Hasoe Sang Pengelana

Hasoe_Sang Pengelana.Kompas.23 September 2017.Hal 16 001-page-001

Profesi Hasoe sebenarnya adalah perupa. Ia atif dalam berkarya, aik di dalam maupun luar negeri. Hal itu dikuatkan dengan basis pendidikannya yang memang sarjana seni dari Institut Seni Indonesia.

Di luar itu, ia juga pemain organ tunggal ternama khusus musik dangdut dan campursari. Namanya tidak hanya melamung di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, tetapi juga di luar Jawa. Bahkan, di Nusa Tenggara Timur, wilayah yang sesungguhnya kurang akrab dengan musik ini. Dia menjadi bintang yang sengaja didatangkan khusus untuk menghibur tamu di sebuah hotel berbintang di Kupang.

Sebagai pemain organ tunggal, ia memilii kekhasan. Kostumnya di atas panggung banyak dan unik. Dia misalnya, memakai pakaian mirip jubah warna biru cerah dengan dengan aksesori topi lebar. Dia juga memiliki kostum mirip seragam angkatan laut lengkap dengan topi kebesarannya. Bukan saja kreatif, melainkan juga atraktif.

Karena itu, dia selalu laris sebagai pemain organ tunggal. Ia tak segan – segan membuat manuver – manuver yang unik. Ketika erulang tahun ke 45 sekitar empat tahun lalu, misalnya, dia mendatangkan 45 penyanyi campursari dan dangdut untuk pentas bersama. Bentara Budaya Yogyakarta sebagai tempat pemanggungan padat manusia. Ini hanya satu bagian dari kiprahnya sebagai pemain organ tunggal khusus dangdut dan campursari.

Di kalangan seniman, Hasoe selalu menjadi dambaan para seniman Yogyakarta yang memutuhkan petunjukan dangdut dan campursari untuk acara pemukaan pameran. “Pokoknya ‘pondangi’, opo – opo ditandangi, apa – apa dikerjakan,” begitu kata Hasoe.

Perupa antarbangsa

Cita – citanya berkeliling dunia. Ia tidak hanya menyataan lewat mulut, tetapi juga benar – benar melakoninya. Setidanya 30 negara telah dia kunjungi. Sebagian kunjungannya dala rangka jalan – jalan, sebagian lagi unjungan dengan mambawa misi kesenian.

Khusus kunjungan misi kesenian, dia menjalin relasi lewat jalinan internet. Intinya mencari kesepakatan bagaimana menajlan persahabatan seni rupa. Atas jalinan ini, terjadilah kumpulan perupa dari berbagai bangsa di setiap negara. Secara ruti mereka bertemu di negara tertentu.

Pertemuan seniman itu, alau tidak berpameran seni rupa, juga melakukan diskusi, tukar pikiran tentang konsep – konsep seni rua antarbangsa.”Ya, kami keluar uang dari kantong sendiri, berupaya bagaimana bisa ada pertemuan seniman antarnegara,” kata Hasoe.

Petemuan terakhir erlangsung di India dengan mengadakan pameran bersama perupa antarbangsa. Yang paling akhir tahun, jaringan perupa antarbangsa mengadakan kegiatan seni di Moldova.

Sekitar tiga tahun sebelumnya, Hasoe mendapat giliran menjamu perupa – perupa dari 30 negara di Indonesia. Mereka diajak keliling candi – candi di Jawa Tengah dan DIY. Setelah itu, mereka dibawa ke Omah Petroek, Dusun Wonorejo, di lereng Gunung Merapi, Katupaten Sleman, Yogyakarta, untuk lokakarya (worshop) dan melukis alam Jateng/DIY yang telah dikunjungi. Hasil dari karya para seniman dari 30 negara itu dimiliki leh Telly, seorang pecinta seni yang mensponsori kunjungan perupa antarbangsa ini.

“Semua ini karena keberanian. Nunggu menabung sampai tua enggak akan terjadi. Yang penting erja sama lewat jaringan inilah kami, para perupa dari berbagai bangsa, bisa saling berkunjung,” kata Hasoe.

Unik

Cita – cita keliling dunia ini memang tidak hanya dilakukan Hasoe lewat misi kesenian, tetapi juga lewat kunjungan wisata. Uangnya dari mana ketika penghasilannya tak sebanding dengan biaya perjalanan wisata ke luar negeri?

Inilah keunikan Hasoe. Dengan modal relati kecil, ia bisa menggapai dunia. Caranya adalah membeli kuis – kuis produk industri Indonesia yang memberi hadiah perjalanan e luar negeri. Dia berani mengeluarkan uang berjuta – juta untuk pembelian sebuah produk. Memborong hasil sebuah produk sampai Rp 12 juta adalah hal biasa. Yang mengherankan banyak orang adalah dia lebih sering menang daripada kalah.

Ya, inilah Hasoe yang cerdik. Meskipun belanja sebuah produ berjuta – juta, dia masih menyiasati dengan menjual ulang produk yang dibeli. Kadang pengusaha sebuah produk hanya memberi ode undian hanya ditempel pada produnya. Siapa yang berminat ikut undian tinggal mengambil tempelan itu.

Produk yang kode undiannya sudah diambil itu dijual lagi dengan harga rugi. Pernah Hasoe mengikuti undian sebuah obat kumur. Dia memeli produk itu Rp 12 juta. “Setelah saya ambil kode undiannya, saya jual lagi lau Rp 8 juta. Akhirnya saya memenangi undian itu. Artinya, hanya kehilangan uang 4 juta saya bisa pergi Eropa. Gratis perjalanan, akomodasi, ada uang saku, dan diajak e berbagai tempat wisata,” katanya.

Dari berbagai undian itu, Hasoe bisa ke banyak negara. Dia bisa menonton Piala Dunia di Polandia, Liga Inggris, dan jalan – jalan ke Belanda, Perancis, Belgia, London, Jerman, dan Jepang.

Begitu akrabnya bergaul dengan undian berhadiah ini, Hasoe sampai hafal para pengusaha melakukan tipu – tipu. Menyebar undian, tetapi penarikannya tidak jelas. “Saya sampai hafal sebuah PO Box yang saya curigai hanya menipu,” ujarnya.

Hobinya keliling dunia, baik untuk misi kesenian maupun sekedar senang – senang, telah membuka mata bahwa dunia itu luas. Dan dari setiap perjalanan ia mendapatkan pelajaran baru yang menjadi energi penggerak kegiatan keseniannya.

Sumber : UC Lib-Collect, Kompas. 23 September 2017. Hal. 16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *