Pameran Asesoris Interior karya INA Student batch 2017

DSC04943

Bekerja sama dengan Ibu Maureen Nuradhi (pengampu mata kuliah EINAS 1 INA UC), saat ini di UC Library lounge diadakan Pameran Asesoris Interior karya INA Student batch 2017.
INA Student Batch 2017 memamerkan karya desain asesoris interior dari mata kuliah Entrepreneurial Interior Architecture Studio semester 1. Mata kuliah ini memfasilitasi para mahasiswa untuk belajar dasar-dasar desain dan menerapkannya dalam karya dua dan tiga dimensi.
Pameran ini bisa dinikmati di UC Library Lounge hingga 22 Desember ini, dan akan dilanjutkan pada Januari 2018 nanti. Karya ini adalah tugas terakhir mahasiswa EINAS 1 setelah sebelumnya menghasilkan 9 jenis karya yang bisa dinikmati di gallery online di instagram: @ina_aksen.

 

collage

collage 2

Harmoni Alam dan Wisatawan Bali. Jawa Pos. 6 Desember 2017.Hal.4

Oleh Dewa Gde Satrya

MENYINGKAPI pembatalan penerbangan maskapai sejumlah maskapai akibat letusan Gunung Agung, Menteri Pariwisata Arief Yahya telah meminta kebijakan khusus untuk wisatawan yang mengalami flight cancellation, rescheduling, dan re-check in agar diberi tarif khusu, misalnya diskon up to 50 persen. Bukan hanya kebijakan khusus dari maskapai, juga dalam pengurusan visa. Lankah yang diambil sudah tepat meski rasa kecewa dan frustasi di benak wisatawan tak dapat dielakan.

Indonesia berpengalaman mengelola krisi serupa pada masa sebelumnya. Upaya Kemenpar dalam Gunung Raung beberapa tahun lalu patut diapresiasi. Kemenpar telah menyusun standard operating procedure (SOP) pengalihan moda transportasi yang lebih aman bagi wisatawan. Bagi wisatawan mancanegara yang “teperangkap” di Bali, Kemenpar menawarkan dua ahl. Pertama, extension program berupa wisata overland ke Banyaungi atau ke Gili Trawangan di Lombok, NTB. Kedua, bebas biaya kamar horel sebagai kompensasi perpanjangan lama tinggal.

Krisis terlanjur kita pahami sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan. Ban Indonesia Kantor Perwakilan Denpasar menghitung kerugian industri pariwisata dampak penutupan Bnadara Ngurah Rai selama tiga hari yang lalu sebesar Rp 209 miliar. Itu berdasara penghitungan 44.000 turis mancanegara yang batal datang dengan rata-rata belanja sekitar Rp 1.3 juta per hari per orang selama rata-rata tinggal tiga hari di Bali. Angka tersebut ditambah penghitungan batalnya kedatangan turis domestik sekitar 44.000 orang dengan potensi belanja berkisar Rp 520.000 per hari per orang orang selama dua hari. Itu belum termasuk dari kerugian sekitar Rp 11,5 miliar dari pemabatalan 11.031 kamar di 44 hotel dan vila.

Rhenald Kasali (2009:35-36) menyatakan, krsi mengundang kesempatan dan harapan, yaitu kesempatan dan harapan, yaitu kesempatan untuk tampil lebih baik, untuk merebut garis depan, untuk mengalahkan orang-orang/perusahaan yang lemah. Setiap kali krisis, selalu diikuti lima hal ini. (1) Gabung, an dari bencana dan kesemoatan. (2) Menghancurkan sekaligus menimbulkan pasar-pasar baru. (3) Alat bagi Yang Mahakuasa untuk menghancurkan keangkuhan yang tampak dari begitu kuatnya resistansi-resistansi yang dilakukan manusia terhadapa gagasan-gagasan erubahan. (4) Titik belok yang krusial, berbahaya kalau digas, sehingga diperlukan kehati-hatian dan ketepatan. Tapi, begitu berhasil melewati jalan berbelok, banyak peluang terbuka lebar. (5) Terhadap peringatan akan datangnya krisis, belum tentu peringatan itu berakibat krisis.

Karena itu, krisis harus dipahami dari kacamata yang kontradiktif. Krisis adalah peringatan yang bisa berakibat fatal kalu Anda tidak merespon dengan cepat dan bijak.

Wisatawan Unggul

Bencana alam seperti erupsi Gunung Agung sepantasnya tidak hanya dilihat dari sisi negatif. Aspek negatif selalu mengasosiasikan dengan kerugian materiil dan nonmateriil. Rasa frustasi pasti ada, bahkan (berkaca pada erupsi Gunung Raung) imbas kerugian dari pariwisata alam itu amat dirasakan wisatawan,pengelola bandara, dan maskapai penerbangan Citilink, misalnya dikabarkan menanggung kerugiann Rp 5 miliar.

Namun, keselarasan dan harmoni alam semseta serta manusia sebagai bagian dari filosofi Tri Hita Karana menjadi keniscayaan untuk menggali kebaikan dari erupsi Gunung Agung. Karena itu, gagasan Rhenald Kasali perihal krisis di atas memiliki irisan yang tepat manakala dikaitkan dengan profil wisatawan unggilan yang dibutuhkan. Bali khusunya dan Indonesia umunya.

Pesan dan sinyal itu sebenarnya mulai terang benderang saat kunjungan kburan manatn Presiden AS Barack Obama di Bali beberapa waktu lalu. Obama yang memilih Ubud sebagai pusat liburannya mengingatkan kembali akan cita rasa berwisata yang substantif untuk kesegaran jiwa sebagu dmapak keserasian dengan ketenangan alam interaksi dengan kebudayaan. Inilah “pet jalan” seseorang menjadi manusia unggul melalu aktivitas traveling.

Kehadiran Obama mengingatkan pula kehadiran manusia –manusia di masa lampau yang karyanya semasa hidupnya masih diapresisasi hingga sekarang. Walter Spies (Jerman), Rudolf Bonnet (Berlanda), Antonio Blanco (Italia), dan Aris Smith (AS), atas undangan Raja Ubud Tjokorda Sukawati, berinetraksi dan berkarya di Ubud. Bahkan, karya-karya abadi mereka juga berasi dengan totalitas hidup mereka sempai wafat di sana. Di Ubud pula ajang senu udaya mengarahkan emebtukan manusia-mausia unggul. Di antaranya Ubud Writers &Readers Festival, Bali Institute dor Renewal (Gloal Healing Conference), Bali Spriti Festival, dan Humanitad Foundation.

Kehadiran Obama di Ubud dapat dimaklumi manakal melihat jejak orang-orang tersohor dunia lainnya yang pernah singgah di sana. Beberapa tahun lalu Philip Kotler juga datang ke Ubud, bahkan sambutan istimewa melalui kehadiran Museum Marketing 3.0. mereka itulah yang akan menjadi “penyeimbang” profil wisatawan asiang di Bali.

Kita meyakini, wistawan yang paham dengan fenomena alam ini akan bijak menyingkapi flight cancellation, rescheduling, dan sebagainya. Kepada merekalah turisme Indonesia dapat diandalakan. Mereka tidak mudah “termakan isu” atau hoax, samrt, bijaksana, dan loyal. Mungkin erupsi Gunung Agung, salah satunya, akan mengahidrkan harmoni alam dan wisatawan Bali.(*)

*) Dosen Hotel &Tourism Business Universitas Ciputra Surabaya.

 

Sumber: Jawa-Pos.-6-Desember-2017.Hal_.4

Manfaatkan Properti Kayu_Nurita Ayu Kumalasari. Jawa Pos. 7 Desember 2017.Hal.30

GRESIK –  Tema pernikahan simpel dan berkesan alam sedang tren. Tidak terkecuali bagi pasangan pengantin di Kota Pudak. Nurita Ayu Kumalasari, salah seorang pembuat mahar dan seserahan, menunturkan bahwa tema rustic merupakan salah satu contohnya. Itu ditandai dengan pemakaian properti dari kayu dan dominasi warn-warna alami.

“Warnanya memang earth tone kayak putih, beige, peach, krem, cokelat, dan hijau,” ujarnya. Karena itu, alumnus International Business Management Universitas Ciputra Surabaya tersebut tertarik memuat aneka seserahan atau mahar dengan tema laam.

Perempuan yang karab disapa Rita itu membuat kotak tempat cicin pernikahan dalam ranting pohon pinus. Caranya, bagian dalaam ranting tersebut dilubangi. Lantas, di bagian atas ranting kau itu, dibuat tutup yang disekat paku. “Di atas tutupnya aku tamnbahin ukiran tulisan Mr dan Mrs,” ungkapnya. (hay/c20/dio)

 

Sumber: Jawa-Pos.-7-Desember-2017.Hal_.30

Makna Presiden Jokowi Pergi ke Mall. Kontan.15 November 2017.Hal.23

Oleh Dewa Gde Satrya (Dosen Hotel & Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya)

Presiden Jokowi kembali ngemal. Kali ini bersama Presiden Korea Selatan, Moon Jae in ke Bogor Trade Mall. Aksi diplomatik itu ingin menunjukkan kehangatan bangsa Indonesia dan Indonesia aman.

Ada sebuah keberuntungan manakala sebuah produk di  konsumsi oleh orang nomor satu di negri ini. Jelas saja hal itu akan mendorong konsumen untuk berebut membeli produk yang di konsumsi Presiden.

Dua contoh membuktikan hal itu. Pertama, ketika Presiden nonton film “Warkop DKI Reborn Part 1” di Lippo Plaza Bogor, Sabtu (10/9) malam tahun lalu. Tak heran bila film layar lebar itu semakin mengeenang di jutaan para penonton di Tanah Air. Kedua, takala Presiden menggelar jumpa pres 4 November malam, jaket bomber yang di kenakan Jokowi diincar konsumen untuk dibeli.

Seruan ayo berwisata di negri ini, termasuk wisata belanja di dalam negri, dulu pernah menggema. Menjadi semacam serua nasional. Namun, dewasa ini, entah karena seruan itu di nilai telah berhasil mendorong minat warga atau ada alasan lain, kampanye berwisata dan berbelanja di dalam negri tidak pernah lagi terdengar. Dulu, di berbagai kesempatan, di sampaikan imbauan atau ajakan supaya masyarakat Indonesia yang mampu berbelanja untuk tetap berbelanja barang dan jasa produk dalam negri sebagaimana biasanya.

Kita bayangkan kalau warga masyarakat, maksudnya yang mampu, ikut-ikutan tidak berbelanja, lalu siapa yang akan membeli barang dan jasa produk rakyat kita? Kalau kita semua berhenti berbelanja, maka ekonomi negri kita pasti akan berhenti. Berpergian ke mal dalam saat waktu luang Presiden. Memberi keteladanan yang positif. Dalam konteks pariwisata, peranan masyarakat (wisatawan lokal) untuk menggerakkan pariwisata di dalam negri sangatlah penting.

Ada semacam standard yang tidak tertulis, bahwa aktivitas jasa, perdagangan dan setiap hal yang terkait interaksi dengan orang lain, di lakukan untuk saling menciptakan dan meningkatkan nilai lebih di kehidupan. Kesadaran akan nilai tersebut membutuhkan pembiasan terus menerus, dan di lakukan bersama sebagai perayaan yang meriah di setiap masa liburan. Selama liburan dan waktu luang, hospitality mengejawantah. Bisnis hospitality menjadi cerminan kondisi sebuah Negara.

Presiden Jokowi sendiri menjadikan konsumen produk hospitality saat berkunjung ke mall. Hospitality memang tidak sebatas keramahtamahan. Sebagaimana di definisikan Philip Kotler, dkk (2003), ranah bisnis yang sarat dengan service ini mencakup shopping dan penyediaan makanan serta minuman.

Maka tak heran jika dulu Kementrian Pariwisata (Kempar) memasukkan kuliner sebagai bagian dalam industri kreatif. Berdasarkan data yang waktu itu di rilis oleh Kempar, turis asing mengeluarkan 28% kocek untuk kuliner saat berkunjung ke Indonesia. Kemudian, pengeluaran hotel 30%, 15% untuk belanja dan 6,5% sisanya untuk hiburan. Sedangkan wisatawan lokal lebih tertarik merogoh kocek untuk berbelanja oleh-oleh khas daerah tujuan wisata. Perinciannya, untuk keperluan shopping 30%, makanan 15%, dan hiburan 3,7%. Maka ketika berkunjung ke mal, Presiden Jokowi juga menyempatkan makan di food court mal yang di kunjungui.

Perlu Traveling

Hospitality yang semakin semarak pada masa liburan, dan di konsumsi langsung Presiden Jokowi lewat aktivitas ngemal, menyangkut pembentukan karakter sebagai bangsa yang beroretasi menghancurkan segala sesuatu yang terbaik untuk sesame. Pembiasaan memberikan yang terbaik pada orang lain di setiap aspek kehidupan telah di latih dengan medium pelayanan kepada masyarakat. Industri Hospitality terbukti semakin tumbuh di negri ini.

Bagian penting menindaklanjuti aktivitas leisure Presiden Jokowi adalah, perlunya koordinasi, integrasi, sinergi dan sinkkronisasi antara pelaku bisnis leisure di dalam negri untuk memperkuat destinasi wisata berbasis leisure di masing-masing daerah. Dalam peraturan perundangan di Indonesia, bisnis leisure diidentikkan dengan rekreasi hiburan umum (RHU). Tak tanggung-tanggung, ada lebih dari 30 usaha yang masuk dalam kategori itu. Diantaranya, jenis usaha untuk memenuhi kebutuhan kebugaran tubuh, seperti gym dan sport center, termasuk pula industri hiburan music seperti kafe, pub dan impresariat. Sinyal itu sekali lagi menandai bertumbuhnya industri leisure, perhotelan dan pariwisata.

Kepariwisataan semakin menjadi salah satu kebutuhan esensial manusia di samping kebutuhan pokok yang lainnya, kebutuhan berwisata menjadi sangat di butuhkan dalam rangka live balancing dari rutinitas keseharian manusia dan tentu saja untuk meningkatkan ‘antibodi’, berupa ketahanan jiwa dari pemicu stress dan depresi. Maka timbullah usaha-usaha dalam memenuhi kebutuhan berwisata dan leisure tersebut seperti di bioskop, belanja, wisata olahraga hingga tur.

Di bagian lain, aktivitas Presiden Jokowi ke mal juga menyiratkan pesan kepada warga Indonesia prihal cara mengelolah tekanan dan tantangan hidup. Public mengetahui, situasi politik belakang ini mendera dan mungkin pula menekan Presiden. Cara arif Presiden ngemal juga menunjukkan kemampuan kita sebagai bangsa dalam mengatasi tantangan dan mengolah stress.

Ada keterkaitan antara aktivis ngemal dengan ketahanan jiwa. Artinya pula keterkaitan antara traveling dengan kesehatan jiwa bangsa Indonesia.

Di Negara maju seperti Amerika Serikat, deteksi dini depresi di lakukan pada setiap layanan primer kepada setiap pasien yang datang mencari pertolongan medis. Menurut WHO, gangguan depresi mengenai lebih dari 350 juta orang setiap tahunnya. Bahkan, saat ini Federasi Dunia untuk Kesehatan Jiwa (World Federatin of Mental Healt) berfokus pada “Mental Healt in Older Adults”.

Pariwisata sebagai bagian penting dari kehidupan seharusnya di fungsikan sebagai salah satu tools untuk menolong dan mengobati jiwa masyarakat Indonesia. Potensi munculnya stress yang kian sporadic, mulai dari rumah, di jalan, tempat kerja atau sekolah, hingga lingkungan sekitar, berpotensi merapuhkan ketahanan jiwa.

Dugaan mudahnya masyarakat stress dan menderita depresi terkait rendahnya waktu luang untuk leisure dan berwisata. Karena problem serta pemicu stress, khususnya tekanan hidup yang kian berat tak dapat dielakka lagi, maka fenomena empiris relasi dua aspek tersebut seharusnya semakin menumbuhkan ruang dan ketumbuhan untuk traveling.

 

Sumber: Kontan.15-November-2017.Hal_.23