Apa sih yang bisa kita pelajari dari film “Wonder”?

Jumat lalu (23/2) UC Library kembali mengadakan Movie Time @ UC Library yang kali ini memutar film berjudul “Wonder”. Film ini diangkat dari novel laris karya R.J. Palacio tentang perjuangan seorang anak laki-laki bernama August Pullman (Jacob Trembley) yang biasa dipanggil Auggie,  terlahir dengan kelainan bentuk wajah yang sangat langka, yang dikenal sebagai ‘mandibulofacial dysostosis’. Hal itu membuat Auggie minder, dan menghindar untuk pergi ke sekolah umum. Selama operasi wajah, Auggie belajar di rumah dengan metode homeschooling oleh ibunya, Isabel (Julia Roberts).

Namun ketika Auggie duduk di kelas 5 SD, Isabel dan Nate (Owen Wilson) kedua orangtua Auggie memutuskan memasukannya ke sekolah swasta umum. Ketika di sekolah, Auggie harus membuktikan dirinya sama seperti anak lainnya, meskipun anak-anak lain tidak menyukainya.

Apa saja sih yang bisa kita pelajari dari film ini?

 

  1. Don’t judge anyone by their appearance.

Walau memiliki wajah yang aneh, Auggie adalah seorang anak yang ceria, pintar, menyenangkan, baik hati, namun teman-temannya selalu mem­-bully dia. Tapi, Auggie memilih untuk diam dan menunjukan kelebihannya di kelas Sains. Selain pintar, Auggie pun sebenarnya mudah bergaul dan sangat lucu, dan hal itulah yang akhirnya membuat Auggie memiliki banyak teman.

“Auggie can’t change the way he looks.  Maybe we can change the way we see.” – Mr. Tushman

 

  1. Harta yang paling berharga adalah keluarga.

Peran keluarga sangat besar dalam hidup Auggie. Memiliki ayah yang lucu, ibu yang pintar, dan kakak yang sangat pengertian membuat Auggie selalu merasa bahagia karena kehangatan dan support yang nggak pernah habis buat dia. Namun, ada waktunya kita pun juga memberikan perhatian, dukungan, pengertian kita kepada keluarga kita masing-masing. Jangan hanya menerima, tapi kita juga harus memberi. Family is about take and give relationship.

“You’re going to feel like you’ve all alone but you’re not.” – Nate Pullman

 

  1. #ChooseKind

Pembully-an dalam bentuk apapun sangat tidak dibenarkan. Meskipun Auggie kecewa dengan komentar anak sekitarnya dan sempat ingin berhenti sekolah, namun ia kembali bangkit dan membuktikan bahwa ia bisa seperti anak-anak yang lain. Di film ini juga kita belajar jangan mem-bully atau mengejek seseorang karena melihat hanya dari penampilannya, lihat dan kenali pribadinya, karena setiap orang lebih dari hanya sekedar penampilannya, dan sekecil apapun perbuatan baik yang kita berikan, sangat berarti buat mereka.

“When given the choice between being right or kind, choose kind.” – A precept taught by Mr. Browne in class

 

 

 

Waspadai Katarak pada Anak

Jakarta, KOMPAS – Katarak pada anak perlu diwaspadai. Selama ini, orang tua kurang mengenali gejala masalah kesehatan mata itu pada anak. Padahal, jika penanganan penyakit tersebut terlambat, katarak dapar memicu kebutaan dan menghambat tumbuh kembang anak.

Wakil Ketua Komite Mata Nasional Aldiana Halim, di Jakarta, Minggu (25/2), memperkirakan, prevalensi kebutaan anak mencapai 0,4 per 1.000 anak berusia di bawah 15 tahun. Jadi, dari jumlah kebutaan anak di Indonesia 27.300 kasus, 20 persennya atau 5.460 kasus disebabkan katarak.

Meski prevalensinya tidak terlalu besar, katarak pada anak perlu diantisipasi karena menyangkut perkembangan otak anak. “Perkembangan otak tergantung dari pengalaman terkait pengelihatan mereka. Kalau penglihatan terganggu karena katarak, perkembangan otak jadi terhambat,” kata Aldiana yang juga dokter spesialis mata di Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung.

Menurut Aldiana, perkembangan pusat penglihatan di otak akan berhenti pada usia tujuh tahun. Karena itu, katarak perlu dideteksi sejak dini agar pencegahannya bisa segera dilakukan.

“Semakin cepat katarak ditemukan lalu dipulihkan, otak bisa berkembang maksimal. Kalau penanganannya terlalu lama, bisa jadi permanen atau buta,” ungkapnya.

 

Infeksi Mata

Ketua Layanan Children Eye & Squint Clinic Rumah Sakit Jakarta Eye Center (JEC) Ni Retno Setyoningrum, Sabtu di JEC, Jakarta, menjelaskan, anak rentan terserang penyakit mata. Penyebab penyakit mata pada anak dan anak berusia di bawah lima tahun atau balita ialah infeksi dan genetik.

Namun, lebih banyak masalah kesehatan mata disebabkan infeksi toksoplasma, rubela, sitomegalo, dan herpes (TORCH). Ibu yang terinfeksi virus rubela atau toksoplasma memperbesar risiko bayi lahir katarak. Virus itu biasa ditularkan melalui unggas ataupun kucing.

