberagamaan, melainkan kesadaran jati diri kita sebagai manusia, sebagai salah satu rantai generasi sebuah bangsa.

Apabila IQ  adalah mindware, EQ adalah heartware, SQ adalah soulware. Ketiganya membentuk apa yang dinamakan humanware. Museum menyimpan potensi itu. Pasangan Anies-Sandi diharapkan memiliki program yang serius, dan tentu saja harus kreatif, untuk ‘mengamankan’ koleksi museum di Jakarta, meingkatkan mutu layanan, dan mendorong kunjungan warga ke sana.

Kiranya museum-museum di Jakarta dapat menajdikan ibu kota negara menjadi semakin beradab dan berkebudayaan, melalui para warganya yang menganggap penting arti museum. Selamat bekerja Anies-Sandi.

 

Sumber: Bisnis-Indonesia, 31 Oktober 2017 Hal. 2.

i’Talk (Innovation Talk) | Basic Design Implementation

collage - Copy

Bekerja sama dengan Fakultas Industri Kreatif, i’Talk (Innovation Talk) UC Library kembali hadir dengan tajuk “Basic Design Implementation” pada Kamis lalu (16/11). Acara yang berisi sharing knowledge dari buku ‘Dasar-Dasar Desain’ ini mengundang sang penulis buku langsung, Bpk. Drs. Bambang Irawan sebagai narasumber di acara yang dilaksanakan di Ruang Theatre lt. 7 UC.

Pak Panji Yohanes (Staf UC Library) membuka acara yang dihadiri oleh 155 peserta yang terdiri dari mahasiswa jurusan INA (Interior & Architecture), VCD (Visual Communication Design), FDB (Fashion & Design Business), dan beberapa dosen dan staff yang hadir.

Sebagai moderator ditunjuklah Ibu Soelistyowati (Dosen FDB) memandu acara yang dimulai sekitar Pkl 13.00 wib ini. Di acara ini dijelaskan oleh Bpk. Drs. Bambang Irawan bahwa dalam kegiatan mendesain, desainer mempermasalahkan kebutuhan konsumen, daya beli, seleranya, proses produksinya, lalu merumuskan gagasan bentuk produksinya dalam bentuk sebuah model. Proses desain dimulai dengan tuntutan atau kebutuhan yang  bisa timbul dari pribadi seseorang atau masyarakat luas. Contohnya saat ini perubahan jaman yang semakin berubah membuat tempat minum saja pun dibuat bukan hanya sekedar nyaman dipakai, tetapi juga supaya menarik apalagi jika diproduksi secara masal. Bagaimana membuat orang menyukainya sehingga terjadilah pemikiran-pemikiran dicari solusinya bagaimana cara membuatnya.

Untuk mencari solusi atas kebutuhan tersebut, desainer harus mengerti dan menentukan langkah-langkah  kerjanya agar gagasannya dapat diwujudkan, yaitu dengan menelusuri apa, siapa, mengapa, kapan, dan di mana, kemudian melakukan analisa untuk  mencari bagaimana gagasannya dapat diwujudkan. Dalam tahap mencari “bagaimana” itulah dituntut kreatifitas yang tinggi.

Persyaratan terakhir adalah dibutuhkannya peranan estetika, sehingga semua produk desain tersebut di atas tampak indah atau setidak-tidaknya tampak menarik bagi masyarakat penggunanya. Dengan estetika, suatu bentuk dapat memberikan pengalaman estetis yang berupa greget, perasaan senang, berbagai macam sensasi, aspirasi dan motivasi bagi manusia pemakainya.

Untuk menjadi seorang desainer, ibaratnya menaiki anak tangga maka dia harus melangkahnya mulai dari yang paling awal. Dalam hal ini dia harus mempelajari dan menguasai dasar-dasar desain.

Sekitar pkl. 14.30 wib acara selesai dan ditutup oleh penampilan dari UKM Band Resonance dengan lagu “Hari Bersamanya” dari Sheila on 7.

collage 2

Untuk foto-foto yang lain, silahkan klik disini.

