HTINA 2 FINAL PROJECT EXHIBITION

Bekerja sama dengan Ibu Maureen Nuradhi, S.T., M.M. (pengampu mata kuliah HTINA 2 INA UC), saat ini di UC Library lounge diadakan pameran yang merupakan display dari karya-karya mahasiswa terpilih dari tugas mata kuliah ‘History and Theory of Interior Architecture’ yang mana bertujuan untuk menumbuhkan kepekaan dan rasa cinta tanah air terhadap peninggalan arsitektur tradisional Indonesia melalui wujud ‘plunge pool’.

Seluruh proyek hasil karya kali in dilator belakangi dari study trip yang telah dilakukan oleh seluruh mahasiswa INA angkatan 2017 ke situs peninggalan kerajaan Majapahit, yakni Trowulan, Mojokerto. Disana, para mahasiswa tidak hanya mengobservasi, namun juga belajar serta menganalisis nilai-nilai apa saja yang dapat mereka terapkan dalam desain ‘plunge pool’ mereka.

Pameran ini bisa dinikmati di UC Library Lounge hingga 13 Agustus 2018.

 

i’Talk (Innovation Talk): Upaya Kedokteran Pencegahan Sebagai Bagian Layanan Kesehatan yang Inovatif

 

UC Library kembali mengadakan i’Talk pada Senin lalu (28/5) yang kali ini bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran UC dengan narasumber guru besar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya, Prof. Dr. Stefanus Supriyanto, dr. MS. Bertempat di Theatre Room, sekitar pukul 09.30 acara dimulai dan dibuka oleh Ibu Kathy Mamahit selaku Library Head ini mengambil tema “Upaya Kedokteran Pencegahan Sebagai Bagian Layanan Kesehatan yang Inovatif”.

Dijelaskan dalam acara ini, menjadi seorang yang memiliki ide kreatif dan menerapkan dengan inovatif menjadi sifat yang harus dimiliki seorang dokter. Ini seiring dengan semangat entrepreneurship di Universitas Ciputra Surabaya.

Seorang dokter ‘zaman now’ itu adalah seorang dokter yang memiliki kepedulian terhadap pasien (listen to customer) dan berani berinovasi.

Berikut adalah sifat dasar – kemampuan inovatif & kreatif:

  • Pencipta perubahan
  • Peka akan adanya peluang
  • Kreatif dan inovatif
  • Memahami bahwa pengetahuan & keterampilan adalah alat memacu kreatifitas & bukan sesuatu yang harus diketahui atau diulangi
  • Pakar tentang dirinya sendiri dan percaya diri
  • Berani memaksa diri untuk menjadi pelayan bagi orang lain
  • Berani mengambil risiko (risiko sedang) tetapi cukup informasi

 

Menjadi seorang dokter janganlah berpikir profit, namun yang menjadi fokus adalah apa perubahan yang dihasilkan, perubahan kesehatan yang lebih baik, perubahan ke arah produktifitas yang lebih lagi.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam dunia ‘Kedokteran Pencegahan’:

  • Physical Activity
  • Exercise
  • Nutrition
  • Avoid or stop use of tobacco and/or excess alcohol.

“Doctor of the future will give no medicine, but will interest his patients in the care of the human frame in diet and in the cause and prevention of disease.” –Thomas Edison.

 

Untuk foto-foto yang lain, silahkan klik disini.

Movie Time @ UC Library – The Greatest Showman

 

Hayo… siapa nih yang belum pernah nonton “The Greatest Showman”? Film yang terkenal dengan lagu-lagunya & adegan yang selalu mengaduk emosi penonton ini, Jumat kemarin (13/4) diputar di Movie Time @ UC Library! Film ini terinspirasi dari kisah nyata perjalanan P.T. Barnum yang bangkit dari nol dalam membangun salah satu pertunjukan sirkus terbesar Amerika di era 1860an, Barnum & Bailey Circus.  Berikut 3 nilai hidup yang dapat kita ambil dari film ini:

  1. Work hard, work smart and never give up!

Diberhentikan dari perusahaan yang bangkrut justru membakar semangat & ide kreatif P.T. Barnum (Hugh Jackman) untuk membuat suatu pertunjukan sirkus. Meski sulit dan penuh tantangan, Barnum tetap ulet dan pantang menyerah. Bahkan saat bisnis & keluarganya hampir hancur, ia sanggup bangkit dan membangunnya kembali. Bahkan ia tak ragu untuk mengembangkan bisnisnya dengan merekrut seorang muda Phillipe Bailey (Zac Efron) untuk menjangkau penonton kalangan atas. Great work, Mr. Barnum!

  1. Bahagia itu sederhana

Masih ingat adegan dimana Barnum (Hugh Jackman), Charity (Michelle Williams) dan kedua anak mereka bermain saat malam hari di apartemen kecil mereka? Atau saat para pemain men-support Barnum saat ia sedang bangkrut? Hal ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya tentang berapa banyak uang yang kita peroleh, tapi tentang bagaimana orang-orang disekitarmu menyayangimu, dan selalu mendukungmu apapun yang terjadi. Bahagia itu sederhana!

  1. Berani menjadi diri sendiri

Meskipun para pemain sirkus mendapatkan tekanan & dipojokkan oleh orang-orang disekitar mereka karena dianggap aneh, tetapi  mereka berani untuk melawan stigma yang melekat pada diri mereka, mereka percaya bahwa mereka lebih dari sekedar penampilan fisik mereka.  As they said in their song, “I’m not scared to be seen. I make no apologies, this is me!” Lagu “This is Me” sendiri mendapatkan penghargaan Best Original Song Golden Globe 2018.  Such a strong message!

Oleh Faradilla Ayu Winanda (10116228)

i’Talk (Innovation Talk): ‘Yuk Mengenal Saham’ bersama OCBC NISP

Bekerja sama dengan jurusan IBM (International Business Management), UC Library hadir kembali dalam kegiatan “i’Talk” (Innovation Talk) dan mengangkat tema ‘Yuk Mengenal Saham’ bersama OCBC NISP pada Jumat lalu (6/4) yang kali ini bertempat di Auditorium lantai 7 UC.

Di acara yang dimulai sekitar pkl. 09.30 wib ini menunjuk William Ramli [OCBC NISP Investment Specialist for Central Java, East Java and Bali Area], dan Richard Sondakh, MBA, CFA [OCBC NISP Consumer Business Head] sebagai pembicara kala itu.

Dijelaskan bahwa, “We mus be a smart investor”. Jika kita melakukan pinjaman formal, kita bisa denganlakukan dengan beberapa hal: melalui bank loan, issue bond, dan issue stocks.

 

Peluang dalam dunia saham masih terbuka karena perusahaan membuka saham untuk mencari dana sebagai pemodalan, dan pemegang saham pun mendapat keuntungan dari kenaikan harga dan deviden.

Dijelaskan pula jumlah minimal dalam pembelian saham adalah 1 lot saham = 100 lembar dalam satu perusahaan.

Lalu bagaimana metode menganalisis untuk memilih saham yang tepat bagi kita? Ada beberapa hal:

– Fundamental Analysis; berdasarkan laporan keuangan, perkembangan industri, dll.

– Technical Analysis; Bisa melalui aplikasi RSI, moving average, dll.

Resonance band (UKM Band) yang bertugas menjadi band pembuka dan penutup acara dengan Awdella (finalis Rising Star RCTI 2017) sebagai vokalis mengiringi jalannya acara iTalk (Innovation Talk).

Untuk foto-foto yang lain, silahkan klik di sini.

 

Movie Time @ UC Library – The Post

NOR_D30_071017_204253_204322_R_COMP – Tom Hanks (as Ben Bradlee) and Meryl Streep (as Kay Graham) star in Twentieth Century Fox’s THE POST. Photo Credit: Niko Tavernise. 

 

Masih ingat film yang diputar di Library Movie Time Jumat lalu (9/3)? UC Library memutar film karya sutradara kawakan Steven Spielberg berjudul “The Post”. Berdasarkan kisah nyata, film yang masuk nominasi best picture (film terbaik) di Oscar 2018 ini menceritakan tentang keputusan pemilik ‘The Washington Post’ Katharine ‘Kay’ Graham (Meryl Streep) dan editornya Ben Bradlee (Tom Hanks) untuk mempublikasikan berkas rahasia besar Pentagon di tahun 1971. Sebuah berkas yang sudah dirahasiakan pemerintah Amerika Serikat selama tiga dasawarsa dan oleh empat Presidennya.

Film yang mendapatkan dua nominasi Oscar 2018 ini memberikan nilai pelajaran kehidupan kepada kita, antara lain:

  1. Berani Mengambil Risiko
    Keputusan pimpinan perusahaan Kay Graham (Meryl Streep) untuk mempublikasikan berita tersebut bukanlah keputusan yang mudah, dia mempertaruhkan karir, bisnis keluarga, dan seluruh pegawainya, Meski dengan banyaknya tekanan yang ia hadapi (ia sempat pula diremehkan tidak tegas karena ia seorang wanita oleh rekannya), ia berani mengambil seluruh risiko untuk mempublikasikan berita tersebut.
  2. Kebenaran Yang Paling Utama! Meskipun pemerintah dibawah Presiden Nixon mengancam untuk mempenjarakan orang-orang dibalik terbongkarnya berkas rahasia  tersebut, para jurnalis ‘The Washington Post’ tidak gentar. Kepala editor Ben Bredley (Tom Hanks), pemilik perusahaan Kay Graham (Meryl Streep)  dan para jurnalisnya yakin bahwa masyarakat Amerika Serikat perlu mengetahui kebenaran dibalik pengiriman tentara-tentara Amerika Serikat selama bertahun-tahun untuk kebutuhan  Perang Vietnam, dan hal itulah yang menjadi motivasi terbesar mereka.
  3. Maka Kebenaran Lain Akan Mengikuti. Setelah ‘The Washington Post’ akhirnya digugat oleh pemerintah melalui pengadilan, banyak media pers lain menyusul melakukan riset dan memberitakan hal senada, hal ini juga didukung oleh ribuan masyarakat Amerika Serikat yang menuntut pemerintahan yang bersih dan damai.
  4. Leaders Always Find A Way. Saat reporter The Washington Post yang dipimpin oleh Ben Bredley (Tom Hanks) hanya memiliki beberapa jam untuk memproses dan menulis artikel dari ribuan berkas rahasia Pentagon, alih-alih mengeluh, mereka tetap fokus mengerjakan dan memberikan hasil yang luar biasa. Seperti kata Ben Bredley, “He says we can’t, I say we can.”

Oleh Faradilla Ayu Winanda (10116228)

Movie Time @ UC Library – Hari Hutan Internasional

Bertepatan dengan hari hutan internasional yang jatuh pada tanggal 21 Maret 2018 lalu, UC Library bekerja sama dengan Komunitas Timur Lawu mengadakan Movie Time @ UC Library dengan memutar beberapa film bertemakan alam dan isinya. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis lalu (22/3) ini diadakan di Library Lounge dan dihadiri sekitar 30 mahasiswa ini memutar beberapa film, antara lain: Gone with the Tide (oleh Forum Peduli Teluk Balikpapan), The Topeng Monyet, Beruang Madu, serta film drama pendidikan produksi Jepang, berjudul Fireflies: River of Light.

 

Dari film ‘Gone with the Tide’, kita diingatkan tentang ancaman yang terjadi di Teluk Balikpapan di Kalimantan Timur, yang merupakan hasil dari perluasan Kawasan Industri Kariangau (KIK) yang diusulkan di sepanjang pantai timur Teluk, dan Pulau Balang. Ekspansi industri ini tidak hanya menghilangkan keanekaragaman hayati yang luar biasa, namun juga polusi air, erosi, dan sedimentasi yang sangat besar yang benar-benar akan menghancurkan penghidupan masyarakat nelayan setempat. Sebuah kondisi yang memprihatinkan dan merugikan masyarakat sekitar.

 

Melalui film dokumenter ‘The Topeng Monyet’ kita juga disuguhkan gambaran mengenai kejamnya penganiayaan binatang. Setiap topeng monyet yang akan beratraksi sebelumnya harus melalui berbagai

Bentuk yang bisa dikategorikan penganiayaan seperti dirantai leher dan tangannya agar mereka tunduk dan mau diajari berbagai trik yang biasa kita lihat di Topeng Monyet di jalanan. Karena diambil paksa dan diperlakukan seperti itu, akibatnya usia merekapun tidak panjang. Begitu pula dalam film ‘Beruang Madu’, diperlihatkan bagaimana keserakahan manusia memburu dan mengambil berbagai bagian tubuh serta mengambil beruang madu dari habitat aslinya dan ditampilkan ke dalam sirkus untuk keperluan pribadi membuat spsies ini berada di ambang kepunahan.

 

Pun melalui film Fireflies: River of Light karya sutradara Hiroshi Sugawara, melalui film ini kita dapat belajar melalui seorang guru sekolah dasar, Hajime Miwa, yang memiliki impian dapat melihat kunang-kunang  dapat terbang kembali di atas Sungai Yamaguchi. Namun hal tersebut tidaklah mudah. Ia harus membuat habitat tempat tinggal kunang-kunang sesuai dengan habitat aslinya, yang artinya ia harus membersihkan sungai yang sudah tercemar air dengan berbagai kotoran seperti ban sepeda, keyboard computer, dan sepeda itu sendiri! Para muridpun sangat bersemangat, dan para muridlah yang menjadi penyemangat pak guru Miwa untuk terus membersihkan sungai dan mengkembangbiakan kunang-kunang walaupun kegiatan tersebut ditentang oleh pihak sekolah. Namun ia tetap bertanggung jawab jika kunang-kunang yang dikembangbiakkannya tidak berhasil hidup ia akan berhenti dari pekerjaannya.

Sebuah langkah yang berani dari Pak guru Miwa untuk tetap berkomitmen kepada apa yang telah ia mulai. Ia tetap berkomitmen membersihkan lingkungan demi kunang-kunang kembali hidup serta mengembalikan alam kepada tempat yang semestinya kembali.

Pameran Foto: “Hutan dan Masyarakat Adat di Kalimantan”

 

Bertepatan dengan hari hutan internasional yang jatuh pada tanggal 21 Maret 2018, UC Library bekerja sama dengan Komunitas Timur Lawu akan mengadakan pameran foto berjudul“Hutan dan Masyarakat Adat di Kalimantan”.

Antara tahun 1970an hingga mendekati tahun 1990an, Hutan Kalimantan sudah banyak ditebang untuk bisa merealisasikan pemasukan negara dari sektor kehutanan. Pemerintah Orde Baru dengan sangat mudah memberikan izin-izin Hak Pengelolaan Hutan kepada para investor. Hutan-hutan di Kalimantan hilang dengan sangat cepat. Hampir seluruh hasil penebangan kayu gelondongan tadi diekspor untuk kepentingan bahan baku industri kayu negara Asia Timur, khususnya Jepang. Pada masa ini pemerintah  rezim Orde Baru kurang memikirkan dampak dari ekploitasi hutan massif yangt mereka lakukan. Pengawasan yang kurang, serta peraturan yang tidak bisa ditaati, akhirnya menyebabkan kerusakan hutan yang terjadi di lapangan melebihi imajinasi hitung-hitungan kertas yang dilakukan oleh rimbawan yang berorientasi pada keuntungan ekonomi, dan berbasiskan pola pikir orang perkotaan.

Pada tahapan ini perspektif rezim Orde Baru memandang hutan hanya sebagai komoditas ekonomi semata. Rezim Orde Baru tidak pernah menekankan bahwa hutan juga memiliki fungsi lain, yaitu fungsi untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Hutan juga berfungsi untuk menjaga ketersediaan air dan oksigen untuk seluruh umat manusia. Pemerintah rezim Orde Baru juga lupa, bahwa sebagian hutan-hutan di Kalimantan merupakan sumber kehidupan dari sebagaian masyarakat adat disana, seperti suku Dayak. Suku Dayak sangat menggantungkan hampir seluruh kebutuhan hidup dari hasil hutan, mulai dari bahan bangunan untuk rumah, alat-alat sehari-hari, kesenian, pertanian, hingga hasil perburuan. Sehingga bisa dikatakan, bahwa seluruh sistem mata pencaharian suku Dayak bisa terjaga ritmenya, apabila hutan tempat mereka masih lestari.

Tetapi rezim Orde Baru tidak mau menerima fakta bahwa hutan memiliki posisi penting dalam siklus kehidupan suku Dayak, pemerintah Orde Baru malah melakukan proyek memukimkan kembali suku Dayak yang berada di dalam hutan. Proyek ini akhirnya memisahkan orang Dayak dari hutan sebagai sumber kehidupan mereka. Rezim Orde Baru menganggap suku Dayak merupakan suku terasing dan wajib untuk dimodernisasikan untuk bisa mendapatkan ke”sejahteraan” seperti ukuran standar pemerintah.

Karena itu, UC Library bekerjasama dengan Bpk. Akhmad Ryan Pratama (pengampu mata kuliah ISBD-UC) dan komunitas Timur Lawu mengadakan pameran foto bertajuk Hutan dan Masyarakat Adat di Kalimantan” dari tanggal 20-23 Maret 2018 bertempat di Library Lounge UC, lt. 2.

Diharapkan melalui pameran foto ini dapat memberikan sebuah sudut pandang yang lebih luas mengenai hutan dan masyarakat adat yang ada di dalamnya. Hutan bukan hanya sebagai komoditas ekonomi semata, namun hutan memiliki fungsi sangat besar, yang bahkan tidak bisa dinilai dengan uang. Dalam pameran ini, kami ingin menyadarkan serta membuka mata pengunjung, bahwa untuk mengembalikan hutan yang telah hilang ke keadaan sedia kala merupakan sesuatu pekerjaan yang hampir mustahil.

 

i’Talk with Kathleen Azali (Founder C2O Library & Collabtive)

Hari Kamis lalu (15/3) UC Library & jurusan MCM (Marketing Communication) UC kembali melaksanakan i-Talk (Innovation Talk) bertema “Meneropong Inovasi Sosial dan Strategi Kreatif oleh Lembaga Independen”, dengan Kathleen Azali (Founder C2O Library & Collabtive) sebagai pembicaranya.

Acara yang dimulai pukul 08.00 wib di Ruang Teater 931 UC Tower ini, Bu Kathleen sharing tentang  sepak terjang C2O Library & Collabtive selama ini. Apa itu C2O Library? Apa saja kegiatannya? C2O Library sendiri berawal dari sang pendiri merasakan kerumitan akses informasi, terutama tentang sejarah Indonesia sendiri, kerumitan akses ruang public, serta budaya pengkaplingan ruang dan demografi, misalnya dari segi etnis, kelas, dsb.

Untuk itu C20 Library hadir dengan menyediakan perpustakaan, ruang kegiatan (pameran, diskusi, workshop, kelas bahasa, pemutaran film), fasilitas ruang kerja bersama (Co-working Space) serta pengembangan penelitian dan pendidikan.

Salah satu kegiatan yang pernah dilaksanakan antara lain pernah mengadakan ‘Worklife Balance Fest’ yang membahas mengenai isu tentang K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) para pekerja kreatif. Kesehatan pekerja tidak hanya meliputi helm dan sepatu safety bagi para pekerja lapangan, namun bagi para pekerja kreatif pun juga perlu wawasan dalam memperhatikan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), misalnya saja kurang tidur, sering begadang, pusing karena terlalu sering lihat computer atau hape, dan pola makan yang tidak sehat. Selain itu kegiatan diskusi dan lokakarya ‘Kebebasan Berekspresi & Keamanan Digital’ bekerja sama dengan beberapa lembaga sistem informasi.

Liputan oleh Lidya Emma Nursinta BR Tobing (10517048)

 

Untuk foto-foto yang lain, silahkan klik di sini.

 

iTalk: Manajemen Kawasan Konservasi dalam Pengembangan Pariwisata

Innovation Talk “Manajemen Kawasan Konservasi dalam Pengembangan Pariwisata” yang diselenggarakan UC Library dan HTB-UC di hari Jumat lalu (2/3) mengundang M. Nurdin Razak (Akademisi, Social Entrepreneur, Owner of Baluran Ecolodge) dan Dody Wahyu Karyanto (Kementrian Lingkungan Hidup dna Kehutanan Republik Indonesia) sebagai narasumbernya.

Di acara yang dilaksanakan di Ruang Theatre lantai 7 ini, Pak Nurdin menjelaskan bahwa ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan yaitu Spirituality, Serenity dan Sustainability dalam pengembangan dan manajemen kawasan konservasi. Ekowisata yang dapat mengimplimentasikan ketiga prinsip tersebut, tidak hanya berprofit & memberikan dampak lingkungan, tetapi juga dapat membangun perekonomian warga di daerah tersebut.

