Bunga Bangkai untuk Pangan

Bulan Agustus 2016 lalu, bunga bangkai raksasa, corpse flower, Titan arum, Amorphophallus tilanum mekar serentak di Kebun Raya New York, Washington D.C, St. Louis, Bloomington (Indiana) dan Sarasota Florida, Amerika Serikat (AS). Mekarnya bunga bangkai raksasa serentak di beberapa kota ini membuat masyarakat As bertanya-tanya. Cuma kebetulan, atau tanda-tanda zaman? Jangan-jangan ini jadi pertanda malapetaka yang akan banyak memakan korban?

Karena tanaman ini disebut bunga bangkai, dan 2016 mekar serentak di beberapa kota, dianggap itu pertanda bakal banyak bangkai bertebaran di AS. Mekar serentaknya bunga Titan arum di kota-kota AS tadi, justru menjadi indikasi tanaman langka ini sudah tidak langka lagi.

Hampir semua kebun raya di kota-kota besar di dunia, sekarang punya kolesi Titan arum, dan berhasil membungakannya. Diperkirakan saat ini sekitar 6.000 kebun raya dan arboretum dunia mengoleksi Titan arum.

Pengelola kebun raya sadar bahwa tarik Titan arum sangat tinggi. Saat tanaman ini berbunga, pengunjung akan berdatangan. Titan arum bersama dengan Rafflesia arnoldii, merupakan bunga terbesar di dunia.

Saat Titan arum mekar, tanamannya justru tidak ada. Semua spesies Amorphophallus memang baru akan berbunga saat umbinya sudah tumbuh optimum, dan dalam keadaan dorman (istirahat).

Di seluruh dunia ada 198 spesies Amorphophallus berbagai ukuran dan betuk bunga. Titan arum merupakan yang terbesar dari semua spesies Amorphophallus. Habitat general Amorphophallus tersebar di Asia, Afrika, Australia dan sebagian kepulauan Pasifik.

Titan arum merupakan spesies Amorphophallus asli dari Indonesia, sama dengan Rafflesia arnoldii. Meskipun Titan arum merupakan spesies asli Indonesia, namun nama Titan arum malah tak terlalu dikenal. Masyarakat luas malah sering menyebutnya sebagai Rafflesia, sebab dua spesies tumbuhan beda famili bahkan lain ordo ini sama-sama disebut “bunga bangkai raksasa”.

Beberapa negara beriklim empat musim sudah membudidayakan titan arum di rumah kaca.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa; ada dua spesies Amorphophallus yang dilindungi, yakni Amorphophallus titanium (bunga bangkai raksasa); dan Amorphophallus decussilvae (bunga bangkai jangkung). Meskipun berstatus dilindungi, sekarang dua spesies Amorphophallus ini, terutama Amorphophallus titanium, sudah menyebar ke seluruh dunia. Negara-negara beriklim empat musim mampu membudidayakan, bahkan mengembangkan Titan arum dengan baik di rumah kaca.

Tanaman pangan

Potensi ekonomis Titan arum, sebenarnya bukan pada fungsinya sebagai tanaman hias, terlebih tumbuhan langka. Di situs penjualan online ebay, umbi Titan arum berdiameter 3,5 cm ditawarkan £40, atau sekitar Rp 690 000 diameter 5 cm seharga £ £ 79 (Rp 1.366.000). Situs rareplants menawara=kan biji Titan arum seharga Us$ 15,90 (Rp 206.000) per biji, dengan pembelian minimal tiga biji.

Umbi Titan arum sejatinya bisa menjadi penghasil bahan pangan masa depan. Dari 198 spesies Amorphophallus, hanya Amorphophallus paeoniifolius yang umbinya bisa dikonsumsi langsung. Di Indonesia, umbi Amorphophallus paeoniifolius disebut suweg. Nama Inggrisnya elephant foot yam, dan whitespot giant arum. Di beberapa provinsi di Indonesia, suweg dibudidayakan masyarakat dan dikonsumsi umbinya.

Meskipun suweg muda dibudidayakan, kelestariannya terancam karena konsumennya semakin kurang. Belakangan ini Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI), sedang meneliti suweg untuk dikembangkan sebagai bahan pangan.

Sementara spesies Amorphophallus dikonsumsi tidak secara langsung. Di China, Korea dan Jepang Amorphophallus konjac (kojac, devil’s tongue, voodoo lily, snake palm) dibudidayakan secara insentif dalam skala besar untuk dipanen umbinya. Umbi konjac merupakan bahan pangan penting di China, Korea, dan terutama Jepang. Dari umbi ini dihasilkan glukomanan, yang akan diolah lebih lanjut menjadi konjaki. Di restoran Jepang, konjaku menjadi salah satu menu penting.

Di Indonesia, juga ada spesies Amorphophallus penghasil glukomanan, yakni iles-iles, (porang, Amorphophallus muelleri). Iles-iles sudah dibusidayakan secara terbatas dan diolah menjadi glukomanan, sebagai bahan jonjaku. Rendemen glukomanan iles-iles sekitar 50% dari bobot keripik umbi.

Titan arum berpeluang dibudidayakan secara massalh sebagai penghasil glukomanan. Sebab umbi Titan arum bisa mencarap bobot di rata-rata di atas 10 kg. Kandungan glukomanan bisa di 50%, sama dengan iles-iles. Rata-rate bobot umbi porang (tiga fase tanam, tiga tahun) antara 0,5 sampai 3 kg.

Memang, untuk mencapai bobot di atas 10 kg per umbi Titan arum memerlukan fase tanam lebih lama, bisa setahun. Secara bisnis ini masih menguntungkan, sebab fase tanam hanya sekitar dua kali iles-iles, tetapi bobot umbi bisa sampai tiga kali lipat. Sama dengan iles-iles dan suweg. Titan arum juga bisa dibudidayakan di bawah tegakan tanaman keras.

 

Sumber: Tabloid Kontan, 24 Juli – 30 Juli 2017, Hal. 21

Tyovan Ari Widagdo_Meretas Hidup dengan Bahasa

Tyovan Ari Widagdo (27) belum jadi sarjana ketika dipercaya mengelola dana sekitar Rp 6 miliar untuk mengembangkan aplikasi belajar bahasa inggris, Bahaso. Dua tahun berjalan, Tyovan mengajak 25 anak muda bekerja di perusahaan pengembang aplikasi itu. Ia kini mulai membalas budi atas anugerah itu kepada ratusan ribu orang Indonesia.

Oleh Herlambang Jaluardi

“Aku baru pulang kemarin dari Banda Aceh menyerahkan beasiswa untuk 1.000 perempuan Aceh belajar bahasa Inggris,” kata Tyovan di kantornya, Jumat (15/12), di daerah Gambir, Jakarta Pusat. Ia adalah chief executive officer (CEO), alias pucuk pimpinan PT Bahaso Intermedia Cakrawala, perusahaan pengembang Bahaso.

Di luar ruang rapat yang sejuk itu, suasana riuh oleh gurauan pekerja yang sebaya dengan Tyovan.  Mereka sedang berbagi donat. Sekitar setengah jam kemudian, suasana senyap. Mereka tekun menghadap komputer masing-masing.

Para penerima beasiswa di Aceh itu adalah penghasil kerajinan rumah tangga. Harapannya, jika mereka pandai berbahasa Inggris, mereka bisa berjualan dengan pembeli mancanegara lewat internet.

Penerima beasiswa bisa mengakses kelas premium di aplikasi Bahaso. Peserta ajar kelas premium membayar Rp 100.000 per bulan. Namun, ada juga materi yang bisa dinikmati gratis, dengan fasilitas terbatas. Total pengguna aplikasi itu kini mencapai angka 350.000 orang, sebanyak 30 persen, di antaranya, adalah pengguna premium. Pendapatan perusahaan itu diperoleh oleh pelanggan berbayar. “Jadinya, sistem subsidi silang,” katanya.

Perusahaan itu ia kembangkan dari dana investor sebesar 500.000 dollar AS, atau sekitar Rp 6 miliar, yang ia peroleh pada 2014. Baru-baru ini mereka mendapat bantuan modal berikutnya dari perusahaan telekomunikasi dalam negeri. Suntikan dana itu membuat perusahaan Tyovan lebih leluasa mempromosikan aplikasi tersebut.

Tyovan berencana memberi beasiswa kepada sektiar 100.000 orang. Selain di Banda Aceh, ia juga telah membagikan beasiswa itu di Bojonegoro, Manado, Wonosobo, dan Kabupaten Lampung Timur. Bahaso rupanya juga dipakai pekerja migran asal Indonesia, seperti di Dubai dan Hong Kong.

Cari solusi

“Kurikulum di pedidikan formal (sekolah) masih fokus pada bagaimana mendapat nilai ujian tinggi, bukan bagaimana menggunakan bahasa itu dengan semestinya,” katanya. Kebutuhan itu berusaha dipenuhi lembaga kursus. Sayangnya, tidak semua orang bisa kursus. Selain kendala jarak dan waktu, biaya kursus juga relatif mahal. Tyovan memotong kendala tersebut, dengan menyebarkan materi pengajaran melalui internet. Apalagi, pengguna ponsel berbasis Android makin jamak.

Tyovan mengembangkan aplikasi pengajaran bahasa saat dia berkuliah di Jurusan Ilmu Komputer Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta. Proyek ini meluluskan dia dari kampusnya walau dengan nilai skripsi pas-pasan. “Selama kuliah, nilaiku memang selalu nasakom (nilai satu koma, alias tak sampai dua),” katanya tertawa.

Nilainya yang jeblok itu adalah akibat dari sering membolos. Ketika kuliha, ia mengurusi perusahaan yang ia bangun sejak kelas dua SMA, yaitu Vemobo. Perusahaan itu membangun web dan aplikasi serta konsultan teknologi.

Keajaiban dunia IT memikat Tyovan sejak remaja. Ia sering menghabiskan waktu main gim video meski tak punya alatnya di rumah. Uang sakunya sering habis untuk membayar sewa PlayStation. Namun, dia tak cuma bermain gin, dia pun mencoba membuat gim. Dia sering menghabiskan waktu di warnet mempelajari teknologi informatika yang sebagian besar berbahasa Inggris.

Ia punya kamus, tetapi uang jajannya terlalu sedikit untuk menyewa warnet. Dengan uang saku hanya Rp 5.000 per hari, dia bisa mengakali dua warnet di kota Wonosobo yang bertarif Rp 10.000 per jam. Ayah dan ibunya bukan orang berada. Mereka berdagang tahu kupat di trotoar kota Wonosobo.

Waktu kelas satu di SMA Negeri 1 Wonosobo, kejahilannya pernah menggegerkan sekolah. Virus “pelajar” yang dibuatnya menyebar ke semua komputer sekolah. Walaupun membuat penawar, ia dihukum dilarang memakai komputer di laboratorium.

Kegandrungannya akan komputer tersalurkan setelah dia menjadi penyiar radio sekolah. Saat itu dia pun sempat merancang web berisi informasi lengkap tentang pariwisata Wonosobo bernama e-wonosobo. Setelah itu, orderan membangun website pun berdatangan dengan upah sampai Rp 3 juta.

Suatu ketika ia mendapat proyek dengan nilai Rp 25 juta dari instansi pemerintah. Usaha untuk mendaftarkan perusahaannya kandas. Sang notaris yang didatanginya meminta dia datang lagi ketika sudah cukup umur, sesuai undang-undang.

Kejahilannya muncul lagi. Ia menuakan umur di kartu identitas. Berbekal identitas fiktif, dia berhasil mendaftarkan diri sebagai pemilik perusahaan teknologi informatika bernama CV Vemobo Citra Angkasa.

Uang proyek yang ia terima tunai itu ia belikan laptop pertamanya. “Tetap saja enggak dilirik cewek, mereka milih cowok yang punya motor, ha-ha-ha,” ujarnya.

Perjalanannya berlanjut di Jakarta. Saat kuliah di Binus Jakarta, ia berjejaring dengan praktisi TI lain, juga pelaku usaha rintisan (startup). Bisnis Vemobo pun tetap langgeng. Kiprahnya itu membuat dia diundang Universitas Stanford di AS sebagai wakil dari Indonesia di ajang ASES Stanford Summit and Pitch IT pada 2013.

Di sana ia “menziarah” Silicon Valley dan Silicon Alley-kiblat kancah TI dunia, serta memperluas relasi. Dalam pesawat di perjalanan ke Tanah Air, Tyovan terpikir membuat sesuatu yang berguna bagi orang banyak, berbasis teknologi. Gagasan itu mewujud pada awal tahun 2015 dalam bentuk Bahaso. Ia sedang terancam drop out kuliah. Bahaso menyelamatkan akademiknya.

Setelah meraih gelar sarjana, Bahaso tetap ia hidupkan. Ia mencari pakar bahasa Inggris demi menyusun konten pengajaran. Gayung itu disambut Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia. Peserta ajar Bahaso mendapat sertifikat dari kampus itu.

Kehidupan Tyovan sudah jauh berbeda ketika umurnya belum lagi 30 tahun. Ia tak lagi kepingin punya motor karena ada Toyota Fortuner berkode inisial namanya di pelat nomor. Ia berumah di daerah Joglo, Jakarta Barat.

Tyovan belum hendak berhenti. Ia ingin menua seperti Bill Gates, panutannya, yang menyantuni banyak orang di dunia. Pembagian beasiswa kelas bahasa Inggris adalah langkah kecilnya.

 

Sumber: Kompas.23-Desember-2017.Hal_.16

Neng Herti_Penjaga Toleransi Kampung Tengah

Di tengah merebaknya ujaran kebencian di media sosial, warga Kampung Tengah, Kramatjati, Jakarta Timur, tetap guyub. Warga Muslim dan Kristen hidup berdampingan penuh persaudaraan. Neng Herti (48) punya peran dalam memelihara toleransi di kampung itu yang sudah berlangsung puluhan tahun

Oleh Jumarto Yulianus

Perempuan kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, itu menetap di RT 001 RW 008 Kelurahan Tengah sejak 1989 karena menikah dengan M Rivai (61), warga setempat. Sejak tinggal di sana, ia terkesan melihat kehidupan warga yang rukun meski memiliki latar belakang etnis dan agama yang berbeda-beda. Ia senang menjadi bagian dari masyarakat yang guyub dan toleran di Kelurahan Tengah.

Ia tidak ingin semangat toleransi yang sudah puluhan tahun terjaga hilang begitu saja karena pengaruh negatif dari luar kampung. It sebabnya, ketika dipercaya sebagai Ketua RT 001 R 008 Kelurahan Tengah pada 2003, ia bertekad mempertahankan keguyuban dan toleransi di kampungnya. Ia tidak pernah bosan  mengingatkan warganya, terutama yang baru tinggal di Kampung Tengah, untuk saling menghargai perbedaan. Ia ingin agar umat Islam dan Kristen, khususnya di Gang Eka Dharma, bisa terus hidup berdampingan sebagai saudara.

“Saya selalu mengingatkan warga pendatang baru di lingkungan kami untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan warga kami. Siapa pun yang tinggal di sini harus toleran dan menjaga kerukunan antarumat beragama,” kata ibu tiga anak yang sampai tahun ini masih menjabat ketua RT. Total sudah sekitar 14 tahun atau 5 periode Neng menduduki jabatan tersebut.

Di gang sempit yang hanya muat untuk dilewati satu sepeda motor itu terdapat dua tempat ibadah dari dua umat berbeda. Sekitar 50 meter dari mulut gang, berdiri Mushala Al Mukhlashiin. Masuk lebih ke dalam lagi, sekitar 50 meter dari mushala, ada Gereja Kristen Pasundan Kampung Tengah, gereja dibangun tahun 1970-an, sedangkan mushala dibangun awal 2000.

Belakangan ini, Neng semakin giat menggaungkan pesan-pesan toleransi karena ia merasa hubungan harmonis umat Islam dan Kristen akhir-akhir ini sedang diuji. Warga RT 001 RW 008, yang berjumlah sekitar 300 jiwa dari 89 keluarga, diharapkan tidak terpengaruh oleh sentimen dari luar kampung yang berpotensi merenggangkan persaudaraan warga.

Menenangkan warga

Ujian cukup besar datang saat perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017. “Ya, pas pilkada, sempat ada sedikit ketegangan. Maklum, warga memiliki pilihan masing-masing untuk pasangan calon gubernur dan wakil gubernur,” ucap Neng.

Pada waktu itu, ada yang memasang spanduk berisi tawaran menjadi tim sukses salah seorang pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Spanduk itu dipasang tepat di depan jalan masuk menuju Gang Eka Dharma. “Saat itu, (pemasangnya) langsung saya nasihati. Di sini tidak boleh menunjukan hal-hal politik seperti ini karena nanti bisa memecah belah,” tutur Neng menegur warganya. Tak lama kemudian, spanduk itu pun dicabut.

Selesai masalah spanduk, Neng kembali dipusingkan masalah pilkada. Grup Whatsapp warga Gang Eka Dharma dimanfaatkan sebagaian warga untuk meneruskan pesan kampanye berbau SARA (suku, agama, ras dan antargolongan). Pesan yang diperoleh dari jagat digital itu tidak disaring terlebih dahulu.

Saat itu, Neng benar-benar panik karena takut terjadi perpecahan di antara warga. Ia pun langsung mengontak warga yang menyebarkan ujaran kebencian melalui pesan pribadi. “Ibu, tolong jangan begini ya. Kita semua kan saling menjaga toleransi dan keberagaman. Kalau seperti itu, nanti ada yang tersinggung. Jangan pernah kirim seperti itu lagi ya.”

Neng bersyukur, warga masih mau mendengarkan imbauannya sehingga tidak sampai terprovokasi saat ada kepentingan politik menyusup. Seusai perhelatan pilkada, warga pun kembali tenang. Semua bisa saling menghargai pilihan masing-masing dan bersatu lagi. “Ya, kalau kerikil-kerikil masalah itu pasti ada, tetapi selalu bisa diselesaikan,” kata perempuan berdarah Sunda ini.

Merangkul semua

Salah satu keberhasilan Neng menenangkan warga saat ada provokasi dari luar ialah kemampuannya untuk merangkul semua warga dan tokoh-tokoh agama. Neng yang beragama Islam membangun hubungan baik dengan pendeta Gereja Kristen Pasundan Kampung Tengah saat ini, Maygolin Carolina Tuasuun. Dengan pendeta-pendeta sebelumnya, hubungan Neng juga baik.

Neng yang berasal dari keluarga Islam tidak pernah risi bergaul dengan siapa saja. Pasalnya, sejak kecil ia dididik oleh orangtuanya untuk bersikap baik kepada siapa saja, termasuk yang memiliki latar belakang berbeda. Mendiang ayahnya pernah berpesan, “Agamamu harus dipertahankan. Namun tetaplah bergaul baik dengan siapa saja. Dan jangan pernah memaksakan agamamu kepada orang lain,” kata anak kesembilan dari 10 bersaudara ini menirukan pesan tersebut.

Elang Darmawan, suami Pendeta Magyolin, mengakui kepemimpinan Neng yang merangkul dan mengayomi semua warga. Karena itu, pada pemilihan ketua RT 001 RW 008 beberapa waktu lalu, warga secara aklamasi memilih kembali Neng. “Kalau pemilihan ketua RT lagi, kami masih tetap mendukung Ibu Neng,” ujarnya.

Neng yang sudah lima periode menjadi ketua RT akan mengakhiri masa baktinya pada Oktober 2018. Ia pun tidak ingin berlanjut enam periode karena ingin fokus mengurus suaminya, M Rivai, yang mulai sakit-sakitan. “Sudahlah, ini tahun terakhir. Sudah susah mengurus warga semenjak suami sakit,” ucapnya lirih.

Rivai atau kerap disapa Aceng dalam setahun sudah terserang lima penyakit, mulai dari kurang kalium, prostat, hernia, pembengkakan kaki, sampai yang paling parah stroke. Pada 17 Agustus 2017, Aceng menjalani operasi hernia. Kini, kesehatan Aceng mulai pulih. Stroke yang pernah melumpuhkan badannya juga tidak kumat lagi.

Namun, sebagai istri, Neng tetap mengkhawatirkan kondisi suaminya. Ia juga perlu memberikan perhatian lebih kepada suaminya yang rentan terserang penyakit. “Saya yakin, warga di sini mampu menggantikan tugas saya nanti. Sebagai ketua RT, kan, tinggal menjaga dan meneruskan apa yang sudah baik saja,” katanya.

Neng berharap kerukunan dan persaudaraan antarumat beragama di Kampung Tengah tetap terbina dengan baik sampai kapan pun. Meski kelak tak lagi menjadi ketua RT, Neng masih tetap bersedia membantu agar api semangat toleransi di Kampung Tengah tetap menyala.

 

Sumber: Kompas.21-Desember-2017.Hal_.16

Nasib Tanah Abang

Bagus Marsudi

 

Penataan Kawasan Pasar Tanah Abang masih menjadi polemik. Konsep penataan yang disodorkan dan dimulai oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendapat tanggapan beragam dari banyak pihak. Bukan cuma pengamat dan institusi, bahkan sebagian pedagang dan pengusaha transportasi dikawasan itu juga tidak sedikit yang kontra. Keberpihakan pada pedagang dengan memberi ruang jualan di jalan belum dianggap sebagai solusi terhadap masalah di kawasan tersebut.

Justru kini yang terlihat malah kesemrawutan. Tingkat kemacetan di kawasan itu kembali meningkat drastis. Menurut pengamatan dan survei dari Dirlantas Polda Metro Jaya, dalam beberapa minggu terakhir, tingkat kemacetan di Tanah Abang meningkat sampai 60%. Padahal, beberapa tahun lalu, banyak yang menganggap kawasan itu menjadi lebih nyaman setelah ada pengaturan dan penertiban kendaraan dan angkutan umum secara teratur.

Yang lebih ironis, para pedagang yang selama ini menyewa dan menempati kios-kios di beberapa blok pusat perbelanjaan itu juga merasakan imbasnya. Penjualan sepi karena pembeli berpikir ulang untuk belanja ke Tanah Abang. Ini belum termasuk faktor belanja daring yang bebas kemacetan. Bahkan, Pasar Tanah Abang Blok G yang sempat menjadi salah satu ikon kini sudah tinggal pedagang.

Jika tidak ada solusi yang nyata untuk pembenahan kawasan itu, cepat atau lambat, pijar Kawasan Perbelanjaan Pasar Tanah Abang kian meredup. Soalnya, kini pembe sudah memiliki banyak alternatif untuk mendapatkan barang dengan harga kompetitif. Banyak market place yang diisi oleh pedagang, bukan cuma dari Tanah Abang, membuat konsumen punya banyak pilihan pemsaok, hanya dengan membandingkan harga dan kualitas. Bahkan bnayak pemasok daring tak perlu lagi bikim toko luring lantaran sudah punya langganan tetap.

Yang dibutuhkan oleh ribuan pedagang dan mereka yang selama ini hidup dari ekonomi di Kawasan Tanah Abang adalah kebijakan yang konsisten. Problem beda pemerintahan beda kebijakan  justru akan menjadikan kawasan itu hanya sebagai objek persaingan, bukan aset berharga yang perlu dikembangkan. Apalagi jika kebijakan itu hanya melihat dari sisi jangka pendek, tidak mempertimbangkan keberlangsungan roda ekonomi dikawasan itu. Seharusnya komunitas pedagang di Kawasan Tanah Abang berteriak keras untuk mempertahankan masa depan mereka.

 

Sumber: Kontan.-Sabtu-27-Februari-2018.-Hal.-18

Menjaga Hasil Karya Berbahan Baku Barang Bekas

Beberapa orang mengerjakan pohon buatan. Bahan yang digunakan antara lain kertas koran, botol air mineral, kantong plastik, kelobot atau kulit jagung, daun, ranting, hingga aneka biji-bijian. Pohon setinggi 1 meter itu dikerjakan selama tiga jam.

Membuat pohon natal atau artifisial menggunakan bahan sampah yang sudah di daur ulang adalah salah satu kegiatan rutin yang digelar Asosiasi Pengusaha Bunga Kering dan Bunga Buatan Indonesia (Aspringta) Jawa Timur. Beranggotakan 60 pelaku usaha, organisasi ini ingin terlibat dan mewarnai kegiatan perekonomian di Tanah Air.

Karya perajin untuk hiasan dirumah, gedung, atau hotel itu umumnya berupa bunga kering,hiasan.pernak-pernik, hingga lukisan. Semuanya menggunakan bahan baku barang beksa atau sampah kering. Kerajinan yang dibuat perajin-yang rata-rata sudah berumur-itu bahklan merambah pasar luar negri.

Ketua Aspringta Kota Surabaya (Jawa Timur) Safni Yeti, yang ditemui di sela-sela pameran bunga kering dan buatan, beberapa waktu lalu, menyebutkan kendati dibuat dari barang bekas, psar daun kering, biji-bijian, dan ranting pohon itu justru keluar negri. Semua bahan bakunya menggunakan bahan lokal dan alami.

“kami, perajinyang rata-rata sudah berumur diatas 50 tahun konsisten pada jalur memuliakan barang-barang yang tak berguna” katanya

Perajin sekaligus pemilik usaha bunga kering dan buatan di Surabaya ada yang sudah 80 tahun, tetapi masih kreatif dan tak henti membuat pernak-pernik berbahan baku alami. Tentu saja, hiasan yang dibuat itu disesuaikan dengan tren yang berlaku di msyarakat.

Dahulu bunga kering, pernak-pernik, dan lukisan itu untuk mempercantik ruangan berukuran besar. Maka, hisaan pun dibuat dengan ukuran yang bisa setinggi 3 meter. Namun, kini ukuran hiasan disesuaikan dengan ruangan yang trennya kearah minimalis dan kecil.

“Produk kami kini digandrungi keluarga muda yang tinggal di apartemen sehingga ukuran berbagai hiasan itu tidak lebih dari 50 sentimeter, “kata Supardi,perajin asal Surabaya yang menggunakan bahan baku utama eceng gondok.

Pasar Ekspor

Pada umumnya, perajin hiasasn dan pernak-pernik ini menekuni usaha mereka karena panggilan jiwa. Meskipun, ada juga perajin yang pada awalnya hanya coba-coba dan mengisi waktu luang yang lantas berlanjut.

“Jadi meskipun sudah berusia lanjut, mereka masih bisa membuat karya sesuai zaman,” kata Nanik Heri, pemilik kerajinan daun kering.

Nanik, ibu dari tiga anak ysng meniti usaha bersama almarhum suaminya Heri, setiap tahun memngekspor kotak tempat abu jenazah. Setidaknya, 30.000 kotak terbang ke iNggris, Belanda, dan Spanyol per tahun.

Ditengah kesibukannya mengerjakan pesanan yang membanjir dari luar negri, Nanik tetap berupaya membagikan ilmu kepada perajin lain atau orang-orang yang ingin mempelajari cara mengolah dan berkreasi debgan daun kerig. Ilmu yang dibaginya itu terkait cara mengolah daun kering agar bernilai tinggi.

Bagi anggota Aspringta Surabaya, tak ada barang bekas yang tak berguna. Produk mereka, meski dari limbah, tetap digemari konsumen domestik dan asing.

Untuk itu, Aspringta berusaha mencari orang-orang berbakat dan mencintai kerajinan berbahan baku alami. Salah satu caranya, anggota aspringta secara bergiliran berbagi ilmu mengolah limbah kering menjadi barang bernilai ekonomi.

“Anggota kami rutin diundang pemerintah daerah dari Sabang hingga Papua untuk berbagi ilmu. Syarat pelatihan  di setiap daerah tetap sama, yakni bahan bkau disesuaikan dengan yang tersedia di daerah it. Misalnya, di Nusa Tenggara Timur mudah menenmukan kelobot jagung, di Sulawesi gampang menenmukan daun kering dan biji-bijian, begitu juga di Kalimantan,” kata Safni.

Dengan menggunakan bahan baku yang tersedia di daerah masing-masing, hambatan untuk berkarya bisa dikurangi.

Hal serupa juga dilakukan Wiwit Manfaati, perajin yang menggunakan bahan baku eceng gondok. Wiwit juga kerap berbagi ilmu hinga ke Papua dan Papua barat. Sambil berbagi ilmu, Wiwit mencari pengusaha baru yang bisa bergerak dikerajinan bunga kering dan buatan.

Upaya mencari pelaku usha yang bersedia menekuni kerajinan berbahan baku limbah kering juga dilakukan Ani Susilowati. Selama ini, Ani sukses mengembangkan kerajinann dari karung goni bekas yang diperoleh dari psar loak di Surabaya itu dikreasikan menjadi bunga.bros, dan tempat tisu.

Sama seperti perajin lain yang bergabung di Aspringta, Ani tidak ingin kerajinan berbahan baku barang bekas itu tersisih karena kekurangan pengrajin. Sambil berkreasi, para pelaku usaha tersebut berbagi ilmu dan menjaga napas kerajinan berbahan baku barang bekas.

 

Sumber: Kompas-Minggu-28-Januari-2018.hal_.-12

Transformasi Manusia di Era Digital

Oleh Ellen Rachman & Emilia Jakob (Experd Character Building Assesment & Training)

 

ARTIFICIAL Intellegence , superkonektivitas, alat-alat digital yang canggih, informasi ‘realtime’, lingkungan virtual, dan beragam inovasi yang merupakan terobosan teknologi yang selama ini kita sangka hanya dalam film-film science fiction ternyata sekarang sudah menjadni bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Selamat datang di era digital!

Kita menyaksikan mayoritas perusahaan ritel menunjukkan perubahan. Banting harga, buka tutup toko, bahkan beberapa dari mereka sudah mnegecilkan ukuran perusahaan karena ancaman disrupsi ini. Hanya perusahaan yang melihat disrupsi ini sebagai kesempatan yang bisa berhasil bertahan.

Pada 1963, Leon C Megginson, pernah menyatakan, “it is not the strongest of the species that survives, nor the most intellegent, but the one most responsive to change”. Saat sekarang, pada abad milenial ini, kapasitas organisasi sebetulnya terletak pada kumpulan dari pemikiran para individu didalamnya, yang tidak bisa hanya beradaptasi dengan perubahan, tetapi juga harus mendorong perubahan dan bahkan menggalakkan inovasi. Kita tidak boleh hanya puas dengan berada dalam situasi yang relevan, tetapi juga harus selalu siap berubah bahkan bertransformasi, berubah bentuk.

Transformasi bisnis atau organisasi sebetulnya tidak lain dan tidak bukan adalah transformasi manusia-manusia di dalamnya. Jadi, fokus siapakah tugas mentransformasi manusia dalam organisasi kalau bukan departemen sumber daya manusianya?

Bila bebicara mengenai  departemen sumber daya manusia di sebuah organisasi, dengan cepat kita kan membayangkan evaluasi kinerja, struktur organisasi beserta tingkat jabatan, pangkat, job description, dan segala macam tata car4a kenaikan pangkat dan remunerasi, yang di desain lebih dari 20 tahun lalu ketika zaman sangat berbeda dengan keadaan sekarang ini. Namun, saat sekarang, baru segelintir perusahaan yang sudah berani meniadakan pengukuran 360 derajat, dan malahan ada lembaga-lembaga pemerintah yang baru saja memulai menjalankan evaluasi kinerja yang lebih transparan.