 

 

Photo Exhibition “Majapahit: The Natural Environment & Cultural Heritage”

collage

Rusaknya beberapa situs cagar budaya yang terjadi akhir-akhir ini merupakan sebuah kehilangan besar bagi kita semua. Cagar budaya di Indonesia sangat banyak jumlahnya, butuh peran aktif dari pemerintah dan juga masyarakat untuk bisa merawat serta melindungi cagar budaya tersebut. Dalam lingkup Jawa Timur sendiri jumlah cagar budaya sangat banyak, namun tidak semuanya mendapatkan perhatian yang baik dari pemerintah ataupun masyarakat. Tidak adanya upaya konservasi ini dan ditambah dengan rasa ketidapedulian serta rasa kepemilikan yang rendah, membuat bangunan-bangunan cagar budaya ini semakin tersingkirkan secara perlahan.
Karena itu, UC Library bekerjasama dengan Bpk. Akhmad Ryan Pratama (pengampu mata kuliah ISBD-UC) dan komunitas Timur Lawu mengadakan pameran foto bertajuk “Majapahit: The Natural Environment & Cultural Heritage” dari tanggal 13-30 November 2017 bertempat di Library Lounge UC, lt. 2.
Dalam exhibition ini dipamerkan mengenai kondisi faktual beberapa situs cagar budaya kerajaan Majapahit yang terdapat di Jawa Timur. Situs Majapahit kami pilih karena situs-situs ini terletak di Jawa Timur, dan secara geografis sangat dekat dengan Surabaya. Majapahit juga merupakan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara dan selain itu, pada bulan Nopember ini merupakan bulan peringatan kelahiran Kerajaan Majapahit yang ke 724 tahun. Karenanya dengan memanfaatkan momentum tersebut, kami berupaya untuk memberikan akses informasi mengenai situs-situs tersebut dengan mengadakan kegiatan ini.
Diharapkan melalui pameran foto ini, dapat memberikan informasi yang akhirnya mampu menggugah rasa bangga akan kepemilikan cagar budaya yang ada di Nusantara, sehingga dengan rasa kebanggaan dan rasa kepemilikan tersebut, akan meningkatkan kepedulian untuk menyelamatkan dan melindungi situs-situs cagar budaya yang ada di Indonesia.
Lestari alamku, lestari budayaku.
“The world is getting more connected through technology and travel. Cuisines are evolving. Some people are scared of globalization, but I think people will always take pride in cultural heritage.” 
– John Mackey

i’Talk (Innovation Talk) | THALASSEMIA: How to Prevent it

IMG_3600

Suara merdu Awdella (finalis Rising Star RCTI 2017) mengiringi awal jalannya acara iTalk (Innovation Talk) yang kembali hadir pada Jumat lalu (3/11) bertempat di Student Lounge & Service lantai 2 UC. Mahasiwa IBM bernama lengkap Alda Wiyekedella A.S. ini menjadi vokalis band Resonance (UKM Band) yang bertugas menjadi band pembuka dan penutup acara yang kali ini bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran UC dan Rotary Club. Dimulai sekitar pkl. 11.00 wib, tema yang diangkat di acara yang dihadiri oleh 65 peserta ini, adalah “THALASSEMIA: How to Prevent it”. Thalassemia sendiri adalah penyakit kelainan darah bawaan yang diturunkan oleh kedua orang tua ke anaknya dan disebabkan oleh berkurangnya atau tidak terbentuknya protein pembentuk hemoglobin dan akibatnya eritrosit mudah pecah dan mengakibatkan anemia. Perlu diketahui 1:10 orang Indonesia adalah pembawa gen Thalassemia dan penyakit ini TIDAK MENULAR serta DAPAT DICEGAH.

dr. Andy Cahyadi, Sp.A, sebagai pembicara kala itu menjelaskan, di Indonesia yang paling banyak adalah Thalassemia Beta Mayor (sekitar 3-10%), dan wilayah yang paling tinggi presentase Thalassemianya adalah di Aceh dan di DKI. Hal yang perlu diketahui adalah Thalassemia belum dapat disembuhkan tetapi dapat dicegah, pengobatan yang diperlukan juga mahal karena durasi pengobatan adalah seumur hidup dan komplikasinya banyak. Pertama kali ditemukan di Amerika Serikat, pada tahun 1927. Sebagian besar penderita Thalassemia hanya memiliki usia hidup sampai berusia 30 tahun.
Beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai bentuk pencegahan:
– Sebaiknya orang tua senantiasa memperhatikan kesehatan anaknya
– Perlu dilakukannya penelusuran pedigree/garis keturunan untuk mengetahui adanya sifat pembawa thalassemia pada keluarga penderita thalasemia.
– Sebaiknya calon pasutri sebelum menikah melakukan konsultasi untuk menghindari adanya penyakit keturunan, seperti pada thalassemia.
– Perlu dilakukannya upaya promotif dan preventif terhadap thalassemia kepada masyarakat luas yang dilakukan oleh pelayan kesehatan.

6

7