Arti Salam Entrepreneur 3 Jari

Bagi kita civitas akademika Universitas Ciputra pasti sudah tidak asing ketika mengucapkan salam entrepreneur selagi menunjukan 3 jari yang membentuk huruf E. Apakah artinya huruf E tersebut adalah singkatan dari kata Entrepreneur? Ternyata terdapat maksud yang lebih besar tersirat dari salam tersebut. Berikut adalah makna tersembunyi yang dijelaskan oleh Pak Ciputra.

Salam menggunakan 3 jari yang membentuk huruf E, dari 3 jari tersebut masing-masing jari mempunyai arti Envision, Explore dan Encounter.

Jari yang pertama adalah Envision atau mengarah ke Vision atau Wawasan. Artinya, setiap Entrepreneur haruslah mempunyai wawasan dalam berkarya. Tanpa wawasan kita sebagai Entrepreneur tidak akan mencapai hasil yang maksimum. Bahkan kita salah jalan. Seperti orang mau ke Medan malah naik pesawat ke Menado. Jika sudah memiliki vision, dia tidak akan mengalami gejolak sebab dia tahu lebih dahulu.

Jari yang kedua, Explore artinya meneliti, menyelidiki, melakukan kreativitas, melakukan inovasi terus menerus. Kita harus bisa mencari atau meneliti cara-cara baru, metode-metode baru supaya dapat semakin berkembang besar dan tidak tersaingi. Tanpa melakukan explorasi, usaha kita hanya akan berjalan di tempat dan sulit untuk berkembang.

Jari yang terakhir adalah Encounter. Artinya menemukan dan mendapatkan. Entrepreneur harus menemukan cara yang tepat. Bila sudah menemukan, belumlah cukup, kita harus dapat mempraktikan.

Jadi, salam Entrepreneur berarti wawasan, inovasi terus menerus, dan melaksanakan menjadi praktik, menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang sejahtera dan makmur.
Demikian tadi adalah penjelasan singkat dari makna Salam Entrepreneur, ayo #ucpeople kita pun turut memaknainya dan bangga akan salam ini.

Salam Entrepreneur!

Interview with Angeline Vivian Tjahyadi

Angeline Vivian Tjahyadi atau yang akrab disapa Vivi, mahasiswi jurusan Psikologi Universitas Ciputra yang saat ini menginjak semester 5 ini telah membuktikan bahwa menjadi seorang mahasiswa berprestasi secara akademik, berprestasi saat menekuni passion, minat dan hobi sekaligus bukanlah hal yang tidak mungkin. Vivi yang juga adalah Finalist Ciputra Young Entrepreneurship Award, Top 10 English Debate in Asian English Olympics 2018, ternyata juga memiliki talenta menyanyi dan hal ini ditunjukkannya melalui kemenangan yang ia raih dalam salah satu lomba menyanyi yang diadakan oleh UKM Jepang Universitas Ciputra, di mana piala Juara 3 lomba J-Song pada 26 Agustus 2017 lalu berhasil ia menangkan.

Salah satu anggota band Resonance (UKM band) ini mengaku bahwa sudah senang menyanyi sejak kecil, namun bakatnya ini tidak ia kembangkan melalui les melainkan mengikuti lomba-lomba yang ada.

Tidak hanya itu, mahasiswi angkatan 2016 ini juga memiliki passion dalam ajang E-Sports dan sedang menduduki posisi manager dalam sebuah organisasi eSports, Armored Project. WOW! Sebuah rekam jejak yang luar biasa!

 

UC Library berkesempatan mewawancarai Vivi, dan bertanya secara khusus mengenai passionnya dalam bidang eSports, sejak kapan ia terjun, dan mengapa bidang tersebut yang ia pilih, dan bagaimana ia mengatur waktunya. Berikut hasil wawancara singkat kami:

 

Q: Sebenarnya apa sih eSports itu?

Vivi: eSports (Electronic Sports) merupakan jenis bidang olahraga yang memanfaatkan video games sebagai bidang kompetitif utama, seperti Mobile Legend, League of Legend, Arena of Valor dan DOTA. Saat ini saya menjabat sebagai manajer di Armour Project, sebuah organisasi eSports, yang sudah memiliki tim-tim dengan skala main secara taraf nasional maupun internasional, antara lain tim League Of Legend dan tim Arena Of Valor. Awalnya saya hanya player biasa sih, saya menekuni eSports sejak SMP. Karena saya orangnya kurang enjoy freetime, maka saya mengisi waktu luang dengan kegiatan yang saya sukai dan tetap produktif, yang saya sebut serious leisure, seperti main game dan baca buku. Banyak orang melihat baca buku itu sebagai hobi, tapi bagi saya baca buku itu bukan hobi, tapi serious leisure. Jadi tetap bisa rileks tapi serius. Dan entah kenapa kok bisa kecemplung di dunia Esports.

 

 

Q: Kenapa tiba-tiba ada keinginan untuk menekuni eSport?

Vivi: Bermula dari Florian, mahasiswa Psikologi Universitas Pelita Harapan, Jakarta, yang menjadi pacar saya saat ini. Kami kenal melalui forum akademisi debat, dimana kami saling bertukar jurnal untuk keperluan tugas. Dari situ, saya tahu kalau dia merupakan atlet profesional Esports dan pernah menjadi shortcaster di PT. Garena dengan pengalaman 3 tahun. Bahkan dia pernah mewakili Indonesia untuk main di Taiwan. Kala itu, tim gamer dari teman Florian berkompetisi ke tingkat nasional, dan membutuhkan coach, owner dan manager selain pemain. Posisi coach dan owner dipegang oleh Florian, dan dengan memberanikan diri saya mengambil posisi manager. Umumnya, manager harus memiliki pengalaman 2 tahun atau lebih dalam eSports dan biasanya berumur 20 tahun sekian. Meski tidak memenuhi kualifikasi tersebut, prinsip saya adalah “If you never try, you’ll never know.” Akhirnya saya bergabung dan setelah satu season terselesaikan, kami mendapatkan investor baru dan sering diliput media. Bahkan partner baru kami, Pak Daniel mendanai dan membantu pengembangan tim kami dengan menyediakan gaming house, pc dan rumah untuk player kami serta gaji. Beragam sponsor besar pun kami dapatkan, ada dari Logitech, Mr.Smith, dan Donburi Ichiya. Bahkan sekarang kami memiliki videografer professional dari Last Day Production.

Semalam ketika saya mau tidur juga sempat terpikir, sekiranya saya tidak terjun di eSports. Saya tidak akan jadi kayak gini, saya bersyukur bermula dari hobi, kini saya mendapat uang sebagai pemasukan bulanan.

 

Q: Menurut kamu, bagaimana perkembangan eSports saat ini?

Vivi: Meski benar eSport sekarang belum terlalu besar di Indonesia, but good news-nya adalah “We can make it bigger”, karena key source pun juga bilang bahwa Esport di Indonesia itu bakal pesat banget, buktinya adalah banyak banget brand-brand dan company yang sudah sadar akan pesatnya Esports di Indonesia hingga mereka mau jadi investor, misalkan Gojek, yang bukan berasal dari dunia Esports, namun mereka mensponsori salah satu team terbesar di Indonesia “EVOS”. Brand sebesar Gojek aja bisa berani buat invest, berarti, “there is someting there”, dan itu salah satu alasan juga kenapa banyak orang akhirnya mau terjun di eSports, “Because they love it and they want make it bigger”, karena saya juga ingin anak cucu saya nantinya bisa memiliki peluang di dunia eSport yang sama seperti diluar negeri. Kita harus benar-benar fight!

 

Q: Bagaimana cara kamu me-manage waktu?

Vivi: Saya yakin semua orang pasti punya waktu yang kepepet dan yakin manajemen waktu itu penting banget. Kalau saya adalah dengan tidak menunda–nunda, sebenarnya tugas tidak bakal banyak, kecuali kalau kita menundanya. Dulu saya merupakan cewek yang tidak terorganisir, tidak punya jadwal, selalu bingung mau ngapain, sampai akhirnya saya diajarin untuk memanfaatkan post-it dan membuat kalender di HP, dan itu sangat membantu. Jika saya diberi tugas oleh dosen dan dikumpulkan minggu depan, saya mengerjakan tugas harus selesai H-4 atau H-3, tidak boleh hari itu selesai dan hari itu juga kumpul, dan ini juga antisipasi untuk mengerjakan tugas yang lain, jadi “multi tasking” gitulah. Seperti kemarin saat saya di kirim EIO ke Jakarta, debat Inggris Internasional, disela-sela itu ada waktu sekitar 2 jam-3 jam, saya manfaatkan kerjain tugas dosen, ketemu dan deal dengan sponsor. Singkatnya adalah tetap istirahat cukup, tapi juga mengerti jadwal. Harus punya jadwal, karena dari situ kita bisa benar-benar memahami prioritas kita. Ada kalanya, saya mengalami waktu yang kepepet, ada debat dan yang satu lagi eSport, dan harus milih salah satu, dan biasanya saya memilih yang lebih urgent. Selain keluarga, kuliah tetap menjadi prioritas nomer satu. Ada anggapan bahwa orang yang berprestasi tidak bisa bermain game atau tidak bisa berpotensi di dunia game, maupun sebaliknya, orang yang bermain game, pasti tidak berhasil dalam bidang akademis, tapi buktinya IP saya 3,9. Jadi menurut saya, main game bukan alasan nilai kamu jelek. Harus manage waktu dan tentukan prioritas itu penting.

 

Q: Misalnya ada mahasiswa yang ingin menekuni eSports tapi ragu, kamu ada pesan-pesan?

Vivi: Banyak sih, ingat pakai waktu hidup mu If you never try, you’ll never now”, tapi juga harus mikirin “Which what you really want?” Karena eSport di Indonesia tidak seperti eSport di luar negeri, harus kita akui bahwa faktanya eSport di Indonesia itu baru akhir-akhir ini diakui oleh Indonesia itu sendiri, dan eSport dimasukkan ke cabang olahraga kan baru tahun lalu, sedang di luar negeri sudah beberapa tahun lalu. Di Indonesia eSport bukanlah karir yang menjanjikan berbeda dengan di luar negeri, makanya banyak orang di luar negeri drop off SMA dan kuliah demi Esports, main game terus sampai 12-14 jam perhari, latihan, jadi profesional gamer, karena apa? Duitnya banyak, popularitas besar, masa depan terjamin, jadi itu sebuah hal yang promising di luar negeri. Lain halnya di Indonesia kita harus menerima faktanya bahwa kerja di bidang Esport itu merupakan passion, jadi itu yang perlu di tanyain kalau anak-anak mau terjun ke dunia esport, kita harus tanya diri kita sendiri “Is that really your passion?” Karena kalau bukan passion, aku yakin sebulan sampai dua bulan pasti rontok. Karena memang eSport itu waktunya harus banyak dan kita harus benar-benar “into it” gitu.

 

Q: Tips mem-balance-kan antara hobi dan kuliah?

Vivi: Menurutku, “Kalau nilaimu bagus, kamu boleh main game sepuasnya. Kalau nilai mu jelek, berarti you have a lot of things to fix; remidi, revisi, dan itu nambah-nambahin kerjaan yang tidak efektif.” Prinsipku “Do it Once” dan cukup, dan kalau udah cukup ya udah jangan di over do it. Contoh, kamu bisa bikin tugas sekali dan mendapatkan nilai 90, malamnya tinggal main game. Kalau menunda dan main Mobile Legends dulu 3-4 jam, lalu mendapat nilai 50, dan malam revisi lagi, kan nambah-nambahin hal yang sebenernya tidak perlu dilakukan.

 

Q: Apa sih yang kamu dapetin dari koleksi buku UC Library?

Vivi:

Pertama, buku di UC Library sangat membantu saya ketika mencari referensi. Perlu diketahui juga buku bertema psikologi rata-rata berukuran tebal dan berharga mahal, mengucap syukur UC Library memiliki banyak sekali buku psychology yang menurut saya sangat membantu dalam menjalani perkuliahan. Selain itu, juga membantu ketika mempersiapkan diri mengikuti lomba debat. Bahkan rasanya ‘jatah’ pinjam koleksi buku serasa kurang, karena memang kalau hanya mengandalkan internet, tidak akan se-runtun jika belajar dari buku. Misalnya jika kita mencari kata kunci ‘psychology positive’,  memang benar akan keluar semua pencarian tentang subyek tersebut, tapi lompat-lompat dari teori A ke C lalu ke Z tiba-tiba ke Y. Jadi saya tidak bisa belajar secara runtun.

Contohnya lagi saat mempersiapkan lomba debat di Asian English Olympics 2018 lalu, saya sangat sering membaca referensi buku di perpustakaan. Dari buku yang kita baca, akhirnya kita benar-benar mengerti urutan kerangka berpikirnya. Buku-buku tersebut sangat ‘essential’ buat lomba kita, seperti yang menentukan hidup mati kita, kalau misal buku ini sudah tidak ada atau tidak kita hafal, wah tewas bisa-bisa.

Kedua yang saya suka tentang UC Library adalah fasilitasnya berbeda dengan lainnya. Ketika belajar di UC Library itu seperti memasuki ruangan yang intensif tapi rileks, ada tempat nge-charge juga, sejuk, tidak pengap, dan akhirnya jadi “kerasan” gitu. Dari sekedar latihan debat, bikin mosi sampai kerjain eSports, sangat nyaman di UC Library.

 

 

INFORMASI ACCESS E-JOURNAL EMERALD

Dear #ucpeople,

Kalian mahasiswa tugas akhir? Pusing cari artikel? Susah cari referensi untuk tulisan kalian?

Gak usah galau, langsung aja akses E-Journal Emerald yang dilanggan oleh UC ke:

URL: www.emeraldinsight.com

Berikut adalah daftar subyek yang bisa kalian akses:

  1. Accounting, Finance, & Economics
  2. Business, Management, & Strategy
  3. Mental Healt
  4. Information & Knowledge Management
  5. Tourism & Hospitality
  6. Marketing

 

Jika kalian dalam area kampus, kalian dapat menggunakan e-journal emerald secara otomatis tanpa memasukkan username dan password. Kalau kalian ingin mengakses tapi berada diluar UC atau memiliki pertanyaan seputar koleksi jurnal yang dilanggankan oleh UC Library, silahkan langsung berkunjung ke UC Library atau menghubungi Pak Panji di telp ext. 2223, email: panji@ciputra.ac.id
Thank you,

UC Library & Samuel Prasetiyo

Apa sih yang bisa aku dapetin dari koleksi buku UC Library? Berguna enggak ya buat kuliah dan bisnisku?

Pertanyaan tersebut yang mungkin terlintas di kepala #ucpeople sekalian kalau ditanya tentang koleksi buku di UC Library. Nah, Samuel Prasetiyo, mahasiswa IBM (International Business Management) Universitas Ciputra yang juga fungsionaris Student Council UC tahun 2017/18 Departemen 3: Student Organization ini mencoba membagikan beberapa testimony tentang pengalamannya bersama koleksi buku UC Library.

Kira-kira apa aja sih yang ia dapatkan? Berikut penuturannya:

 

Buku ‘The Lean Startup’ karya Eric Reis menjadi buku yang berkesan dan sangat membantu saya untuk bisa memahami bagaimana seharusnya membangun sebuah bisnis tanpa perlu mengeluarkan biaya terlalu besar karena mengalami kerugian yang disebabkan oleh produk tidak menjawab kebutuhan pasar. Buku yang saya pinjam di UC Library ini membuka pemahaman baru bagi saya, bahwa membuat sebuah bisnis bisa dimulai dengan menemukan kebutuhan konsumen. Tanpa kita mengetahui apa yang menjadi “pain” dan “gain” dari konsumen, produk yang kita buat tidak akan pernah bisa terjual dengan cepat atau bahkan tidak akan terjual sama sekali. Buku yang termasuk dalam koleksi Entrepreneurship UC Library ini memberikan langkah-langkah praktis apa saja yang harus kita lakukan untuk bisa membuat sebuah bisnis/produk yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Apa yang saya dapatkan dari buku ‘The Lean Startup’ ini sedang saya terapkan dalam pembuatan bisnis bersama dengan rekan saya diluar UC. Produk yang sedang kami buat bernama PIMPRO, sebuah aplikasi yang berfokus pada manajemen proyek-proyek dalam bidang teknik sipil. Awalnya rekan-rekan saya menolak untuk melakukan riset dalam mencari kebutuhan sebenarnya dari calon pelanggan, namun setelah beberapa kali menyumbangkan pemikiran dari apa yang sudah saya dapatkan dari buku ‘The Lean Startup’ dan merekomendasikan buku ini untuk dibaca, mereka pun mau membuka diri untuk melakukan riset kebutuhan pasar.

Selain buku tersebut, masih ada beberapa koleksi buku UC Library yang ingin saya baca juga dan sudah ada dalam daftar ‘read soon’, dan bahkan sudah saya foto untuk berjaga-jaga jika saya lupa cover bukunya. Salah satunya adalah ‘Design Thinking’ karya Thomas Lockwood. Buku tersebut juga memberikan pemahaman baru bagaimana cara mengembangkan suatu produk agar bisa selalu memenuhi kebutuhan konsumen.

So, kesimpulannya adalah kalau mau explore buku-buku di UC Library, pasti kita bisa menemukan buku-buku yang bermanfaat dan berfaedah. Saya sendiri baru menemukan buku-buku yang ada di daftar “wajib beli” milik saya ketika meng-explore rak Entrepreneurship. Seperti contohnya ‘Zero to One karya Peter Thiel, dan buku non-entrepreneurship seperti ‘Purpose Driven Life karya Rick Warren, dll.

UC Library & Rahmi Hidayah

 

Adalah Rahmi Hidayah mahasiswi jurusan Marketing Communication Universitas Ciputra yang saat ini menginjak semester 3 di UC ini telah membuktikan bahwa menjadi seorang entrepreneur sekaligus menjadi mahasiswa bukanlah hal yang tidak mungkin. Sudah sejak dibangku sekolah Rahmi menekuni entrepeneurship, bahkan secara otodidak, mahasiswi kelahiran Gresik ini membuat sendiri kreasi bros dan gantungan kunci berbahan flannel dan dijualnya ke teman-teman, serta gurunya ketika di SMP kelas 8.

Semangat entrepreneurship tersebut terus dibawa sampai di bangku kuliah di mana saat ini Rahmi memiliki bisnis dibidang Florist & Gift, bernama ‘FLOWERSTORE’. Saat ini, bisnis yang resmi berdiri sejak tahun 2015 ini memiliki 3 karyawan, dan tepat pada bulan Februari tahun ini, FLOWERSTORE membuka cabang pertama di Lamongan dengan 2 karyawannya. Sebuah capaian yang luar biasa bagi seorang entrepreneur muda asal Gresik ini.

UC Library berkesempatan mewawancarai Rahmi, dan bertanya mengenai suka dukanya dalam menjalankan bisnis serta tugasnya sebagai seorang mahasiswa aktif MCM-UC. Berikut hasil wawancara singkat kami:

 

Bagaimana sih caranya kamu agar bisa mendapatkan fresh idea dan inspirasi untuk perkembangan bisnismu?

Harus terus mengikuti perkembangan jaman, dan selalu perbanyak referensi, referensinya bisa dari youtube mancanegara, pinterest, instagram brand-brand Florist yang besar di Indonesia, setelah itu saya ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) mereka. Selain itu untuk menajemen sendiri, saya belajar dari buku ‘Manajemen Bisnis’ di Library, disitu saya belajar tentang cara me-manage ditoko itu bagaimana, berelasi dengan karyawan dan memposisikan diri sebagai pimpinan itu juga bagaimana, disitu juga saya belajar, bahwa leadership sangat dibutuhkan di dalam bisnis, karena saya menjadi cerminan dan contoh bagi para karyawan saya di toko.

 

Dari semua ide dan pelajaran yang kamu dapatkan, bagaimana kamu menerapkannya di lapangan?

Penerapan lebih susah sebetulnya, karena teori yang kita dapatkan hanya sebagai dasar, dan jika kita mau meng-implementasikannya, kita harus menggunakan kreativitas kita. Jika materi atau teorinya ‘A’, kita bisa mengembangkannya jadi ‘A+’, tergantung kreativitas kita dan situasi di lapangan. Di Flowerstore sendiri, salah satu tantangan dari produk, muncul dari ekspektasi customer di mana mereka ingin bunga yang ‘fresh’ dan tidak layu. Nah kita harus bisa memberikan apa yang customer inginkan. Ada banyak perjuangan dibaliknya, kita setiap hari harus menyirami, memotong bunganya, dan mencari cara agar kesegaran bunga tetap awet dan itu semua tidak mudah lo.

Dari manajemen toko sendiri harus bisa memanajemen diri sendiri dulu, bagaimana kita berbicara, ‘ngayomi’ anak buah kita, karena mereka adalah tanggung jawab kita, kita yang ‘ngidupin’ mereka.

 

Nah selain berbisnis, kamu juga kuliah, gimana kamu bisa menjalankan keduanya?

Mengatur waktunya sebenarnya juga agak kewalahan sih, di kampus tugas kuliah sudah numpuk, pulang ke toko di Gresik juga masih harus ‘ngurusin’ anak-anak, mengerjakan pesanan, akhirnya waktu istirahat yang berkurang. Sehari itu biasa tidur hanya 4 jam, maksimal 6 jam. Jadi sebetulnya cukup melelahkan.

Tapi saya selalu mendorong diri saya sendiri, karena jika kita mau selangkah lebih maju kita harus mau capek lebih dulu. Orang tua saya juga menjadi motivasi tersendiri buat saya karena mumpung saya masih muda dan orang tua saya sudah tua, sekarang saatnya saya yang bekerja keras bukan mereka lagi. Saya pun juga harus membuat kampus tercinta saya bangga dengan prestasi yang saya buat, belum lagi anak-anak di toko yang kerja bareng dan menjadi tanggung jawab saya. Terkesannya sih tanggung jawab saya begitu banyak dibelakang, tapi sebetulnya tanggung jawab tersebut juga menjadi penyemangat buat saya sendiri.

 

Kalau boleh tahu motto kamu ketika menjalani hidup sebagai entrepreneur sekaligus mahasiswa?

Jangan lupa bermimpi, tulislah mimpimu, bacalah mimpimu, dan percayalah mimpimu akan jadi nyata.

Saya sendiri di rumah punya ‘Jendela Motivasi’, jadi saya tulis semua mimpi yang ingin saya capai dalam 1 tahun kedepan dikertas lalu saya temple di jendela itu. 3 dari 5 mimpi saya sudah tercapai. Mimpi pertama saya adalah saya bisa kuliah dan bisa menjalankan bisnis, sama dengan brosur UC ketika saya hadir di Expo pameran di Gresik, ‘I am Student and I Have my Own Business’. Saya nulis kalimat ‘I am Student and I Have my Own Business’ selama 2 tahun dan akhirnya tercapai. Mimpi kedua saya adalah saya pengen masuk billboard di pintu masuk Citraland, dan yang ketiga adalah saya pengen IPK saya diatas 3,8. Dan 3 mimpi saya tadi sudah tercapai, tinggal 2 mimpi lagi dan saya percaya kalau mimpi ditulis pasti akan menjadi nyata.

 

Adakah pesan buat teman-teman mahasiswa lain yang punya keinginan seperti kamu, punya bisnis jalan, kuliah juga jalan dan mimpinya kedepan jadi tertata?

Jangan pernah melupakan orang tua. Jangan menentang orang tua karena orang tua yang lebih tahu dari kita, pun dalam berencana berbisnis. Jangan lupa ber-sedekah karena inti kehidupan adalah kita harus berguna bagi orang lain. Lalu juga jangan pernah meremehkan orang lain, kita harus belajar untuk menghargai orang lain dan peduli kepada orang di sekitar kita.

Menjadi seorang entrepreneur tidak boleh tutup telinga, kita harus open dan harus mau menerima kritik dan saran, karena itu pembelajaran bagi kita, kalau tidak, kita akan stagnan disitu dan ngak bakalan jadi apa-apa.

 

UC Library & Siska Hermanto

 

Adalah Siska Hermanto mahasiswa Psikologi Universitas Ciputra yang saat ini menginjak semester 4 di UC ini telah memenangkan berbagai penghargaan di lomba debat psikologi untuk UC. Mahasiswi angkatan tahun 2015 ini ternyata telah mengasah kemampuan debatnya lewat lomba-lomba debat sejak SMA. Apa saja sih prestasinya?

Pertama, sebagai best speaker di Psycho Debate, UPH Psycho Village (15-16 Maret 2016). Kedua, memenangkan juara 1 debat PICASO yang diadakan oleh UNIKA Soegidjapranoto bersama Betari Aisah dan Christian Effendy Putra. Ketiga, juara 3 National Psychodebate Psycorius Universitas Brawijaya 2016. Dan terakhir, Juara II Lomba Psychodebate Psychology Village yang diselenggarakan oleh Universitas Pelita Harapan pada 14-15 Maret 2017 lalu!

Ternyata ketika mempersiapkan lomba, UC Library cukup memberikan ‘bantuan’ bagi cewek yang hobi membaca ini. Bantuan seperti apa ya maksudnya? Berikut penuturannya:

 

“Dalam mempersiapkan diri menghadapi lomba debat pasti butuh sekali buku-buku penunjang dan UC Library memudahkan saya dalam mencari data-data yang saya perlukan. Terbukti dalam setiap mosi (topik perdebatan) yang kita cari, entah itu tentang body image, perkembangan, positive psychology, dll. ketika kita mencari referensi bukunya di Library kita selalu mendapatkannya, bahkan tak jarang kita dapat lebih dari 1 buku. Saking bergunanya, saat kita lomba di UPH (Universitas Pelita Harapan) Jakarta tahun 2016 lalu, buku yang kita pinjam dari Library pernah kita bawa sampai Jakarta lho. Tentu saja kita juga jaga dan rawat dengan baik..hehe. Dan terbukti akhirnya Best Speaker National Psychodebate Psychovillage 7 UPH Karawaci 2016 berhasil diraih! Buku menjadi teman yang sangat penting dan terima kasih UC Library telah membantu memberikannya. Once again, thank you UC Library!”

 

UC Library berkesempatan mewawancarai Siska mengenai Passion-nya dalam debat, berikut hasil wawancara singkat kami:

 

  1. Apa sih yang awalnya mendorong kamu masuk jurusan Psychology UC?

Awalnya memang saya sudah memiliki passion di dunia psikologi, bahkan sejak dari SMP sudah suka banget dan memang dari awal mendaftar sudah kepengen masuk di jurusan Psikologi.

  1. Kan baru aja menang lomba debat, apa debat itu termasuk passion kamu?

Iya benar! Debat adalah passion saya. Karena itu dari awal saya selalu bekerja keras untuk mengembangkan passion saya tersebut, seperti motto saya “Hardwork Never Betray”.

  1. Menurut kamu pentig gak sih passion dalam hidup seseorang?

Sangat penting. Karena passion itu yang membuat kamu ingat alasan awal kenapa kamu mau melakukan itu, ketika ada hambatan passion bisa menuntun kamu untuk tetap bertahan dan mengingatkan kembali sudah sejauh mana kamu melangkah. Kalau tidak ada passion pasti langsung selesai di situ.

  1. Apakah ada tips untuk teman-teman, bagaimana dapat menekuni dan mengasah passion mereka sehingga bisa bermakna bahkan menelurkan prestasi?

Yang pertama-tama, harus dicari dulu passionnya apa, karena kadang orang belum menemukan atau bahkan enggak tahu kalau ternyata dia punya passion di sana. Setelah itu baru cari goals atau tujuan. Contohnya saya yang memiliki passion di debat, dan saya memiliki tujuan mengikuti lomba-lomba debat dan goal saya adalah memenangkannya. Tentunya dengan bekerja keras mempersiapkan diri semaksimal mungkin, seperti rajin membaca sehingga ketika debat apa yang kita utarakan bukan omong kosong. Yang terakhir, jangan pantang menyerah dalam mencapai goals kalian, kalau sudah muncul keinginan menyerah, ingat tujuan awal kenapa kamu memulainya.

 

 

Prosedur Bebas Pustaka (Pengumpulan Tugas Akhir/B-Plan)

PROSEDUR BEBAS PUSTAKA (PENGUMPULAN TUGAS AKHIR/B-PLAN)

Buat kalian mahasiswa tingkat akhir dan mulai mengurus yudisium untuk persiapan wisuda, berikut adalah ketentuan prosedur bebas pustaka atau pengumpulan tugas akhir/b-plan kalian ke UC Library.

Apa saja sih yang harus diserahkan? Simak ketentuan berikut:

1. Menyerahkan 1 (satu) hardcopy Tugas Akhir/B-Plan.

2. Menyerahkan 1 (satu) CD, masing-masing berisi softcopy:
Berisi file keseluruhan yang dipisah-pisahkan dalam format file .PDF mulai dari: halaman judul.pdf, halaman persetujuan dosen pembimbing.pdf, halaman persetujuan tim penguji.pdf, halaman pengesahan.pdf (khusus S2), pernyataan keaslian.pdf, kata pengantar.pdf, abstrak.pdf, daftar isi.pdf, Bab 1.pdf, Bab 2.pdf, dst, daftar pustaka.pdf, dan lampiran.pdf (tanpa password).
Halaman persetujuan dosen pembimbing, halaman persetujuan tim penguji, halaman pengesahan (khusus S2), harus ditanda tangani lengkap terlebih dahulu lalu di-scan dalam format .pdf kemudian di-burn di CD. Halaman pernyataan keaslian harus diberi materai, ditanda tangani dahulu lalu di-scan dalam format .pdf kemudian di-burn di CD.
Catatan: *) CD diberi Nama dan NIM, tidak perlu sticker cover

Chrisyandi Tri Kartika, Tujuh Tahun Blusukan ke Tempat Bersejarah_Datangi Rumah Tua, Harus Pintar Memuji

73273_92580_metro1-boks-2

Chrisyandi adalah petualang sejarah sejati. Sejak 2009, dia blusukan ke berbagai sudut-sudut Surabaya dan mencari bangunan-bangunan bersejarah. Setelah mengabadikan keunikan-keunikan bangunan itu, dia membagikannya ke publik.

CHRISYANDI punya gaya khas saat bertualang. Mengenakan celana bahan, jaket parka, dan sepatu pantofel. Empat kantong di jaketnya juga penuh dengan berbagai peralatan. Tangan kirinya menenteng tote bag berisi air minum.

Yang mengalung di lehernya adalah kamera digital. Pagi-pagi benar, dia sudah berangkat dari rumahnya di Jalan Manyar Sabrangan. Dia menempuh perjalanan 10 kilometer dengan motor Suzuki Shogun abu-abu menuju Jembatan Petekan.

’’Harus pagi. Kalau enggak, si kecil bakal kelayu (ingin ikut, Red),’’ ujar ayah dua anak itu saat duduk-duduk di dekat pusat perbelanjaan Jalajaya di timur Jembatan Petekan pekan lalu.

Pagi itu dia berencana mengubek sejumlah tempat di wilayah Surabaya Utara. Malamnya dia lebih dahulu menyusun rencana perjalanan. Pertama, melihat kondisi Jembatan Petekan yang sudah tidak lagi utuh.

Kedua, masuk ke kompleks Pangkalan Armada Timur (Armatim). Kebetulan saat itu Naval Base Open Day. Dengan begitu, warga biasa seperti Chris –panggilan Chrisyandi– boleh leluasa masuk ke kompleks militer.

Saat di Jembatan Petekan, Chris menuruni tangga landai. Itu bukan kunjungan pertamanya ke jembatan buatan pemerintah kolonial Belanda.

Karena itu, dia hafal betul letak tuas, lampu, mesin penggerak jembatan, hingga pos penjagaan yang kini tinggal fondasinya. Puas melihat konstruksi jembatan, dia bergegas membuka tas kameranya.

Mengarahkan lensa ke arah suatu objek. Telat sebentar saja, momen yang ditunggunya bisa hilang. ’’Ya gini. Telat sedikit bisa tidak dapat apa-apa,’’ ucapnya, lalu memasukkan kembali kamera ke tas.

Rupanya, Chris sedang membidik pencari cacing yang dengan santai mengambang terbawa arus sungai. Mengapung, berpegangan pada ban dalam mobil. Potret kehidupan sungai semacam itulah yang dia cari.

Suatu saat, aktivitas semacam itu bisa tinggal kenangan. Foto-foto tersebut bisa dinikmati di grup Facebook Surabaya Heritage Society. Di grup pencinta sejarah Surabaya itu, dia menjadi adminnya.

Yang pasti, tak terhitung lagi tempat yang pernah dia datangi. Tidak lama kemudian, ada yang memanggilnya. Dari kejauhan, wajahnya tidak terlihat. Tertutup silau sinar matahari dari timur.

Ketika sudah dekat, Chris baru menyadari, pria itu adalah Sayfudin Endo. Pencinta sejarah yang juga tergabung dalam Surabaya Heritage Society. Masih muda dan penuh semangat.

”Hei, halo. Kok tahu saya di sini?” tanya Chris, lalu menjabat tangan Udin, panggilan Sayfudin. Udin ternyata penasaran dengan dua motor yang terparkir di dekat Jembatan.

Dia ikut memarkir sepedanya ketika mengetahui ada Chris. Keduanya lalu melihat kondisi besi-besi berkarat jembatan. Lalu, mereka mencocokkannya dengan foto saat jembatan masih utuh.

Masih bisa buka-tutup agar perahu bisa melintas. Tidak sekadar menikmati bangunan tua itu, Chris juga lebih detail mengamatinya. Dia menggedor-gedor besi tua yang berongga.

Sebentar kemudian, dia memasukkan kepala untuk melihat apa yang ada di dalam besi berongga itu. Oh, rupanya di dalamnya ada tuas yang dulu dipakai untuk menyetop kendaraan.

Semacam palang pintu. Namun, tuas itu sudah tidak bisa digerakkan karena sudah lengket dengan karat. Nama Petekan sendiri didapat karena jembatan tersebut bisa dibuka-tutup hanya dengan menekan tombol atau dalam bahasa Jawa disebut petekan.

Mereka bergantian memotret komponen-komponen jembatan. Diabadikan. Sebab, siapa tahu komponen tersebut hilang. Hari itu, kunjungan Chris di Petekan cuma sebentar.

Dia harus bergegas menyaksikan Naval Base Open Day.Pengunjung sudah terlihat semakin membeludak pada pukul 09.00. Benar saja, saat masuk ke Armatim, kendaraan sudah mengantre. Tempat parkir penuh.

Karena itu, Chris memutuskan untuk memarkir motornya di PT PAL. Perjalanan menuju lokasi ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi, ada hikmahnya. Di tengah perjalanan, Chris bisa melihat meriam-meriam yang dijadikan tambatan tali kapal.

Juga, bungker-bungker pertahanan yang jarang diketahui banyak orang. Setelah 20 menit berjalan, tambatan kapal dari meriam ternyata memang benar ada. Chris lalu memotret tambatan yang dicat hitam itu.

Udin pun mengikutinya. Sesekali dia mengeluarkan botol minumnya. Semakin siang, cuaca semakin terik. Suami Tri Dewi tersebut sontak berbelok ke kanan. Berjalan mendahului.

Tangannya menunjuk ke arah bungker yang berbentuk lonjong dengan ujung runcing. Mirip kubah masjid, tapi lebih langsing. Orang-orang menyebutnya Bungker Roti Manis. Dahulu roti manis Belanda berbentuk seperti bungker.

Seperti masuk rumah sendiri, Chris tidak segan membuka pintu bungker yang berbahan besi tersebut. Suara decitannya menunjukkan engsel pintu kurang pelumas. Tapi, masih tergolong ringan untuk dibuka dan ditutup.

Cahaya seketika sirna saat masuk ke lantai 2 bungker. Chris membuka tote bag-nya. Dia menamcapkan lampu LED portabel ke power bank. Lampu seharga Rp 4.000 tersebut lumayan menerangi. Ini kali kedua Chris masuk ke sana.

Udara di dalam bungker menyesakkan dada. Oksigen tipis. Setiap kali melangkah, debu-debu beterbangan. Menambah sulit bernapas. Dari lantai 2, terdapat tangga berbeda yang terhubung dengan pintu bungker di belakang.

Dahulu bungker dibangun sebagai pos pertahanan Belanda untuk menahan serangan tentara Jepang. Chris memotret detail-detailnya. Mulai pintu, engsel, tangga, langit-langit, hingga ruangan-ruangan sempit yang ada.

Saat masuk, beberapa pasang mata tentara mengawasi. Sebab, nyaris tidak ada pengunjung yang berani blusukan.

Westalah gak popo (sudahlah tidak apa-apa, Red). Hari ini khusus,” ujar pustakawan Universitas Ciputra tersebut. Hobi Chris berkeliling tempat-tempat bersejarah itu terpupuk sejak duduk di bangku SD.

Dia makin giat mengelilingi bangunan cagar budaya tersebut setelah mendapatkan dorongan dari Freddy H. Istanto, dekan Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra yang memprakarsai Surabaya Heritage Society.

”Saya memberanikan diri begitu mendapat tantangan dari Pak Freddy,” ucap alumnus SMAK Pringadi angkatan 1995 itu. Ketika kali pertama berkeliling sendiri, dia memilih lokasi kota lama Surabaya di dekat Jembatan Merah.

Beberapa rumah dan gedung lawas menjadi sasarannya. Sering diusir, sering juga dikira maling. Terkadang pemilik tidak nyaman rumah lawasnya difoto. Terkadang pula para satpam lebih galak daripada pemilik rumah.

”Tapi, sekarang sudah tahu caranya biar tidak dikira maling,” ucap Chris, lalu memandang ke arah Udin. Udin mengalami hal yang sama saat kali pertama mengunjungi bangunan-bangunan lawas itu.

Menurut Chris, setiap kali memotret, hal yang harus dilakukan adalah meminta izin pemilik. Bila perlu, memuji keindahan arsitektur lawas yang masih terjaga. Jika beruntung, dia diizinkan memotret seisi rumah hingga perabot-perabotnya.

Kini aktivitas berburu tempat-tempat bersejarah jarang dia lakukan sendirian. Sudah banyak pencinta sejarah yang giat berkeliling Surabaya. Salah satunya, Komunitas Love Suroboyo. ”Ternyata kalau bareng-bareng lebih enak,” ucapnya.

Sebelum berpisah, Chris menyatakan rasa kecewanya. Sebab, sebelum berangkat dari rumah, dia bingung mencari payung merahnya. Payung yang selalu menemaninya saat berburu tempat-tempat bersejarah.

Karena kebiasaannya itu, pencinta sejarah lain menyebutnya Si Payung Merah. ”Makanya tadi ada orang bawa payung merah, pengen tak beli,” ucapnya, lalu melambaikan tangan untuk berpisah. (*/c7/git/sep/JPG)

Sumber: Jawa Pos. 26 Desember 2016. Hal.25,31

 

15800059_1199928896728888_2044229783553706020_o

The Winner of UC Library Photo Contest

Menginformasikan bahwa pelaksanaan UC Library Photo Contest yang diadakan selama September-November 2016 telah berakhir. Terima kasih banyak kepada Pak Rendy Iswanto dan Pak Samuel Barrel untuk sharing time dan dukungan yang diberikan sejak awal persiapan lomba sampai dengan penjurian.

Selanjutnya, pemenang kategori terbaik diberikan kepada foto atas nama:

Hanson Wijaya (20615036); Judul: Books are like mirrors; Each will represent its readers.

juara-terbaikdsc00723

 

pemenang kategori harapan diberikan kepada foto atas nama:

Bryan Jonathan (40213009); Judul: My Bestfriend

juara-harapandsc00719

Dan pemenang kategori favorit diberikan kepada foto atas nama:

 Hong Felicia Siswanto (10413013); Judul: Yellow has a meaning

juara-favoritdsc00721

Selamat dan sukses untuk para pemenang, dan silahkan kepada 3 pemenang di atas bisa langsung ke Library untuk menerima hadiahnya. Semua hasil karya lomba ini akan dipamerkan di bulan Maret 2017.

See you next event!

Perpustakaan kampus yang Kian Cozy dan Asyik – JAGOAN DI KOLEKSI KEWIRAUSAHAAN

Perpustakaan kampus? Tempat dengan jajaran rak tinggi nan senyap dengan koleksi buku-buku enggak update? Ah, bisa jadi itu perpustakaan tempat kuliah Anda dulu, hehe…. Kampus-kampus ini mampu mewujudkan tempat baca yang cozy (nyaman) dan inovatif. Bikin betah. Tak heran, mereka kerap meluangkan waktu di sela-sela jam kuliah untuk membaca buku di tempat ini. “Kami juga sering mengerjakan tugas kuliah bersama di sini,” ujar Christina.

UC memang sengaja mendesain perpustakaan yang menarik. Dari desain saja, UC Library terlihat asyik. Warna jingga mendominasi dinding UC Library. “Melambangkan jiwa muda yang penuh semangat,” ungkap Kepala UC Library Suzanna Katharina Mamahit.

Lokasi UC Library juga unik. Letaknya di lantai 1,5 alias “satu setengah”. Untuk masuk ke UC Library, pengunjung harus menuju lantai 2 terlebih dahulu. Setelah itu, pengunjung harus turun melalui tangga untuk sampai du UC Library.

Di situ, pengunjung langsung menemui sederetan kursi dan meja warna-warni. Selain itu, ada tempat membaca berupa lesehan.

Berbagai inovasi diberikan pengelola UC Library agar mahasiswa lebih nyaman membaca di perpustakaan. Perempuan yang akrab dengan sapaan Khaty tersebut menerangkan, UC Library memang tidak memiliki tempat luas. Hanya 500 meter persegi. Namun, pihaknya terus berupaya memberikan inovasi dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan di UC Library. Kemarin pengunjung UC Library bisa mengikuti talk show dengan tema table manner. Kegiatan itu diselenggarakan pengelola UC Library setiap bulan.

Narasumber talk show berasal dari perwakilan program studi (prodi) di UC. “Jadi giliran. Bulan ini tanggung jawab prodi mana. Mereka akan mengirimkan perwakilannya jadinarasumber,” ungkapnya. Mahasiswa bebas mengikuti talk show tanpa biaya. “Semua pengunjung di UC Library juga bisa ikut,” ungkapnya. Pemilihan tema lebih umum. Dapat diterima mahasiswa dari seluruh prodi. Dengan kegiatan tersebut, kata Kathy, UC Library tidak pernah sepi pengunjung.

UC Library buka pada Senin-Sabtu, mulai pukul 07.30 sampai 18.00. Saat jam tersebut, mahasiswa UC bebas beraktivitas di UC Library. Bisa membaca, mengerjakan tugas, serta mengembalikan dan meminjam buku.

Kampus yang terletak di kawasan CitraLand itu memang identik dengan program studi entrepreneurship (kewirausahaan). Begitu juga UC Library. Kathy yakin UC Library memiliki keunggulan dalam koleksi buku yang berkaitan dengan entrepreneurship, innovation, dan creativity. “Bisa dikatakan koleksi kami paling banyak jika dibandingkan dengan perpustakaan di kampus lain,” jelas perempuan 52 tahun tersebut.

Hampir setiap bulan, UC Library membeli buku baru yang berkaitan dengan entrepreneurship. Saat ini saja, di antara total 23 ribu koleksi yang dimiliki UC Library, sebanyak 6.900 buku atau 30 persen merupakan buku mengenai entrepreneurship. Jumlah tersebut terus meningkat setiap bulan.

Buku-buku itu juga mendapat tempat lebih spesial. Rak bukunya diletakan paling utama dengan penanda sesuai  tema. Setelah rak buku-buku tersebut, barurah jajaran rak-rak koleksi lainnya terlihat. Kathy menjelaskan, penataan koleksi buku tidak boleh sembarangan. “Ada ilmunya sendiri. Penataan hanya dapat dilakukan oleh pustakawan,” ungkapnya. Dengan begitu, pengunjung UC Library lebih mudah mencari koleksi buku.

Seluruh koleksi buku terdaftar di katalog UC Library yang berada di website UC. Dengan demikian, mahasiswa lebih mudah mencari buku di UC Library. “Judul yang dicari dapat dilihat di katalog tersebut. Tersedia atau tidak,” ungkap perempuan kelahiran Manado, 27 Februari 1964, itu.

Perpustakaan UC juga sudah membebaskan diri dari citra tempat baca dengan penjaga sepuh yang wajahnya selalu manyun seperti di film-film. Sejak diresmikan pada 2006, UC Library punya keunggulan soal pelayanan. Kathy mengajari seluruh pengelola UC Library untuk selalu memberikan senyuman saat melayani pengunjung. “Kami memakai pin bertuliskan library serve with heart. Kalau sudah pakai pin itu, semua pengelola harus mengikuti peraturan yang berlaku,” jelas Kathy.

UC Library juga melakukan jemput bola. Program itu bernama circulation on the spot (COS). Kathy mengungkapkan, seminggu dalam satu bulan, pengelola UC Library berkeliling ke prodi-prodi. Saat itu, mereka menggelar buku-buku yang berkaitan dengan prodi yang dikunjungi. “Misalnya, kami mengunjungi lantai 5 UC. Disana ada prodi apa saja. Ya, kami bawa buku-buku yang berkaitan dengan prodi itu,” jelasnya.

Mahasiswa langsung bisa meminjam buku di COS. Dengan begitu, mahasiswa tidak punya alasan lain untuk malas meminjam buku. Sebab, berbagai kemudahan disediakan UC Library kepada mahasiswa UC.

Bulan ini, tepatnya 26 Agustus, UC Library berulang tahun. Serangkaian kegiatan diadakan hingga sepekan kedepan. Peminjam buku sampai akhir Agustus ini berpeluang untuk mendapatkan door prize. ”Mereka mengambil undian, nanti tertulis dapat hadiah apa,” katanya. Wah, dapat ilmu, dapat hadiah pula.

 

Sumber: Jawa Pos.30 Agustus 2016.Hal.25,35

 

copy-of-perpustakaan-kampus-yang-kian-cozy-dan-asyik_jagoan-di-koleksi-kewirausahaan-jawa-pos-30-agustus-2016-hal-2535

Link Facebook:

https://www.facebook.com/283931771661943/photos/ms.c.eJwNyMERADAIArCNekVBZP~;F2jyD66CcEa1hDn6YXVrTVD9zcAbN.bps.a.552884698099981.1073741828.283931771661943/1079743258747453/?type=3&theater