Selanjutnya bapak Dody Wahyu menjelaskan 6 tahap pendekatan perencanaan yaitu supply approach, demand approach, policy approach, behaviour approach & appriory approach. Beliau menambahkan bahwa Indonesia memiliki 49% fauna dari total fauna dunia dan 6% flora dari total flora di dunia, yang berarti potensi pariwisata kawasan konservasi di Indonesia masih sangatlah besar. Dengan penanganan yang tepat, ecotourism Indonesia dapat berkembang  besar melampaui pasar yang telah banyak ada saat ini — Eropa Barat.
Acara yang dihadiri mahasiswa HTB-UC angkatan 2016 dan 2017 ini kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan ditutup dengan penyampaian informasi magang Ecolodge oleh bapak M. Nurdin Razak. I-talk kali ini sukses memotivasi mahasiswa UC untuk lebih mendalami pengembangan kawasan ekowisata.

Liputan oleh Faradilla Ayu Winanda (10116228)

 

Untuk foto-foto yang lain, silahkan klik disini.

Apa sih yang bisa kita pelajari dari film “Wonder”?

Jumat lalu (23/2) UC Library kembali mengadakan Movie Time @ UC Library yang kali ini memutar film berjudul “Wonder”. Film ini diangkat dari novel laris karya R.J. Palacio tentang perjuangan seorang anak laki-laki bernama August Pullman (Jacob Trembley) yang biasa dipanggil Auggie,  terlahir dengan kelainan bentuk wajah yang sangat langka, yang dikenal sebagai ‘mandibulofacial dysostosis’. Hal itu membuat Auggie minder, dan menghindar untuk pergi ke sekolah umum. Selama operasi wajah, Auggie belajar di rumah dengan metode homeschooling oleh ibunya, Isabel (Julia Roberts).

Namun ketika Auggie duduk di kelas 5 SD, Isabel dan Nate (Owen Wilson) kedua orangtua Auggie memutuskan memasukannya ke sekolah swasta umum. Ketika di sekolah, Auggie harus membuktikan dirinya sama seperti anak lainnya, meskipun anak-anak lain tidak menyukainya.

Apa saja sih yang bisa kita pelajari dari film ini?

 

  1. Don’t judge anyone by their appearance.

Walau memiliki wajah yang aneh, Auggie adalah seorang anak yang ceria, pintar, menyenangkan, baik hati, namun teman-temannya selalu mem­-bully dia. Tapi, Auggie memilih untuk diam dan menunjukan kelebihannya di kelas Sains. Selain pintar, Auggie pun sebenarnya mudah bergaul dan sangat lucu, dan hal itulah yang akhirnya membuat Auggie memiliki banyak teman.

“Auggie can’t change the way he looks.  Maybe we can change the way we see.” – Mr. Tushman

 

  1. Harta yang paling berharga adalah keluarga.

Peran keluarga sangat besar dalam hidup Auggie. Memiliki ayah yang lucu, ibu yang pintar, dan kakak yang sangat pengertian membuat Auggie selalu merasa bahagia karena kehangatan dan support yang nggak pernah habis buat dia. Namun, ada waktunya kita pun juga memberikan perhatian, dukungan, pengertian kita kepada keluarga kita masing-masing. Jangan hanya menerima, tapi kita juga harus memberi. Family is about take and give relationship.

“You’re going to feel like you’ve all alone but you’re not.” – Nate Pullman

 

  1. #ChooseKind

Pembully-an dalam bentuk apapun sangat tidak dibenarkan. Meskipun Auggie kecewa dengan komentar anak sekitarnya dan sempat ingin berhenti sekolah, namun ia kembali bangkit dan membuktikan bahwa ia bisa seperti anak-anak yang lain. Di film ini juga kita belajar jangan mem-bully atau mengejek seseorang karena melihat hanya dari penampilannya, lihat dan kenali pribadinya, karena setiap orang lebih dari hanya sekedar penampilannya, dan sekecil apapun perbuatan baik yang kita berikan, sangat berarti buat mereka.

“When given the choice between being right or kind, choose kind.” – A precept taught by Mr. Browne in class