iTalk: Culture Values & Decision Making in Astra International

Di hari Selasa kemarin (20/2), UC kedatangan tamu spesial loh! Yaitu ibu Theresia Maria Ninawati, Head of Recruitment Department Astra International yang hadir sebagai pembicara dalam i-Talk (Innovation Talk). Di i-Talk kedua di bulan ini, UC Library kembali berkolaborasi dengan PSY-UC dan mengangkat tema “Culture Values & Decision Making in Astra International”.

Acara yang dimulai pukul 14.10 WIB ini mengupas tuntas tentang budaya & pengambilan keputusan perusahaan Astra International, yang juga adalah salah satu perusahaan besar kebanggaan nasional.

Kunci sukses keberhasilan perusahaan yang tepat pada 20 Februari lalu menginjak usia ke-60 ini adalah secara konsisten mengimplementasikan budaya ‘Catur Dharma’ ke dalam perilaku seluruh karyawan. ‘Catur Dharma’ tersebut antara lain:

  1. Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara
  2. Memberikan Pelayanan Terbaik kepada Pelanggan
  3. Menghargai Individu dan Membina Kerja Sama
  4. Senantiasa Berusaha Mencapai yang Terbaik

Keempat nilai budaya ini ditanamkan secara bertahap kepada seluruh karyawan perusahaan melalui berbagai program, antara lain Agent Change, Culture Campaign, Survey Caturdharma, Innovculture & Catur Dharma Artifact.

Di kesempatan ini juga ibu Theresia juga menjelaskan, dalam pengambilan keputusan, Astra memiliki management system framework yang baik dan tidak berbelit-belit serta berlandaskan pada tahapan pengambilan keputusan yaitu: set goal, set criteria, define alternative, dan pro cons analysis. Baru setelah semua tahapan selesai, sebuah keputusan dapat diambil.

Acara informatif yang dihadiri mayoritas mahasiswa Psikologi dengan mata kuliah Work and Organizational Psychology dan Economy Psychology ini kemudian ditutup dengan penyampaian informasi magang Astra International oleh ibu Theresia.

Oleh Faradilla Ayu Winanda (10116228)

 

Untuk foto yang lain, silahkan klik disini.

iTalk: Basic Interpersonal Communication

i-Talk is Back! Hari Jumat lalu (15/02) UC Library & HTB-UC kembali melaksanakan i-Talk (Innovation Talk) bertema “Basic Interpersonal Communication”, dengan dosen HTB-UC, Clarissa Listya Susilo, S. E., M.M. sebagai pembicaranya.

Acara yang dimulai pukul 10.00 wib dan di buka oleh penampilan Resonance (UKM Band) ini membahas tentang bagaimana sebaiknya komunikasi Interpersonal berjalan. Ibu Clarissa Listya Susilo menjelaskan bahwa komunikasi yang baik adalah komunikasi yang menggunakan metode SIR (Sensing, Interpreting & Responding). Mahasiswa kemudian diajak untuk turut andil dalam mini games yang bertujuan untuk lebih memahami  proses komunikasi dengan metode SIR.

Lebih lanjut, ibu Clarissa menjelaskan hal-hal lain yang perlu diperhatikan saat berkomunikasi:

  1. Create good first time

Berikan kesan pertama yang baik dan professional dengan berpakaian sesuai dengan situasi & acara, melakukan jabat tangan yang baik dan tunjukkan entusiasme terhadap lawan bicara.

  1. Build rapport

Bangun hubungan dengan lawan bicara, carilah kesamaan

  1. Dont be interesting – Be interested!

Dalam berbicara, tunjukkanlah rasa ketertarikan pada lawan bicara, alih-alih mendominasi pembicaraan, dengarkan lawan bicara dan tunjukkan rasa empati kepadanya.

  1. Give them something memorable

Tutup percakapan dengan sesuatu yang mudah diingat, berikan kata-kata penutup yang hangat dan bernilai serta jangan lupa untuk memberikan kartu nama.

