INTEGRITAS, PROFESIONALISME, DAN ENTREPRENEURSHIP (IPE) BERKELANJUTAN

Oleh Bapak Ciputra

 

Merupakan berkat yang melimpah dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga saya dapat menjadi bagian dari kemajuan industri Properti di Indonesia. Di tahun 60-an saya mendirikan Jaya Group bersama Pemerintah DKI, di tahun 70-an saya bersama rekan-rekan mendirikan Metropolitan Group, dan di tahun 80-an bersama keluarga mendirikan Ciputra Group, yang hingga kini sudah membangun hingga 40 kota di seluruh Indonesia serta beberapa kota Asia. Sudah lebih dari 5 dekade saya turut membangun Indonesia melalui cipta karya di dunia property.

Selama perjalanan tersebut, saya memperhatikan bahwa dunia properti memiliki siklusnya tersendiri, ibarat cross country runner, dunia properti akan menghadapi berbagai rintangan serta jalan yang berliku naik dan turun. Namun apakah yang menyebabkan kita dapat terus berlari dengan semangat serta mampu melampaui semua itu. Perenungan saya yang panjang menyimpulkan bahwa Integritas, Profesionalisme dan Entrepreneurship (IPE) menjadi fundamental saya dalam berpikir, bergaul, dan berkarya selama berpuluh-puluh tahun sehingga dapat melalui perjalanan panjang penuh tantangan, naik, dan turun dan harus melalui berbagai kondisi ekonomi makro yang bergelombang dan kadang mengejutkan serta tak terduga sama seperti peserta cross country runner yang sedang berlomba. Saya simpulkan bahwa IPE tsb harus kita tetap pegang sebagai nilai-nilai utama Grup Ciputra dan IPE harus dapat kita wujudkan dalam tindakan dan pekerjaan sebagai sesuatu yang menyatu dan utuh. Apa yang akan terjadi bila IPE dapat kita praktekkan secara utuh? Mari melihat ilustrasi berikut ini.

Saya berkeyakinan bila perusahaan secara terus menerus dapat mengintegrasikan IPE secara utuh, tidak sepotong-sepotong dan sinambung maka dengan sendirinya akan terjadi perusahaan yang superior dan berkelanjutan atau perusahaan berada di daerah D dalam diagram diatas. Bagaimana dengan daerah A, B dan C? Perusahaan yang berada di daerah A memiliki Integritas atau dapat dipercaya dan juga memiliki Profesionalisme atau dapat diandalkan, perusahaan seperti ini hanya sukses di masa kini tapi akan kehilangan masa depan. Kenapa? Alasannya segala sesuatu yang kita anggap hebat pada masa sekarang suatu kali kelak akan kadaluwarsa, kehebatan perusahaan seperti ini akan tergerus oleh arus perubahan jaman dan persaingan bisnis. Perusahaan yang di daerah B memiliki Profesionalisme dan Entrepreneurship, perusahaan ini unggul dan memiliki inovasi untuk masa depan namun karena tidak memiliki Integritas maka perusahaan akan kehilangan pelanggan. Serapat-rapatnya perusahaan menutupi kecurangannya suatu kali kelak pelanggan akan tahu bahwa perusahaan tidak berintegritas dan siapa yang mau tertipu untuk ke dua kali? Lebih celaka lagi pelanggan yang tertipu biasanya menuntut dan menceritakan kepada banyak orang pengalaman buruknya. Perusahaan di daerah C memiliki Integritas dan Entrepreneuship, perusahaannya memiliki nama baik dan dipercaya serta memiliki inovasi-inovasi baru untuk masa depan, namun pada saat pelaksanaan Profesionalisme tidak terjadi. Jadwal penyerahan produk terlambat dan kualitas produk tidak seperti di brosur. Nah, inipun sebuah bencana karena dengan tidak adanya Profesionalisme perusahaan akan kehilangan reputasi.

Beberapa waktu lalu, Millward Brown merilis Top 50 Most Valuable Indonesian Brands dan Ciputra Group di peringkat 20 dari seluruh industri dan sebagai peringkat pertama di industri real estat, dengan total nilai brand 484 juta dollar Amerika. Kemudian yang terbaru adalah Forbes Indonesia mencatat kita dalam 50 Best of the Best emiten Indonesia di peringkat ke 7, yang tahun ini sudah ketiga kalinya kita ter- masuk 50 Best of the Best versi Majalah kenamaan tersebut. Pengakuan ini merupakan capaian dari seluruh jajaran Direksi hingga staff dan karyawan Ciputra Group yang telah bersama-sama bekerja keras dan menerapkan Integritas, Profesionalisme, dan Entrepreneurship secara berkesinambungan. Saya simpulkan tidak ada pilihan lagi selain memadukan Integritas, Profesionalisme, dan Entreprenurship secara utuh, tidak sepotong-sepotong dan harus terus menerus dari top management sampai yang operasional. Inilah yang sedang dan akan selalu kita lakukan di Grup Ciputra. Saya pun sangat berterima kasih kepada seluruh staff, manager, direktur yang telah bekerja keras untuk sukses bersama Ciputra Group, semoga kita akan terus berkarya yang bermanfaat bagi bangsa hingga dunia dengan hasil yang lebih unggul lagi. Salam IPE dari saya.

 

Sumber: Ciputra News Edisi October 2015

UC Library & Ricky Imanuel Abednego Oematan

Kalian mahasiswa tugas akhir? Pusing cari artikel? Susah cari referensi untuk tulisan kalian?

Pertanyaan tersebut yang mungkin terlintas di kepala civitas akademika para pejuang skripsi.
Nah, Ricky Imanuel Abednego Oematan, mahasiswa jurusan Accounting yang juga pejuang skripsi ini mencoba membagikan pengalamannya bersama UC Library.
Kira-kira apa sih? Berikut penuturannya:

“Selama saya berkuliah, UC Library menyediakan buku-buku menunjang perkuliahan saya, baik ketika saya membutuhkan buku referensi atau buku wajib bisa saya dapatkan di UC Library. Saat ini saya sedang memasuki semester skripsi dan UC Library sangat membantu saya, baik dari suasana ruangan koleksi yang sangat kondusif membantu saya lebih berkonsentrasi belajar, lebih tenang, dan ketika membutuhkan referensi sangat mudah mendapatkannya mulai dari e-journal, penelitian kakak kelas terdahulu, buku-buku teks yang membahas tentang metode penelitian, dan juga koleksi referensi lainnya.”

Buat kalian yang sedang menjadi pejuang skripsi gak usah galau, langsung aja datang ke UC Library atau kalian juga bisa mengakses E-Journal Emerald yang dilanggan oleh UC ke:
URL: www.emeraldinsight.com

Berikut adalah daftar subyek yang bisa kalian akses:
1. Accounting, Finance, & Economics
2. Business, Management, & Strategy
3. Mental Health
4. Information & Knowledge Management
5. Tourism & Hospitality
6. Marketing

Jika kalian dalam area kampus, kalian dapat menggunakan e-journal emerald secara otomatis tanpa memasukkan username dan password. Kalau kalian ingin mengakses tapi berada diluar UC atau memiliki pertanyaan seputar koleksi jurnal yang dilanggankan oleh UC Library, silahkan langsung berkunjung ke UC Library atau menghubungi Pak Panji di telp ext. 2223, email: panji@ciputra.ac.id

Strategi Berburu dan Strategi Manajemen, oleh Pak Ciputra

 

Saya pernah menjadi seorang pemburu di usia remaja yang berburu bukan untuk sekedar hobi atau bersenang-senang. Saya berburu untuk kebutuhan hidup sekaligus ajang mengasah dan mencipta prestasi.

Di sekitar tahun 1944 ketika saya berusia sekitar 13 tahun saya memiliki kehidupan yang sangat dekat dengan alam. Saya pernah tinggal di Bumbulan (Gorontalo-Sulawesi) sebuah desa di tepi pantai lalu kemudian pindah ke desa Papaya di tepi hutan. Sebuah perpindahan tempat tinggal yang terpaksa dilakukan karena ayah saya ditangkap dan dibawa oleh tentara Jepang dan karena peristiwa itu kami juga kehilangan toko kelontong yang menjadi nafkah utama keluarga. Sebagai seorang anak remaja saya adalah remaja yang sangat aktif secara fisik, saya berenang dilaut, berkuda, memanjat pohon dan berburu. Saya berburu babi hutan, babi rusa, rusa dan anoa. Selama 5 tahun saya menjadi remaja pemburu binatang dan ternyata pengalaman itu telah melatih saya berbagai hal penting seperti strategi, kepemimpinan dan manajemen yang dampaknya sangat saya rasakan setelah saya menjadi entrepreneur. Saat-saat berburu dan hidup dekat dengan alam merupakan saat yang sangat mengesankan untuk saya namun impian untuk pergi ke Pulau Jawa dan belajar menjadi Arsitek ternyata terus bergelora, tidak pernah padam dan membuat saya meninggalkan pengalaman-pengalaman tsb.

 

Melalui berburu saya belajar menginovasi kehidupan saya.

Pada masa itu mata pencaharian utama keluarga saya adalah sebagai petani yang harus dapat bertahan hidup dari lahan seluas hampir 1 hektar. Kami hidup dengan cara berladang jagung, umbi-umbian dan juga padi. Kami bertani tanpa kehadiran seorang ayah, sementara itu 2 saudara saya yang lain bersekolah di Gorontalo. Saya hanya tinggal dengan ibu yang sangat mengasihi saya namun secara ekonomi kami berkekurangan. Berburu adalah sebuah upaya melengkapi kebutuhan keluarga karena dengan berburu saya bisa mendapatkan daging selain makanan hasil pertanian. Melalui berburu saya juga telah belajar sejak dini bagaimana “mengubah kotoran dan rongsokan jadi emas” atau “mengubah masalah jadi peluang”. Di desa Papaya binatang liar seperti babi hutan, babi rusa, rusa dan anoa sering mengganggu ladang maupun sawah penduduk desa. Jadi adalah sebuah keharusan bagi penduduk untuk membasmi binatang liar tersebut agar sawah maupun ladang kami tidak dirusak. Bagi saya berburu binatang liar bukan sekedar menyelesaikan masalah gangguan terhadap ladang, ini adalah sebuah sumber pasokan protein hewani yang memang kami butuhkan.

 

Melalui berburu saya belajar membangun tim dan mengelola tim. Rumah kami di desa Papaya berada di dekat kebun kelapa dan hutan primer. Kami tinggal di rumah dengan 2 kamar yang memiliki kolong dibawah rumah. Kolong rumah tersebut menjadi sebuah ruang kehidupan yang sehat untuk 3 anjing saya yang kemudian karena kegiatan berburu saya menambah jumlah anjing saya sehingga mencapai 17. Saya adalah seorang remaja yang memiliki anjing terbanyak di desa Papaya. Anjing-anjing saya ini bukan anjing biasa bagi saya. Ke 17 anjing yang saya miliki saya cari dan pilih dengan sengaja. Saya pahami karakternya masing-masing dan saya latih ketrampilan mereka untuk berburu. Seperti layaknya manusia dalam bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Mereka tinggal dikolong rumah kami, sehingga saya senantiasa dapat mengetahui perkembangan dan kondisi mereka. Saya merawat mereka layaknya merawat manusia, menyiapkan makan mereka yang terdiri dari kelapa parut, ubi, jagung rebus, dan dicampur dengan daging hasil buruan. Saya tahu, mereka pun sangat menghargai saya sebagai pemimpin yang mengerti mereka dan dengan kasih sayang memfasilitasi kemajuan berburu mereka. Saya terapkan reward and punishment pada mereka seperti layaknya juga manajemen manusia. Reward berupa makanan, atau usapan penuh kebanggan dan apresiasi, serta punishment berupa bentakan keras agar anjing tersebut tahu sedang menerima hukuman. Saya juga menerapkan coaching pada mereka supaya mereka dapat meningkatkan prestasi mereka seperti coaching pada karyawan dalam manajemen sebuah organisasi. Saya memperlakukan ke 17 anjing saya dengan penuh perhatian dan kasih sayang

seperti saya memperlakukan manusia. Saya yakin anjing-anjing yang saya miliki pada saat itu juga paham, bahwa saya memperhatikan mengasihi mereka, memelihara mereka dan mendorong kinerja mereka supaya mereka sukses mengerjakan tugas dengan baik. Saya seakan memanusiakan binatang yaitu memanusiakan anjing. Teman-teman berburu saya ternyata dapat melihat prestasi dari anjing-anjing milik saya dan mereka memberikan rasa hormat dan kagum. Inilah pembelajaran penting tentang membangun tim. Saya harus memperlakukan tim saya dengan baik, penuh pengertian dan menunjukkan bahwa kita saling membutuhkan.

 

Melalui berburu saya belajar untuk membangun kemitraan yang saling mempercayai dan saling melengkapi satu sama lain. Saya tidak berburu sendirian, saya berburu bersama dengan teman-teman saya dan 17 anjing saya. Di dalam berburu secara kelompok kami harus dapat saling mendukung berjuang sehidup semati karena risiko menghadapi binatang liar sangat besar. Kekuatan kami terletak pada kemampuan kerja sama diantara kami, kecakapan mengarahkan anjing-anjing serta senjata untuk berburu seperti tombak besi, pedang yang tergantung di pinggang, Sebagai pemburu di usia remaja kami juga menyadari bahwa kami membutuhkan orang yang lebih berpengalaman untuk mengarahkan dan memberi nasehat. Oleh karena itu kami disertai seorang tua yang paham akan pergerakan binatang di dalam hutan, orang tua ini adalah pawang yang biasa kami panggil sebagai Oom Gugu. Merambah hutan membuat tubuh kami biasa terluka oleh duri, belukar dan pohon-pohon dengan ranting yang tajam bahkan saya pernah sebulan tak bisa berburu karena terluka. Kesulitan dan tantangan ini kami hadapi bersama, inilah “tim kerja” berburu yang membuat kami sanggup menjelajah hutan yang berbahaya dan itu telah saya alami di saat saya remaja. Saya telah belajar sesuatu yang sangat penting untuk membangun usaha yaitu menemukan dan membangun kemitraan yang saling mempercayai dan bisa saling melengkapi satu sama lain.

 

Melalui berburu saya telah belajar menyusun strategi.

Berburu di usia remaja yang saya alami bukan sekedar mengandalkan mata awas untuk menemukan binatang, kaki yang bertenaga untuk mengejar buruan dan otot yang kuat untuk melempar senjata. Kami terlatih membangun formasi dan berburu binatang dengan strategi. Anjing-anjing kami bergerak didepan, mereka mengendus dan menggunakan instingnya dalam mendekati binatang buruan. Lalu kami manusia dengan siap siaga bergerak sambil memegang tombak. Kami sudah terlatih melempar tombak mengikuti dari belakang sekitar 50-100 meter dengan penuh konsentrasi dan keyakinan untuk segera menyergap babi hutan atau babi rusa atau rusa atau anoa. Ditengah hutan yang lebat dan lembab, kami melangkah dengan kaki-kaki telanjang tanpa sepatu, dan telanjang dada, hanya mengenakan celana pendek sebagai pakaian. Anjing-anjing dengan agresif berlari di depan dan sekitar kami dan jika mencium bau binatang buruan, mereka akan mengejar terus dengan gonggongan, sehingga kami berlari menyusul mereka. Jika binatang buruan berukuran kecil, anjing-anjing saya akan langsung menyerang, menerkam dan mencabik hingga binatang buruan tersebut dapat kami kuasai. Namun jika menemukan binatang buruan yang berukuran besar, anjing-anjing saya akan dengan gonggongan yang keras melumpuhkan mental binatang buruan, kemudian kami manusia yang melakukan penyerangan menggunakan tombak. Sungguh sebuah pengalaman yang kaya dengan pembelajaran kehidupan yaitu mengajarkan saya untuk berstrategi dalam mencapai sesuatu yang penting.

 

Melalui berburu saya belajar untuk berani menghadapi tantangan besar sekaligus menikmati hasil yang sepadan.

Kami berburu setiap hari Minggu, disaat kami libur sekolah. Berburu binatang liar tidak mudah dan terdapat ragam risiko di dalam hutan ketika memburu binatang liar. Saya menyenangi tantangan berburu bahkan sangat bersemangat saat berburu. Saya antusias menyambut ragam tantangan dan kesulitan. Setiap kali kami berburu maka kami berjalan dan berlari sambil juga memikul hasil buruan dapat mencapai jarak 20 km – 40 km. Namun setiap jerih payah dan kesulitan berburu seakan hilang lenyap ketika pulang dengan hasil membanggakan. Sukses berburu di masa itu menunjukkan adanya keberanian, ketrampilan dan ikut bertanggung jawab menafkahi keluarga sekaligus jadi “pahlawan kecil” untuk desa kami karena ikut serta serta membasmi binatang pengganggu ladang. Dari setiap

perburuan di setiap hari minggu itu kami selalu berhasil mendapatkan rata-rata 3-7 ekor. Kami mengarak binatang-binatang buruan ke kampung dan membagi-baginya sesuai kesepakatan bersama dan menikmati hasil buruan sebagai lauk kami sendiri maupun kami jual untuk mendapat penghasilan tambahan. Hasil buruan kami beragam, dari yang kecil sekitar 50 kg hingga yang paling besar dengan berat mencapai lebih dari 100 kg. Babi hutan dan babi rusa biasanya berat antara 50-90 kg, rusa sekitar 70 kg, dan anoa sekitar 150-300 kg. Suatu momen yang sangat membanggakan ketika berhasil mendapat binatang seberat hingga 100 kg atau lebih. Pernah suatu kali dalam sebuah perburuan kami terpaksa harus pulang dulu ke desa untuk mengambil gerobak yang ditarik oleh 2 ekor sapi untuk dapat mengangkut binatang buruan ke kampung. Luar biasa!

Suatu kali, saya pribadi berhasil menombak binatang buruan yang besar, seberat sekitar 100 kg tepat dijantungnya. Saya sangat terkejut karena tidak menyangka dapat melumpuhkan babi hutan yang sangat besar karena babi hutan tersebut langsung terkapar ditempat. Rasanya seperti, mencapai target pembangunan proyek dengan sukses sempurna. Lagi-lagi sebuah sensasi sukses, saya menjadi pahlawan kecil, mendapat makanan lezat untuk seminggu, ditambah rasa bangga yang besar. Hal yang paling membuat saya terharu adalah sekembalinya saya berburu, di sore hari, Ibu yang sangat saya cintai dengan wajah yang berseri-seri menyambut saya dengan penuh kasih sayang dan menerima hasil buruan saya dengan penuh kebanggaan, seakan Ibu mengakui, kepiawaian anaknya dalam berburu adalah prestasi dalam membasmi hama dan sekaligus membawa makanan bagi keluarga. Saya sangat menghargai dan sangat berkesan dengan pengalaman berburu di usia remaja. Saya menyimpulkan ada persamaan dalam strategi berburu dan strategi manajemen. Pengalaman berburu di remaja telah menjadi sebuah “sekolah kehidupan” untuk saya, pengalaman itu telah membentuk mindset saya dan social skill saya yang kemudian membantu saya merengkuh sukses-

sukses dalam mengelola manusia sebagai tim kerja dan mencapai tujuan-tujuan bersama yang membanggakan.

Masa berburu di usia remaja tak mungkin saya lupakan karena begitu mengesankan dan jadi kenangan seumur hidup. Namun impian jadi arsitek jauh lebih kuat dan terus bergelora khususnya saat ayah meninggal.

Inilah the Spirit of Dream dalam hidup.

 

Sumber: Ciputra Newsletter Edisi Januari 2016

Belas Kasih untuk Diri Sendiri Sangat Penting (Liputan iTalk – 13 November 2018)

Bekerja sama dengan Project Partnership Entrepreneurship Essentials Mahasiswa Universitas Ciputra semester 1 kelas U, i’Talk (Innovation Talk) kembali hadir dengan tajuk “Mindfulness: Self-Compassion”. Diacara yang diadakan pada Selasa (13/11) lalu ini mengajak para peserta untuk belajar tentang kesehatan mental dan jiwa serta motivasi kepada mereka yang sedang merasa dibawah tekanan kehidupan.

 

Acara yang dimulai sekitar Pkl 16.00 WIB dan bertempat di Ruang A934, UC Tower ini menunjuk Bpk Partika Dhimas Pangestu S.psi.,M.Psi.,CHCS., Psikologi (Meta Progress Training & Consulting) sebagai narasumber kala itu. Dijelaskan bahwa secara umum manusia pasti memiliki stres karena sesuatu. Stres sendiri adalah kondisi dimana seseorang mempunyai sebuah tekanan atau beban yang membuatnya terus memikirkan hal tersebut namun sifatnya hanya sementara, jika sudah berbulan-bulan sudah dikategorikan depresi.

Dengan adanya tekanan atau beban pikiran tersebut bisa membuat emosi yang semula baik menjadi jelek. Ada beberapa situasi di jaman now yang bisa menjadi beban:

  1. Tuntutan jaman yang sudah mulai berubah
  2. Teknologi yang semakin canggih
  3. Gaya hidup yang lebih mewah
  4. Masalah keuangan
  5. Agama

Jika kita sedang merasa stres karena suatu tekanan atau beban, maka kita butuh latihan untuk melepaskan stres tersebut agar tidak menumpuk dan menjadi depresi dengan cara sebagai berikut:

  1. Relaksi nafas

Biasanya dilakukan dengan mendengarkan musik sambil latihan bernafas yang teratur.

  1. Relaksi denyut jantung

Merasakan denyut jantung sehingga kita merasa lebih rileks.

  1. Mindful driving
  2. Mindful eating

Ada beberapa orang yang jika dia merasa stres, maka dia merasa ingin makan dan yang biasanya dimakan adalah makanan manis seperti coklat.

Ada seorang profesor psikologi di Universitas Texas yaitu Dr. Kristin Neff yang menyatakan The Power of Self Compassion adalah suatu belas kasihan untuk diri kita sendiri merupakan sesuatu hal yang penting. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk kita dapat mengasihi diri kita sendiri, yaitu:

  • Self kindness (Kondisi dimana kita dapat menerima keadaan kondisi kita apa adanya) VS. Self judgement (Suka menggerutu dan susah di kasih tau)
  • Common humantiy (Semua punya masalah sesuai porsi jadi kita harus menyelesaikan masalah itu) VS. Isolation (Mengganggap semua orang jahat karena hanya dia yang mengalami)
  • Mindulness (Cara kita menikmati waktu saat ada masalah dan melakukan hal yang disukai) VS. Overidentifation (Semua hal disalahkan kepada orang lain)

Untuk foto yang lain, silahkan klik disini.

Dorong Siswa SMA Kreatif Berwirausaha. Jawa Pos. 15 November 2018. Hal. 23

SURABAYA – Sebanyak 35 tim dari SMA se-Jawa Timur kemarin beradu kreativitas. Dalam ajang Surabaya Young Entrepreneur Challenge (SYEC) yang dihelat Universitas Ciputra, mereka menyuguhkan berbagai ide tentang produk dan rencana bisnisnya ke depan.

Ada empat komponen yang dinilai dalam kompetisi tersebut. Yakni, feasibility atau kelayakan, desirability (tingkat kesenangan orang terhadap produk), viability (Kemampuan implementasi produk), dan performance (kemampuan presentasi produk).

Salah satu produk yang menarik adalah permen tempe karya tim SMA Citra Berkat Surabaya. Pembuatannya ialah Dzulfikar Ramadhan, Kezia Levina, dan Kezia Eunike. Mereka bosan dengan olahan tempe yang itu-itu saja. Mereka mencari cara agar tempe bisa naik pangkat menjadi makanan yang eksklusif. “Sekalian mau angkat derajat tempe yang identik dengan makanan warung,” kata Dzulfikar.

Kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas serta mental bisnis para siswa. Itu juga sebagai ajang melihat potensi peserta didik dan menampung ide-ide mereka. “Kita tak akan tahu mereka punya potensi atau tidak dan ide mereka brilian atau tidak kalah tidak dengan kegiatan semacami itu,” ujar Andhika Widjojo, dosen UC sekaligus pembina SYEC.

Acara tersebut bukan murni kegiatan UC. Namun, event itu merupakan kerja sama dengan Start-Up Nation Summit.

Kegiatan tersebut juga didukung pemerintah Surabaya. Sebelum kegiatan performance produk tersebut digelar, ternyata sebelumnya para peserta diberi pembinaan khusus oleh para pembina dari UC. Pembinaan berlangsung dalam bentuk workshop dan diskusi panel. Peserta yang beride brilian akan kelihatan sejak pembinaan. (his/c20/any)

Sumber : Jawa-Pos.15-November-2018.Hal.23

Adu Logika, Tim Kalah Berpose di Atas Pola. Radar Surabaya. 5 November 2018. Hal.8

SURABAYA – Mengasah logika tak harus dengan membaca buku atau menghitung dimeja belajar. Ternyata, ada cara lain yang lebih menyenangkan seperti yang dilakukan siswa SMA di Universitas Ciputra Surabaya. Mereka mengasah kemampuan bermain logika dengan mengikuti kompetisi National Progamming and Logic Competition (NPLC) 2018.

Alurnya pun layaknya dalam games sungguhan. Peserta diberikan sebuah kasus dengan misi penyelamatan. Namun untuk membuat misi berhasil, peserta harus mendapatkan pasword untuk membuka brankas. Pasword ini dibeli dari uang yang kumpulkan saat barmain dalam 24 pos yang ada. “Ini di level pertama, di level dua dan tiga kita beri challenge yang lebih berat,” kata Citra Lestari, Penanggung jawab kategori kompetisi games riley, Minggu (4/10).

Di setiap posnya, mereka diberi waktu tertentu untuk menyesuaikan soal. Bisa dengan battle dengan tim lain maupun penyelesaian mandiri. Challengenya pun bermacam-macam. Salah satu yang menarik adalah dalam permainan Death battle. Peserta ini harus menahan sakit pinggang jika kalah menjawab soal dari lawan.

Dalam permainan ini, mereka di berikan riddle, bisa logika yang sesungguhan maupun pertanyaan nonsense. Mereka yang kalah harus mengikuti instruksi dari tim lawan untuk berpose diatas pola. Aturannya, mereka yang jatuh lah yang akan kalah. Bagi tim yang cerdik, mereka akan mengerjai lawan habis-habisan.

Citra menambahkan, kunci untuk memenangkan kompetisi ini terletak pada kekompakan, kekuatan fisik dan kemampuan mengurai logika. Karena lombanya dibuat beregu, maka kerjasama tim menjadi hal penting agar bisa menang. Dosen Informatika sekaligus Pembina NPLC 2018, Mychael Maoeretz, menjelaskan, kompetisi berupa reli games ini baru pertama dilakukan. (is/rtn)

Sumber : Radar-Surabaya.5-November-2018.Hal.8