Strategi Berburu dan Strategi Manajemen, oleh Pak Ciputra

 

Saya pernah menjadi seorang pemburu di usia remaja yang berburu bukan untuk sekedar hobi atau bersenang-senang. Saya berburu untuk kebutuhan hidup sekaligus ajang mengasah dan mencipta prestasi.

Di sekitar tahun 1944 ketika saya berusia sekitar 13 tahun saya memiliki kehidupan yang sangat dekat dengan alam. Saya pernah tinggal di Bumbulan (Gorontalo-Sulawesi) sebuah desa di tepi pantai lalu kemudian pindah ke desa Papaya di tepi hutan. Sebuah perpindahan tempat tinggal yang terpaksa dilakukan karena ayah saya ditangkap dan dibawa oleh tentara Jepang dan karena peristiwa itu kami juga kehilangan toko kelontong yang menjadi nafkah utama keluarga. Sebagai seorang anak remaja saya adalah remaja yang sangat aktif secara fisik, saya berenang dilaut, berkuda, memanjat pohon dan berburu. Saya berburu babi hutan, babi rusa, rusa dan anoa. Selama 5 tahun saya menjadi remaja pemburu binatang dan ternyata pengalaman itu telah melatih saya berbagai hal penting seperti strategi, kepemimpinan dan manajemen yang dampaknya sangat saya rasakan setelah saya menjadi entrepreneur. Saat-saat berburu dan hidup dekat dengan alam merupakan saat yang sangat mengesankan untuk saya namun impian untuk pergi ke Pulau Jawa dan belajar menjadi Arsitek ternyata terus bergelora, tidak pernah padam dan membuat saya meninggalkan pengalaman-pengalaman tsb.

 

Melalui berburu saya belajar menginovasi kehidupan saya.

Pada masa itu mata pencaharian utama keluarga saya adalah sebagai petani yang harus dapat bertahan hidup dari lahan seluas hampir 1 hektar. Kami hidup dengan cara berladang jagung, umbi-umbian dan juga padi. Kami bertani tanpa kehadiran seorang ayah, sementara itu 2 saudara saya yang lain bersekolah di Gorontalo. Saya hanya tinggal dengan ibu yang sangat mengasihi saya namun secara ekonomi kami berkekurangan. Berburu adalah sebuah upaya melengkapi kebutuhan keluarga karena dengan berburu saya bisa mendapatkan daging selain makanan hasil pertanian. Melalui berburu saya juga telah belajar sejak dini bagaimana “mengubah kotoran dan rongsokan jadi emas” atau “mengubah masalah jadi peluang”. Di desa Papaya binatang liar seperti babi hutan, babi rusa, rusa dan anoa sering mengganggu ladang maupun sawah penduduk desa. Jadi adalah sebuah keharusan bagi penduduk untuk membasmi binatang liar tersebut agar sawah maupun ladang kami tidak dirusak. Bagi saya berburu binatang liar bukan sekedar menyelesaikan masalah gangguan terhadap ladang, ini adalah sebuah sumber pasokan protein hewani yang memang kami butuhkan.

 

Melalui berburu saya belajar membangun tim dan mengelola tim. Rumah kami di desa Papaya berada di dekat kebun kelapa dan hutan primer. Kami tinggal di rumah dengan 2 kamar yang memiliki kolong dibawah rumah. Kolong rumah tersebut menjadi sebuah ruang kehidupan yang sehat untuk 3 anjing saya yang kemudian karena kegiatan berburu saya menambah jumlah anjing saya sehingga mencapai 17. Saya adalah seorang remaja yang memiliki anjing terbanyak di desa Papaya. Anjing-anjing saya ini bukan anjing biasa bagi saya. Ke 17 anjing yang saya miliki saya cari dan pilih dengan sengaja. Saya pahami karakternya masing-masing dan saya latih ketrampilan mereka untuk berburu. Seperti layaknya manusia dalam bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Mereka tinggal dikolong rumah kami, sehingga saya senantiasa dapat mengetahui perkembangan dan kondisi mereka. Saya merawat mereka layaknya merawat manusia, menyiapkan makan mereka yang terdiri dari kelapa parut, ubi, jagung rebus, dan dicampur dengan daging hasil buruan. Saya tahu, mereka pun sangat menghargai saya sebagai pemimpin yang mengerti mereka dan dengan kasih sayang memfasilitasi kemajuan berburu mereka. Saya terapkan reward and punishment pada mereka seperti layaknya juga manajemen manusia. Reward berupa makanan, atau usapan penuh kebanggan dan apresiasi, serta punishment berupa bentakan keras agar anjing tersebut tahu sedang menerima hukuman. Saya juga menerapkan coaching pada mereka supaya mereka dapat meningkatkan prestasi mereka seperti coaching pada karyawan dalam manajemen sebuah organisasi. Saya memperlakukan ke 17 anjing saya dengan penuh perhatian dan kasih sayang

