Movie Time @ UC Library – Hari Hutan Internasional

Bertepatan dengan hari hutan internasional yang jatuh pada tanggal 21 Maret 2018 lalu, UC Library bekerja sama dengan Komunitas Timur Lawu mengadakan Movie Time @ UC Library dengan memutar beberapa film bertemakan alam dan isinya. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis lalu (22/3) ini diadakan di Library Lounge dan dihadiri sekitar 30 mahasiswa ini memutar beberapa film, antara lain: Gone with the Tide (oleh Forum Peduli Teluk Balikpapan), The Topeng Monyet, Beruang Madu, serta film drama pendidikan produksi Jepang, berjudul Fireflies: River of Light.

 

Dari film ‘Gone with the Tide’, kita diingatkan tentang ancaman yang terjadi di Teluk Balikpapan di Kalimantan Timur, yang merupakan hasil dari perluasan Kawasan Industri Kariangau (KIK) yang diusulkan di sepanjang pantai timur Teluk, dan Pulau Balang. Ekspansi industri ini tidak hanya menghilangkan keanekaragaman hayati yang luar biasa, namun juga polusi air, erosi, dan sedimentasi yang sangat besar yang benar-benar akan menghancurkan penghidupan masyarakat nelayan setempat. Sebuah kondisi yang memprihatinkan dan merugikan masyarakat sekitar.

 

Melalui film dokumenter ‘The Topeng Monyet’ kita juga disuguhkan gambaran mengenai kejamnya penganiayaan binatang. Setiap topeng monyet yang akan beratraksi sebelumnya harus melalui berbagai

Bentuk yang bisa dikategorikan penganiayaan seperti dirantai leher dan tangannya agar mereka tunduk dan mau diajari berbagai trik yang biasa kita lihat di Topeng Monyet di jalanan. Karena diambil paksa dan diperlakukan seperti itu, akibatnya usia merekapun tidak panjang. Begitu pula dalam film ‘Beruang Madu’, diperlihatkan bagaimana keserakahan manusia memburu dan mengambil berbagai bagian tubuh serta mengambil beruang madu dari habitat aslinya dan ditampilkan ke dalam sirkus untuk keperluan pribadi membuat spsies ini berada di ambang kepunahan.

 

Pun melalui film Fireflies: River of Light karya sutradara Hiroshi Sugawara, melalui film ini kita dapat belajar melalui seorang guru sekolah dasar, Hajime Miwa, yang memiliki impian dapat melihat kunang-kunang  dapat terbang kembali di atas Sungai Yamaguchi. Namun hal tersebut tidaklah mudah. Ia harus membuat habitat tempat tinggal kunang-kunang sesuai dengan habitat aslinya, yang artinya ia harus membersihkan sungai yang sudah tercemar air dengan berbagai kotoran seperti ban sepeda, keyboard computer, dan sepeda itu sendiri! Para muridpun sangat bersemangat, dan para muridlah yang menjadi penyemangat pak guru Miwa untuk terus membersihkan sungai dan mengkembangbiakan kunang-kunang walaupun kegiatan tersebut ditentang oleh pihak sekolah. Namun ia tetap bertanggung jawab jika kunang-kunang yang dikembangbiakkannya tidak berhasil hidup ia akan berhenti dari pekerjaannya.

Sebuah langkah yang berani dari Pak guru Miwa untuk tetap berkomitmen kepada apa yang telah ia mulai. Ia tetap berkomitmen membersihkan lingkungan demi kunang-kunang kembali hidup serta mengembalikan alam kepada tempat yang semestinya kembali.

Pameran Foto: “Hutan dan Masyarakat Adat di Kalimantan”

 

Bertepatan dengan hari hutan internasional yang jatuh pada tanggal 21 Maret 2018, UC Library bekerja sama dengan Komunitas Timur Lawu akan mengadakan pameran foto berjudul“Hutan dan Masyarakat Adat di Kalimantan”.

Antara tahun 1970an hingga mendekati tahun 1990an, Hutan Kalimantan sudah banyak ditebang untuk bisa merealisasikan pemasukan negara dari sektor kehutanan. Pemerintah Orde Baru dengan sangat mudah memberikan izin-izin Hak Pengelolaan Hutan kepada para investor. Hutan-hutan di Kalimantan hilang dengan sangat cepat. Hampir seluruh hasil penebangan kayu gelondongan tadi diekspor untuk kepentingan bahan baku industri kayu negara Asia Timur, khususnya Jepang. Pada masa ini pemerintah  rezim Orde Baru kurang memikirkan dampak dari ekploitasi hutan massif yangt mereka lakukan. Pengawasan yang kurang, serta peraturan yang tidak bisa ditaati, akhirnya menyebabkan kerusakan hutan yang terjadi di lapangan melebihi imajinasi hitung-hitungan kertas yang dilakukan oleh rimbawan yang berorientasi pada keuntungan ekonomi, dan berbasiskan pola pikir orang perkotaan.

Pada tahapan ini perspektif rezim Orde Baru memandang hutan hanya sebagai komoditas ekonomi semata. Rezim Orde Baru tidak pernah menekankan bahwa hutan juga memiliki fungsi lain, yaitu fungsi untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Hutan juga berfungsi untuk menjaga ketersediaan air dan oksigen untuk seluruh umat manusia. Pemerintah rezim Orde Baru juga lupa, bahwa sebagian hutan-hutan di Kalimantan merupakan sumber kehidupan dari sebagaian masyarakat adat disana, seperti suku Dayak. Suku Dayak sangat menggantungkan hampir seluruh kebutuhan hidup dari hasil hutan, mulai dari bahan bangunan untuk rumah, alat-alat sehari-hari, kesenian, pertanian, hingga hasil perburuan. Sehingga bisa dikatakan, bahwa seluruh sistem mata pencaharian suku Dayak bisa terjaga ritmenya, apabila hutan tempat mereka masih lestari.

Tetapi rezim Orde Baru tidak mau menerima fakta bahwa hutan memiliki posisi penting dalam siklus kehidupan suku Dayak, pemerintah Orde Baru malah melakukan proyek memukimkan kembali suku Dayak yang berada di dalam hutan. Proyek ini akhirnya memisahkan orang Dayak dari hutan sebagai sumber kehidupan mereka. Rezim Orde Baru menganggap suku Dayak merupakan suku terasing dan wajib untuk dimodernisasikan untuk bisa mendapatkan ke”sejahteraan” seperti ukuran standar pemerintah.

Karena itu, UC Library bekerjasama dengan Bpk. Akhmad Ryan Pratama (pengampu mata kuliah ISBD-UC) dan komunitas Timur Lawu mengadakan pameran foto bertajuk Hutan dan Masyarakat Adat di Kalimantan” dari tanggal 20-23 Maret 2018 bertempat di Library Lounge UC, lt. 2.

Diharapkan melalui pameran foto ini dapat memberikan sebuah sudut pandang yang lebih luas mengenai hutan dan masyarakat adat yang ada di dalamnya. Hutan bukan hanya sebagai komoditas ekonomi semata, namun hutan memiliki fungsi sangat besar, yang bahkan tidak bisa dinilai dengan uang. Dalam pameran ini, kami ingin menyadarkan serta membuka mata pengunjung, bahwa untuk mengembalikan hutan yang telah hilang ke keadaan sedia kala merupakan sesuatu pekerjaan yang hampir mustahil.

 

i’Talk with Kathleen Azali (Founder C2O Library & Collabtive)

Hari Kamis lalu (15/3) UC Library & jurusan MCM (Marketing Communication) UC kembali melaksanakan i-Talk (Innovation Talk) bertema “Meneropong Inovasi Sosial dan Strategi Kreatif oleh Lembaga Independen”, dengan Kathleen Azali (Founder C2O Library & Collabtive) sebagai pembicaranya.

Acara yang dimulai pukul 08.00 wib di Ruang Teater 931 UC Tower ini, Bu Kathleen sharing tentang  sepak terjang C2O Library & Collabtive selama ini. Apa itu C2O Library? Apa saja kegiatannya? C2O Library sendiri berawal dari sang pendiri merasakan kerumitan akses informasi, terutama tentang sejarah Indonesia sendiri, kerumitan akses ruang public, serta budaya pengkaplingan ruang dan demografi, misalnya dari segi etnis, kelas, dsb.

Untuk itu C20 Library hadir dengan menyediakan perpustakaan, ruang kegiatan (pameran, diskusi, workshop, kelas bahasa, pemutaran film), fasilitas ruang kerja bersama (Co-working Space) serta pengembangan penelitian dan pendidikan.

Salah satu kegiatan yang pernah dilaksanakan antara lain pernah mengadakan ‘Worklife Balance Fest’ yang membahas mengenai isu tentang K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) para pekerja kreatif. Kesehatan pekerja tidak hanya meliputi helm dan sepatu safety bagi para pekerja lapangan, namun bagi para pekerja kreatif pun juga perlu wawasan dalam memperhatikan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), misalnya saja kurang tidur, sering begadang, pusing karena terlalu sering lihat computer atau hape, dan pola makan yang tidak sehat. Selain itu kegiatan diskusi dan lokakarya ‘Kebebasan Berekspresi & Keamanan Digital’ bekerja sama dengan beberapa lembaga sistem informasi.

Liputan oleh Lidya Emma Nursinta BR Tobing (10517048)

 

Untuk foto-foto yang lain, silahkan klik di sini.

 

Kejutan dari Ragam Rasa Biji-bijian

Siap menyantap menu yang tidak biasa? Yuk, kita eksplorasi sayur, buah, dan biji-bijian yang jadi “bintang” di Greens and Beans.

Siapa yang tidak kenal dengan wisata kuliner di Bandung? Kota yang aslinya berudara sejuk ini punya banyak kafe, restoran, warung, food truck, yang menjual makanan dan minuman berselera.

Setelah menimbang-nimbang akhirnya KONTAN memilih tempat makan yang mengusung tema makan sehat. Greens and Beans berlokasi di kawasan perumahan lama dengan bangunan-bangunan model Belanda tak jauh dari Gedung Sate, baru buka beberapa bulan.

Siang it, suasana Greens and Beans cukup ramai. Terlihat dari banyak mobil yang parkir di pelataran, bahkan sampai diletakkan paralel.

Sesuai nama kedainya, di sini kita kan mendapatkan banyak menu sayur, buah, dan kacang-kacangan. Awalnya, mungkin agak membingungkan karena ada banyak istilah dan nama baru. Jadi jangankan kita bisa membayangkan rasanya, namanya saja baru terdengar. Ternyata kosakata kita untuk jenis sayur-sayuran dan kacang-kacangan memang terbatas.

Pada intinya menu yang ada di sini dibagi dalam 2 kategori yaitu custom salad dan ala carte. Anda yang tak mau pusing, mungkin lebih baik memilih menu ala carte.

Menu ala carte sendiri terbagi ke dalam 3 macam kategori, yaitu salad, spaghetti dan tartine atau open sandwich yang hanya terdiri dari satu potong roti.

Untuk kategori salad ala carte, menurut sang pramusaji, menu yang menjadi favorit para pengunjung kafe ini adalah oriental salad, thai beef salad, superbowl quinoa salad, dan vietnamese noodle salad. Masih merasa ragu dan belum menemukan menu yang lazim? “Kami menyediakan juga gado-gado untuk orang yang tidak mau menu yang terlalu aneh-aneh,” terang Fransisska Indriana yang biasa dipanggil Ana pemilik Greens and Beans.

Cari Rasa Baru

Sementara jika memang suka mengeksplorasi rasa, Anda dapat bereksperimen dengan memilih custom salad. Pasalnya, kita bisa meracik sendiri salad yang diinginkan.

Dalam custom salad ada base atau sayur yang menjadi dasar salad. Tersedia 3 macam base yaitu sayuran biasa, sayuran komplet, dan sayuran ditambah brown rice. “Sayuran biasa itu adalah sayuran yang biasa dipakai untuk salad seperti lettuce dan romaine. Untuk komplet, kami menambahkan yang tak umum seperti kale, swiss chart, rocket, basil, mint. Kadang sayur musiman seperti rucola,” tambah Ana.

Setelah memilih base, kita bisa pula mengimbuhi berbagai macam topping seperti edamame, brokoli, jagung, wortel, tahu, kacang merah, kacang hitam, berbagai macam kecambah, chick pea, jamur, atau labu kuning.

Kalau kurang puas dengan topping sayur Anda bisa menambah daging atau ikan ke dalam salad racikan tadi, seperti roast beef, chicken, atau salmon. Nah, untuk tambahan protein ini, Anda harus mengeluarkan biaya tambahan.

Jangan lupa memilih crunch atau semacam keripik, tersedia pita chips, crouton, cheese stick. Terakhir, tentu saja Anda harus memilih dressing atau saus siraman salad. Ada banyak sekali pilihan, seperti balasamic vinaigrette, cashew dressing, coconut peanut, miso dressing dan sekitar 10 pilihan lain. Kalau tak terbiasa dengan pilihan dressing, dijamin Anda akan menghabiskan waktu lama untuk menetukan pilihan.

Rasanya? Bersiaplah mengecap dengan teliti setiap rasa yang muncul di lidah Anda. Rasa asam, manis, pahit, asin bisa muncul dengan berbagai variasinya. Sayuran yang mungkin Anda pikir tidak akan memberikan banyak rasa, ternyata ada juga yang rasanya cukup tajam. Misalnya sayuran bernama rocket, di awal sekilas rasanya seperti kacang-kacangan berakhir dengan sedikit rasa pahit.

Untuk minuman, kafe ini juga menyediakan banyak pilihan unik kopi dan artisan tea. Ada pilihan berbagai macam biji kopi lokal disajikan dengan mesin kopi atau manual brew seperti V60, kalita wave, dan chemer.

Untuk menjaga kesegaran kopi, Greens and Beans menyiapkan roaster sendiri yang memanggang biji kopi kapan pun dibutuhkan. “Untuk pilihan teh, kami juga punya white tea, pandan, andaliman, dan teh bunga telang atau biasa disebut bunaken blue,” tambah Ana.

Selai itu anda akan bisa menemukan cold press dari berbagai buah atau sayuran.

Untuk berbagai menu makanan dan minum di sini harganya berkisar antara Rp. 25 ribu sampai Rp. 60-an ribu sebelum pajak. Tapi “hati-hati” porsinya cukup mengenyangkan untuk Anda yang tidak terbiasa dengan sayuran.

Jadi siapa bilang makanan enak harus berasal dari daging? Ada banyak sayur dan buah yang bisa memberikan kejutan rasa.

 

Makanan Lokal Berkelas Premium

Tempat ini berawal dari kesulitan Fransiska Indriana, atau akrab disapa Ana, mendapat hidangan segar dan variatif. Padahal, dia penyuka sayuran. Ditambah, kini ada tren menyantap makanan sehat. Akhirnya, ibu satu anak ini memberanikan diri membuka bisnis dengan konsep yang tidak biasa.

Awalnya memang serba tak mudah, mulai dari mencari pemasok bahan-bahan baku yang berkualitas dengan konsisten sampai mencari menu-menu favorit banyak orang. Menemukan menu yang bisa disukai dengan bahan melulu sayuran memang menjadi tantangan. Selain jenis sayuran yang akrab di lidah orang Indonesia sangat terbatas, ada cukup banyak orang belum-belum sudah anti makan sayur-sayuran duluan.

Setelah akhirnya bertemu seorang penggiat pertanian organik, Ana pun berpikir untuk membuka herbs garden di dalam kafe Greens and Beans. Tentu saja semua kebutuhan bahan baku untuk makanan yang dihidangkan di kafe tidak hanya datang dari tanaman mini tersebut. Taman ini hanya diharapkan menginspirasi pengunjung sehingga menghargai beragam rempah dan sayur yang disantap. “Saya ingin mengangkat makanan dengan bahan baku lokal, tentunya yang kualitas premium,” terang Ana.

Saat ini ada sekitar 50 macam sayur dan buah yang ada di Greens and Beans. Tentu, ia tak akan berhenti di sini, karena berjanji akan terus mengeksplorasi makanan dan minuman yang berasal dari tanaman.

 

 

Sumber: Kontan.5-11-Maret-2018.Hal_.32

Jalan Terang Pendidikan Kewirausahaan

Oleh Jony Eko Yulianto, Dosen Universitas Ciputra Surabaya

 

Pendidikan kewirausahaan berfungsi sebagai mini ekosistem pemahaman bisnis.

Rancangan Undang-Undang (RUU) Kewirausahaan yang kini sedang memasuki fase pembahsan akhir dalam sidang pleno Kementrian Koperasi dan UKM (Kemkop UKM) dan Panitia Khusus Dewan Perwakilan Rakyat (Pansus DPR) menuai harapan bagi perkembangan perekonomian di Indonesia, khususnya bagi para pebisnis kecil dan menengah. Undang-undang tersebut diharapkan bisa menjadi medium yang mampu menstimulasi geliat kelahiran beragam usaha-usaha baru di berbagai level. Beberapa pihak yang menyambut positif prospek cerah ini salah satunya adalah dari kalangan akademisi dan praktisi yang tertarik dengan pendidikan kewirausahaan.

Ketika payung regulasi telah sampai pada taraf pengesahan, maka isu tentang bagaimana situasi ekonomi dapat tumbuh sebenarnyatelah menjadi topik prioritas nasional. Sayangnya jikat kita cermati dengan seksama, isu-isu tentang pertumbuhan start up atau usaha rintisan selama ini masih berlangsung secara sporadis. Meskipun ada beberapa rintisan usaha yang kemudian menjadi bertambah besar dan bahkan mendominasi pasar, hal tersebut sebenarnya masih bersifat kasuitik dan tidak benar-benar mempresentasikan situasi ekosistem kewirausahaan secara nasional.

Kondisi ini sebenarnya membawa kita kepada sebuah pertanyaan reflektif yang penting yang perlu mendapat perhatian. Sejauh mana kita dapat menyambut momentum ini dalam hal penyediaan bibit-bibit wirusahawan yang kompeten serta berkualitas?

Maksudnya, kita tidak lagi memandang profil ekosistem kewirausahaan sebagai sesuatu yang berada di luar kendali kita. Sebaliknya, sudah saatnya kita berpikir dengan jernih untuk menciptakan sebuah ekosistem kewirausahaan yang kondusif. Caranya adalah melalui mekanisme penciptaan desainsecara sengaja lewat pendidikan kewirausahaan.

Ekosistem kewirausahaan yang kondusif dan bersifat by design, akan menjamin usaha-usaha yang muncul bukan hanya tampil sebagai usaha rintisan yang asal berdagang saja dan mendapatkan keuntungan, malainkan start up yang mampu meberikan nilai tambah (added value) dan mengambil peran sebagai solusi bagi permasalahan kebutuhan pasar. Prinsip ini yang sebenarnya amat penting dan esensial ketika berbicara tentang hakikat kewirausahaan. Kita tentu tidak berharap Undang-Undang Kewirausahaan yang akan muncul hanya berfungsi sebagai regulasi yang tidak melindungi sisi filosofis dari kewirausahaan itu sendiri.

 

Potong Waktu

Almarhum Bob Sadino dahulu kerap mengajukan sebuah pernyataan yang kontroversial. Jika Anda ingin berbisnis, keluarlah dari kampus mulailah berbisnis. Pernyataan ini sebenarnya sedang menggambarkan bahwa membangun bisnis tidak semata cukup hanya dengan teori dari buku teks semata. Bob sedang menjelaskan bahwa kemamuan melihat peluang dan berkawan dengan resiko adalah sebuah kemampuan yang lahir berdasarkan pengalaman. Nah, pengalaman inilah yang akan membuat seorang pelaku start up semakin matang dan memiliki sensitivitas terhadap pasar di sekelilingnya.

Apalagi beberapa pebisnis besar juga dikenal memiliki kemampuan bisnisnya dari pengalaman dan bukan dari jalur pendidikan yang formal. Malah, hasilnya sungguh luar biasa.

Sebut saja Mark Zuckerberg, bos Facebook yang justru keluar dari Universitas Harvard. Lantas ada Jack Ma, bos Alibaba yang terkenal dengan video-video inspiratifnya untuk memberikan semangat kepada generasi muda untuk tidak takut gagal dan terus mencoba hal-hal yang baru. Ia mengaku mendapatakan keahlihannya justru dari berbagai pengalaman atas kegagalannya dalam menjalani sejumlah bisnis. Hal tersebut sudah barang tentu tidak sepenuhnya keliru.

Masalahnya, waktu yang diperlukan untuk mencapainya tidak sebentar. Tidak semua orang juga memiliki cukup waktu dan biaya untuk mengalaminya. Tidak semua orang juga mampu secara indipenden merefleksikan dan menarik pola-pola keberhasilan atau kegagalan yang dialaminya. Padahal hal ini merupakan proses ideal yang harus dilewati untuk menjadi seorang wirausahawan yang matang. Maka, kita membutuhkan sebuah mini ekosistem yang dengan sengaja kita ciptakan melalui pendidikian kewirausahaan.

Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep, putra-putra Prsiden Jokowi, juga berwirausaha. Tapi jika kita cermati, sebenarnya mereka tidak benar-benar mulai dari nol. Mereka telah memiliki sebuah mini ekosistem melalui ayahnya semasa menjadi pengusaha mebel. Dengan mengamati dan menarik prinsip-prinsip tersebut, ditambah dengan kesempatan utnuk mendapatkan nasehat dari sang Ayah dalam waktu-waktu santai bersama keluarga, mereka hakikatnya sedang memotong waktu. Terutama waktu yang berkenaan dengan pengalaman kegagalan yang dialami oleh orang-orang yang tidak memiliki kesempatan mendapatkan nasihat bisnis seperti itu, dari orang yang langsung terjun di kewirausahaan.

Pertanyaannya kemudian, berapa orang yang memiliki hak istimewa untuk mendapatkan mentor bisnis yang kapabel dan berpengalaman? Tentu saja tidak semua orang memiliki hal tersebut. Maka, disinilah peran dari para akademisi dan praktisi untuk dapat secara serius mempersiapkan sebuah mekanisme pendidikan kewirausahaan yang mampu memotong waktu proses wirausahawan-wirausahawan muda tersebut. Pendidikan kewirausahaan itu dapat berfungsi sebagai mini ekosistem yang akan memperlengkapi anak-anak didik itu dengan berbagai pengalaman, mentor, rekan-rekan sesama pelaku, dan lain sebagainya.

Peserta didik akan belajar tentang kewirausahaan bukan semata dalam kacamata ekonomi yang menekankan tentang pemerolehan untung, tetapi juga dalam perspektif liberal arts yang mengajarkan untuk membangun bisnis yang memiliki nilai tambah dan berperan sebagai solusi yang menjawab permasalahan pasar. Pendidikan kewirausahaan juga akan berfungsi sebagai komunitas yang akan menyediakan berbagai potensi bisnis. Mulai dari jejaring, ilmu pengetahuan, diskusi tentang tren terbaru (state of the art) dan lain-lain. Selain itu, para peserta didik tidak hanya belajar tentang bagaiman pengetahuan tetapi juga memiliki peluang untuk menjalin berbagai kolaborasi.

Dalam perspektif investasi, pendidikan kewirausahaan akan menjamin masa depan ekosistem kewirausahaan kita berisi aktor-aktor kreatif yang solutif. Maka, kini kita dapat pula melihat undang-undang kewirausahaan ini sebagai representasi jalan terang ekosistem kewirausahaan di Indonesia.

 

 

Sumber:

Ingkung, Simbol Solidaritas

JIKA Anda berada di Yogyakarta dan sekitarnya, dalam sebuah agenda jalan-jalan, keperluan keluarga atau bisnis, cobalah mampir ke Waroeng n Desso di Pajangan, Bantul. Warung yang menyajikan ingkung atau daging ayam utuh sebagai menu andalan. Ingkung dalam masyarakat Jawa juga dikenal sebagai perangkat ritual dalam kenduri.

Warung ini mengklaim sebagai warung “Ingkung Jawa yang Pertama”. Ingkung atau daging ayam utuh dari kepala sampai kaki disajikan dalam kondisi hangat di meja pembeli.

Pengunjung bisa memotong-motong bagian demi bagian sesuai selera. Boleh memilih paha atas, paha bawah, sayap, dada, atau brutu alias pangkal ekor. Atau jika suka menyuwir-nyuwir dagingnya, tidaklah susah, karena dagingnya cukup empuk. Cukup mudah pula kita mengunyah. Sambil duduk lesehan atau duduk kursi makan, kita bisa menikmati ingkung dengan warung ndeso beratap pelepah daun kelapa.

Gigitan pertama menjanjikan rasa yang gurih. Selanjutnya gurih demi gurih olahan daging ayam kampung itu seakan susul-menyusul, terus menggoyang lidah tak berhenti. Rasa gurih itu muncul dari santan yang digunakan untuk memasak daging ayam.

“Kami menggunakan santan untuk memasak daging, jadi gurihnya meresap ke dalam daging ayam,” kata Yudi Susanto (34), pengelola Waroeng n Desso.

Warung n Desso menggunakan ayam kampung. Ia tidak menggunakan MSG (monosudium glutamate) alias penyedap rasa buatan. “Kami murni hanya menggunakan rempah alami,” kata Yudi. Rempah itu antara lain bawang merah, bawang putih, ketumbar, salam, lengkuas.

Ingkung biasanya ditawarkan bersama dengan pilihan nasi putih atau nasi gurih yang disebut sega wuduk alias nasi uduk. Satu porsi ingkung bisa disantab oleh 3 atau 4 orang.

Sebagai pengimbang rasa gurih, tersedia gudeg manggar yang berasa manis. Gudeg kebanyakan memang terbuuat dari nangka, tetapi ini jenis gudeg yang terbuat dari putik bunga kelapa. Rasanya agak manis, dan menjadi pasangan pas untuk ingkung yang gurih.Gudeg manggar dilengkapi dengan krecek atau kulit yang sedikit pedas.

“Gudeg manggar sudah menjadi ikon Bantul. Kami adopsi sebagai menu, dan ternyata memang match (cocok) dengan ingkung,” kata Yudi.

Digunakan kata “nDesso” dalam nama warung itu karena lokasinya benar-benar di desa. Di Dusun Karangber, Kelurahan Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Suasana desa terasa dengan keberadaan pohon kelapa, munggur, dan rerimbun pohon khas pedesaan. Lokasi bisa dicapai dari Yogyakarta ke arah Bantul melewati Jalan Bantul. Sesampai di perempatan Masjid Agung Bantul, belok kanan, mengarah ke Lembaga Permasyarakatan Pajangan, dan terus lurus sekitar 2 kilometer ke selatan.

Simbol Solidaritas

Ingkung dalam konteks ritual, menurut antropolog PM Laksono, menjadi simbol solidaritas, kebersamaan masyarakat. Warga dikontraksikan menjadi bagian dari satu kesatuan utuh yang tersimbolkan dalam ingkung.

“Ingkung merupakan sajian yang bisa dibagi untuk makan bersama sehingga ada ikatan bahwa warga yang ikut berdoa menjadi bagian dari satu kesatuan,” kata PM Laksono.

“Ingkung yang dibagi itu menjadi gambaran keutuhan komunitas yang makan bersama-sama dari satu sumber makanan yaitu ayam satu ekor utuh itu,” kata Guru Besar Antropologi dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, itu.

Menu ingkung sudah menjadi tren di Bantul dan sekitarnya. Di sekitar Pajangan misalnya, ada sejumlah warung penyaji ingkung, seperti Ingkung Kuali, Gubuk Bambu Ingkung, Ingkung Ayam Sor Sawo, Warung Ingkung Joglo, Ayam Ingkung Mbah Demang, dan Igkung Mbah Cempluk.

Waroeng n Desso mengaku sebagai yang pertama. Pengakuan itu tertulis dalam papan nama. “Kami berani pasang sebagai yang pertama,” kata Yudi yang membuka warung pada 9 September 2011.

 

 

Sumber: Kompas.9-Maret-2018.Hal_.36

Hidangan Berbasis Durian dari Si Raja Duren

Durian adalah salah satu buah yang paling banyak disukai, sekaligus dibenci di berbagai penjuru dunia. Bagi sebagian orang, buah berduri ini dianggap sebagai makanan paling bau di muka bumi. Tidak sedikit penggemar yang menyebutnya sebagai ‘Si Raja Buah’: Salah satu provinsi penghasil durian yang cukup terkenal adalah Jawa Timur. Terdapat beragam jenis durian lokal dengan karakter rasa uniknya dari provinsi ini. Misalnya, durian Wonosalam, durian merah Banyuwangi, durian Trawas, dan banyak lagi.

Menyadari produksi dan jumlah penggemar durian yang begitu banyak di Jatim, Ayu Pusparini mencoba menangkap peluan dengan menghadirkan restoran berbasis durian di Surabaya bernama Raja Duren. Sesuai dengan namanya, konsep restoran ini mengutamakan aneka menu makanan, kudapan, dan minuman dari bahan baku utama durian.

Ayu seolah membuktikan bahwa durian tidak hanya lezat diolah sebagai sajian manis, tetapi juga nikmat dijadikan pelengkap makanan utama.

Salam satu andalan dari restoran tersebut adalah ‘sambal duren’. Jangan buru-buru membayangakan sambal ini pasti terasa aneh mengingat aroma durian begitu menyengat. Tenang saja, karena rasa dan aroma durian dalam sambal ini tidak begitu dominan tetapi hanya sebagai aksen.

Pada awalnya Ayu bereksperimen mengolah daging buah durian dengan menguleknya langsung dengan sambal. Namun, percobaan tersebut gagal karena rasa dan aroma khas durian yang dihasilkan jauh lebih menyengat daripada sambalnya.

Pada akhirnya, dia mencoba menggunakan minyak yang didapatkan dari meng-ekstrak buah durian sebagai campuran untuk mengulek sambal, alih-alih menggunakan minyak goreng. Untuk tetap memberikan sentuhan rasa durian pada sambelnya, dia mencampurkannya dengan topping durian.

Sambal unik tersebut lantas digabungkan sebagai pelengkap berbagai menu opilihan di Raja Duren. Misalnya, ayam goreng sambal duren, ayam bakar sambal duren, cumi saus telor asin dengan sambal duren, cumi hitam sambal duren, jamur crispys sambal duren, iga goreng sambal duren, hingga nasi goreng sambal duren.

Setiap menu yang dihidangkan dimasak dengan menggunakan racikan bumbu unik untuk menjaga cita rasa dan tidak sekedar mengandalkan gimmick sambal duren. Ayam goreng sambal duren, misalnya menggunakan rempah dan bumbu Jawa yang khas dengan aroma wangi dan rasa gurih.

Adapun, iga goreng sambal duren juga memiliki karakter rasa yang berbeda dari kebanyakan iga goreng. “Kami masaknya dengan cara spesial. Direbus dalam bumbu, lalu di oven hingga empuk dan bumbunya meresap ke dalm. Saat di outlet, [iga] digoreng deep fry dan disajikan dengan lalapan dan sambal durian,” jelas Ayu.

Menu lain yang tak kalah unik adalah nasi goreng duren. Nasi goreng diolah dengan bumbu hijau dari daun pandan, lantas disiram dengan saus keju yang dicampur durian. Teksturnya meleleh di lidah, dengan perpaduan rasa gurih dan aroma durian yang unik.

Selain menjual aneka makanan dengan sentuhan rasa durian, Raja Duren menjajakan aneka menuman dan dessert yang – tentu saja – berbahan dasar durian. Salah satu minuman yang paling laris di restoran ini adalah es kelapa duren yang memadukan nata de coco, kelapa muda, sirup cocopandan, es serut, susu, dan buah durian asli yang segar.

Aneka minuman yang diracik unik bersama durian juga menjadi andalan restoran ini. Misalnya, avocado duren float, yang merupakan jus alpukat yang dicampur durian dan disajikan dengan krim serta potongan alpukat di atasnya.

Adapun, aneka pancake durian juga menjadi favorit di Raja Duren. Uniknya, pancake dijajakan ke dalam berbagai varian rasa mulai dari stroberi, tiramisu, cokelat, oreo, hingga buah naga.

 

 

Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.4-Maret-2018.Hal_.13