“Ketika virus itu hinggap di makanan milik ibu hamil, virus itu tidak terasa akan masuk ke dalam tubuh dan ke janin bayi. Virus itu sifatnya infeksi. Namun, secara khusus, dia akan merusak lensa mata bayi,” kata Retno seusai bakti sosial dalam rangka Ulang Tahun Ke-34 RS JEC.

 

*Katarak pada anak perlu diantisipasi karena menyangkut perkembangan otak anak (Aldiana Halim)*

 

Menurut Retno, gejala katarak pada anak bisa dideteksi sejak usia dini. Contohnya, ada bayangan warna putih di pupil atau letak hitam mata tidak berada di tengah-tengah (juling). Biasanya, gejala itu terlihat pada anak usia 2-3 bulan.

“Katarak pada bayi dan anak belum banyak diketahui masyarakat. Baru ketahuan ketika tiba-tiba mata anak tertutup,” kata Retno. Jadi, orangtua harus melihat mata anaknya dengan rinci. Kalau ada keraguan, sebaiknya anak langsung dibawa ke dokter spesialis anak.

 

Lebih Rumit

Operasi akan dilakukan jika diameter katarak sudah lebih daru 3 milimeter. Prosedur operasi katarak pada anak lebih rumit dibandingkan pada pasien dewasa. Setelah operasi, pasien bayi yang menderita katarak akan diberikan terapi mata.

“Kalau dewasa, mudah untuk mengecek kacamatanya ukuran berapa. Kalau masih anak-anak, harus ada pemeriksaan pupil dan retina untuk kami resepkan kacamatanya,” ungkapnya.

Kepala Subdirektorat Gangguan Indera dan Fungsi (GIF) Direktorat Pencegahan dan Penyakit Tidak Menular Kementrian Kesehatan Sri Purwati mengaku kesulitan untuk mendapat data katarak pada anak mengingat Subdit GIF baru ada dua tahun. “Kami masih mengumpulkan data per wilayah,” ujarnya.

Purwati menekankan pentingnya program deteksi dini dalam upaya pencegahan katarak pada bayi baru lahir. Untuk itu, orang tua diharapkan bisa memantau proses tumbuh kembang anak secara rutin. (DD18)

 

Sumber: Kompas.27-Februari-2018.Hal_.12

Terbuai Rasa di Warung Ojo Lali

Penulis : Fransisca Bertha Vistika

Menu tradisional khas Jawa Timur banyak ragamnya. Ramuan menu berbahan petis di Warung Ojo Lali Tahu Campur di Serpong bisa jadi pilihan.

Menjelang malam, banyak mobil perkir rapi di depan pelataran toko Indo Guna Stainless di daerah Serpong, Tangerang Selatan Banten. Halaman toko itu hampir setiap malam terlihat ramai, tapi bukan untuk membeli besi, melainkan ingin menikmati aneka makanan yang dijajakan oleh para pedagang untuk menyewa halaman toko untuk berdagang. Toko stainless-nya sendiri, sudah tutup kala matahari tenggelam.

Di tempat itu ada aneka pilihan makanan. Ada olahan sea food, ada gerai yang menawarkan roti bakar dan mi instan, soto madura, sate blora, dan juga lapak yang menjual beragam minuman.

Di antara banyak makanan itu, ada menu yang menarik dan memang menjadi idola di tempat itu. Namanya tahu campur khas Lamongan, Jawa Timur.

Si empunya warung tampak sibuk. Tangannya tak berhenti beraktivitas. Mulai menggoreng tahu, mengulek bumbu kacang ataupun melayani pembeli. Ya maklum saja, makanan khas Jawa Timur milik wajung Ojo Lali Tahu Campur ini pembelinya silih berganti, Selalu ramai.

Erna, salah satu pengunjung yang berlangganan tahu campur sejak berdirinya warung ini bilang, ada rasa khas yang ia dapat dari masakan kedai ini. “Saya paling suka tahu campur di sini karena rasa petisnys otentik banget. Isiannya banyak. Koyornya (lemak daging) itu lho banyak sekali,” ujarnya.

Menurut Rahmawati, sang pemilik warung tahu campur kedainya kerap disambangi Leony, mantan penyanyi cilik Trio Kwek-Kwek untuk sekadar makan malam.

Kedai ini buka mulai jam 6 sore sampai 12 malam. Meski hanya 6 jam berjualan, Rahmawati mampu menjual hingga 200 porsi tahu campur.

Anda tdak perlu khawatir enggak kebagian tempat duduk saat berkunjung ke warung ini, meski ramai. Sebab, meja dan kursi di tempat ini mampu menampung 50 orang lebih.

Sebelum memilih tempat duduk sebaiknya Anda langsung mendatangi pramusaji kedai untuk memesan menu favorit yang ingin Anda nikmati.

Untuk menikmati seporsi tahu campur, Anda tak perlu menunggu lama. Dalam waktu lima menit, seporsi tahu campur dengan ukuran terbilang jumbo dengan banderol Rp 17.000 tersaji di hadapan Anda.

 

Kirim dari Surabaya

Bagi penikmat daging kenyal, Anda akan merasa puas dengan sajian ini lantaran potongan koyor atau bagian daging sapi yang kenyal berlimpah.

Mie kuning, kentang yang digoreng setengah matang, selada segar dan pastinya tahu goreng, semakin membuah lidah tergoyang. Ketika kuahnya diseruput, aih sedap sekali.

Koyornya pun bikin ketagihan. Rasanya gurih dan empuk. Bumbunya meresap sampai lapisan terdalam.

Menu lain yang bisa Anda coba di warung ini antara lain tahu tek, tahu telor, rujak cingur, rawon dan soto lamongan. Jika Anda doyan bumbu kacang bisa mencicipi tahu telur dan rujak cingur. Dua menu lain yang digemari pengunjung.

Hampir sama dengan tahu telur kebanyakan, sajian ini berisi tahu dan telur digoreng, kentang yang direbus, dan tauge. Anda juga bisa menambah lontong biar makin kenyang.

Sedangkan untuk rujak cingur perpaduan antara sayuran dan buah-buahan yang ditambahkan cingur atau hidung dan bibir sapi. Sayurnya terdiri dari kangkung, timun, dan juga tauge. Sedangkan buah, ada nanas. Sama seperti daging sapi pada tahu campurnya, cingur di hidangkan ini mepuk dan kenyal.

Baik tahu telur maupun rujak cingur sebenarnya bumbunya serupa. Perpaduan antara bumbu kacang, petis, gula putih dan gula merah. Rasa gurih, manis, dan pedas bersatu saat bumbu mulai menyentuh lidah.

Bagi yang tak suka pedas, jangan khawatir karena tingkat kepedasan ketiga menu ini dibuat sesuai pesanan pembeli.

Jika tak suka petis, Anda bisa coba mencicipi menu rawon maupun soto lamongan. Manu ini tak kalah banyak peminatnya dibanding ketiga menu andalan kedai Rahmawati.

Rahmawati mengaku tak punya rahasia khusus soal resep tahu campur olahannya yang banyak diminati pembeli. Ia bilang resep ini diajarkan oleh sang kakak yang sebelumnya sudah mendirikan warung tahu campur di Tebet, Jakarta. “Paling yang membedakan dengan tahu campur orang lain ya dari petisnya. Saya langsung pesan petis ke langganan kami di Surabaya,” katanya.

Dalam 1,5 bulan, Rahma bisa memesan 12 ember petis yang isinya 12 kilogram (kg) hingga 15 kg per ember. Modal untuk belli petis ini sekitar Rp 5 juta setiap 1,5 bulan. “Kami pakai petis komposisi udang, kualitasnya yang super istimewa,” ujar Rahma. Selain petis ia juga impor gula merah dari Surabaya yang ia anggap lebih wangi.

 

Mimpi Membangun Kedai Permanen

AWAL tahun 2007, Rahmawati menyewa tempat di depan sebuah rumah toko (ruko) di dekat Perumahan Alam Sutera, Tangerang. Dengan beratap tenda kaki lima, Rahmawati mulai berjualan tahu campur. Sayangnya, lokasi itu kerap terkena banjir. “Kalau hujan, saya sama suami harus pegang tendanya biar nggak kena pelanggan yang makan,” kenangnya.

Meski harus was-was ketika hujan, penjualan tahu campur Rahma lumayan, bisa laku 50 porsi per hari. Namun, baru 11 bulan berdagang, Rahma harus meninggalkan lokasinya berdagang. Peralatan ruko itu tidak disewakan lagi oleh sang empunya. Rahma pun mencari lokasi baru, hingga akhirnya mendapat tempat di Serpong. Ongkos sewanya Rp 1,25 juta per bulan.

Rahma harus berbagi lahan dengan pedagang makanan yang lainnya di lokasi itu. Meja, kursi, dan tisu juga harus berbagi. Meski harus berbagi, untungnya adalah di antara pedagang bisa sharing pembeli. Pembeli soto atau sate bisa mencoba tahu campur yang mungkin masih dirasa asing oleh sebagian orang. “Tetapi kadang-kadang karena pembeli tahu campur lebih ramai, urusan sendok yang hilang sering terjadi. Bahkan tisu habis pun bisa menimbulkan ketegangan sesama pedagang,” kata Rahma.

Karenanya, Rahma ingin sekali bisa segera punya kedai sendiri. “Pengen banget buka di Pasar 8 Alam Sutera. Modalnya sudah kamisiapkan. Ya, baru-baru ini saja, masih kecil,” Kata Rahma.

Sumber : Tabloid-Kontan.26-Febuari-4-Maret-2018.

 

Mengelola Stres Dengan Baik

Sejak lahir, kita sudah diperkenalkan dengan masalah, kegagalan, dan kesuksesan. Semasa bayi, saat proses bisa berjalan, hanya menangis pada saat jatuh; tidak mau tidur karena kehausan; dan kita berusaha untuk membuat orangtua memahami dengan cara menangis.  Keterbatasan membuat kita tidak berdaya, dan kita berusaha dengan keterbatasan kemampuan, membuat orangtua memahami dan menuruti kemauan kita.

Seiring usia, kita menghadapi masalah yang berbeda. Entah itu berselisih paham dengan orangtua ataupun tidak suka dengan perilaku teman. Ada yang mampu mengutarakan ketidaksukaannya, ada yang hanya dipendam di hati tanpa mampu mengutarakan. Ada yang bisa mengutarakan, tetapi ujung-ujungnya mendapatkan kekecewaan. Begitu juga yang terbiasa memendam rasa kecewa yang semakin menjadi pada orang yang punya tensi tinggi alias suka marah.

Permasalahan bisa berujung pada stres bila tidak dikelola dengan baik. Saat menghadapi problem, ada juga yang memilih untuk menghindar dengan cara bermacam. Misalnya, menghindar dengan cara membuat banyak alasan atau bahkan menggunakan obat terlarang yang malah semakin memperburuk keadaan.

Bagi sebagian besar orang, sikap menghindar sering dianggap jalan terbaik. Namun, ini tidak berlaku bagi orang yang bisa mengendalikan pikirannya. Bagi orang yang bisa mengelola pikiran, menghindar adalah sikap yang akan menjerumuskan diri ke jurang kehancuran sendiri. Anda tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali tingkat stres yang semakin tinggi.

Jadi, apa yang harus dilakukan? Mulailah mengubah cara berpikir. Jadikan kata “menghindar” diubah menjadi kata “tantangan”. Pikirkan, permasalahan yang dihadapi adalah pelajaran menuju kesuksesan.

Kita bisa mengatur hidup sendiri serta mempunyai hak dan kekuatan untuk itu. Sikap percaya terhadap diri sendiri, keyakinan akan adanya Tuhan yang akan membantu niat baik kita, dan keikhlasan akan menghasilkan tenaga yang luar biasa menuju tercapainya tujuan yang tepat.

Sering kali kita berusaha menjadi orang baik, taat beribadah dan berdoa, tetapi kesuksesan dan kebahagiaan sepertinya selalu menjauhi. Mengapa hal ini sering terjadi? Jawabannya adalah kita sering lupa untuk mengajak hati melakukan semua itu.

Anda pasti sering mendengar kata “ketulusan” dan “keikhlasan”. Mungkin sering pula Anda menasihati orang lain untuk bisa menjadi orang yang ikhlas dalam menerima keadaaan, orang yang tulus dalam menjalankan sesuatu. Apakah Anda memahami arti ketulusan itu sendiri?

Kita juga sering kali menyalahkan orang lain, tapi sesungguhnya diri kita sendiri yang selalu melanggar komitmen yang sudah kita ucapkan sebelumnya.

Keadaan diri sekarang sesungguhnya adalah hasil dari perbuatan Anda, entah kesuksesan ataupun kegagalan. Hal ini karena Anda yang memutuskan untuk setiap langkah.

Jadi, kelola stres dengan baik. Diawali dengan pikiran positif, tidak menjadi orang yang egois dengan hanya mementingkan diri sendiri. Jadilah orang yang rendah hari dengan selalu menerima kenyataan, dan berkomiten dalam menjalankan suatu keinginan. Niat baik pasti akan tercermin di sikap yang baik dan akan menciptakan hasil semerlang. [*]

 

Sumber: Kompas-Klasika.24-Februari-2018.Hal_.33

Rita Tila_Sinden Sunda yang Bahagia

Mata Rita Tila (33) berkaca-kaca saat menceritakan bagaimana dirinya mengenal nada. Semua dimulai dari sebuah dapur sederhana dan berlanjut di sekitar terminal bus. Dari situ, Rita “mentas” dan menjelma menjadi Sinden Sunda yang melanglang buana.

Cornelius Helmy

Hidup kami dulu tidak mudah. Namun, banyak pelajaran yang di dapatkan,” kata penyanyi dan sinden Sunda ini pada satu pagi di Bandung, akhir Januari.

Rita mengatakan sejak kecil terbiasa bangun pagi untuk membantu kakek, almarhum Oting, dan neneknya membuat gorengan di dapur sederhana di belakang rumah di Sukabumi. Di antara asap kayu bakar itulah, dia kerap mendengar suara merdu keluar dari mulut kakeknya. “Biasanya beliau bernyanyi menghibur nenek,” kenang Rita.

Rita, yang saat itu masih duduk di bangku SD, masih ingat siara kakeknya sangat tinggi. Sang kakek adalah seniman beluk, kesenian Tarik suara khas Sunda yang awalnya kerap disuarakan petani di ladang. Rita kecil diam-diam menyimak suara sang kakek. Ia coba menirukan dan membuat kakeknya jatuh hati.

Selain olah vokal, Rita belajar menari mengikuti irama lagu Sunda yang banyak diperdengarkan di radio kala itu. Ia melatih kemampuannya di sela-sela kegiatan menjajakan gorengan buatan neneknya di Terminal Nagrak, kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ia melatih rasa percaya dirinya dengan tampil di hadapan banyak orang.

Mendengar suara Rita yang merdu, banyak pelanggan terpukau. Belakangan, mereka meminta Rita menyanyi dan menari.

Ibu Rita, Iis Rohyati, juga punya peran besar di balik kemampuan Rita. Iis adalah sinden tenar di jabar. Julukannya “Si Jangkrik” karena piawai menyinden sembari memainkan jurus pencak silat. Berikutnya, ia belajar dari sang ibu dan akhirnya bisa tampil satu panggung. Tak jarang ia ikut menyanyi hingga berganti hari.

“Subuh selesai manggung, ibu biasanya minta air panas ke rumah yang dekat pementasan. Airnya untuk saya mandi sebelum pergi ke sekolah. Nah, di sekolah ini perjuangannya lebih berat. Mengantuknya luar biasa,” katanya tertawa.

Melanglang buana

Perlahan nama Rita dikenal sebagai sinden dan penari cilik. Dari awalnya tampil gratis, Rita dibayar Rp 1500 untuk sekali pentas. Jumlah itu dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan uang bayaran bulanan untuk sekolah tingkat SD ketika itu.

Selepas Rita lulus Smp, tawaran menarik datang dari pamannya. Dia ditawari melanjutkan sekolah di SMKN 10 Bandung. Dari situ kemampuan berkeseniannya terus di asah. Ia kemudian masuk jurusan musik Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung (kini Institut Seni Budaya Indoneisa), dilanjutkan di Universitas Pendidikan Indonesia.

Pengalamannya semakin luas. Selain banyak menjuarai kejuaraan menyanyi tradisi dan pop Sunda, dia bertemu banyak musisi Sunda senior. “Saya punya banyak panutan. Ada penembang Euis Komariah dan Neneng Dinar, pesinden Nunung Nurmalasari dan idjah Hadijah, hingga juru kawih Ida Rosida,” katanya.

Ia juga bergabung bersama kelompok music Samba Sunda pimpinan Ismet Ruhimat. Ia tertarik bergabung karena saat itu banyak kelompok yang berani memadukan musik tradisi dan modern jadi satu karya indah. “Penampilan bukan hanya di dalam negeri melainkan juga ke banyak negara,” kata Rita yang pernah menyanyikan lagu berbahasa Sunda di Belanda dan Jerman.

Rita juga sempat menjadi dosen luar biasa di Amerika Serikat pada 2008. Ia datang atas undangan pakar etnomusiklogi dunia Andrew Weintraub. Rita berkeliling ke beberapa kampus di Pittsburgh, Ohio, Washington DC, hingga Atlanta.

“Salah satu momen yang tak pernah dilupakan saat diminta memberikan nama untuk gamelan Sunda di Emory University Atlanta. Namanya Nyi Mas Mandalasari. Harapannya menjadi gamelan yang terus memberikan beragam ilmu bagi semua orang,” katanya.

Akan tetapi, bukan pengakuan dari luar negeri yang membuat Rita meneguhkan kesetiannya pada seni vokal tradisi, melainkan pertunjukan “Sinden Republik” di Jakarta tahun 2016. Saat itu, ia tampil bersama pesinden lainnya, seperti Waljinah dan Soimah. Rita adalah satu-satunya sinden Sunda yang tampil di sana. “Melihat apresiasi banyak orang yang datang, saya yakin seni tradisi masih dinanti dan tidak akan mati,” kata Rita.

Rita membuktikannya dengan terus berkarya, mendirikan rumah produksi RT Pro dan kelompok musik Kacapi Inovatif. Ia juga terus berkreasi. Garapan teranyarnya adalah lagu “Sabeulah Panon”. Musik dan aransemen lagunya penuh warna tradisi dan kekinian. Video klipnya penuh variasi gambar, tata lampu, dan busana elegan. Rita ingin musik Sunda tak dipandang sabeulah panon alias sebelah mata.

Saat ini, “Sabeulah Panon” melengkapi ratusan lagu dalam 24 album miliknya. Genrenya beragam, mulai dari jaipong, kacapian, kliningan, hingga pop Sunda. Ia kerap dijuluki “Sinden Gandrung Gumiwang” karena teknik menyanyi yang mendekati sempurna.

Di luar album, banyak lagu tunggal juga ia telurkan. Bentuknya bervariasi, baik solo maupun duet, dengan musisi dan kelompok musik lainnya. “Sulit menolak yang minta duet. Banyak yang sengaja digratiskan. Ketimbang memikirkan biaya, saya ingin lebih banyak melihat eksistensi musisi Sunda,” kata Rita yang pernah berduet dengan beberapa musis di Norwegia.

Ia juga tak ingin menjadi kacang lupa kulitnya. Rita meluangkan waktu untuk mengajar di ISBI Bandung untuk mata kuliah vokal tradisi dan vokal Barat. Dia memilih tidak dibayar dengan alasan belum memiliki kemampuan yang mumpuni. Semuanya dijalani sembari menyelesaikan studi pascasarjana di tempat yang sama. Ada sekitar 200 mahasiswa yang menjadi muridnya. ‘Saya ingin berbagi ilmu,” katanya.

Hari semakin siang saat telepon genggam Rita berdering. Jeong Tae-Seong (52), mahasiswa S-2 dari Universitas Pendidikan Indonesia asal Korea Selatan, yang ditunggu pun datang. Tae-Seong menjadikan Rita sebagai aktor utama untuk tesisnya bertema perkembangan musik tradisi Sunda.

Kepada tae-Seong, Rita tak sekedar menuturkan teori bernyanyi, tapi juga mempraktikannya. Suaranya tinggi dibalut beragam teknik vokal, seperti dongkari untuk memecah suara dan vibra yang kaya resonansi.

Tae-Seong pun terkesima. “Kalau dia lahir di Jepang atau Amerika, pasti sudah dikenal dunia. Rita punya segalanya, mulai dari vokal hingga cara berkomunikasi dengan penikmat suaranya,” katanya.

Mendengar itu, wajah Rita kembali haru. Ia teringat pada masa lalu saat pertama memulai mengenal nada. Mimpinya jauh dari ambisi ketenaran. Dia hanya ingin menyanyi dengan bahagia.

 

Rita Tila

Lahir: Sukabumi, 16 Desember 1984

Suami: Reza Fendrizian (37)

Pendidikan:

  • SD Negeri Nagrak 5, Sukabumi (lulus 1996)
  • SMP Negeri 1 Warung Kawung, Sukabumi (lulus 1999)
  • SMK Negeri 10 Bandung, Bandung (lulus 2002)
  • Diploma 3 Jurusan Karawitan STSI Bandung (lulus 2004)
  • Strata 1 Jurusan Musik Universitas Pendidikan Indonesia (lulus 2014)

Penghargaan:

  • Penyanyi Pop Sunda Berprestasi dari Gubernur Jabar (2005)

 

 

Sumber: Kompas.24 Februari 2018

Rasim_Motor Ekonomi Desa

Pukul 07.45, tanah dan rumput masih basah oleh embun dan siraman hujan semalam. Aroma gula kelapa tercium sedap. Warung-warung mulai dibuka. Tanah desa yang semula angker dan terbengkalai kini lebih bernyawa setelah Agrowisata Bulak Barokah diabangun di bawah kepemimpinan rasim (42)

Megandika Wicaksono

“Saya terinspirasi kata-kata Bung karno tentang desa yang berdikari. Kalau desa mau maju, harus memiliki usaha sendiri,” kata Rasim, Kepala Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (20/2).

Dana desa, yang oleh sebagian besar kepala desa digunakan untuk pembangunan infrastruktur jalan, oleh rasim dimanfaatkan untuk merintis agrowisata sebagai pusat bisnis desa serta memperkuat BUMDes. Agrowisata Bulak Barokah kini mulai dilirik pelancok sejak resmi dibuka pada November 2017. Mereka datang dari Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara, dan Banyumas.

Desa Langgongsari memperoleh dana desa sebesar Rp 315 juta pada 2015, Rp 600 juta pada 2016, dan Rp 922 juta pada 2017. Rasim menggunakannya untuk membangun berbagai bidang usaha, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, perdagangan, hingga sentra pengolahan gula kelapa. Belakangan, dikembangkan pula pariwisata. Semua usaha desa itu dibangun secara terpadu di satu lokasi bernama Agrowisata Bulak Barokah.

Di agrowisata itu, ada 24 tempat pengolahan gula kelapa. Pengolahan gula kelapa sengaja disatukan agar mudah dijangkau pembeli. Tempatnya pun lebih bersih dibandingkan dengan tempat produksi gula di rumah-rumah warga.

“Diharapkan 10-15 tahun kedepan produksi gula merah dari desa ini bisa mencapai 10 ton per hari dengan kualitas ekspor,” ujar Rasim. Di desa Langgongsari saat ini ada sekitar 450 perajin gula kelapa dengan produksi 2-3 ton per hari.

Selain sentra pengolahan kelapa, di agrowisata itu telah dibangun 26 kios untuk warung masing-masing berukuran 3 meter x 4 meter dengan sewa Rp 600.00 per tahun. Ada pula peternakan dengan 30 kelinci, 16 sapi, 3 kerbau, 25 kambing berbagai jenis seperti teksel, dan domba keturunan garut. Belasan ribu ikan lele, nila, patin, dan melem juga dipelihara di sana.

Agrowisata itu kian hijau dengan aneka tanaman keras yang terdiri dari 650 pohon durian, 400 pohon petai, tebu, salak, serta sayur mayur. “Semua potensi desa kami kemas di sini,” ujar Rasim dengan nada bangga.

Pedagang Keliling

Sejak muda, Rasim memang dekat dengan pengolahan kebun dan pertanian karena ia sering membantu sang ayah bertanam padi dan sayur-mayur di Desa Karanggude, Karanglewas, Banyumas. Setelah lulus dari SMAN1 Ajibarang pada 1997, ia banting setir menjadi pedagang keliling.

Usaha tersebut berkembang dan maju hingga 2005. Dari situ, ia mendirikan UD Simra Perkasa. “Simra Perkasa itu berasal dari nama saya yang dibalik. Ra-sim menjadi Sim-Ra,” kata rasim.

Pekerja UD Sinra pernah mencapai 100 orang yang kebanyakan anak putus sekolah. Omzet penjualan setiap pekerja bisa mencapai Rp 30 juta. Area penjualan membentang sampai Ajibarang, Purwojati, dan Pekuncen. Namun, usaha itu mengalami penurunan pada 2009 akibat persaingan yang ketat di bisnis perdagangan.

Rasim hingga kini masih berupaya mempertahankan usaha tersebut untuk menopang kehidupan keluarga dan tiga pekerjanya.

Pengalamannya mengolah kebun dan berdagang membuat Rasim pandai melihat peluang. Ketika ia terpilih menjadi Kepala Desa Langgongsari – desa asal isterinya – pada 2013, ia tahu apa yang akan dilakukannya untuk warga.

Ia rutin bersilahturahim dan berkunjung ke rumah-rumah warga. Ia tahu kegiatan itu melelahkan karena warganya berjumlah 7.600 jiwa dari 2.350 keluarga. Namun, itulah kunci yang membuatnya dekat dengan warga. Ia juga bersilaturahim ke pemegang kebijakan dan pihak-pihak lain yang bisa membantunya membangun desa.

Dua tahun kemudian, silaturahimnya membuahkan hasil. Desa Langgongsari mendapatkan akses air bersih melalui kerja sama dengan Perhutani dan Dinas Cipta Karya. Program pipanisasi sepanjang 13 kilometer dari sumber air di Gununglurah langsung mengatasi persoalan langkanya air bersih terutama pada musim kemarau. Penyediaan air bersih itu dikelola oleh BUMDes Tirta Nala.

Rasim terus bergerak memanfaatkan dana desa untuk kepentingan produktif, seperti membangun BUMDes dan menggelar pelatihan. Ia berpandangan, desa tanpa usaha tidak akan mandiri. Desa seperti itu akan terus mengandalkan kucuran dana dari pemerintah.

Untuk mewujudkan visinya tentang usaha desa, Rasim berupaya mengajak warga mengelola 50 hektar tanah milik desa. Rasim ingin tanah desa itu dioptimalkan pemanfaatannya untuk perkebunan kelapa. Saat ini, sudah ada 600 bibit kelapa genjah yang ditanam di lahan desa seluas 2 hektar.

“Tanah ini adalah ladang tadah hujan. Dengan ditanami kelapa genjah, nantinya dapat menambah produktivitas gula kelapa. Di sela-selanya akan diberi tebu dan juga akan dibangun peternakan sapi,” ujar Rasim sambil menunjukkan deretan bibit kelapa genjah yang ditanam dengan jarak 10 meter.

Ide Rasim tidak berjalan begitu saja sebab sebagian tanah desa itu terlanjur diokupasi warga secara perseorangan dengan ditanami singkong. Warga juga keberatan, bahkan menentang sistem pertanian terintegrasi dengan peternakan yang diusulkan Rasim.

Rasim menghadapi penolakan itu dengan sabra. Ia datangi pertemuan-pertemuan RT untuk memberikan pemahaman tentang manfaat pertanian terencana dan terintegrasi. Ia mengajak ketua RT, tokoh masyarakat, serta pemuda desa untuk studi banding ke luar wilayah.

Selain itu, ia juga menekankan kepada perangkat Rt, tokoh masyarakat, dan warga bahwa dana desa aman digunakan asalkan bukan untuk kepentingan pribadi. Lewat pendekatan yang panjang, rencana pembangunan sistem pertanian terintegrasi dengan peternakan akhirnya bisa diwujudkan.

Sejauh ini, usaha desa yang digerakkan Rasim memang belum memberikan penghasilan yang banyak. Namun, Rasim optimis, pada 2019 nanti pendapatan desanya dapat mencapai Rp 1 miliar.

Rasim telah memberikan contoh bagaimana dana desa seharusnya digunakan untuk kegiatan produktif. Atas inisiatifnya, Rasim memperoleh penghargaan sebagai Tokoh Inspirator Inklusi Keuangan pada bidang pengembangan BUMDes 2018 dari Otoritas Jasa Keuangan. Penghargaan diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Jakarta.

Rasim juga diundang untuk berbicara tentang pengelolaan dana desa di Dewan Pertimbangan Presiden. Selain itu, Desa Langgongsari menjadi tempat belajar bagi sejumlah perangkat desa lain.

 

Rasim

Lahir: Banyumas, 16 November 1975

Istri: Setyaningrum (38)

Anak:

  • Gilang Ibnu Faizin (14)
  • Gista Dwi Rahmasari (5)
  • Gaza Pramudita (3)

Pekerjaan/Kegiatan:

  • Kepala Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, 2013-2019

Penghargaan:

  • Juara 1 Lomba Perencanaan dan Pembangunan Desa Tingkat Kabupaten Banyumas 2016 pada Festival Kinerja Pembangunan
  • Tokoh Inspirator Inklusi Keuangan pada bidang pengembangan BUMDes 2018 dari Otoritas Jasa Keuangan.

 

Sumber: Kompas.27 Februari 2018

Mawar Valentine

Oleh F Rahardi, Pengamat Agribisnis

 

Menjelang Hari Kasih Sayan (Valentine’e Day) 14 Februari 2018 lalu, seklompok mahasiswa Bogor berunjuk rasa, menyebut cokelat sama dengan maksiat. Orang boleh setuju atau tak setuju dengan pendapat itu. Pertanyaany, mengapa hanya cokelat?

Padahal ada dua komoditas yang identic dengan Hari Kasih Sayang: cokelat dan mawar lebih kuat dari pada cokelat. Mawar sudah dikenal sejak zaman sumeria, mesir, dan Babilonia. Sementara hari Valentin baru pada abad 14 (decade 1.300).

Pada zaman Yunani dan Romawi kuno, mawar sudah menjadi symbol kasih saying. Diduga, mawar sudah mulai dibudidayakan di daratan china pada tahun             5.000 SM. Kemudian tahun 3.000 SM mawar berkembang di Timur Tengah, sebagai elemen taman, buket, persembahan, dan didestilisasi untuk diambil minyaknya.

Belakangan, variasi mawar makin beragam. Di Jawa ada mawar tabor. Mawar merah dan putih yang ditetik setelah mekar, untuk ditaburkan di makam saat berziarah, atau saat pemakaman. Selain untuk ziarah dan pemakaman, mawar tabor juga di gunakan sebagai sarana sesasji tujuh bunga. Ada pula mawar pagar, karena digunakan sebagai pembatas taman. Mawar pagar juga dirambatkan di gerbang, gazebo, oergola, lengkungan lorong taman, dan patio.

Perkebungan mawar potong

Untuk destilasi, mawar tabor Bandungan dan mawar Damaskus, dipetik setelah mekar. Sementara mawar valentine, sama dengan mawar untuk vas dan rangkaian, dipetik saat masih kuncup, menjelang mekar.

Sebelum decade 1989, mawar belum lazim untuk vas dan rangkaian. Waktu itu agroindustri bunga masih sebatas sedap malam  dan aster untuk masyarakat bawah; dan gladiol dahlia lily putih serta krisan tunggal untuk kalangan atas. Aster diproduksi di beberapa lokasi, sedap malam di produksi di Bangil, Bandungan dan Cicuruh. Galdiol, dahlia, lily putih dan krisan tunggal diproduksi di Bandungan.

Pada decade 1980, masuklah benih, teknologi, danmodal agroinustri bunga potong dari Aalmeer, Belanda. Sejak itulah krisan sprai berkembang pesat. Mawar yang dulunya tak laku di pasaran, mulai dibudidayakan. Hasfarm salah satu pemain yang serius menekuni mawar potong, dengan membuka kebun di Goalpara, Sukabumi, Jawa Barat. Beberapa pengusaha pernah masuk ke agroindustri mawar potong, tapi bertumbang. Salah satunya haryanto Dhanutirto, mantan Menteri Negara Urusan Pangan, dan Menteri Perhubungan di era Soeharto.

Meskipun sudah ada mawar Hasfarm yang memasok ke pasar kembangRawa Belong, namun untuk memenuhi kebutuhan pada hari raya tertentu, atau ketika ada tokoh meninggal, Indonesia masih mengimpor mawar.

Pada awak decade 2000, Hasfarm memindahkan kebun mawarnya ke Dallat, Vietnam. Sejak itulah Indonesia “krisis mawar”. Padahal pada decade 2000, tren merayakan Valentine mulai marak di kalangan remaja kota besar di negeri ini. Dan, Valentine identic dengan mawar, selain cokelat.

Melihat peluang ini seorang pengusaha membangun greenhouse mawar di Pengungan Halimun, Jawa Barat. Mawar Halimun ini diberi nama Nirmala Rose, karena di lokasi itu juga ada kebun teh Nirmala. Praktis sejak itu, Bungan mawar potog yang beredar di kota – kota besar Indonesia, terutama Jakarta, merupakan produk Nirmala Rose. Sama dengan produk anggrek Phalaenopsis yang merajai pasar Indonesia, hampir 100% berasal dari kebun Ekakarya di Cikampek, Jawa Barat. Pendatang baru sulit untuk masuk ke bisnis dua jenis bunga ini.

Sejak decade 2000 itu, produksi mawar nasional terus naik, meskipun  kadang juga terjadi fluktuasi. Badan Pusat Statistik mencatat produksi mawar Indonesia 2005 sebesar 60.719.517 tangkai. Tahun 2006 turun menjadi 40.394.027 tangkai. Tahun 2007 naik lagi menjadi 59.492.699 tangkai. Tahun 2008 kembali turun ke 39.265.696 tangkai. Tahun 2009 naik lagi menjadi 60.191.362 tangkai. Tahun 2010 kembali naik menjadi 82.351.332 tangkai. Kemudian 2011 turun lagi menjadi 74.319.773. Tahun 2012 kembali turun ke angka 68.624.998 tangkai. Setelah greenhouse baru Nirmala Rose berproduksi, tahun 2013 produksi mawar nasional melonjak menjadi 152.0066.469 tangkai. Tahun 2014 naik menjadi 173.077.811 tangkai, 2015 naik lagi menjadi 188.302.152 tangkai, tapi di 2016 turun jadi 181.884.630 tangkai.

Produksi mawar tahun 2016 itu sebanyak 56,5 ton diekspor dengan nilainya Rp US$ 481.381,82. Dengan kurs Rp 13.300, nilainya Rp  6,4 miliar.

Kita agak suli memperkirakan beraoa persen produksi mawar nasional yang dikonsumsi dalam negeri, dan berapa persen yang diekspor. Sebab Kementerian Pertanian menyajikan data per tangkai, sementara Kementerian Perdagangan mencantumkan kilogram.

Tetapi praktis impor mawar kita hampi total berhenti. Selama 2016 impor mawar kita hanya 3,1 ton denga nilai US$ 39,361 (Ro 523,5 juta).

Anggrek yang justru keok. Produksi anggrek nasional 2016 sebesar 19,9 juta tangkai, berada jauh di bawah produksi mawar 181,8 juta tangkai. Bahkan disbanding produksi sedap malam yang pada tahun 2016 sebanyak 117 juta tangkai, danmelati 31 183 991 kilogram, anggrek masih sangat ketinggalan. Dampak dari kecilnya produksi anggrek nasional, selama 2016 kita masih mengimpor komoditas ini sebesar 24,3 ton dengannilai US$ 142.244 (Rp 1,8 miliar). Sebagian besar anggrek yang kit aimpor jenis Dendrobium, sebab yang dihasilkan Ekakarya jenis Phalaenopsis. Jadi produksi bunga nasional tertinggi adalah krisan, menyusul mawar, sedap malam, melati, dan anggrek. Gerbera, gladiol, anthurium, anyelir dan helikonia; masih berada di bawah anggrek.

Anggrek potong untuk Valentine selalu berwarna merah hati, sangat jarang yang warna pink atau oranye. Mawar merah memang paling umum diproduksi di dunia maupun di Indonesia. Menyusul pink, oranye, dan putih. Mawar putih biasanya masuk ke floris sebagai rangkaian atau unutk vas. Jarang orang membawakan mawar putihkepada orang yang di cintainya.

Sebenarnya, selain Nirmala Rose, tetap ada petanin yang menanam mawar potong, tetapi dalam skala kecil. Para petani krisan dan bunga potong lainnya, sebagian juga membudidayakan mawar. Tetapi disbanding Nirmala Rose, produk si mawar para petani itu relative kecil

Sumber: Tabloid-Kontan.26-Februari-4-Maret-2018.Hal_.23