seperti saya memperlakukan manusia. Saya yakin anjing-anjing yang saya miliki pada saat itu juga paham, bahwa saya memperhatikan mengasihi mereka, memelihara mereka dan mendorong kinerja mereka supaya mereka sukses mengerjakan tugas dengan baik. Saya seakan memanusiakan binatang yaitu memanusiakan anjing. Teman-teman berburu saya ternyata dapat melihat prestasi dari anjing-anjing milik saya dan mereka memberikan rasa hormat dan kagum. Inilah pembelajaran penting tentang membangun tim. Saya harus memperlakukan tim saya dengan baik, penuh pengertian dan menunjukkan bahwa kita saling membutuhkan.

 

Melalui berburu saya belajar untuk membangun kemitraan yang saling mempercayai dan saling melengkapi satu sama lain. Saya tidak berburu sendirian, saya berburu bersama dengan teman-teman saya dan 17 anjing saya. Di dalam berburu secara kelompok kami harus dapat saling mendukung berjuang sehidup semati karena risiko menghadapi binatang liar sangat besar. Kekuatan kami terletak pada kemampuan kerja sama diantara kami, kecakapan mengarahkan anjing-anjing serta senjata untuk berburu seperti tombak besi, pedang yang tergantung di pinggang, Sebagai pemburu di usia remaja kami juga menyadari bahwa kami membutuhkan orang yang lebih berpengalaman untuk mengarahkan dan memberi nasehat. Oleh karena itu kami disertai seorang tua yang paham akan pergerakan binatang di dalam hutan, orang tua ini adalah pawang yang biasa kami panggil sebagai Oom Gugu. Merambah hutan membuat tubuh kami biasa terluka oleh duri, belukar dan pohon-pohon dengan ranting yang tajam bahkan saya pernah sebulan tak bisa berburu karena terluka. Kesulitan dan tantangan ini kami hadapi bersama, inilah “tim kerja” berburu yang membuat kami sanggup menjelajah hutan yang berbahaya dan itu telah saya alami di saat saya remaja. Saya telah belajar sesuatu yang sangat penting untuk membangun usaha yaitu menemukan dan membangun kemitraan yang saling mempercayai dan bisa saling melengkapi satu sama lain.

 

Melalui berburu saya telah belajar menyusun strategi.

Berburu di usia remaja yang saya alami bukan sekedar mengandalkan mata awas untuk menemukan binatang, kaki yang bertenaga untuk mengejar buruan dan otot yang kuat untuk melempar senjata. Kami terlatih membangun formasi dan berburu binatang dengan strategi. Anjing-anjing kami bergerak didepan, mereka mengendus dan menggunakan instingnya dalam mendekati binatang buruan. Lalu kami manusia dengan siap siaga bergerak sambil memegang tombak. Kami sudah terlatih melempar tombak mengikuti dari belakang sekitar 50-100 meter dengan penuh konsentrasi dan keyakinan untuk segera menyergap babi hutan atau babi rusa atau rusa atau anoa. Ditengah hutan yang lebat dan lembab, kami melangkah dengan kaki-kaki telanjang tanpa sepatu, dan telanjang dada, hanya mengenakan celana pendek sebagai pakaian. Anjing-anjing dengan agresif berlari di depan dan sekitar kami dan jika mencium bau binatang buruan, mereka akan mengejar terus dengan gonggongan, sehingga kami berlari menyusul mereka. Jika binatang buruan berukuran kecil, anjing-anjing saya akan langsung menyerang, menerkam dan mencabik hingga binatang buruan tersebut dapat kami kuasai. Namun jika menemukan binatang buruan yang berukuran besar, anjing-anjing saya akan dengan gonggongan yang keras melumpuhkan mental binatang buruan, kemudian kami manusia yang melakukan penyerangan menggunakan tombak. Sungguh sebuah pengalaman yang kaya dengan pembelajaran kehidupan yaitu mengajarkan saya untuk berstrategi dalam mencapai sesuatu yang penting.