Acara yang di bawakan langsung oleh Head of Departement Library, ibu Suzanna Katharina Mamahit ini disambut antusias oleh mahasiswa UC & berlangsung interaktif.

Oleh Faradilla Ayu Winanda (10116228)

 

Untuk foto-foto yang lain, silahkan klik di sini.

Apa saja sih yang bisa kita maknai dari film “Cek Toko Sebelah”

 

Di hari Jumat lalu (9/2), UC Library memutar film berjudul “Cek Toko Sebelah”. Film komedi keluarga ini menceritakan seorang laki-laki bernama Erwin (Ernest Prakasa), seorang pemuda yang memiliki karir yang mantap. Ia juga mempunyai seorang kekasih yang cantik bernama Natalie (Gisella Anastasia).
Ayah Erwin Bernama Koh Afuk (Chew Kin Wah) mulai sakit-sakitan dan kesehatannya kurang begitu baik. Ayahnya berencana mewariskan toko sembakonya untuk Erwin yang juga anak kesayangannya.
Dilain sisi, Yohan (Dion Wiyoko) yang merupakan kakak Erwin, menjadi marah karena merasa dilangkahi. Sebagai anak paling besar yang merasa lebih perhatian pada kedua orangtuanya. Yohan yakin ia dan Istrinya Ayu (Adinia Wirasti) adalah yang paling berhak meneruskan toko tersebut. Itulah garis besar cerita film ini, namun kira-kira apa saja sih yang bisa kita maknai dari film karya Ernest Prakasa ini?

 

  1. Toleransi keberagaman

Koh Afuk (Chew Kin Wah), pemilik usaha toko dalam film ini digambarkan sebagai sosok yang sangat dekat dengan seluruh pegawainya yang berbeda karakter, ras & bahkan agama. Koh Afuk sangat menghargai seluruh karyawannya bahkan menganggap merek sebagai keluarga sendiri. Diakhir cerita pun, akhirnya Koh Afuk menjadi dekat dengan pemilik toko yang telah menjadi saingannya sejak lama, Pak Nandar (Budi Dalton). Film ini juga menyisipkan edukasi sejarah  tentang ras dan keberagaman di Indonesia lho.

  1. Always help the weak!

Koh Afuk sangat bertanggung jawab pada seluruh karyawannya, ia juga mengajarkan anaknya, Erwin (Ernest Prakasa), untuk berlaku sama. Koh Afuk juga memberi peringatan pada Robert (Tora Sudiro) untuk berhenti memperlakukan pegawainya, Anita (Yeyen Lidya), dengan semena-mena. Koh Afuk menunjukkan pada kita bagaimana seorang manusia sejatinya harus membantu yang lebih lemah dan tertindas.

Meskipun masalah yang dihadapi keluarga Koh Afuk sangatlah kompleks tetapi mereka membuktikan bahwa karena cinta, hubungan mereka kembali baik. Begitu juga hubungan Erwin dan Natalie (Gisella) serta hubungan Yohan (Dion Wiyoko) dan Ayu (Adinia Wirasti) yang kembali hangat karena cinta mereka lebih besar dibanding masalah yang mereka hadapi. Cinta yang kuat dapat mempersatukan keluarga. Happiness is homemade!

 

Oleh Faradilla Ayu Winanda (10116228)

 

Pameran Asesoris Interior karya INA Student batch 2017

DSC04943

Bekerja sama dengan Ibu Maureen Nuradhi (pengampu mata kuliah EINAS 1 INA UC), saat ini di UC Library lounge diadakan Pameran Asesoris Interior karya INA Student batch 2017.
INA Student Batch 2017 memamerkan karya desain asesoris interior dari mata kuliah Entrepreneurial Interior Architecture Studio semester 1. Mata kuliah ini memfasilitasi para mahasiswa untuk belajar dasar-dasar desain dan menerapkannya dalam karya dua dan tiga dimensi.
Pameran ini bisa dinikmati di UC Library Lounge hingga 22 Desember ini, dan akan dilanjutkan pada Januari 2018 nanti. Karya ini adalah tugas terakhir mahasiswa EINAS 1 setelah sebelumnya menghasilkan 9 jenis karya yang bisa dinikmati di gallery online di instagram: @ina_aksen.

