Selera Seni Sang Begawan Properti. Bisnis Indonesia. 25 Agustus 2018. Hal.13_Ciputra

“Saya bisa demikian marah dan tegas ketika melihat ketidakberesan di area kerja karena kelalaian manusia. Tapi saya bisa menangis haru di hadapan sebuah lukisan yang sangat indah. Saya seorang yang keras terhadap hidup. Tetapi sebaliknya, saya juga mudah tersentuh..”

 

Untaian kalimat itu muncul dan menjadi penanda utama dalam salah satu bab dari buku biografi sosok Dr.(HC) Ir.Ciputra. dalam buku berjudul Ciputra The Entrepreneur The Passion of My Life, secara selayang pandang menceritakan bagaimana kepekaan rasa dan jiwa seni dari sosok mendapatkan julukan Begawan Properti Indonesia ini.

Menjadi pengusaha yang sangat sukses di bidang properti, tidak kemudian membuat pendiri dan chairman Ciputra Business Group ini lupa untuk mengelola rasa seninya. Di kalangan kolektor seni, sosok yang satu ini dikenal sangat tajam dan terampil dalam menilai karya seni.

Kecintaannya terhadap lukisan karya mestro seni Hendra Gunawan, menggiringnya menjadi kolektor yang terbesar di negeri ini.

Komitmennya terhadap kesenian tidak hanya cukup dengan menjadi kolektor benda seni. Pada Juli 1977, Ciputra mendirikan pusat kesenian yang bernama Pasar Seni Taman Impian Jaya Ancol.

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, sedangkan peremiannya dilakukan oleh Gubernur Tjokropranolo pada 17 Desember 1977.

Sejak diresmikan, pasar seni yang didirikan di atas lahan seluas 5,25 hektare ini mendapatan sambutan dari kalangan seniman dan pelaku seni di Tanah Air. Tempat ini juga menjadi saksi bisu proses perdamaian antara dua maestro seni kenangan yakni S.Sudjojono dan R.Basoeki Abdullah.

Ciputra menjadi juru damai dan mengakhiri perseturuan antara pak Djin, demikian S.Sudjojono sering disapa, dan pak Bas, sebutan akrab Basoeki Abdullah. Pada zaman itu, perseturuan antara keduanya menajam karena Pak Djon yang dijuluki sebagai Bapak Seni Indonesia Modern tersebut mengkritik lukisan mooi indie yang serba molek.

Pak Djon menganggap bahwa lukisan mooi indie hanya mengumbar kemolekan Nusantara dan melenakan masyarakat yang sesungguhnya dalam kondisi terjajah.

Pak Bas yang masuk dalam jajaran seniman dengan aliran renaissance dan naturalis ini tidak luput mendapatkan kritikan pedas.

 

 

INISIATIF

Ciputra yang bersahabat baik dengan para maestro seni itu, berusaha mendamaikan dengan mengajak mereka untuk melukis bersama di Pasar Seni Ancol. Seniman Affandi Koesoema yang juga dikenal baik oleh Ciputra tak ketinggalan untuk diajak.

Dengan cara yang dipilih oleh Ciputra itu, konflik keduanya mulai mencair. Dalam satu kanvas, seniman Affandi melukis wajah Basoeki Abdullah. S.Sudjojono melukis wajah Affandi, dan Basoeki Abdullah melukis S.Sudjono dan Ciputra.

Lukisan yang dibuat pada 30 Oktober 1985 itu masih disimpan rapi di kediaman pribadi Ciputra. Lukisan bersejarah tersebut disandingkan dengna koleksi lukisan Ciputra yang merupakan karya old master a.l.Basoki Abdullah, S.Sudjojono, Lee Man Fong, Le Mayeur, dan Rudolf Booner yang terpacak di dinding.

Bagi Ciputra, pasar seni Ancol memberikan kenangan tersendiri. Di tempat ini pula, dia memamerkan sejumlah lukisan karya Hendra Gunawan selepas keluar dari penjara Kebon Waru, Bandung.

Hubungan antara Ciputra dan Hendra Gunawan tidak berhenti sebagai hubungan antara kolektor dan seniman. Hubungan keduanya mencapai harkat persaudaraan di mana Ciputra pun berjanji untuk mendirikan Museum yang berisi Lukisan Karya Sahabatnya ini, dan dapat dinikmati oleh para pecinta seni.

“Saya akui [kehebatan] seniman-seniman lain [Basoeki Abdullah, Affandi, dan S.Sudjjono], tetapi yang paling saya kagumi adalah Hendra Gunawan. Karyanya sungguh luar biasa. Mulai dari warna, komposisi, dan figur yang dilukiskan,” tuturnya.

Janji Ciputra tertuaikan sudah. Pada 2015, didirikan Ciputra Artpreneur yang terdiri dari riang pameran, Ciutra Museum, Art Show, dan Ciputra Theater. Kawasan ini berada di lantai II superblok Ciputra World, Jakarta.

Kebahagiaan tidak dapat dilepaskan dari wajah sang Begawan, ketika pada 4 Agustus lalu, dipamerkan 32 karya lukis dan sketsa Hendra Gunawan yang belum pernah ditampilkan ke hadapan paran pecinta seni.

Pameran berskala besar dengan bertajuk Hendra Gunawa: The Prisoner of Hope ini gelar dalam rangka merayakan 100 tahun Hendra Gunawan.

Melalui pameran itu, Ciputra mengharapkan agar para pecinta seni di Tanah Air dapat karya salah satu maestro seni lukis Indonesia. “Hendra adalah pelukis langka dan memiliki ciri khas yang tak dimiliki oleh seniman lainnya. Di belahan dunia lain, tak ada seniman yang menyamai pencapaiannya.”

Totalitas dan konsistensi Ciputra dalam mengabdikan diri pada pelestarian karya seni memang patut diacungi jempol. Kesibukannya dalam bisnis tidak mengikis selera seni dan olah rasanya dalam berkesenian. Dia juga dikenal sebagai sosok yang sangat terbuka untuk bertukar pikiran dengan seniman dan pelaku seni di Tanah Air.

“Saya selalu sampaikan kalau membuat karya itu harus bagus sehingga bisa dijual. Saya ingin seniman bisa merdeka secara ekonomi, dan tidak mengulangi hal yang pernah dialami oleh Hendra pada masa tuanya. Pedagang bisa kaya, padahal seniman berhak sejahtera,” tegasnya.

Sumber : Bisnis-Indonesia.25-Agustus-2018.Hal.13_Ciputra

Membangun Brand Legacy Hingga Ratusan Tahun. Bisnis Indonesia. 25 Agustus 2018.Hal.1,11_Ciputra

Ciputra disebut Habibie sempat mengalami masa-masa sulit. Namun perlahan, dengan kemampuan dan instuisi yang dimiliki, ciputra mampu bangkit dan menunjukan kemampuannya sekaligus membanggakan Indonesia.

Ketua Umum Muri Jaya Suprana pun berujar kiprah ciputra di dunia properti menjadi alasan Pak Ci layak diberi gelar Bapak Industri Properti Indonesia.

“Beliau pantas diberi gelar sebagai Bapak Industri Properti Indinesia. Semua tokoh properti Indonesia setuju dengan itu,” katanya.

Gelar tersebut jelas tidak sembarangan. Ciputra tercatat sebagai pendiri Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group.

Hingga 37 tahun membangun Grup Ciputra, kelompok usaha, yaitu pengembang perumahan, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, fasilitas rekreasi, pendidikan, kesehatan, agrikultur, dan telekomunikasi. Ciputra juga mengembangkan pusat kesenian, Media dan asuransi.

Kesimpulan sama juga diutarakan salah seorang putra iputra, yakni Candra Ciputra. “Semangat beliau sangat luar biasa di usianya. Pikirannya masih sangat kuat, disiplin bukan main, dan idelismenya tinggi sekali. Tidak banyak orang seperti Pak Ci,” katanya.

Baginya, sang ayah merupakan sosok yang spesial di muka bumi. Banyak orang memiliki ide namun tidak dapat menjalankannya. Adapula orang yang tidak memiliki ide namun berani berbuat. Diantara dua tipe itu, Ciputra malah memiliki seluruh yang diinginkan pebisnis, memiliki visi jelas, mimpi dan mempu menjalankannya.

“Usia ke-87 tentu bukanlah usia yang muda lagi, tetapi saya masih punya mimpi, harapan, dan tekad kuat untuk berkontribusi lebih kepada keluarga, masyarakat, dan bangsa Indonesia tercinta ini,” kata Ciputra.

Usaha utama Grup Ciputra adalah pengembang perumahan skala besar dengan prinsip “Membangun Kota Membangun Kehidupan” yang didasarkan pada tiga nilai utama, yaitu integritas, profesionalisme dan entrepreneurship yang menjamin pembangunan berkelanjutan bagi warga, masyarakat, sakitar dan bangsa.

Grup ini juga telah mengembangkan proyek-proyek di 43 kota di indonesia dan beberapa negara di Asia, yakni Shenyang-China, Hanoi-Vietnam, dan Phnom Penh-Kamboja. Langkah ini menjadikan Grup Ciputra sebagai grup bisnis properti terbesar dan terdiversifikasi dari segi produk, lokasi geografis, dan segmentasi pasar.

Ciputra mengaku telah menjalankan berbagai proyek, dari sabang sampai Merauke. Baginya membangun sebuah properti bukan hanya soal mendirikan bangunan, namun bagaimana membangun kota-kota menjadi lebih baik.

“Kami tidak hanya membangun pintu dan jendela. Kami membangun sebuah kota baru. Ciputra terus berjuang untuk membangun brand legacy hingga ratusan tahun ke depan,” katanya.

Menurutnya, selama ini brand properti Indonesia masih lemah di mata dunia internasional. Bahkan nilai properti Tanah Air 10% lebih murah dibandingkan dengan properti negara tetangga. “Itu sangat menyedihkan sekali. Kita harap usaha bersama dapat mengangkat brand kita. Kondisi itu bukan salah luar negeri, akan tetapi kita yang kurang memperhatikan branding tersebut. Makanya saya mencetus tiga sila dalam menjalankan bisnis ini, yakni integritas, profesionalisme dan entrepreneurship,” katanya.

 

Kekuatan Batin

Tidak hanya memiliki kemampuan profesionalitas yang tinggi dalam karirnya, Pak Ci juga seorang yang sangat dekat dengan amat mencintai keluarganya.

Managing Director Ciputra Group, sekaligur anak pertama pasangan Ciputra Dian Sumeler, Rina Ciputra Sastrawinata, bercerita bahwa ayahnya adalah seorang yang sangat religius.

“Ayah saya selalu berdoa sehari dua kali, sambil menggenggam tangan ibu,” tuturnya.

Rina juga menceritakan bahwa ayahnya adalah seorang yang disiplin dalam melakukan gaya hidupnya, baik berolahraga rutin ataupun mengatur pola makan dengan baik serta patuh terhadap saran dari dokter.

Gaya hidup ini kemudian disimpulkan menjadi prinsip hidup Ciputra berupa resep 5D, yakni, doa kepada Tuhan, dokter yang ahli, Disiplin hidup, diet teratur, dan dana atau uang. Resep inilah membuatnya bisa panjang umur hingga saat ini.

“Ayah juga sangat optimis,” tambah Rina.

Dia mengenang momen dua tahun yang lalu ketika ibunya terpaksa harus dievakuasi ke Singapura akibat sakit yang diderita. Satu keluarga sangar cemas, namun Ciputra justri menjadi pembanugn semangat.

“Ayah meyakinkan bahwa ibu akan sembuh. Ayah sangat semangat walaupun ibu saya tidak sadar,” kenangnya.

Nyatanya, dua bulan kemudian istri Ciputra benar-benar sembuh dan masih sangat sehat hingga saat ini.

Sumber : Bisnis-Indonesia.25-Agustus-2018.Hal.1,11_Ciputra

Evan Raditya Pratomo, Mahasiswa UC Ilustrator Komik Kenny Dalglish. Jawa Pos. 30 Agustus 2018.Hal. 21,37

Habiskan Waktu Dua Bulan, Revisi Hanya Sekali

“HIDUP hanya sekali, setidaknya namaku tercatat dalam sejarah.” Kalimat yang diucapkan Nobita dalam komik Doraemon itu adalah kalimat yang selalu menjadi inspirasinya. Dalam derajat tertentu, dia telah melakukannya. Setidaknya, di bidang yang dia tekuni: ilustrator.

Karya pria yang kini menyebut dirinya mentor UC itu tidak lagi kelas Indonesia. Tapi, kelas dunia. Dia pernah dipercaya menggarap sebagian ilustrasi di film yang dibintangi Scarlett Johansson, Ghost in the Shell. Kali terakhir dia menjadi ilustrator untuk komik yang bercerita tentang King Kenny, nama panggilan legenda Liverpool Kenny Dalglish. Komik itu didedikasikan untuk perayaan ulang tahun ke-125 klub berjuluk The Reds tersebut yang jatuh tahun ini.

Awalnya sponsor utama klub yang bermarkas di Anfield, Standard Chartered Bank, mencari Ilustrator untuk proyek tersebut pada November 2017. Mereka meminta Octagon, sebuah perusahaan advertising di Stamford, AS, mencari ilustrator. Mereka sudah menggandeng penulis naskah asal Australia, Gavin McCormack.

Setelah melakukan pencarian di internet, Octagon tertarik dengan karya Evan. Terutama karya yang berjudul The Little Postman. Karya yang sebenarnya dibuat untuk tugas akhir saat kuliah di Fakultas Desain Komunikasi Visual UC itu memang mantap. Detail kecil-kecilnya sangat kuat dengan perwarnaan yang teduh.

Mereka lalu menghubungi Evan. “Konsepnya, segmen karya itu ditujukan anak-anak di bawah usia 11 tahun di seluruh dunia,” kata Evan. “Semacam minibiografi,” imbuh pria kelahiran Malang, 28 tahun silam, tersebut.

Meski karyanya untuk segmen anak kecil dan sudah ada penulis naskah, Evan tidak hanya menggambar. Dia juga menghabiskan banyak waktu untuk melihat film dokumenter tentang Kenny Dalglish. Juga, membaca banyak literatur tentang striker yang disebut majalah FourFour Two sebagai “striker terbaik Britania Raya setelah era Perang Dunia II” tersebut.

Warisan untuk Si Kecil dipilih sebagai tema ilustrasi King Kenny. Buku setebal 30 halaman itu dibagi menjadi lima bab. Yakni, bab yang menceritakan si Kenny kecil, Kenny menjadi pemain bola, Kenny menjadi manajer klub, Kenny sebagai kepala keluarga, dan nilai-nilai yang terkandung dalam kisah seorang legenda.

Bagi Evan, yang paling berkesan adalah bab kedua. Bab itu bercerita tentang Kenny yang sempat down ketika berkarir di klib Skotlandia, Glasgow Celtic. Hingga akhirnya, dia bangkit. Pada 1977 dia pindah ke Liverpool dan menjadi legenda. “Perjuangannya menginspirasi sekali,” terang pria berkacamata tersebut.

Evan mengatakan, dirinya sangat berhati-hati dalam mengerjakan proyek tersebut. Untuk gambar sebanyak 30 halaman, dia menghabiskan waktu dua bulan. Karena itu, dalam prosesnya, hanya ada sekali revisi dari pihak Liverpool FC. Suatu hal yang luar biasa, mengingat klub-klub Eropa sangat perfeksionis dalam mengerjakan publikasi untuk klubnya, “Saya kira saya dimudahkan karena tujuannya adalah untuk anak-anak,” tuturnya. (*/c7/ano)

Sumber : Jawa-Pos.30-Agustus-2018.Hal.21,37

Pameran Batik Oey Soe Tjoen. Jawa Pos. 30 Agustus 2018.Hal.32_Yohannes Somawiharja. Rektorat

SURABAYA – Semangat melestarikan batik sebagai warisan Nusantara terpancar nyata pada sosok Oey Kim Lian. Perempuan yang juga akrab disapa Widianti Widjaja itu merupakan generasi ketiga dari pembatik legendaris, Oey Soe Tjoen. Kemarin (29/8) dia ikut datang untuk berbagi kisah mengenai perjalanannya sebagai pembatik pada press conference yang mengawali pameran batik Oey Soe Tjoen di Jayanata Beauty Plaza.

Widia, sapaan akrabnya, mengungkapkan, sejak awal, dirinya tidak pernah dipersiapkan untuk menjadi seorang pembatik. “Awalnya, mendalami proses pembatikan untuk membayar utang ayah saya,” ujarnya. Ya, sangayah, Oey Kam Long atau Mulyadi Wijaya, merupakan pembatik generasi kedia. Uang yang dimaksud Widia adalah pesanan batik yang terlanjur diterima. Sang ayah belum bisa menyelesaikannya karena tutup usia pada 2002.

Dia akhirnya mulai mendalami proses pembuatan batik pada 2003, kemudian benar-benar memegang kendali estafet bisnis sejak 2006. “Awal belajar dulu, ada 13 batik yang saya rusakkan,” kenangnya. Usaha batik turun-menurun itu pun saat ini sudah berusia 100 tahun.

Yohannes Somawiharja, rektor Universitas Ciputra yang ikut hadir kemarin, mengungkapkan bahwa pameran itu penting. Pameran tersebut bertujuan mengedukasi generasi muda agar tidak hanyak mengenal batik cap yang dipotong-potong. Mereka juga bisa mengagumi sebuah kain batik tulis utuh yang berharga. Terlebih, ada 75 kain batik yang dipamerkan dari 14 kolektor.

Dari situ, akan bisa dipelajari keistimewaan batik Oey Soe Tjoen. Menurut Yohanes, salah satu keistimewaannya adalah pada dua sisi kain yang sama-sama dibatik. (hay/c20/tia)

Sumber : Jawa-Pos.30-Agustus-2018.Hal.32

Merajut Kembali Pariwisata Sunda Kecil. Kontan. 11 Agustus 2018.Hal.19. Dewa Gde Satrya_Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra

Oleh Dewa Gde Satrya Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra

 

Pasca gempa yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan kembali lagi terjadi, efeknya sampai ke Bali. Ini mengingatkan ketertarikan dua pulau tersebut yang dulu Sunda Kecil, bersama jajaran pulau di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gema persatuan dan saling bahu membahu dalam membagi rezeki dari sektor pariwisata di antara kepulauan Sunda Kecil, pernah terbersit pada proyek sosial, memenangkan Komodo menjadi tujuh keajaiban dunia baru berapa tahun lalu. Kini, gagasan kerjasama bekas wilayah Sunda Kecil (Bali, NTB dan NTT) patut diseriusi lagi.

Bulan Januari 2009, kerja sama antara tiga provinci di wilayah Sunda Kecil itu pernah dirintis. Meliputi bidang pariwisata, perdagangan, pertanian dan peternakan, kesehatan, kerukunan hidup beragama serta memperjuangkan kepentingan yang berkaitan dengan isu regionalisasi yang selama ini hanya terfokus pada Jawa dan Bali.

Wilayah Bali, NTB dan NTT sebelumnya tergabung dalam Provinsi Sunda Kecil berdasarkan PP No. 21/1950 (Lembaran Negara Tahun 1950 No. 59) yang kemudian berubah menjadi Nusa Tenggara berdasarkan UU Darurat No. 99/1954 yang kemudian ditetapkan dengan UU tanggal 6 Februari 1958. Berdasarkan UU No. 64/1958, Provinsi Nuga Tenggara dibagi dalam tiga daerah yakni Swatantra Tingkat I, yakni Daerah Swantantra Tingkat I Bali, Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Barat dan Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Timur.

NTB memiliki destinasi wisata internasional seperti Gunung Rinjani dan Tambora. Desa Wisata Sade juga memiliki potensi besar untuk menarik kunjungan wisatawan. Secara topografi, provinsi NTB yang memiliki dua pulau-Lombok dan Sumbawa-yang oleh pemprov setempat telah ditetapkan 15 objek dan daya tarik wisata (ODTW), yaitu sembilan di Pulau Lombok dan enam di Pulau Sumbawa. Di antaranya yang populer, Panti Senggigi dan Gili Trawangan.

Pulau yang biasa di sebut sebagai Pulau Seribu Masjid ini semakin banyak mengundang perhatian wisatawan asing. Kehadiran Lombok-Sumbawa dalam pentas industri dan destinasi wisata di Tanah Air berdampak strategis bagi Indonesia, khususnya dalam hal persebaran dan pemerataan ODTW unggulan. Data kunjungan wisatawan asing ke NTB tahun 2008 mencapai 450.000 orang, tahun 2009 naik 500.000 orang, melonjak menjadi 3,5 juta orang pada thaun 2017.

Pengemasan dan penjadwalan event wisata reguler berperan penting mendongkrak kunjungan wisatawan ke NTB. Misalnya, dua event akbar pariwisata, yakni Lombok Sumbawa Pearl Festival dan Indonesia MICE & Corporate Travel Mart (IMCTM) yang pernah digelar di The Santosa Villas & Resort Senggigi, Lombok.

 

Metode THIO

Sementara itu, NTT memiliki keunggulan destinasi wisata Pulau Komodo, termasuk Pulau Gili Lawa yang minggu lalu dikabarkan terbakar, danau tiga warna Kelimutu di Ende, taman aut sekitar Labuan Bajo di Manggarai Barat, Riung di Ngada, Teluk Maumere di Sikka dan Pulau Kepa di Alor. Di Sumba ada pesona megalitik, tenun ikat dan pasola atau perang tanding sambil mengendarai kuda dan Timor dengan banyak objek petualangan. NTT sendiri ditetapkan sebagai gerbang Asia-Pasifik berbasis pariwisata, seni, dan budaya yang spesifik.

Karena itu, tak salah jika gugusan kepulauan Sunda Kecil ini menjadi kekuatan baru bagi periwisata Indonesia yang jika disatukan akan lebih memperkuat satu dengan yang lain,  terutama pada momen duka lara gempa saat ini.

Jika dapat difokuskan, kerjasama pariwisata Sunda Kecil dengan memperkuat aspek “THIO” yang mensyaratkan sharing keunggulan satu daerah kepada daerah lain. Dengan memodifikasi sesuai kebutuhan kepariwisataan di Tanah Air, metode THIO yang dikenalkan Prof.Nawaz Sharif dari Pakistan yang terdiri dari technoware (T), humanware (H), infoware (I), dan orgaware (o) itu lain untuk diterapkan dan dikembangkan di NTB dan NTT khususnya.

Komponen pertama, yang di maksud technoware (T) adalah fasilitas fisik termasuk segala sesuatu yang terkait peralatan, mesin, teknologi yang digunakan dan sejenisnya. Unsur ‘T’ ini terutama menunjang kita melakukan peningkatan kualitas layanan kepariwisataan dan mendongkrak kinerja promosi di luar negeri. Kita meyakini, promosi secara online memiliki dampak yang signifikan untuk mempercepat penguatan branding destinasi Indonesia sebagai tujuan wisata internasional.

Maka, website, search engine optimation bagi pencarian kata kunci tertentu yang ditargatkan terkait dengan destinasi wisata daerah, layanan registrasi perjalanan wisata secara on-line, dan sebagainya, perlu diperkuat. Webside pariwisata NTB dan NTT yang sejauh ini dikelola Pemda, menjadi semakin penting distandardisasi sesuai kebutuhan dan daya tarik wisatawan asing.

Jika memungkinkan, dapat mencontoh yang dilakukan Surabaya melalui Surabaya Tourism Mobile Service (STMS). Fasilitasi ini bisa diakses melalui telepon seluler. STMS memberikan informasi mengenai peta, berbagai tujuan wisata, dan berbagai informasi guna mempermudah wisatawan melakukan perjalanan wisata secara aman, nyaman dan menguntungkan di Surabaya.

Kedua, humanware (H), yang terkait dengan kemampuan manusia seperti halnya keterampilan, keahlian, dan sejenisnya. Sumber daya manusia (SDM) di tiga daerah itu perlu semakin ditingkatkan, baik dalam hal kualitas maupun kuantitasnya.

Komponen ketiga infoware (I) yang terkait penguatan dalam akses informasi dan ilmu pengetahuan terkini menyangkut isu pariwisata global. Seperti soal sustainable tourism, green tourism dan responsible tourism yang menjadi sorotan publik dunia. Isu sensitif kepariwisataan global tidak Cuma diketahui tapi diimplementasikan. Penerapan ini bisa menjadi semacam nilai baru yang teramat berharga untuk menarik kunjungan wisatawan asing.

Komponen terakhir adalah orgaware (O) terkair jaringan organisasi dan manajemen praktis kepariwisataan. Berbagai stakeholder kepariwisataan di Bali, NTB, dan NTT perlu semakun memperkuat kinerja organisasi mereka guna membangun bersama-sama kepariwisataan Sunda Kecil. Lebih-lebih, pemanfaatan organisasi sosial kemasyarakatan dan kepemudaan yang mungkin selama ini belum banyak dilibatkan, perlu dicarikan peluar untuk turut serta menjadi bagian penting dalam kepariwisataan Sunda Kecil. Hal ini menjadi harapan di tengah duka gempa.

Sumber : Kontan.11-Agustus-2018.Hal.19

Support Ekonomi Jatim. Jawa Pos.10 Agustus 2018.Hal.34. Jenny Lukito Setiawan_Wakil Rektor Universitas Ciputra

PAMERAN Dekorasi, Interior, dan Arsitektur (Decorintex) kembali dihelat. Pembukaannya diadakan pada Rabu (8/8) dan berlangsung hingga minggu (12/8) di Grand City Convex.

Telah diadakan untuk kali keenam, Decorintex tahun ini membawa 75 produsen furnitur dekorasi, dan arsitektir terbaik se-jatim. Direktur utama PT Debindo Mitra Tama Muhammad Kushendraman menyebut bahwa tahun ini Decorintex lebih ditujukan bagi pegiat desain yang masih muda. “Golongan civitas academica kami hadirkan dari enam universitas baik negeri maupun swasta. Asal mereka berkompetensi dan memiliki prodi desain maupun arsitektur, langsung kami hubungi,” ujar Kushendarman.

Bukan hanya untuk mendidik golongan pelajar agar lebih up to date sain terkini dan menyesuaikan selera pasar, Kushendarman menyebutkan bahwa Decorintex kali ini juga bertujuan untuk support perekonomian Jatim yakni dengan cara mempertemukan supplier dan potential buyer.

Decorintex menuai pujian dari Kadisperindag Jatim Drajat Irawan. Hadir dengan memberikan opening speech, Drajat menyebutkan bahwa perekonomian Jatim sangat terbantu berkat Debindo yang secara konsisten memberikan wadah bagi pengusaha Jatim.

Upaya Debindo juga berbuah manis, dengan support-nya,  perdagangan Jatim naik 6,35 persen dan Jatim pun sukses didaulat sebagai kawasan modern tingkat Asia. Bahkan, tak jarang turis mancanegara yang tertarik membuka peluar bisnis usai bertemu pihak yang tepat di pameran.

Wakil Rektor Universitas Ciputra Jenny Lukito Setiawan hadir. Dia menyebutkan bahwa Debindo kali ini memiliki nilai sharing ilmu dan kreativitas yang menyentuh seluruh kalangan. Puluhan workshop, lomba, hingga seminar terkait dengan juga diadakan selama lima hari. Di antaranya, seminar vertival garden, glass painting workshop, decoupage workshop, hingga lomba fotografi dan desain pantry yang diadakan TOTO.

Saat ditanya mengenai target, Kushendarman menyebutkan bahwa Debindo akan membawa Decorintex ke Indonesia Timur, karena supply furnitur, dekorasi, dan arsitektur di Indonesia Timur bersifat defisit. “Kami akan bawa serta perajin mebel hingga organisasi profesi ke sana. Itu adalah goal Debindo dalam waktu dekat,” katanya. Dapatkan juga doorprize menarik selama pameran dengan berbelanja minimal Rp 1juta. (rah/xav)

Sumber : Jawa-Pos.10-Agustus-2018.Hal.34

Movie Time @ UC Library – Jenderal Soedirman

 

Dalam rangka memperingat HUT kemerdekaan RI ke-73, Movie Time @ UC Library kembali hadir dan menayangkan film biopik yang menceritakan tentang kiprah salah satu tokoh pahlawan Indonesia, berjudul “Jenderal Soedirman”.

Film ini bercerita tentang seorang tokoh yang bernama Soedirman, seorang jenderal yang menderita penyakit paru-paru dan hanya memiliki satu paru-paru namun begitu gigih berjuang dan berperang gerilya melawan penjajahan Belanda.

Movie Time kala itu diadakan pada Kamis, 16 Agustus 2018, dimulai pada Pkl. 13.00 – 15.00 wib dan bertempat di Library Lounge, Universitas Ciputra 3, Lantai 2.

Film yang dibintangi oleh Adipatiu dolken ini menceritakan tentang Belanda menyatakan secara sepihak sudah tidak terikat dengan perjanjian Renville, sekaligus menyatakan penghentian gencatan senjata. Pada tanggal 19 Desember 1948, Jenderal Simons Spoor Panglima Tentara Belanda memimpin Agresi militer ke II menyerang Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota Republik..

Soekarno-Hatta ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Jenderal Soedirman yang sedang didera sakit berat melakukan perjalanan ke arah selatan dan memimpin perang gerilya selama tujuh bulan.

Belanda menyatakan Indonesia sudah tidak ada. Dari kedalaman hutan, Jenderal Soedirman menyiarkan bahwa Republik Indonesia masih ada, kokoh berdiri bersama Tentara Nasionalnya yang kuat.

Soedirman membuat Jawa menjadi medan perang gerilya yang luas, membuat Belanda kehabisan logistik dan waktu.

Kemanunggalan TNI dan rakyat lah akhirya memenangkan perang. Dengan ditanda tangani Perjanjian Roem-Royen, Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan RI seutuhnya.

Suasana Movie Time: Jenderal Soedirman pada Kamis lalu (16/8).

Peran Hotel bagi Bangsa dan Dunia. Venue.07.2018. Hal.46-47_Dewa Gde Satrya.IHTB

 

Penulis : Dewa Gde Satrya Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya

 

Pada 18-24 April 1955 Indonesia menorehkan sejarah penting bagi peradaban dunia. Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika (KAA) adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (dulu Burmo), Sri Lanka (dulu Cylon), India dan Pakistan dengan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung.

Sebanyak 30 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu mengirimkan wakilnya. Konferensi ini merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan kekuatan-kekuatan Barat untuk berkonsultasi dengan mereka tentang keputusan-keputusan yang memengaruhi Asia pada masa Perang Dingin; kekhawatiran mereka mengenai ketegangan antara Republik Rakyat Cina dan Amerika Serikat; keinginan mereka untuk membentangkan fondasi bagi hubungan yang damai antara Tiongkok dengan mereka dan pihak Barat; penentangan mereka terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Perancis di Afrika Utara dan kekuasaan kolonial perancis di Aljazair; dan keinginan Indonesia untuk mempromosikan hak mereka dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat.

Sepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam apa yang disebut Dasasila Bandung, yang berisi tentang pernyataan mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerja sama dunia. Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru. Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961.

Peringatan 63 tahun KAA pada April lalu di Bandung pertama-tama menegaskan peran penting hotel bagi perjalanan bangsa Indonesia hingga sekarang. Sekaligus Momentum yang mengenang jasa Bung Karno yang tahu betul peran hotel bagi pencitraan bangsa Indonesia. Hotel menjadi simbol harga diri bangsa. Di bisnis akomodasi tersebut, bangsa Indonesia menampilkan diri dalam pergaulan global, di Surabaya, Hotel Majapahit (waktu itu Hotel Yamato) menjadi saksi sejarah penyobekan bendera Belanda (merah-putih-biru) menjadi Sang Saka Merah Putih.

Di Jakarta, ada Hotel Indonesia (HI), simbol kebanggaan bangsa. HI dikenal dan dikenang sebagai wadah pendidikan, sebuah ‘kawah Candradimuka’, tempat para hotelier digembleng, serta mendapat pelajaran dan pengetahuan tentang bisnis dan administrasi perhotelan. Maka tak heran, HI telah melahirkan hotelier yang tangguh dan tersebar di seluruh Indonesia hingga mancanegara.

HI juga merupakan awal industri perhotelan modern bertaraf internasional di Indonesia. Manajemen awal dipegang oleh Intercontinental Hotels Corporation (IHC), sebuah perusahaan perhotelan yang berkantor di New York, anak eprusahaan Pan American Airways (PanAm) yang sering digunakan Bung Karno dalam lawatannya ke luar negeri.

Bung Karno-lah yang memiliki gagasan pendirian HI dan hotel berbintang lainnya di negeri ini: Hotel Bali Beach, Ambarukmo Palaca Hotel, Samudra Beach Hotel, dan sepuluh hotel nasional yang tersebar di seluruh Nusantara sebagai Natour Hotel. Proyek pembangunan hotel berbintang tak lepas dari strategi Bung Karno membangun citra Indonesia sebagai negara yang baru merdeka, apalagi Indonesia sudah bergabung dengan Perserikatan Bangsa-bangsa (Arifin Pasaribu, 2014).

Rupanya strategi pembangunan hotel berbintang dengan menggunakan dana pampasan perang Jepang itu merupakan bagian dari strategi pendiri bangsa ini untuk ‘meningkatkan kasta’ bangsa Indonesia dalam pergaulan global. 10 tahun setelah Indonesia merdeka, dengan tambahan modal memiliki hotel berbintang di Jakarta dan Bandung, Indonesia menjadi tuan rumah KAA. Kini, KAA tercatat sebagai perintis atau cikal bakal industri MICE (meeting, inventive, conference, exhibition) di Indonesia.

Di Bandung, sejarah mencatat, berlokasi dekat Gedung Merdeka, Hotel Savoy Homann Bidakara menjadi satu-satunya hotel tempat menginap para kepala negara pada pelaksanaan KAA pertama tahun 1955. Kepala negara yang pernah menginap di hotel ini adalah Bung Karno, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru dan Perdana Menteri Tiongkok saat itu Zhou Enlai. Nehru menempati kamar nomor 144 di lantai satu, Bung Karno di kamar nomor 244 di lantai dua, Zhou Enlai di kamar nomor 344 lantai 3.

Kini, 63 tahun pasca KAA, Indonesia kembali menjadi tuan rumah event penting bagi dunia. Annual Meeting IMF dan Bank Dunia tahun ini akan diadakan di Bali. Pertemuan tersebut akan dihadiri 189 negara dengan delegasi 17.000 orang. Terdiri dari menteri keuangan dan gubernur bank sentral, lembaga keuangan internasional, petinggi perusahaan dan pengusaha kaya.

Semoga kesuksesan KAA dari segi acara, logistik dan oengamanan terulang di Annual Meeting IMF dan Bank Dunia di Bali. Keberhasilan KAA dan Annual Meeting IMF dan Bank Dunia secara khusus merupakan kontribusi kinerja industri perhotelan bagi bangsa dan dunia. Profesi sebagai hotelier menjadi pekerjaan mulai bagi perjalanan peradaban bangsa dan dunia.

Sumber : Venue.7.2018.Hal.46-47

Arjuna Menyusui, Potret dibalik Panggung. Jawa Pos. 5 Agustus 2018.Hal.8

100 Tahun Pelukis Hendra Gunawan

JAKARTA – Sebanyak 32 lukisan pelukis ternama Hendra Gunawan kemarin (4/8) dipamerkan di Ciputra Artpreneur Museum. Boleh dikatakan, pameran itu merupakan pameran terbesar karya Hendra Gunawan.

Pameran yang bertanjuk “Hendra Gunawan: Prisoner of Hope” tersebut menampilkan 23 koleksi pribadi Ciputra memamerkan kepada publik. “Wafatnya Hendra meninggalkan banyak kenangan dan simbol,” kata Ciputra.

Proa 86 tahun itu menceritakan salah satu lukisan Hendra yang berjudul Arjuna Menyusui. Lukisan tersebut mengambil latar adegan di belakang panggung saat para aktor sedang mempersiapkan diri. Dalam pertunjukan wayang orang, Arjuna selalu diperankan perempuan.

Hendra mampu menangkap situasi ketika pameran Arjuna sempat menyusui anaknya di tengah-tengah pemain lain yang sedang memulas wajah. “Perempuan dan keluarga sering kali diangkat dalam kerya Hendra. Hal itu menunjukan penghargaan tinggi terhadap mereka,” ungkapnya.

Presiden Direktur Ciputra Artpreneur Rina Ciputra Sastrawinata menuturkan, harus ada inovasi untuk menghadirkan karya Hendra. Alasannya, kebanyakan generasi muda Indonesia lahir ketika Hendra sudah wafat. “Ciputra Artpreneur mencoba menghubungkan masyarakat dengan sejarah dan warisan budaya Indonesia,” katanya.

Kurator dan pengamat seni rupa Agus Dermawan T. Yang ditemui dalam acara yang sama menjelaskan, banyak lukisan Hendra yang dihasilkan saat masa revolusi dan pasca kemerdekaan. Sehingga karya-karyanya merupakan gambaran masa itu. (lyn/c9/tom)

Sumber : Jawa-Pos.5-Agustus-2018.Hal.8

Tunel of Light. Rumahku. No.129. 2017. Hal.43. Hanson Albert Wijaya_Mahasiswa Semester 4 Prodi INA

Tunnel of lights merupakan konsep penggabungan antara perasaan manusia, nuansa ruang, kenyamanan dan kesehatan dari pengguna ruang itu sendiri. Pada design ini diupayakan agar lingkungan luar memberi pengaruh kepada interior sendiri, tidak hanya cahaya, warna dan pantulan difus yang didapatkan, namun juga dari segi penghawaan yang mengalir diakibatkan adanya cross ventilation system.

Pengaturan zoning pada denah juga menunjukkan pengaturan sirkulasi pengguna dimana, sinar matahari akan menjadi sumber cahaya secara potensial. Disaat pagi hari pada kamar utama telah terancang, pantulan sinar matahari pagi dapat mengenai area tidur. Saat malam hari bukaan yang diletakkan pada tinggi posisi mata saat berbaring ditempat tidur, memungkinkan mengekspose view ke arah langit. Pada lantai 3, perletakan bukaan bellow eye level pada ruangan yang sempit dapat dengan sendirinya membuat ruangan menjadi tampak luas dan tidak menyempit pada ujungnya, dikarenakan cahaya yang masuk mampu secara tidak sadar menuntun pengguna agar melewati lorong tersebut.

Tunnels of light merupakan landed apartment yang berbeda dikarenakan pada umumnya perancang yang sudah ada; selalu memberikan akses langsung antara lantai satu, dimana merupakan area bisnis, dengan lantai 2 dan 3 yang merupakan area tempat tinggal. Pada Tunnels of light, disadari bahwa untuk mengakses living space perlu memiliki akses yang tidak melewati area public, sehingga tangga yang menggabungkan lantai satu dan dua diposisikan pada bagian muka bangunan. Sesuai dengan namanya, konstruksi ini sangat memperhatikan pemasukan cahaya serta penyebarannya dalam ruang,melalui penggunaan light shelf, window wall serta horizontal louvre. Dengan banyaknya bukaan untuk memas ukkan cahaya pada ruang, maka sirkulasi udara juga dimaksimalkan untuk mengurangi penggunaan AC. Pada konsep konstruksi bebas dari bentukan kurva ini, tersirat sebuah design yang sustainable.

Sumber: Rumahku.129.2017.hal.42-43
Teks: Astrid Kusumowidagdo, Pengajar Interior Architecture Universitas Ciputra