 

Melalui berburu saya belajar untuk berani menghadapi tantangan besar sekaligus menikmati hasil yang sepadan.

Kami berburu setiap hari Minggu, disaat kami libur sekolah. Berburu binatang liar tidak mudah dan terdapat ragam risiko di dalam hutan ketika memburu binatang liar. Saya menyenangi tantangan berburu bahkan sangat bersemangat saat berburu. Saya antusias menyambut ragam tantangan dan kesulitan. Setiap kali kami berburu maka kami berjalan dan berlari sambil juga memikul hasil buruan dapat mencapai jarak 20 km – 40 km. Namun setiap jerih payah dan kesulitan berburu seakan hilang lenyap ketika pulang dengan hasil membanggakan. Sukses berburu di masa itu menunjukkan adanya keberanian, ketrampilan dan ikut bertanggung jawab menafkahi keluarga sekaligus jadi “pahlawan kecil” untuk desa kami karena ikut serta serta membasmi binatang pengganggu ladang. Dari setiap

perburuan di setiap hari minggu itu kami selalu berhasil mendapatkan rata-rata 3-7 ekor. Kami mengarak binatang-binatang buruan ke kampung dan membagi-baginya sesuai kesepakatan bersama dan menikmati hasil buruan sebagai lauk kami sendiri maupun kami jual untuk mendapat penghasilan tambahan. Hasil buruan kami beragam, dari yang kecil sekitar 50 kg hingga yang paling besar dengan berat mencapai lebih dari 100 kg. Babi hutan dan babi rusa biasanya berat antara 50-90 kg, rusa sekitar 70 kg, dan anoa sekitar 150-300 kg. Suatu momen yang sangat membanggakan ketika berhasil mendapat binatang seberat hingga 100 kg atau lebih. Pernah suatu kali dalam sebuah perburuan kami terpaksa harus pulang dulu ke desa untuk mengambil gerobak yang ditarik oleh 2 ekor sapi untuk dapat mengangkut binatang buruan ke kampung. Luar biasa!

Suatu kali, saya pribadi berhasil menombak binatang buruan yang besar, seberat sekitar 100 kg tepat dijantungnya. Saya sangat terkejut karena tidak menyangka dapat melumpuhkan babi hutan yang sangat besar karena babi hutan tersebut langsung terkapar ditempat. Rasanya seperti, mencapai target pembangunan proyek dengan sukses sempurna. Lagi-lagi sebuah sensasi sukses, saya menjadi pahlawan kecil, mendapat makanan lezat untuk seminggu, ditambah rasa bangga yang besar. Hal yang paling membuat saya terharu adalah sekembalinya saya berburu, di sore hari, Ibu yang sangat saya cintai dengan wajah yang berseri-seri menyambut saya dengan penuh kasih sayang dan menerima hasil buruan saya dengan penuh kebanggaan, seakan Ibu mengakui, kepiawaian anaknya dalam berburu adalah prestasi dalam membasmi hama dan sekaligus membawa makanan bagi keluarga. Saya sangat menghargai dan sangat berkesan dengan pengalaman berburu di usia remaja. Saya menyimpulkan ada persamaan dalam strategi berburu dan strategi manajemen. Pengalaman berburu di remaja telah menjadi sebuah “sekolah kehidupan” untuk saya, pengalaman itu telah membentuk mindset saya dan social skill saya yang kemudian membantu saya merengkuh sukses-

sukses dalam mengelola manusia sebagai tim kerja dan mencapai tujuan-tujuan bersama yang membanggakan.

Masa berburu di usia remaja tak mungkin saya lupakan karena begitu mengesankan dan jadi kenangan seumur hidup. Namun impian jadi arsitek jauh lebih kuat dan terus bergelora khususnya saat ayah meninggal.

Inilah the Spirit of Dream dalam hidup.

 

Sumber: Ciputra Newsletter Edisi Januari 2016

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *