Staff UC Library Menjadi Polisi Lalu Lintas

Bulan Oktober lalu kembali UC Library melaksanakan kegiatan DoeLib (Doelure Library). Kegiatan hasil kerjasama dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Ciputra ini dilaksanakan dalam kemasan Pengabdian Masyarakat di PAUD Kasih Bunda warga RW IV Kel. Lakarsantri Kec. Lakarsantri.

Kegiatan bertajuk “Keamanan” ini dilaksanakan pada hari Rabu (31/10) pagi dan dibuka oleh Pak Abi (Staff UC Library). Pak Yuwono Marta Dinata (Dosen IMT-UC) membantu menerangkan tentang pentingnya keamanan ketika menyeberang jalan raya dan memperhatikan rambu-rambu lalu lintas serta melewati zebra cross ketika menyeberang jalan. Digunakan alat peraga rambu-rambu lalu lintas, seperti lampu traffic light, zabra cross, suara peringatan penyeberang jalan. Para siswa PAUD bermain peran sebagai penyebrang jalan dan sebagai kendaraan yang melintas lampu traffic light, para staff UC Library berperan sebagai polisi lalu lintas.

Aktivitas mewarnai menjadi kegiatan selanjutnya, serta diakhir acara, foto bersama dan pembagian kue menjadi acara penutup acara yang berakhir sekitar Pkl 09.20 wib itu.

Untuk foto-foto yang lainnya, silahkan klik di sini.

Pembukaan Centre for Creative Heritage Studies

Pada hari Senin (15/10) diadakan pembukaan Pusat Kajian Warisan Budaya Kreatif atau Centre For Creative Heritage Studies bertempat di Library Lounge. Acara dibuka dengan tampilan tari tradisional, untuk menjamu para pengunjung yang hadir. Adapun pengunjung yang hadir mulai dari pemerhati dan penggiat seni budaya, kedutaan besar Amerika dan Australia, pihak Museum Gubug Wayang, dan juga beberapa media. Dilanjutkan dengan opening speech oleh Rektor Universitas Ciputra, Bpk Yohannes Somawiharja dan oleh ketua Centre For Creative Heritage Studies, Bpk. Michael Nathaniel Kurniawan. Sesi selanjutnya dibuka dengan para penari yang memimpin jalan menuju tempat pemotongan rangkaian bunga, sebagai tanda dibukanya Pusat Kajian Warisan Budaya Kreatif Universitas Ciputra.

Centre For Creative Heritage Studies (CCHS) sebagai pusat kajian di bawah LPPM-UC merupakan sebuah platform untuk mendukung perkuliahan, penelitian, dan pengabdian masyarakat terkait isu budaya. Warisan budaya adalah salah satu wujud sumberdaya umum yang perlu untuk dikelola secara kolaboratif dan nantinya akan berkolaborasi bersama dengan civitas akademika UC dari semua disiplin ilmu untuk menciptakan berbagai warisan budaya baru yang berkelanjutan untuk masa depan UC dan Indonesia.

Visi CCHS sendiri adalah:

Menjadi pusat studi warisan budaya yang menjawab isu-isu strategis terkait keragaman budaya, identitas, komodifikasi budaya, dan upaya untuk menciptakan warisan budaya yang berkelanjutan dengan pendekatan entrepreneurship guna memberi dampak positif terhadap budaya masyarakat dan penguatan identitas bangsa Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Keanggotaan CCHS terbuka untuk:
  1. Akademisi dari berbagai bidang ilmu dan program studi yang ingin melakukan aktivitas pendukung perkuliahan, penelitian dan pengabdian masyarakat terkait dengan isu-isu strategis yang ingin dijawab oleh pusat kajian.
  2. Tokoh, pakar atau pemerhati budaya dari pihak eksternal yang ingin berkontribusi menambah dan mengembangkan kumpulan data dan pengetahuan dari pusat kajian, serta mendukung program kerja dari pusat kajian.
  3. Mahasiswa aktif dan alumni perguruan tinggi yang ingin melibatkan diri dalam program kerja pusat kajian.
Setiap anggota akan dapat menyumbangkan ide/gagasan untuk program kerja CCHS dan saling berkolaborasi untuk melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat, termasuk mengajukan ide untuk tema pameran di Museum for Creative Heritage Studies yang berlokasi di UC Library. Koleksi museum ini akan berganti setiap periodenya.
Fungsi utama dari museum ini adalah sebagai sumber inspirasi untuk mahasiswa dan dosen guna mendukung proses belajar secara langsung dari artefak. Hal ini dimungkinan berkat MoU antara UC dengan Museum Gubug Wayang Mojokerto, sebagai suatu museum swasta yang fokus pada pelestarian budaya Majapahit. Ke depannya CCHS akan juga mengadakan MoU dengan berbagai museum dan organisasi-organisasi budaya lainnya.

Pada acara pembukaan ini juga diadakan sesi talkshow yang cukup menarik, bertemakan “Revitalisasi Batik Indonesia: Studi Kasus Batik Lasem dan Batik Batang” dibawakan oleh Bpk Dr William Kwan Hwie Liong. Beliau adalah seorang sosiolog alumni Vanderbilt University yang mengerjakan berbagai proyek sosial, salah satunya menggunakan batik sebagai sarana riset sosial dan pemberdayaan masyarakat di Lasem dan Tuban. Karena kreativitas dan kepiawaiannya dalam riset sosial dan pemberdayaan masyarakat, riset dan aktivitasnya mendapat funding dari berbagai sumber dana dari dalam dan luar negeri.

Sambil menikmati makanan khas majapahit seperti Weas Paripurna (Nasi kombinasi antara nasi sela, nasi kuning, nasi merah, dan nasi hitam) dan Srebad (Minuman majapahit yang terbuat dari jahe dan rempah-rempah) yang diramu langsung oleh Chef ‘Hugo’ Hendra Utomo, peserta juga disuguhkan pagelaran fashion show etnik kontemporer yang mempertunjukkan keindahan kain batik serta berbagai perpaduan variasi batik Indonesia.

Untuk foto-foto yang lain silahkan klik disini.

i’Talk (Innovation Talk) about Breast Cancer

 

Bekerja sama dengan Project Partnership Entrepreneurship Mahasiswa semester 1 kelas J Universitas Ciputra serta komunitas non-provit Reach to Recovery Surabaya (RRS) yang telah berperan aktif dalam penyuluhan serta awareness raising kanker payudara serta i’Talk (Innovation Talk) kembali hadir membahas khusus seputar kanker payudara dengan tajuk, “WE GOT AFFECTED, DO YOU?” pada Rabu (10/10) lalu.

Adapun maksud dari tema tersebut adalah: “WE” sebagai para survivor kanker yang telah pulih dan berhasil sembuh, dan “DO YOU” dengan maksud bertanya kepada para perempuan, apakah mereka yakin telah aman dari kanker payudara? Karena satu dari 231 perempuan terkena kanker payudara pada usia lahir hingga 39 tahun dan satu dari 25 perempuan terkena kanker payudara pada usia 40 hingga 59 tahun.

Acara yang dimulai sekitar Pkl 11.00 WIB dan bertempat di Ruang A937, UC Tower ini menunjuk ibu Ika Damayanti (Breast cancer survivor, Praktisi PR, Make Up Artist (MUA)) dan ibu Irmaya Haryuni (Breast cancer survivor, Business woman (owner of @madameschotel)) sebagai narasumber kala itu.

Taukah kalian bahwa bulan Oktober selalu ditandai sebagai Breast Cancer Awareness Month. Kampanye tahunan ini dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan bahayanya kanker payudara, dan pentingnya mengenali gejalanya sedini mungkin

The World Cancer Research Fund International melaporkan bahwa ada lebih dari 6 juta penderita kanker payudara di seluruh dunia termasuk Indonesia. Setidaknya diperkirakan ada 1 diantara 8 wanita yang beresiko terkena kanker payudara.

Dijelaskan dalam diskusi iTalk kali ini tentang pentingnya awareness terhadap bahayanya kanker payudara. Kanker payudara merupakan salah satu penyakit menakutkan bagi kaum wanita. Walaupun kini sudah ada pengobatan terbaik, tetapi perjuangan melawan kanker payudara tidak selalu berhasil. Hal itu karena masih kurangnya atensi dari kaum wanita dalam memahami kanker payudara guna menghindarkan diri dari serangan kanker payudara serta cara melakukan deteksi sejak dini (Setiati, 2009).

Di Indonesia, kanker payudara merupakan kanker kedua paling banyak diderita kaum wanita setelah kanker mulut/leher rahim. Kanker payudara umumnya menyerang wanita yang telah berumur lebih dari 40 tahun. Namun demikian, wanita muda pun bisa terserang kanker ini (Mardiana, 2009).

Kanker payudara sendiri merupakan kanker nomor 1 setelah kanker cervix (kanker cervix sudah ada vaksinnya) dan bisa menyebar pada laki-laki dan perempuan. Kanker payudara tidak terjadi hanya karena menggunakan bra yang ada kawat dan tidak ada makanan yang bisa menyebabkan atau menghilangkan kanker. Kanker payudara  terjadi dari sel yang normal menjadi tumor jinak stetalah itu menjadi tumor ganas. Belum ada cara yang pasti untuk menemukan adanya kanker payudara pada wanita. Ada faktor yang pasti yang bisa menyebabkan kanker payudara terjadi antara lain riwayat keluarga, riwayat penyakit, menstruasi dini, dan menopause lambat. Faktor-faktor pencegahan kanker payudara antara lain menjaga lifestyle (berat badan) dikarenakan kanker payudara lebih suka hal yang menguntungkan pada sel kanker (gula), lalu pada saat menginjak menopause harus diberikan terapi hormon (akan tetapi terapi tersebut bisa memicu sel kanker), menyusui harus dilakukan selama 1 tahun, mengkonsumsi banyak sayur, buah, biji-bijian pada usia dini agar sel kanker tidak tumbuh, olahraga yang teratur, dan hindari alkohol.

Untuk menemukan gejala awal kanker payudara dapat di deteksi sendiri oleh kaum wanita, jadi tidak perlu seorang ahli untuk menemukan awal kanker payudara. Secara rutin wanita dapat melakukan metode SADARI (perikSA payuDAra sendiRI) dengan cara memijat dan meraba seputar payudaranya untuk mengetahui ada atau tidaknya benjolan disekitar payudara.

Selain teknik tersebut bisa melakukan cara antara lain, menghadap ke kaca, angkat kedua tangan ke atas, apakah payudara kiri dan kanan simetris, kulit pada daerah punting menyerupai kulit jeruk atau tidak, punting susu masuk ke dalam atau tidak, dan apakah payudara mengeluarkan cairan bening yang aneh atau tidak.

Ibu Irmaya Haryuni menuturkan, pada umur 27 tahun telah divonis tumor ganas 6 bulan sebelum pernikahannya. Akhirnya dioperasi, tidak boleh punya anak selama 5 tahun. Dia menjalani kemo terapi sebanyak 6x dan radiasi 30x selama 1 tahun. Dikarenakan hal tersebut, Ibu Irma langsung dikeluarkan dari pekerjaannya. Namun setelah itu, dia mencoba melamar di perusahaan asal Prancis, ditolak lagi hanya karena jatuh di tes kesehatan. Setelah dari kejadian tersebut, dia mencoba merintis usaha sendiri dan bisnis tersebut sukses sampai sekarang.

Resonance band (UKM Band) bertugas menjadi band pembuka dan penutup acara dengan Awdella (finalis Rising Star RCTI 2017) sebagai vokalis mengiringi jalannya acara yang berakhir sekitar Pkl. 13.00 WIB ini.

Untuk foto-foto yang lain silahkan klik disini.

i’Talk (Innovation Talk): Politik & Nasionalisme dalam Olahraga

 

Bertemakan “Politik dan Nasionalisme dalam Olahraga”, UC Library kembali melaksanakan iTalk (Innovation Talk) pada Selasa (9/10) yang kali ini kembali bekerja sama dengan Bpk. Akhmad Ryan Pratama (pengampu mata kuliah ISBD-Universitas Ciputra) serta komunitas Timur Lawu  dan bertempat di Student Lounge UC Tower, lantai 1.

iTalk kali ini berusaha untuk menarasikan bagaimana politik dan nasionalisme dapat dikontestasikan dalam sebuah permainan yang seharusnya merupakan sarana mencari kesenangan. Namun, kesenangan permainan tersebut berubah menjadi kontestasi representasi nasionalisme, atau representasi bentuk pemujaan terhadap identitas yang berlebihan. Diskusi ini ingin menyoroti, bahwa olahraga tidak sekedar permainan, tapi juga disisipi kepentingan-kepentingan lainnya.

Acara yang dimulai sekitar pkl 09.30 wib ini, mengajak Rojil Nugroho Bayu Aji [Sejarawan UNESA, menggeluti kajian sejarah olahraga terutama sepak bola] sebagai pembicara dan dijelaskan bahwa tak dapat dipungkiri lagi bahwa olahraga adalah bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada masa orde baru, WNI keturunan dibatasi kiprahnya di ruang publik seperti di kantor-kantor pemerintah dan universitas. Namun hal tersebut tidak berlaku di dunia olahraga. Dunia olahraga tidak mengenal dikriminasi. Sebagai contoh atlet bulutangkis Indonesia yang berhasil mengharumkan nama bangsa di dunia internasional adalah keturunan Tionghoa.

Sebut saja Susi Susanti, Alan Budikusuma, Chandra Wijaya, Christian Hadinata, Ivana Lie, Hariyanto Arbi, Hendrawan, dan lain-lain. Meskipun mereka adalah keturunan Tionghoa, namun mereka tetap bersemangat mengharumkan bangsa Indonesia. Contoh lain adalah saat tim nasional sepakbola Indonesia berlaga di kancah internasional. Semua suporter dari berbagai daerah bersatu untuk mendukung timnas. Mereka tak lagi mementingkan kepentingan kelompoknya. Yang ada hanyalah bersama memberikan semangat kepada tim kebanggaannya tanpa memperdulikan dari mana suporter lain berasal. Semua bercampur baur menjadi satu.

Olahraga bukanlah sekedar aktivitas belaka. Namun juga turut menyumbangkan terbentuknya budaya masyarakat. Sepakbola atau juga bulutangkis merupakan olahraga populer yang mampu menyedot perhatian massa dan dapat menghadirkan suguhan permainan yang tidak hanya bernilai olahraga.

Mengapa sepakbola, yang pertama: Dimainkan di lapangan yang luas dan memiliki tribun massif. Kedua: Seremoni pemutaran audio dan menyanyikan lagu kebangsaan. Ketiga: Ekspresi supporter bermacam (alat musik, kembang api, atribut, dan bendera, dll). Keempat: Aksi-aksi tidak terduga kerap muncul di lapangan, dan yang terakhir banyak kejuaraan sepakbola bergengsi level internasional dan tiap negara mengembangkan sepakbola.

Sepakbola yang didanai negara memiliki misi diplomatik untuk mengharumkan nama bangsa dan negara di pertandingan internasional, peran sepakbola sebagai salah satu bentuk eksistensi bangsa merupakan wujud artikulasi nasionalisme dengan torehan prestasi.

 

Untuk foto-foto yang lain silahkan klik di sini.

 

 

Movie Time @ UC Library: Hotel Rwanda

 

Movie Time @ UC Library kembali hadir dan kali ini akan menayangkan film mengenai perang saudara antar suku di Rwanda, Afrika Tengah, berjudul “Hotel Rwanda”.

Film yang membawa sang pemeran utama, Don Cheadle mendapat nominasi Oscar sebagai pemain pria terbaik 2005 ini bercerita tentang seorang tokoh yang bernama Paul Rusesabagina (Don Cheadle) selama peristiwa pembantaian etnis di Rwanda sekitar tahun 1994. Dimana lebih dari 800.000 orang, kebanyakan suku Tutsi, dibunuh oleh milisi ekstrimis suku Hutu, dan ketegangan antara suku Hutu dan Tutsi berujung kepada perang sipil dimana suku Tutsi dibantai karena status tinggi mereka yang berawal dari kesetiaan pada kolonial bangsa Eropa.

Movie Time kala itu diadakan pada Selasa, 2 Oktober 2018 di Library Lounge, Universitas Ciputra 3, Lantai 2 dan dimulai sekitar Pkl. 08.30 – 10.30 wib. Bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Komunikasi, sekitar 30 mahasiswa menonton film yang disutradari oleh Terry George ini. Perseteruan antara suku Hutu dan suku Tutsi bisa dibilang sudah lama bahkan mendarah daging sehingga seakan hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum perang saudara pecah di Rwanda. Konflik perseteruan tersebut juga berimbas kepada Paul Rusabegina (Don Cheadle), seorang manajer dan pemilik Hôtel des Mille Collines, dan istrinya Tatiana (Sophie Okonedo). Hal tersebut tidak lepas karena mereka berdua memiliki latar belakang suku yang berbeda sekaligus tengah bertentangan, Paul dari suku Hutu dan Tatiana suku Tutsi.

Hingga kemudian perang saudara yang selama ini ditakutkan akhirnya benar-benar terjadi. Suasana di tempat tersebut menjadi kacau balau. Apalagi ketika Paul melihat tetangganya, satu demi satu mulai dibunuh secara keji oleh para ekstrimis antara kedua belah pihak tersebut.

Agar dirinya dan juga keluarganya tidak menjadi korban berikutnya, Paul kemudian berinisiatif untuk menyuap para kelompok ekstrimis tersebut untuk membiarkan ia dan keluarganya tinggal aman di hotel miliknya. Kemudian paul bukan hanya membawa keluarganya saja untuk tinggal disana namun juga beberapa orang yang pantas untuk ditolong, walau berbeda suku dengan dirinya. Untuk bisa melakukan hal tersebut maka paul harus menambah uang suap.

Ternyata kemudian hotel tersebut terkenal sebagai tempat perlindungan sementara bagi para warga yang tengah terjebak di konflik perang saudara tersebut, namun Paul juga menyadari bahwa hotelnya tidak bisa selamanya menjadi tempat perlindungan bagi mereka semua.

Film ini mmebrikan pelajaran bahwa pertikaian karena kekuasaan hanya akan menimbulkan kesengsaraan kepada rakyat. Sangat mengerikan membayangkannya jika terjadi di bumi Indonesia yang memiliki beragam suku di dalamnya. Sosok Paul juga memberikan inspirasi tersendiri bagaimana kita seharusnya hidup berdampingan ditengah keberagaman suku dan golongan. Tidak mementingkan keselamatan sendiri, namun kepentingan dan keselamatan orang lain menjadi prioritasnya.

i’Talk (Innovation Talk) | Basic Design Implementation

Bekerja sama dengan Fakultas Industri Kreatif, i’Talk (Innovation Talk) UC Library kembali hadir dengan tajuk “Basic Design Implementation” pada Kamis lalu (20/9). Acara yang berisi sharing knowledge dari buku ‘Dasar-Dasar Desain’ ini mengundang sang penulis buku langsung, Bpk. Drs. Bambang Irawan sebagai narasumber di acara yang dilaksanakan di Ruang Theatre 931, UC Tower.

Bu Kathy Mamahit (UC Library Head) membuka acara yang dihadiri oleh 159 peserta yang terdiri dari mahasiswa Universitas Ciputra jurusan INA (Interior & Architecture), VCD (Visual Communication Design), FDB (Fashion & Design Business), dan beberapa dosen dan staff yang hadir.

Sebagai moderator ditunjuklah Ibu Lya Dewi Anggraini (Dosen INA) memandu acara yang dimulai sekitar Pkl 14.30 wib ini. Di acara ini dijelaskan oleh Bpk. Drs. Bambang Irawan bahwa desain merupakan merancang sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam arti kebutuhan sesuatu yang akan digunakan oleh manusia. Ada yang mengatakan kata-kata desain menciptakan suatu bentuk/benda itu keliru. Kalau menciptakan itu sesuatu yang diciptakannya untuk diri sendiri bukan untuk orang lain dan keilmuan seni rupa itu. Kata-kata desain itu menyangkut bahwa apa yang kita buat itu pasti ditujukan untuk orang lain. Dalam kegiatan mendesain, desainer tersebut mempermasalahkan kebutuhan konsumen, daya beli, seleranya, proses produksinya, lalu merumuskan gagasan bentuk produksinya dalam bentuk sebuah model atau mock-up (skala 1:1). Jadi dalam desain itu tidak hanya begitu saja tetapi ada tahapan-tahapannya, ada langkah-langkahnya tidak hanya langsung membuat sesuatu untuk mendesain.

Proses desain dimulai dengan tuntutan atau kebutuhan yang bisa timbul dari pribadi seseorang atau masyarakat luas. Ada sesuatu yang diinginkan oleh seseorang, hal ini merangsang desainer memikirkan apa yang diinginkan tersebut. Untuk mencari solusi atas kebutuhan tersebut, desainer harus menentukan langkah-langkah kerjanya agar gagasannya dapat diwujudkan, yaitu dengan menelusuri apa, siapa, mengapa, kapan dan dimana, kemudian melakukan analisa untuk mencari bagaimana gagasannya dapat diwujudkan. Dalam tahap mencari “bagaimana” itulah dituntut kreativitas yang tinggi. Berbicara masalah kreativitas, kata-kata kreatif itu banyak sekali disebutkan orang, asal membuat sesuatu sudah disebut kreatif. Apa sih kreatif itu? Sesuatu yang kreatif itu adalah sesuatu yang sifatnya unik, baru, dan original. Kegiatan mendesain ini menuntut suatu langkah kreatif dalam mencari alternative baru yang lebih baik untuk dapat menanggulangi solusi yang ada sebelumnya, sesuai dengan tuntutan kebutuhan manusia yang selalu berubah. Tuntutan kebutuhan manusia yang selalu berubah contohnya dulu manusia minum selalu menggunakan tangan, lama-lama tangan ini kan susah dapat airnya sedikit kemudian menggunakan benda yang dari alam seperti daun, batok kelapa, dll sampai akhirnya kemajuan jaman tempat air ini tidak hanya sekedar tempat tetapi yang enak dipegang, tidak melukai bibir saat kita minum, akhirnya berpikir harus dirancang sesuatu benda yang bisa nyaman dipakai oleh penggunanya.

Perubahan jaman yang semakin berubah maka tempat minum saja pun dibuat bukan hanya sekedar nyaman tetapi supaya menarik apalagi jika diproduksi secara masal bagaimana orang suka sehingga terjadilah pemikiran-pemikiran dicari solusinya bagaimana membuatnya.

Semua produk yang mempunyai bentuk dan  berinteraksi langsung dengan kehidupan manusia, memenuhi fungsi fisikal, fisiologis, psikologis, spiritual dan keindahan atau estetis yang harus dipertanggung jawabkan oleh para desainer yang mendesain seperti: bangunan, jembatan, perabot rumah tangga, pakaian, kereta api dan lain sebagainya.

Persyaratan terakhir adalah dibutuhkannya peranan estetika, sehingga semua produk desain tersebut di atas tampak indah atau setidak-tidaknya tampak menarik bagi masyarakat penggunanya. Contoh seorang membuat mobil gerobak untuk mengangkut orang, fungsional sekali kemudian dicari solusi lagi supaya nyaman dibuat kursi bukan itu saja bagaimana mobil ini bukan hanya sekedar fungsi tetapi juga dipikirkan solusi keindahannya atau supaya menarik dan nyaman bagi penggunanya.

Dengan estetika, suatu bentuk dapat memberikan pengalaman estetis yang berupa greget, perasaan senang, berbagai macam sensasi, aspirasi dan motivasi bagi manusia pemakainya.

Untuk menjadi seorang desainer, ibaratnya menaiki anak tangga maka dia harus melangkahnya mulai dari yang paling awal. Dalam hal ini dia harus mempelajari dan menguasai dasar-dasar desain.

Dalam kegiatan mendesain, desainer mempermasalahkan kebutuhan konsumen, daya beli, seleranya, proses produksinya, lalu merumuskan gagasan bentuk produksinya dalam bentuk sebuah model. Proses desain dimulai dengan tuntutan atau kebutuhan yang  bisa timbul dari pribadi seseorang atau masyarakat luas.

Untuk mencari solusi atas kebutuhan tersebut, desainer harus menentukan langkah-langkah  kerjanya agar gagasannya dapat diwujudkan, yaitu dengan menelusuri apa, siapa, mengapa kapan dan di mana , kemudian melakukan analisa untuk  mencari bagaimana gagasannya dapat diwujudkan.

Sekitar pkl. 16.00 wib acara selesai dan ditutup oleh penampilan dari UKM Band Resonance.

Untuk foto-foto yang lain silahkan klik disini.

i’Talk (Innovation Talk) with Iro Fadil (Former GM of Jawa Pos Group & SBO Director dan Media Practitioner)

Hari Kamis lalu (6/9) UC Library & Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra melaksanakan i-Talk (Innovation Talk) bertema “Seluk Beluk Bisnis Media di Indonesia”, dengan Pak Iro Fadhil (Owner Coffee Break, praktisi media, & brand management) sebagai pembicaranya.

Acara yang dimulai pukul 08.00 wib di Ruang Teater 713 lt. 7 Universitas Ciputra, Pak Iro yang juga pernah menjabat sebagai General Manager Jawa Pos Group & SBO Director ini menjelaskan bahwa media sosial merupakan alat promosi bisnis yang efektif karena dapat diakses oleh siapa saja, sehingga jaringan promosi bisa lebih luas. Media sosial menjadi bagian yang sangat diperlukan oleh pemasaran bagi banyak perusahaan dan merupakan salah satu cara terbaik untuk menjangkau pelanggan dan klien. Media sosial sperti blog, facebook, twitter, dan youtube memiliki sejumlah manfaat bagi perusahaan dan lebih cepat dari media konvensional seperti media cetak dan iklan TV, brosur dan selebaran.

Media sosial memiliki kelebihan dibandingkan dengan media konvensional, antara lain:

  1. Kesederhanaan

Dalam sebuah produksi media konvensional dibutuhkan keterampilan tingkat tinggi dan keterampilan marketing yang unggul. Sedangkan media sosial sangat mudah digunakan, bahkan untuk orang tanpa dasar TI pun dapat mengaksesnya, yang dibutuhkan hanyalah komputer dan koneksi internet.

  1. Membangun Hubungan

Sosial media menawarkan kesempatan tak tertandingi untuk berinteraksi dengan pelanggan dan membangun hubungan. Perusahaan mendapatkan sebuah feedback langsung, ide, pengujian dan mengelola layanan pelanggan dengan cepat. Tidak dengan media tradisional yang tidak dapat melakukan hal tersebut, media tradisional hanya melakukan komunikasi satu arah.

  1. Jangkauan Global

Media tradisional dapat menjangkau secara global tetapi tentu saja dengan biaya sangat mahal dan memakan waktu. Melalui media sosial, bisnis dapat mengkomunikasikan informasi dalam sekejap, terlepas dari lokasi geografis. Media sosial juga memungkinkan untuk menyesuaikan konten anda untuk setiap segmen pasar dan memberikan kesempatan bisnis untuk mengirimkan pesan ke lebih banyak pengguna.

  1. Terukur

Dengan sistemtracking yang mudah, pengiriman pesan dapat terukur, sehingga perusahaan langsung dapat mengetahui efektifitas promosi. Tidak demikian dengan media konvensional yang membutuhkan waktu yang lama.

Dijelaskan pula dalam perkembangannya, media konvensional jatuh dari tahun 2015, seperti koran, majalah, TV Revenue karena teknologi media sosial (APP) menjadi tantangan bagi mereka.

Revolutionized Media:

  1. Tradisional: komunikasi berjalan secara linear dengan akses yang terbatas.
  2. Digital: komunikasi berjalan secara non linear, audience bisa merubah dan memprotes media tersebut.

Contoh :

  • Femina: zaman dulu majalah Femina gambarnya terlihat datar dan gelap, untuk yang sekarang majalah Femina tampil dengan full colour dan mempunyai sosial media.
  • Prambors: Zaman dulu audio entertaiment, sekarang national audio entertaiment on the go
  • TV (MNC Group) : Dulu single platform; sekarang multi platform
  • Koran: Dulu model print; sekarang multi platform

Mengelola media bisa dari apa saja asalkan memahami apa yang kita akan tunjukkan dan akan melengkapi bisnis kita. Tujuan trends bisnis koran:

(1) untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari pembaca dengan itu bisa mempertahankan bisnis media (2) dengan melebarkan komunitas dengan event.

Zaman sekarang sosial media sudah didominasi oleh semua umur dan memiliki kebiasaan menggunakan sosial media berjam-jam (+/- 4 jam). Masyarakat menggunakan facebook sebanyak 64% sedangkan google 89%.

Untuk foto-foto yang lain silahkan klik disini.

 

Pameran Koleksi (Keris & Asesorisnya) dari Museum Gubug Wayang Mojokerto

Saat ini di Library lounge sedang diadakan pameran koleksi (keris dan asesorisnya) dari Museum Gubug Wayang Mojokerto. Pameran ini merupakan kerjasama pihak Universitas Ciputra Surabaya dengan Museum Gubug Wayang Mojokerto yang diawali dengan kunjungan oleh jajaran rektorat UC pada Agustus lalu.
Dimotori oleh Pak Yohannes Somawiharja (Rektor UC), Bu Astrid Kusumowidagdo (Dekan Fakultas Industri Kreatif), dan Pak Michael Nathaniel (Dosen Desain Komunikasi Visual), kiranya melalui kerjasama ini boleh mengingatkan bahwa budaya sebagai fondasi karakter bangsa sudah seharusnya dimiliki setiap generasi penerus di era milenial ini dan semua kalangan akademis memiliki jiwa patriotisme dan nasioalisme kebangsaan.

Pameran ini bisa dinikmati di UC Library Lounge hingga 5 November 2018 nanti.

Selamat menikmati. Salam budaya.

Untuk foto-foto yang lain, silahkan klik di sini.

Library August Surprise

Dalam rangka memperingati HUT Universitas Ciputra ke XII (26 Agustus 2018), UC Library bagi-bagi kejutan spesial buat para pengunjung Perpustakaan. Dalam tajuk “Library August Surprise”, UC Library membagikan hadiah-hadiah berupa coklat, voucher seharga Rp 12.000,- dari Chixy dan Dean Canteen kepada para pengunjung yang beruntung mulai dari tanggal 20-31 Agustus 2018. Pemenang pun didapatkan dari berbagai cara yang sudah dirancang oleh UC Library, mulai dari para pemustaka yang meminjam dan mengembalikan koleksi yang dipilih secara acak, para pengunjung pertama dan terakhir yang ada di Library, penonton Movie Time, yang berhasil menemukan buku di kuis Instagram Stories UC Library, serta para pembeli buku di ‘Book Bazaar at Library’. Selamat kepada penerima hadiah, dan sampai jumpa di kejutan-kejutan selanjutnya. 🙌

 

Movie Time @ UC Library – Cahaya dari Timur: Beta Maluku & 3 Srikandi

Bertepatan dengan semarak Asian Games yang digelar di Jakarta dan Palembang saat ini, Universitas Ciputra Library mengadakan Movie Time @ UC Library dengan memutar beberapa film nasional bertemakan olahraga.

Movie Time kala itu dilaksanakan pada hari Kamis, 30 Agustus 2018 bertempat: Library Lounge, UC 3, Lantai 2 dan memutar film Cahaya dari Timur: Beta Maluku  yang menceritakan Sani Tawainella (Chicco Jericho) yang ingin menyelamatkan anak-anak di kampungnya dari konflik agama yang terjadi di Ambon melalui sepak bola. Di tengah kesulitan hidup serta pilihan antara keluarga atau tim sepakbolanya, Sani ditugaskan membawa timnya mewakili Maluku di kejuaraan nasional. Namun keputusannya membaurkan anak-anak yang berbeda agama dalam satu tim justru menyebabkan perpecahan.

Serta film 3 Srikandi yang bersetting Indonesia di tahun 1988. Dunia olahraga mempersiapkan diri turun serta di Olimpiade Musim Panas 1988 di Seoul. Cabang panahan berada di titik kritis, di mana dibutuhkan pelatih yang bisa menyiapkan tim panahan wanita dalam waktu yang singkat. Satu-satunya yang bisa diandalkan menjadi pelatih adalah Donald Pandiangan (Reza Rahardian) yang dikenal sebagai “Robin Hood Indonesia”.

Tapi Donald sendiri sudah lama menghilang. Ia masih terpukul ketika di tahun 1980 saat ia bersiap mengikuti Olimpiade Musim Panas 1980 di Moskwa, ia batal pergi karena alasan politis. Kini ia hidup jauh dari panahan, bahkan olahraga. Selain pelatih, tim panahan pun harus dipilih 3 orang atlet wanita terbaik. Mereka adalah Nurfitriyana (Bunga Citra Lestari), Lilies (Chelsea Islan) dan Kusuma (Tara Basro).

Sementara itu, waktu menuju olimpiade semakin dekat, namun para 3 Srikandi ini pun memiliki masalah rumitnya masing-masing. Di bawah ancaman tidak akan diberangkatkan sama sekali, pengurus persatuan panahan, Pak Udi (Donny Damara), mesti membujuk dan meyakinkan Donald untuk mempersiapkan tim panahan wanita.