Sadar tidak sadar,kita msiah menggunakan cara lama untuk menangani tenaga kerja yang sudah berada dan terpengaruh era digital ini. Di sinilah sumber permasalahannya, mengapa dalam organisasi kita tidak kunjung menghasilkan pemikiran-pemikiran inovativ. Bila manusia nya dikelola dan dikembnagkan dengan pola pemikiran lama, bagaiman organisasinya mau tampil berpikiran baru? Bagaimana kita menanggapi lingkungan yang sudah demikian berbeda dengan tetap diam dan meneruskan praktik lama?

Namun, mudahkah untuk keluar dari status quo dan memulai sesuatu yang baru, sementara praktik lama sudah dilakukan puluhan tahun?

Tinjau ulang konsep karier

                Di sebuah perusahaan kecil, ketika seorang programmer yang lincah dan bersemangat baru begabung, ia bertanya, bagaimana jenjang karir saya disini? Pimpinan menjawab, “ Tidak ada jenjang karier di sini, kita semua disini adalah tim. Bila kamu berprestasi, kami akan memberimu peran yang lebih besar”. Si programmer kemudian ragu dan kembali ke perusahaan lamanya, yang menawarkannya kenaikan pangkat. Pimpinan preusahaan kecil itu pun kecewa karena ia tidak bisa menawarkan karier pada anak muda ini. Namun, apakah sebenarnya karier yang dimaksud oleh kebanyakan anak muda sekarang? Apakah mereka mau berjuang keras, berinovasi demi kenaikan pangkat dan jabatan? Apakah ini yang diperlukan anak muda sekarang? Karier bisa jadi sudah bukan lagi berbentuk tangga seperti apa yang kita hayati dulu.

“The Why”

Bila perilaku konsumtif saja sekarang terlihat sudah berubah, dari konsumsi pakaian ke travelling, konsep berkarier pun sepertinya sudah tiak lagi seperti 20 tahun yang lalu. Ini sebabnya perputaran tenaga kerja pun, terutama para milenial yang akan berdominasi tenaga kerja pada 2020, sudah pasti telah bergeser. Karier tidak bisa lagi dilihat sebagai suatu proses the what, the how, atau bahkan when atau where seperti dalam job description.

Para praktisi SDM pasti sudah merasakan betapa job description itu hanya kertas yang tidak bermakna pada zaman sekarang. Kita benar-benar perlu menanamkan the why dalam organisasi. Mengapa kita harus menciptakan produk baru, mengapa kita harus mengejar waktu, mengapa kita harus mengejar angka penjualan tertentu. The why ini hanya bisa dibudayakan bila semua orang ikut berpikir.

Karier sekarang dianggap asyik apabila setiap orang bisa berpikir bersama. Kebersamaan atau engagement bisa terjadi dalam penyatuan pendapat dan tantangan. Praktis SDM perlu mengajak para karyawan untuk berpikir tentang dirinya apa kekuatannya, apa yang bisa mereka kontribusikan, apa yang ingin mereka ciptakan sebagai karyanya. Inilah bentuk job description yang baru, berbobot nilai-nilai yang kita anut bersama, legacy yang bisa ditinggalkan individu, yang sejalan dengan kesesuaian minat individu dan pekerjannya.

Dalam transformasi SDM ini, dialog “why” inilah yang perlu dibudayakan dalam setiap kegiatan, misalnya dalam rapat, briefing dan obrolan kerja sehari-hari. Tugas DSDM adalah meniadakan proseedur karier yang usang dang menggantikannya dengan pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru. Lebih dari 60 persen dari 500 perusahaan top dalam daftar Fortune sudah tidak eksis lagi. Ini bukti bahwa transformasi tidak bisa ditunda-tunda lagi.

Transformasi budaya

Diakui atau tidak, disrupsi yang terjadi saat sekarang, yang sering dianggap sebagai disrupsi teknologi sebenarnya lebih tepat bisa dipandang sebagai transformasi budaya. Bila organisasi tidak cepat-cepat mengubah arah perusahaan untuk berfokus pada customer experience ,memahami dan mendalami pelanggan dengan perubahan kebutuhan dan minatnya, menggalakkan kolaborasi berpikir seluruh karyawan, dan memperlakukan setiap karyawan sebagai duta kognitif yang utuh, kita memang bisa ketinggalan kereta.

Saatnya sekarang para praktisi SDM menggalakkan dan menjalankan pelatihan analisis mendalam, dan berfokus pada content dan informasi bisnis.