Bangun Desa Berbasis Wirausaha Sejalan Program Nawacita. Jawa Pos. 30 Oktober 2018. Hal.28

SIDOARJO – Program Desa Melangkah 2018 kemarin (29/10) resmi di-launching di ballroom The Sun Hotel. Sebanyak 109 desa di Kabupaten Sidoarjo bergabung dalam program kolaborasi Jawa Pos, Pemkab Sidoarjo, dan Universitas Ciputra (UC) Surabaya itu. Selain mendapatkan benefit pendampingan dan pemberdayaan potensi, desa-desa tersebut berkesempatan mendapat penghargaan.

Program Desa Melangkah yang memasuki tahun ketiga itu resmi dibuka Ali Imron, kepala Dinas Perberdayaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Keluarga Berencana (PMDP3A KB) Pemkab Sidoarjo. Hadir pula dalam kesempatan tersebut Direktur Pemasaran PT Jawa Pos Koran Ivan Firdaus, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UC Wirawan E.D. Radianto, Kasatbinmas Polresta Sidoarjo Kompol Agus Suwandi, dan beberapa pejabat lain.

Menurut Ali Imron, program Desa Melangkah sejalan dengan salah satu Nawacita Presiden RI Joko Widodo. Yakni, pembangunan diawali dari pinggiran. Melalui program itu, desa akan didorong untuk lebih partisipatif dan aktif dalam meningkatkan perekonomian. Diantaranya, melalui optimalisasi potensi-potensi yang dimiliki. “Dengan demikian, desa lebih mandiri, inovatif, dan kreatif,” katanya.

Ali Imron menyatakan, total di Kabupaten Sidoarjo ada 332 desa dan 32 kelurahan. Nah, kalau ada yang bergabung dalam program Desa Melangkah 109 desa, itu berarti belum mencapai 50 persen. Ke depan, pihaknya berharap desa pesetra harus bertambah.

Wirawan mengaku bangga bisa bergabung dengan program Desa Melangkah. Desa bisa menjadi sumber ide. Kerja sama tentang desa tersebut merupakan yang pertama. Selama ini kota Delta dikenal sebagai kota 1.000 UKM (usaha kecil dan menengah). Nah, potensi itu membuat kampusnya tertarik untuk membantu mengembangkan potensi desa berbasis kewirausahaan. “Banyak oran yang punya usaha. Tapi, jiwa wirausahanya belum ada,” jelasnya.

Sementara itu, Ivan Firdaus menyatakan, fokus program Desa Melangkah ke depan adalah kewirausahaan. Dia berharap dengan sentuhan kewirausahaan tersebut, ada napas baru dalam pembangunan desa. Kesejahteraan masyarakat semakin meningkat seiring infrastruktur yang memadai. “Semoga kerja sama ini terus berlanjut,” ungkapnya.

Selepas Pelaksanaan launching, para peserta mengikuti workshop dengna tema waspada kabar hoax pada era milenial dengan narasumber Redaktur Jawa Pos M.Sholahuddin. (oby/c6/hud)

Sumbernya : Jawa-Pos.30-Oktober-2018.Hal.28

Negara dan Hoax Erdogan. Jawa Pos.29 Oktober 2018. Hal.4. Burhan Bungin_Dekan Fakulas Komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra: Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi Komunikasi.

Oleh Burhan Bungin

*)Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra, guru besar bidang ilmu sosiologi komunikasi

 

DALAM konteks sejarah, hoax adalah realitas sosial yang ada sejak manusia ada manusia ada. Bahkan, kisah iblis membohongi Adam dan Hawa maupun cerita-cerita hoax Hawa kepada Adam dalam cerita pohon khuldi di surga memberikan inspirasi dan tercatat di semua agama samawi sebagai hoax terbesar dalam sejarah umat manusia dan sejarah hubungan di antara makhluk-makhluk Tuhan.

Ketika masyarakat aktif menggunakan teknologi komunikasi seperti media sosial, hoax menjadi metode kebohongan yang langsung dikenal karena menunggangi media sosial sebagai medium penyebaran.

Kehadiran media sosial membuat orang dengan mudah menyebarkan hoax dalam skala yang luas setiap hari. Harapannya, hoax menjadi hantu sosial dalam keteraturan manusia. Tujuannya, mengganggu harmoni sosial.

Kelompok penyebar hoax itu menganggap ideologi masyarakat harmoni bukan sesuatu yang ideal. Sebab, menurut mereka, masyarakat akan stagnan dan tidak inovatif. Masyarakat yang selalu bergejolak, pikir mereka, akan mencapai kemajuan yang lebih tinggi.

 

Konstruksi Sosial Hoax

Apa yang dikontruksikan hoax tangisan adalah contoh bagaimana kontruksi sosial hoax itu di bangun oleh pihak tertentu dan dengan cepat sekali memenuhi ruang-ruang komunikasi kita.

Ada dua bentuk konstruksi sosial. Pertama, the social construction of reality, yaitu konstruksi sosial atas realitas yang digagas oleh Luckmann dan Petter L.Berger.

Konstruksi sosial atas realitas itu berproses melalui proses sosial sehari-hari antara guru-murid, orang tua-anak, kakak-adik, pelanggan-penjual, kiai-santri dan seterusnya. Melalui sosialisasi terus-menerus terbangun bangunan-bangunan konstruksi sosial tersebut.

Yang kedua adalah konstruksi sosial media massa. Hal itu lahir setelah masyarakat mengenal media komunikasi massa. Kekuatan media massa dan media sosial mampu menghantarkan kekuatan konstruksi sosial dalam waktu yang pendek, namun memiliki daya sebar yang luas, seluas-luasnya sesuai dengan kemampuan tbaran media massa dan media sosial itu.

Ciri utama konstruksi sosial media.

Tidak ada jaminan orang dalam kelas sosial apa pun akan steril dari pengaruh kekuatan konstruksi sosial hoax

Massa itu memiliki daya sebar yang luas dalam waktu singkat, memiliki kekuatan membangun konstruksi sosial yang kuat. Karena itu, dalam waktu yang singkat dan cepat, kekuatan konstruksi sosialnya mudah hancur bila ada alasan yang rasional mendekontruksi realitas sosial yang telah dikonstruksi sebelumnya, mudah digunakan untuk mengonstruksi realitas hoax yang dapat disalahgunakan oleh orang-orang yang ingin bermanfaatkan “mesin” konstruksi sosial media massa, dan hoax yang diciptakan konstruksi sosial media massa memiliki masa hidup yang pendek bila dibangdingkan dengan konstruksi sosial media massa itu sendiri.

Dalam hoax tangis Erdogan, yang terjadi adalah konstruksi sosial realitas media massa. Ketika suatu pihak memilih menyebarkan informasi bohong pada gambar Erdogan dengan menghapus wajahnya, kemudian hoax itu tersebar di media sosial sebagai berita Erdogan menangis, orang kemudian menghubungkan informasi tersebut dengan citra Erdogan sebagai pemimpin Islam yang baik.

Di masyarakat yang masi belum sadar literasi media, media sosial menjadi medium tumbuh kembangnya hoax secara dinamis dalam spektrum yang luas. Baik untuk menyerang sekelompok orang, lawan politik, maupun menyerang tokoh, agama, kelompok, etnis, serta institusi negara melalui delegitimasi kebenaran dan rekonstruksi kebenaran subjektif.

 

Negara dan Kecerdasan Komunikasi

Hoax tidak terlalu “bermanfaat” untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan pribadi yang tidak memiliki akses kepada kekuasaan. Oleh karena itu, hoax selalu berbahaya jika digunakan untuk menyerang penguasa atau orang di sekitarnya.

Negara sesungguhnya lebih mampu dengan sempurna membuat hoax karena negara memiliki semua alat perlengkapan hoax. Bayangkan tatlaka seluruh aparat menggunakan kata “diamankan”. Padahal, kata tersebut justru berarti “tidak selamat”.

Kasus hoax Erdogan menangis, untuk yang kesekian, telah membuka mata kita bahwa media, terutama media sosial, merupakan inkubator hoax terbaik yang dimiliki masyarakat saat ini.

Tidak ada jaminan orang dalam kelas sosial apa pun akan steril dari pengaruh kekuatan konstruksi sosial hoax. Bahkan, negara pun suatu saat akan terkontaminasi dengan hoax manakala orang-orang di sekitar kekuasaan juga sudah terkena pengaruh. Inga kasus Ratna Sarumpaet?

Jadi, kita semua tidak memiliki kekuatan apa-apa melawan hoax kecuali memperkuat diri dengan kecerdasan komunikasi. (*)

 

Sumber : Jawa-Pos.29-Oktober-2018.Hal.4

Mendadak Jadi Pedagang Pisang Goreng. Jawa Pos.28 Oktober 2018. Hal.23

SURABAYA – belajar akutansi yang identik dengan angka dan pembukuan kerap dianggap membosankan. Nah, mahasiswa Program Studi Akutansi Universitas Ciputra (UC) berusaha mematahkan anggapan tersebut. Caranya, dengan membikin kompetisi akutansi yang dikemas dalam bentuk permainan.

Kemarin pagi, halaman UC dipadati peserta acara Run Accounting dan Investment (Raise) 2018. Sekitar 111 tim dari 60 SMA hadir dalam lomba tersebut.

Di babak pertama, seluruh peserta mendadak jadi pedagang pisang goreng. Tidak benar-benar berjualan, mereka berpura-pura jadi pedagang pisang goreng yang harus menghitung modal dan menyiapkan peralatan.

Setiap tim diinstruksikan bergerak secepat-cepatnya untuk mengambil peralatan dan bahan dalam kotak yang sudah disediakan. Lalu, mereka diberi soal tentang akutansi. “Intinya, dalam perlombaan itu, mereka belajar menghitung modal, ongkos produksi, hingga cara pembukuan,” ujar Ketua Raise 2018 Melissa.

Selain game pisang gorang, materi akutansi dikemas dalam bentuk permainan lain seperti bakiak raksasa. Tiga orang yang mengenakan bakiak harus berkoordinasi untuk maju ke tiga meja yang sudah disediakan. Di setiap meja, ada soal yang harus mereka kerjakan. “Pembelajaran akutansi jadi seru dan menyenangkan,” tutur Widiya, peserta dari SMA Wachid Hasyim 5 Surabaya.

Menurut Melissa, kompetisi yang sudah berjalan kali kelima itu bertujuan menunjukan bahwa akutansi tidak sekaku atau serumit yang orang bayangkan. Selain itu, ditunjukkan bahwa akutansi berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Misalnya, game pisang goreng. Agar bisa merencanakan pembuatan pisang goreng dan perhitungan modal hingga hasil penjualannya, peserta diajarkan cara menghitung dari awal modal hingga untung ruginya.

Alferd Ferdinand, siswa kelas XI Perbanan SMK YPPI Surabaya menuturkan, lomba tersebut memberi banyak inspirasi yang tidak dipikirkan sebelumnya. Dengan adanya permainan itu, pembelajaran lebih menarik dan bisa diterima. “Ternyata akutansi erat kaitannya dengna kehidupan sehari-hari,” ucapnya. (his/c20/any)

Sumber : Jawa-Pos.28-Oktober-2018.Hal.23

Empat Mahasiswa Universitas Ciputra Rancang Aplikasi ParkirQ_Dapat Investor Meski Belum Seminggu Diluncurkan. Jawa Pos. 28 Oktober 2018.Hal.21,31

Sistem kerja aplikasi dengan empat fungsi utama itu disesuaikan dengan setting-an spot parkir. Tempat parkir dirancang atau ditata dengan sistem pagar untuk setiap spot. Tiap spot diberi nomor. Nah, diaplikasi, tinggal pilih nomor spot parkir mana saja yang diinginkan. Tentu yang masih kosong. Nomor spot parkir di aplikasi yang bertanda merah berarti sudah dibooking atau diisi orang. Spot yang masih putih atau biru berarti masih kosong. “Tinggal diklik nomor spot parkir yang masih kosong untuk booking atau reservasi,” ujar Rakha.

Hal itu sama dengan ketika memesan tiket bioskop melalui aplikasi online. Tinggal melihat kursi yang kosong, klik, dan reservasi selesai.

Aplikasi tersebut diluncurkan pada 22 Oktober 2018. Vendor pertamanya adalah Universitas Ciputra. Aplikasi itu sudah diuji coba pada 25 Oktober 2018. Karena masih percobaan pertama, spot parkir tidak menggunakan sistem pagar dan hanya satu petugas yang menjaganya. “Namun, sudah banyak yang merasa terbantu,” ujar Erlita, public relation Universitas Ciputra.

Meski aplikasi itu baru seminggu diluncurkan, sudah ada investor yang tertarik menanamkan modalnya. Salah satunya, Angel Investor yang menginvestasikan Rp 1,5 miliar. “Alhamdulillah dapat kepercayaan,” ujar Isabel.

Salain mempersiapkan kerja sama dengan vendor di Balikpapan dan Pekanbaru, mereka menyempurnakan aplikasi. Penyempurnaan meliputi rancangan hardware yang bisa digunakan untuk palang pintu parkir otomatis. Nanti tidak dibutuhkan pegawai lagi. Masyarakat juga tidak takut kehilangan kendaraan karena palang parkir bekerja otomatis berdasar sistem verifikasi dalam aplikasi.

Adhim mengatakan, dirinya dan tiga temannya sudah menyurvei 500 orang untuk menanyakan soal parkir. Ternyata, 95 persen reponden menyatakan bahwa parkir menjadi masalah. “Semoga aplikasi ini bisa berkembang dan makin banyak tempat yang berkolaborasi dengan kami,” terangnya. (*/c7/ano)

Sumber : Jawa-Pos.28-Oktober-2018.Hal.21,32

Belajar dengan Bazar. Jawa Pos.26 Oktober 2018. Hal.23

KEMARIN makasiswa semester V dari berbagai fakultas di Universitas Ciputra melangsungkan bazar kreatif di kampus. Tujuan utama memang mengumpulkan dana untuk project career expo pada November 2018. Namun, acara corporate entrepreneurship guild itu juga membuat mereka mempraktikkan ilmu yang diperoleh. Mulai negoisasi dengan vendor hingga belajar membangun hubungan baik dalam bisnis bersama pihak lain. (his/c10/any)

Sumber : Jawa-Pos.26-Oktober-2018.Hal.23

Dokter di Pusaran BPJS Kesehatan. Jawa Pos.25 Oktober 2018.Hal.4. Hudi Winarso_Dokter Fakultas Kedokteran

Refleksi Hari Dokter Nasional

Oleh Hudi Winarso

*) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra

 

BISA dikatakan bahwa saat ini adalah era Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. BPJS kesehatan merupakan badan hukum publik yang bertanggung jawab langsung kepada presiden. Ia bertugas untuk menyelenggarakan jaminan kesehatan nasional bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sejak beroperasi 1 Januari 2015, artinya sudah hampir lima tahun masih banyak masalah yang sulit diurai terkait BPJS Kesehatan.

Peraturan direktur jaminan pelayanan kesehatan yang diimplementasikan pada Juli 2018 mengatur penatalaksanaan layanan katarak, bayi lahir sehat, dan pelayanan rehabilitasi medik. Hal-hal itu mendapat banyak protes dari organisasi profesi kesehatan.

Lebih lanjut, sistem rujukan online berjenjang yang diberlakukan mulai Agustus 2018 menyebabkan masyarakat tidak bisa memilih rujukan terdekat dengan tempat tinggalnya. Dengan pemberlakuan sistem itu, rumah sakit kelas B dan A mengalami penurunan kunjungan pasien 30-50 persen. Kondisi itu bisa mengakibatkan pemutusan hubungan kerja pada sebagian karyawan rumah sakit, khususnya yang bukan tenaga tetap.

Di era BPJS saat ini, tidak mudah bagi dokter untuk memberikan layanan yang optimal karena banyaknya pembatasan dalam pelayanan. Pada sisi yang lain, dokter harus tetap profesional dalam pelayanan kepada pasien. Menurut undang-undang rumah sakit, dokter yang memberikan pelayanan substandar bisa dipermasalahkan.

 

Jiwa Pengabdian

Di tengah-tengah regulasi yang kurang berpihak kepada dokter yang notaben sekolahnya lama, biaya kuliah mahal banyak aturan yang kurang berpihak kepada dokter dalam menjalankan profesi. Namun, jiwa pengabdian dokter tidak pernah luntur.

 

Di era BPJS saat ini, tidak mudah bagi dokter untuk memberikan layanan yang optimal karena banyaknya pembatasan dalam pelayanan

Bencana gempa bumi Lombok hingga tsunami Palu membuktikan bahwa para dokter dan petugas kesehatan melaksanakan pengabdian yang luar biasa. Banyaknya korban patah tulang direspons Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi Indonesia (PABOI) dengan menugaskan para dokter bedah tulang ke daerah bencana secara bergelombang dan terprogram. Bahkan, hampir semua organisasi profesi dokter terlibat, baik yang dikelola IDI ataupun dari lembaga tempat dokter bekerja.

 

Fakta, Harapan, dan Solusi

Rekayasa BPJS Kesehatan sampai saat ini belum menghasilkan solusi yang tuntas. Secara finansial, kondisi keuangan BPJS Kesehatan minus. Secara operasional, rumah sakit ikut terganggu karena kewajiban utang BPJS Kesehatan tidak dibayar pada waktunya. Rumah sakit tidak bisa beli obat kepada farmasi karena utang obat belum lunas terbayar. Bahkan, jumlahnya cukup besar.

Masyarakat juga dirugikan karena seringnya regulasi BPJS yang berubah. Perubahan tempat layanan berdampak pada data medis yang tidak serta-merta bisa didapat di tempat layanan yang baru. Para dokter spesialis, yang banyak di rumah sakit kelas B dan kelas A, berpotensi menganggur. Khususnya jika di wilayah terkait, banyak rumah sakit kelas C yang gemuk :kelas C tetapi memiliki dokter spesialis yang relatif banyak dan lengkap.

Ada wacana rumah sakit turun kelas. Yakni, dari kelas B menjadi kelas C agar jumlah kunjungan banyak. Namun, itu pun tidak menyelesaikan masalah. Sebab, jada medik pada kelas yang lebih rendah akan lebih rendah pula nominalnya.

Harapannya adalah neraca keuangan BPJS harus membaik agar semua pemangku kepentingan tidak dirugikan. Masyarakat mendapat layanan kesehatan yang semestinya, tenaga medis mendapat penghargaan yang baik, dan sarana kesehatan mendapat haknya secara memadai. Hal tersebut bisa dicapai jika semua phak terkait bisa duduk bersama dan menghilangkan ego masing-masing.

BPJS harus mengupayakan pembiayaan yang bisa diefisienkan jika bisa. Jika gaji karyawan relatif besar, itu perlu ditinjau kembali. Pemegang regulasi harus berani membuat kebijakan yang bahkan tidak populer dengna menghitung ulang besaran iuran peserta BPJS. Jika perlu, menaikkan besaran iuran kalau hitungan unit cost tidak sesuai.

Kata “jaminan sosial” dalam BPJS harus dimaknai bahwa pemerintah bertanggung jawab mendukung sampai keseimbangan keuangan menjadi baik.

BPJS kesehatan juga perlu berdiskusi dengan organisasi profesi dan akademis agar penentuan kebijakan bisa sinkron dengan standar pelayanan yang sudah ditetapkan.

Untuk para mahasiswa kedokteran yang sedang berproses menjadi dokter, tetaplah semangat untuk menjadi dokter profesional. Semangat pengebdian dokter untuk bisa menolong sesama dengan keilmuan yang terbaik harus tetap utama, (*)

 

Sumber : Jawa-Pos.25-Oktober-2018.Hal.4

Tim UC kembali Turun ke Desa. Jawa Pos. 25 Oktober 2018.Hal.32

SIDOARJO – Tim Universitas Ciputra (UC) melanjutkan kunjungan ke desa-desa peserta program Desa Melangkah 2018. Kemarin (24/10) dua desa yang mereka kunjungi adalah Desa Tambak Sumur dan Bungurasih, Kecamatan Waru. Kunjungan lanjutan tersebut merupakan bagian dari upaya pemetakan potensi desa sekaligus sebagai dasar pendampingan.

Menurut Baswara Yua Kristama, staf Research & Community Development UC, wilayah Kecamatan Waru sangat unik. Dua desa yang telah dikunjung, misalnya. Keduanya memiliki potensi berbeda. Di Tambak Sumur, mayoritas penduduknya tinggal di perumahan, sedangkan Bungurasih memiliki potensi lantaran dekat Terminal Purabaya.

Nah, dua desa itu mempunyai strategi berbeda untuk memanfaatkan potensi tersebut. Dia mencontohkan, Tambak Sumur memilih memaksimalkan layanan publik. Saat ini desa itu masih memiliki cikal BUMDes untuk Payment Online. “Tapi bisa ditingkatkan mungkin dengan sentra untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warganya, mirip toko ritel online yang dapat diakses warganya,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, Tambak Sumur juga ingin membangun wisata sentra pemancingan di sekitar Kali Buntung. Fungsinya sebagai hiburan warga sekitar sekaligus meningkatkan pendapatan agar muncul lapangan pekerjaan baru. Isu wisata tersebut juga digaungkan untuk meningkatkan kepedulian warga terhadap lingkungan.

Adapun Bungurasih potensinya tidak kalah banyak. Salah satu yang menonjol adalah persewaan gedung serbaguna desa. Sudah banyak yang memanfaatkannya, baik sekolah untuk acar wisuda maupun untuk pernikahan.

“Pendampingan dari UC bisa mengenai pengelolaan manajemen sentra wisata pemancingan dan manajemen pengelolaan gedung,” ungkap Baswara. Bisa juga berupa pendampingan karang taruna tentang entrepreneurship bidang pengelolaan wisata dan pengelolaan acara. (uzi/c22/hud)

Sumber : Jawa-Pos.25-Oktober-2018.Hal.32

Moses Soediro, Dosen Culinary Business Pecinta Kopi. Jawa Pos. 20 Oktober 2018.Hal.7

DUNIA Moses Soediro seakan ditakdirkan tidak jauh-jauh dari memasak. Keluarganya punya bisnis kuliner turun-menurun. “Papa punya rumah makan sendiri sejak akhir 1990-an. Kakak ketiga saya juga bisnis kuliner,” kenang dosen Culinary Business Universitas Ciputra itu. Melihat koki meracik bumbu dan memasak bukan hal aneh buatnya.

Jalur kuliner pun dia tempuh ketika kuliah. “Terpaksa sebenarnya. Saya kuliah di Manajemen Perhotelan Universitas Kristen Petra karena biayanya lebih terjangkau,” ucapnya.

Awalnya, bungsu di antara empat bersaudara itu jemawa. Dia merasa, materi kuliahnya tidak jauh beda dari apa yang dia amati sejak kecil. Nyatanya meleset. “Nilai saya ada yang C+,” ungkap Moses, lantas tertawa.

Hal itu jadi lecutan buatnya. Passion di dunia masak perlahan tumbuh. Saat bagana, Moses memilih Belanda. “Saya pegang dapur, teman saya di bar. Nah, pas main di tempat teman, kenal kopi,” papar suami Ong Yuliana itu.

Moses langsung banting setir. Dia mendalami dunia kopi secara otodidak. Panduannya, mesin pencari Google dan kelas-kelas kopi yang diadakan komunitas.

“Belajar kopi itu enggak mudah. Di awal, saya merasa lidah saya bodoh,” kata ayah satu anak tersebut. Yang terlintas Cuma rasa asam dan pahit kopi. Aromanya pun Cuma satu: wangi kopi.

Dia belum bisa membedakan after taste, rasa dan aroma yang tercecap setelah kopi diminum. Moses baru benar-benar bisa “mendedah” aroma dan rasa minuman yang identik dengan rasa pahit itu pada 2008. “Lagi-lagi, karena diajak. Saya diajak saudara nyicip kopi,” katanya.

Moses menilai, agar rasa kopi benar-benar menjejak, kopi harus dihirup perlahan. Tidak bisa langsung ditenggak bak air putih.

Buat dia, dunia kopi adalah dunia yang penuh warna. Meski, sama-sama berasal dari bijian yang disangrai, rasa dan aroma bisa berbeda. Asal menentukan rasa, teknik menyeduh pun ikut berpengaruh.” Kita manasin air buat kopi kurang panas aja, rasanya beda. Kopi belum matang, jadi kembung,” ucap Moses.

Sebegitu cintanya, stok kopi alumnus Christelijke Hogeschool Nederland (CHN, kini Stenden University, Red) itu ada di mana-mana. Di kantor, di lab kopi, hingga rumah. Lengkap dari bijian, penggiling kopi mini, sampai alat seduhnya.

Moses menyatakan, dirinya tidak terlalu rewel tentang pilihan kopi yang harus diseduh. Selama bukan kopi instan, apalagi yang ditambah dairy creamer, pasti dia minum.

Kini Moses tidak sendiri menikmati kopinya. Dia melatih putranya Darren Jonathan Soediro ikut cinta kopi. Meski baru berusia 19 bulan, Darren sudah suka kopi. Tanpa gula, tanpa susu. Khusus si kecil, dia membuat seduhan paling light. Dimulai dari sesendok teh, kini putranya bisa menikmati kopi. Bahkan, Moses menilai, berpotensi jadi saingannya.

“Kalau dengar saya nggiling kopi, pasti noleh. Jadi, kalau minum, saya harus sembunyi-bunyi,” papanya. Soalnya, Darren bisa mengambil jata kopinya. Moses menyatakan, kopi buat si kecil tidak diberikan terlampau sering. Cukup sekali seminggu. “Bagus buat pembuluh darah. Bisa mencegah step juga,” imbuh Moses.

Moses membatasi konsumsi si hitam, tidak peduli betapa sukanya dia dengna kopi. “Kalau pakai takaran espresso, paling pol 3-4 cangkir. Kalau kebanyakan, nanti ketergantungan,” tegasnya. Dan, dia tidak mau jadi ketergantungan. (fam/c25/jan)

Sumber : Jawa-Pos.20-Oktober-2018.Hal.7