 

collage

collage 2

iTalk (Innovation Talk): Preserving Cultural Heritage of Majapahit

featureBertemakan “Preserving Cultural Heritage of Majapahit”, UC Library kembali melaksanakan iTalk (Innovation Talk) pada Kamis lalu (23/11) yang kali ini kembali bekerja sama dengan Bpk. Akhmad Ryan Pratama (pengampu mata kuliah ISBD-UC) serta komunitas Timur Lawu  dan bertempat di Student & Service Lounge lantai 2 UC. Acara yang dilaksanakan dalam rangka memperingati 724 tahun Majapahit ini mengajak Bagoes Septyan Tri Pamungkas [Aktivis Save Trowulan, mahasiswa HTB-UC], dan Awang Firmansyah, S.Or., M.Kes [Penggiat Wisata Cagar Budaya Komunitas Timur Lawu] sebagai pembicara.

Diacara yang dimulai sekitar pkl 08.00 wib ini, peserta belajar tentang Begitu dahsyatnya kerusakan lingkungan budaya maupun alam yang menimpa peninggalan Kerajaan Majapahit. Kemegahan ibu kota Majapahit yang kini nyaris tak berbekas dan berburu dengan waktu untuk lenyap sama sekali. Salah satu ancaman terhadap sisa-sisa warisan Majapahit adalah industrialisasi yang berkembang sejak abad XIX. Industri yang masih terus berlanjut hingga kini misalnya adalah pabrik batu bata yang jumlahnya ribuan di wilayah ini.

Penemuan berbagai macam artefak, struktur, hingga bangunan warisan Majapahit hingga hari ini masih berlangsung. Bukanlah hal yang luar biasa, jika anda memiliki sebidang tanah atau rumah di wilayah ini kemudian hendak melakukan pembangunan tiba-tiba menemukan suatu warisan yang besar kemungkinan peninggalan Majapahit.

Upaya penyelamatan dan pelestarian peninggalan Kerajaan Majapahit telah dilakukan oleh banyak pihak sejak abad XIX. Arkeolog, sejarawan, arsitek, dan para sarjana dari berbagai ilmu telah melakukan berbagai ekskavasi dan penelitian lainnya guna menyelamatkan warisan Majapahit yang tersisa. Candi dan monumen yang masih ada terus dirawat oleh pemerintah hingga kini.

Masyarakat Trowulan dan sekitarnya juga ikut serta menyelamatkan warisan Majapahit dengan beragam cara. Salah satunya adalah dengan menyelenggrakan industri kerajinan berbasis tradisi dan artefak peninggalan Majapahit. Inisiator industri kreatif ini muncul dari Pak Sabar, seorang pegawai museum yang telah bekerja dengan pendiri Museum Majapahit, Henry Maclaine Pony sejak masa Hindia Belanda.

Diberbagai desa dan dusun di wilayah Trowulan masih kita dapati bentuk-bentuk festival tahunan yang diyakini juga merupakan warisan Majapahit. Festival tahunan berupa ruwat desa juga merupakan wajisan Majapahit. Festival tahunan berupa ruwat desa atau dusun telah dicatat oleh para peneliti Belanda sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Perayaan ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat luas atas kemakmuran yang mereka dapatkan dari sang Maha Kuasa.

Kini, industri lainnya yang ramah terhadap pelestarian lingkungan alam maupun budaya seperti pariwisata telah menggeliat di Trowulan. Beragam pelatihan dan pengembangan kapasitas sumber daya masyarakat lokal diadakan berbagai pihak demi kemajuan bersama. Peran serta kita dalam industri semacam ini diharapkan akan mengalihkan terserapnya sumber daya manusia dalam industri berat yang akan mengancam kelestarian Trowulan. Maka peran serta kita bersama merupakan hal yang mutlak untuk menyelamatkan warisan Majapahit.

collage 3Untuk foto-foto yang lain, silahkan  klik disini.

 

i’Talk (Innovation Talk) | Basic Design Implementation

collage - Copy

Bekerja sama dengan Fakultas Industri Kreatif, i’Talk (Innovation Talk) UC Library kembali hadir dengan tajuk “Basic Design Implementation” pada Kamis lalu (16/11). Acara yang berisi sharing knowledge dari buku ‘Dasar-Dasar Desain’ ini mengundang sang penulis buku langsung, Bpk. Drs. Bambang Irawan sebagai narasumber di acara yang dilaksanakan di Ruang Theatre lt. 7 UC.

Pak Panji Yohanes (Staf UC Library) membuka acara yang dihadiri oleh 155 peserta yang terdiri dari mahasiswa jurusan INA (Interior & Architecture), VCD (Visual Communication Design), FDB (Fashion & Design Business), dan beberapa dosen dan staff yang hadir.

Sebagai moderator ditunjuklah Ibu Soelistyowati (Dosen FDB) memandu acara yang dimulai sekitar Pkl 13.00 wib ini. Di acara ini dijelaskan oleh Bpk. Drs. Bambang Irawan bahwa dalam kegiatan mendesain, desainer mempermasalahkan kebutuhan konsumen, daya beli, seleranya, proses produksinya, lalu merumuskan gagasan bentuk produksinya dalam bentuk sebuah model. Proses desain dimulai dengan tuntutan atau kebutuhan yang  bisa timbul dari pribadi seseorang atau masyarakat luas. Contohnya saat ini perubahan jaman yang semakin berubah membuat tempat minum saja pun dibuat bukan hanya sekedar nyaman dipakai, tetapi juga supaya menarik apalagi jika diproduksi secara masal. Bagaimana membuat orang menyukainya sehingga terjadilah pemikiran-pemikiran dicari solusinya bagaimana cara membuatnya.

Untuk mencari solusi atas kebutuhan tersebut, desainer harus mengerti dan menentukan langkah-langkah  kerjanya agar gagasannya dapat diwujudkan, yaitu dengan menelusuri apa, siapa, mengapa, kapan, dan di mana, kemudian melakukan analisa untuk  mencari bagaimana gagasannya dapat diwujudkan. Dalam tahap mencari “bagaimana” itulah dituntut kreatifitas yang tinggi.

Persyaratan terakhir adalah dibutuhkannya peranan estetika, sehingga semua produk desain tersebut di atas tampak indah atau setidak-tidaknya tampak menarik bagi masyarakat penggunanya. Dengan estetika, suatu bentuk dapat memberikan pengalaman estetis yang berupa greget, perasaan senang, berbagai macam sensasi, aspirasi dan motivasi bagi manusia pemakainya.

Untuk menjadi seorang desainer, ibaratnya menaiki anak tangga maka dia harus melangkahnya mulai dari yang paling awal. Dalam hal ini dia harus mempelajari dan menguasai dasar-dasar desain.

Sekitar pkl. 14.30 wib acara selesai dan ditutup oleh penampilan dari UKM Band Resonance dengan lagu “Hari Bersamanya” dari Sheila on 7.

collage 2

Untuk foto-foto yang lain, silahkan klik disini.

 

 

Photo Exhibition “Majapahit: The Natural Environment & Cultural Heritage”

collage

Rusaknya beberapa situs cagar budaya yang terjadi akhir-akhir ini merupakan sebuah kehilangan besar bagi kita semua. Cagar budaya di Indonesia sangat banyak jumlahnya, butuh peran aktif dari pemerintah dan juga masyarakat untuk bisa merawat serta melindungi cagar budaya tersebut. Dalam lingkup Jawa Timur sendiri jumlah cagar budaya sangat banyak, namun tidak semuanya mendapatkan perhatian yang baik dari pemerintah ataupun masyarakat. Tidak adanya upaya konservasi ini dan ditambah dengan rasa ketidapedulian serta rasa kepemilikan yang rendah, membuat bangunan-bangunan cagar budaya ini semakin tersingkirkan secara perlahan.
Karena itu, UC Library bekerjasama dengan Bpk. Akhmad Ryan Pratama (pengampu mata kuliah ISBD-UC) dan komunitas Timur Lawu mengadakan pameran foto bertajuk “Majapahit: The Natural Environment & Cultural Heritage” dari tanggal 13-30 November 2017 bertempat di Library Lounge UC, lt. 2.
Dalam exhibition ini dipamerkan mengenai kondisi faktual beberapa situs cagar budaya kerajaan Majapahit yang terdapat di Jawa Timur. Situs Majapahit kami pilih karena situs-situs ini terletak di Jawa Timur, dan secara geografis sangat dekat dengan Surabaya. Majapahit juga merupakan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara dan selain itu, pada bulan Nopember ini merupakan bulan peringatan kelahiran Kerajaan Majapahit yang ke 724 tahun. Karenanya dengan memanfaatkan momentum tersebut, kami berupaya untuk memberikan akses informasi mengenai situs-situs tersebut dengan mengadakan kegiatan ini.
Diharapkan melalui pameran foto ini, dapat memberikan informasi yang akhirnya mampu menggugah rasa bangga akan kepemilikan cagar budaya yang ada di Nusantara, sehingga dengan rasa kebanggaan dan rasa kepemilikan tersebut, akan meningkatkan kepedulian untuk menyelamatkan dan melindungi situs-situs cagar budaya yang ada di Indonesia.
Lestari alamku, lestari budayaku.
“The world is getting more connected through technology and travel. Cuisines are evolving. Some people are scared of globalization, but I think people will always take pride in cultural heritage.” 
– John Mackey

i’Talk (Innovation Talk) | THALASSEMIA: How to Prevent it

IMG_3600

Suara merdu Awdella (finalis Rising Star RCTI 2017) mengiringi awal jalannya acara iTalk (Innovation Talk) yang kembali hadir pada Jumat lalu (3/11) bertempat di Student Lounge & Service lantai 2 UC. Mahasiwa IBM bernama lengkap Alda Wiyekedella A.S. ini menjadi vokalis band Resonance (UKM Band) yang bertugas menjadi band pembuka dan penutup acara yang kali ini bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran UC dan Rotary Club. Dimulai sekitar pkl. 11.00 wib, tema yang diangkat di acara yang dihadiri oleh 65 peserta ini, adalah “THALASSEMIA: How to Prevent it”. Thalassemia sendiri adalah penyakit kelainan darah bawaan yang diturunkan oleh kedua orang tua ke anaknya dan disebabkan oleh berkurangnya atau tidak terbentuknya protein pembentuk hemoglobin dan akibatnya eritrosit mudah pecah dan mengakibatkan anemia. Perlu diketahui 1:10 orang Indonesia adalah pembawa gen Thalassemia dan penyakit ini TIDAK MENULAR serta DAPAT DICEGAH.

dr. Andy Cahyadi, Sp.A, sebagai pembicara kala itu menjelaskan, di Indonesia yang paling banyak adalah Thalassemia Beta Mayor (sekitar 3-10%), dan wilayah yang paling tinggi presentase Thalassemianya adalah di Aceh dan di DKI. Hal yang perlu diketahui adalah Thalassemia belum dapat disembuhkan tetapi dapat dicegah, pengobatan yang diperlukan juga mahal karena durasi pengobatan adalah seumur hidup dan komplikasinya banyak. Pertama kali ditemukan di Amerika Serikat, pada tahun 1927. Sebagian besar penderita Thalassemia hanya memiliki usia hidup sampai berusia 30 tahun.
Beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai bentuk pencegahan:
– Sebaiknya orang tua senantiasa memperhatikan kesehatan anaknya
– Perlu dilakukannya penelusuran pedigree/garis keturunan untuk mengetahui adanya sifat pembawa thalassemia pada keluarga penderita thalasemia.
– Sebaiknya calon pasutri sebelum menikah melakukan konsultasi untuk menghindari adanya penyakit keturunan, seperti pada thalassemia.
– Perlu dilakukannya upaya promotif dan preventif terhadap thalassemia kepada masyarakat luas yang dilakukan oleh pelayan kesehatan.

6

7

Movie Time: “Ransel Lusuh” (Collaboration with komunitas Love Suroboyo & HTB-UC)

1

‘Ransel Lusuh’ menjadi film yang diputar di Movie Time @ UC Library pada Jumat lalu (27/10) hasil kerja sama bareng program studi HTB-UC (Hospitality and Tourism Business-UC) dan komunitas Love Suroboyo. Acara yang berlangsung di Library Lounge ini dipandu oleh ibu Clarissa Listya Susilo, S.E., M.M. sebagai dosen pendamping mahasiswa program studi HTB. Acara yang dibagi dalam 2 sesi ini dihadiri sekitar 50 peserta di masing-masing sesinya dan tampak peserta antusias melihat film dengan bahasa Suroboyoan-nya ini.

collage

6

Foto bersama UC Library dengan Ibu Clarissa Listya Susilo, S.E., M.M. (Dosen HTB) dan komunitas Love Suroboyo.

 

i’Talk (Innovation Talk) with Prof. Dr. Yoes Prijatna Dachlan, dr., M.Sc., Sp.Par(K)

feature

UC Library kembali mengadakan i’Talk pada Jumat lalu (20/10) yang kali ini bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran UC dengan narasumber guru besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya dan diikuti oleh 50 peserta yang terdiri dari 45 mahasiswa kedokteran, dan 5 mahasiswa Hotel & Tourism Business (HTB-UC). Bertempat di Student & Service Lounge, sekitar pukul 07.30 acara dimulai dan dibuka oleh Ibu Kathy Mamahit selaku Library Head dan sebelum Bu Kathy menyerahkan kepada narasumber, peserta dihibur oleh penampilan UKM Band Resonance. Acara yang mengambil tema “Ancaman Malaria dalam Dunia Wisata” ini hadir dengan narasumber dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Prof. Dr. Yoes Prijatna Dachlan, dr., M.Sc., Sp.Par(K) (Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya).

Dijelaskan dalam acara ini, dalam dunia pariwisata, kita kenal juga beberapa daerah, khususnya di Indonesia yang merupakan endemik malaria. Dalam paparan Prof. Yoes, angka kematian akibat malaria di Indonesia sudah menurun sebanyak 17% pada tahun 2000-2010. Meskipun begitu, wisatawan harus tetap berhati-hati dan melakukan pencegahan. Sebelum berwisata, wisatawan diharapkan dapat mencari informasi bagaimana pola malaria di tempat yang akan dikunjungi serta membawa obat yang diperlukan. Gejala dari malaria itu sendiri seperti back pain, sakit kepala, diare, mual, muntah dan dilanjutkan dengan demam tinggi.
Untuk itu kita harus lebih berhati-hati ya. Lakukan konsultasi kesehatan dengan dokter sebelum melakukan perjalanan ke daerah endemis malaria dan lakukan tindakan pencegahan. Kegiatan-kegiatan pemberantasan penyakit malaria yang dilakukan berupa menghindari gigitan nyamuk anopheles, membunuh nyamuk anopheles dewasa dengan insektisida, membunuh jentik nyamuk, mengurangi tempat perindukan nyamuk, mengobati penderita malaria serta pemberian pengobatan pencegahan. Jika tindakan pemberantasan dan  pengobatan  penyakit malaria dilakukan dengan baik, diharapkan dapat menurunkan angka kematian, angka kesakitan dan angka infeksi akibat malaria. Sebagai anggota masyarakat yang peduli terhadap kesehatan  diharapkan menjaga kebersihan diri maupun lingkungan rumah.

Untuk menghindari penyakit malaria diharapkan masyarakat melakukan pencegahan seperti memakai obat anti nyamuk dan kelambu pada malam hari untuk mencegah penyakit malaria.

collage 1

collage 2