Mengendalikan Privasi Melalui Elemen Interior. Rumahku. No.132.2017.Hal.36-37. Liya Dewi Anggraini. INA

Privasi sering terabaikan padahal sangat penting dan mendasar, dan kita butuhkan sehari-hari. Elemen-elemen interior bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan privasi saat berinteraksi dengan orang lain secara dinamis

 

Privasi jarang kita bicarakan karena mungkin dianggap sepele atau kita tidak memahami betapa privasi itu sangat penting dan mendasar. Ketidaknyamanan ketika berbicara dalam jarak dekat adalah salah satu indikasi dibutuhkannya privasi. Membangun pagar rumah yang tinggi, atau selalu menutup pintu kamar, adalah indikasi privasi yang ditunjukan, atau perlindungan

Kita bisa mengukur dan mengatur tingkat privasi diri sendiri; seberapa jauh saat berhadapan dengan orang. Jika jarak fisik tak tercapai, jarak mental dapat diciptakan dapat diciptakan melalui kesopanan dan ketertutupan;tidak menunjukan emosi atau membuka informasi pribadi. Sebaliknya, jarak mental berkurang ketika Bahasa sehari – hari yag akrab digunakan dan emosi ditunjukkan. Pada dasarnya, seseorang akan “menjaga jarak” terhadap orang lain saat berinteraksi, basic secara fisik maupun mental.

FUNGSI LAIN ELEMEN INTERIOR

Dalam rumah tinggal – sebagai pengejawantahan keberadaan diri seseorang. Jarak fisik tersebut dapat dicapai melalui elemen – elemen interior. Pagar rumah adalaha elemen terluar yang melindungi kita dari interaksi interaksi langusng dengan orang luar. Dinding adalah interior paling utama yang sepenuhnya dikendalikan oleh bukaan pintu untuk masuk dan keluar. Jendela merupakan elemen pengendali interaksi yang lebih visual, terhadap apa yang boleh terlihat – atau dilihat – dari luar, dan sebaliknya. Daun pintu atau jendela menjadi elemen mekanisme pengendali yang dinamis, dapat disesuaikan menurut waktu. Pada saat tertutup dapat berfungsi sama seperti dinding. Menghalangi baik fisik maupun visual. Jarak antarpintu dapat dimanfaatkan untuk mengatur hubungan antara ruang luar dan ruang dalam. Perabotan seperti meja, kursi, lemari, atau atau rak dapat diatur untuk menghambat intervensi secara langsung. Gang atau koridor sanggup menciptakan jarak fisik, yang berfungsi sebagai penghalan.demikian pula tangga dan perbedaan ketinggian lantai dapat menunjukan tingkat privasi yang berbeda. Menggunakan bahan penutup lantai yang kontras juga bisa mengkomunikasikan adanya perbedaan fungsi dan tingkat privasi.

TAK HARUS MAHAL

Kemudian, bagaimna mengatur privasi secara akustik tanpa menggunakan material interior yang mahal? Di dalam rumah, kita tetap membutuhkan suara, namun tidak terus menerus dan tidak selalu dalam intensitas tinggi karena kenyamanan akan terganggu. Ada saat – saat kesenyapan dibutuhkan, ada saat keramaian diinginkan. Dalam banyak kasus, kondisi idela membutuhkan usaha dan mahal. Satu – satunya solusi yang dapat mengendalikan efek negative yang ditimbulkan dari suara yang berlebihan adalah memanfaatkan suara yang dihasilkan oleh elemen – elemen interior itu sendiri

Ributnya suara percakapan – bahkan pertengkaran – atau kebisingan lalu lintas, hingga suara buang air kecil atau besar yang menggagu, dapat ditima dengan suara yang lebih menyenangkan. Dari suara alunan musik, suara gemericik air mengalir, gemerisik dedaunan yang tertiup angina, hingga suara serangga atau burung yang bersarang di semak atau pepohonan adalah elemen pengendali yang berfungsi sebagai buffer (pelindung) atau filter (penyaring) untuk mencapai privasi akustik yang dibutuhkan

Sumber: Rumahku.no132.2017.Hal36-37

Penulis: Lya Dewi Anggraini, Pengajar Architecture Universitas Ciputra

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *